
...Terkadang Tuhan hanya mempertemukan. Bukan mempersatukan. Hingga lintas rasa itu tenggelam dalam kegelapan. Terkurung dalam kesakitan....
...
...
Langit malam itu membawa kesan baru. Banyak cerita yang akan terukir bagi setiap nyawa yang ikut membagikan tawanya. Namun, tidak hanya tawa yang mengisi dingin malam itu. Keadaan yang cukup membuat detak jantung mereka bekerja keras- pun ikut mewarnai ditengah tengah goresan cerita. Ah, mungkin sebagian menganggapnya hal mistis, ataupun hal yang sudah biasa dilihat. Tidak jauh-jauh dari banyaknya cerita, kala kalian berada dilingkup perkemahan atau semacamnya. Jadi, jangan terlalu menganggapnya serius. Karena itu, sering terjadi.
"Sorry banget Var, seharusnya gue nggak tinggalin lo sendirian. Goblok banget gue malah main tinggalin lo."
"Udahlah Rei, sampai kapan lo nyalahin diri lo sendiri, hm?."
Reihan menghela napas kasar sembari mengacak rambutnya kesal. Rasa menyesal itu benar-benar masih menghantuinya. Jika saja ia tidak meninggalkan Varo sendiri, mungkin sahabatnya itu tidak berakhir di tenda kesehatan ini.
"Lo, udah beneran nggak apa-apa kan?," tanya Reihan memastikan kembali. Takut-takut jika barang halus itu masih mengikuti cowok didepannya ini.
"Iya udah nggak apa-apa. Mbak kuntinya juga udah pergi kok dari tadi."
"Ck, ya nggak usah bawa-bawa cewek lo juga kali. Ntar dia nongol lagi."
Varo tertawa renyah, puas melihat wajah Reihan yang ketakutan setengah mati. Setelah kejadian beberapa saat lalu, dimana ketika ia tak terlalu mengingat bagaimana sosok itu bisa mengambil alih tubuhnya. Hingga Pak Arif yang pertama kali ia lihat ketika sadar. Juga Zoya, Siska, dan Nando.
Tawa Varo berhenti kala dadanya terasa berat. Juga napasnya yang terputus putus membuat Reihan mendekat. Melihat Varo kesusahan bernapas membuat ia tahu apa yang anak itu alami.
"****, lo nggak lagi bercanda kan Var?."
"Go- goblok, sakit bego!."
Reihan mendesis kala cengkraman tangan Varo dilengannya menimbulkan rasa sakit.
"Ventolin lo di mana hah?."
"Ta- tas."
Reihan tak mengucapkan sepatah kata, ia memacu langkahnya keluar tenda. Sedang Varo, masih berusaha mengatur napasnya kala asma itu kembali datang.
Varo mendongak kearah pintu tenda yang tiba-tiba terbuka, namun tebakannya salah. Bukan Reihan, melainkan Zoya dengan keterkejutannya melihat kondisi Varo yang kesulitan bernapas.
"Va- varo lo?."
"Awas Kak permisi!."
Seloroh Reihan yang menerobos masuk diikuti Vero. Mengulurkan Ventolin milik sahabatnya itu. Zoya yang masih diambang pintu mendekati mereka bertiga, hingga tenda itu kembali tertutup dengan cahaya remang-remang dari satu senter yang digantung diatas.
"Udah enakan?," tanya Vero.
Varo mengangguk. Lantas merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam. "Makanya jangan ngetawain gue! Kuwalat, kan lo."
Zoya hanya diam, bingung harus berbicara apa. Meski ingin sekali menanyakan keadaan anak itu. Tapi, dilihatnya- Varo mulai bernapas dengan teratur.
Reihan melirik Zoya higga netranya bertemu dengan manik coklat itu. Lantas menarik lengan Vero untuk ia seret keluar sembari mengatakan beberapa patah kata.
"Kak, titip Varo ya! Reihan sama Vero tadi dipanggil sama Kak Hariz. Duluan Kak!."
Zoya hanya mengangguk kaku, lalu beralih menatap Varo. Sedang Varo tersenyum tipis dalam pejamnya. Sial, Reihan ternyata diam-diam sedang mencomblangkan dirinya dengan Kakak kelasnya itu?
"Tiduran aja dulu Var," ujar Zoya kala Varo hendak mendudukkan tubuhnya.
"Udah nggak apa-apa kok, Kak," balas Varo yang sudah terduduk.
Ruang didalam tenda disana seakan menjadi begitu dingin. Canggung yang Zoya rasakan ternyata juga dirasakan anak itu. Hingga akhirnya hening yang sempat tercipta buyar kala suara Zoya lebih dulu menguar.
"Ternyata, lo beneran bisa lihat gituan ya?."
Varo tersenyum lebar- seperti biasa. Lantas mengangguk membenarkan. "Sejak kapan?."
"Sejak, Varo kecil."
"Vero juga bisa?."
"Iya, tapi kalau Vero itu nggak terlalu. Paling gara-gara dia kuat mentalnya kali, ya. Makanya nggak gampang diganggu sama nggak pernah dimasukin."
"Jadi lo sering dimasukin?."
"Hm, nggak tahu ini udah yang ke berapa."
Obrolan yang mengalir begitu saja tanpa mereka sadari, mulai mengisi relung yang sempat kosong itu.
"Sebenarnya tadi lo lihat apa sih? Awal mulanya gimana?."
"Varo nggak gitu ingat gimana awal kejadiannya sampai kayak gitu. Tapi yang Varo ingat, habis dari kamar mandi. Terus sadar-sadar ada kalian ngelilingin Varo."
"Makanya jangan suka ngelamun. Kalau kemana mana jangan sendirian. Banyakin doa!."
"Ck, Varo nggak ngelamun. Emang setannya aja yang kurang ajar. Main masuk ke tubuh orang tanpa permisi."
Celetukan Varo berhasil memecahkan tawa Zoya. Hingga sang empu tertular oleh tawa renyah gadis itu. "Lo ngelucu atau gimana, sih?."
"Udah ah, sakit perut gue."
Setelahnya hanya ada hening. Hingga atensi keduanya teralihkan kala tenda itu terbuka. Menampakkan gadis dengan rambut menjuntai bergelombang.
__ADS_1
"Eh- maaf ada Kak Zoya, ya."
Gadis yang tak lain Jeslyn itu mendekat. Membiarkan pintu tenda kembali tertutup. "Ngapain lo kesini?."
"Ck, sinis amat lo Var!."
"Nih gue udah baik kesini bawain lo teh anget. Ngegas mulu kalau sama gue," balas Jeslyn menyodorkan segelas teh hangat.
"Ada apa ini? Tumben banget lo baik sama gue."
Varo menatap kedua mata Jeslyn penuh selidik. Hingga tak sadar wajahnya perlahan mendekat ke wajah teman masa SMP nya itu. "Jangan-jangan ada maunya, ya?."
Tangan itu terulur mencubit lengan Varo sampai tedengar ringisan dari sang empu. "Emang ya, pikiran lo itu negatif mulu kalau sama gue. Nggak ada manis-manis nya!."
"Iya lah, lo sendiri suka baik kalau ada maunya aja."
"Heh! Kapan gue kayak gitu hah?!."
Varo terkekeh, tak menggubris ucapan Jeslyn. Lantas menyeruput teh itu. Tanpa sadar, disana ada sepasang mata yang menukik tak suka. Ah, sepertinya dia dilupakan. Hingga sepasang bola mata Jeslyn memangkap sosoknya.
"Eh, Kak Zoya be-besok acaranya apa ya?."
Jeslyn menggaruk tengkuknya canggung, entah pertanyaan konyol apa yang ia tanyakan. Dia, tidak dekat dengan Zoya. Bahkan, ini pertama kali ia berbicara langsung dengannya.
"Lihat besok aja ya," balas Zoya tersenyum kikuk.
"Oh ya, ini Jeslyn Kak. Teman Varo sejak pindah kesini."
Ah pantas kelihatan akrab banget. Batin Zoya
Kedua cewek itu lantas sama-sama tersenyum.
...)(...
Setelah upacara pengesahan dilaksanakan, kini semua anggota Pramuka inti sedang Outbond di lokasi yang tak jauh dari air terjun itu. Lokasi Outbond yang sudah tempat itu sediakan memudahkan panitia untuk mengisi acara selanjutnya.
"Nih minum dulu! Jangan terlalu capek, lo! Ntar asmanya kambuh bikin gue jantungan."
"Idih lebay lo Rei!."
Reihan berdecak, kembali menyodorkan sebotol air mineral itu kepada Varo.
"Vero di mana?," tanya Varo setelah menegak minuman itu hingga tiggal separuh.
"Tadi gue lihat lagi nyamperin Jeslyn."
"Hah, ngapain?."
"Ya mana gue tahu," balas Reihan mengendikkan kedua bahunya.
"Oh ya tadi kelompok dua siapa yang menang?."
Varo melambaikan tangannya kepada sosok diseberang sana yang membalas dengan seulas senyum. Tanpa tahu ada desir aneh didalam sana.
"Var, lo dengerin gue nggak sih?."
"Hah? Apa, lo bilang apa?."
"Lagi lihat apaan sih?," tanya Reihan sembari mengamati sekitar. Sampai netranya berhenti tepat disatu sosok yang berada diseberang sana. Hingga decakan dari mulut Reihan keluar begitu saja.
"Yaelah Var, samperin sono!."
"Enggak ah, ada Kak Siska sama Kak Hariz."
"Nah, karena itu lo harus kesana! Jangan biarin Kak Hariz deket-deket sama Kak Zoya."
Varo terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk membenarkan. "Iya juga, ya."
"Thanks Bro!." Varo menepuk pundak Reihan sebelum melenggang pergi.
Tawa ketiga Kakak kelasnya itu terdengar bahkan sebelum ia berada diantara ketiganya.
"Hai Kakak-Kakak lagi apa nih?!."
"Hei Var!," balas Hariz menepuk ruang disebelahnya untuk Varo duduk.
Anak itu duduk disebelah Haris yang otomatis berhadapan langsung dengan Zoya. Disebelah Zoya ada Siska yang langsung berhadapan dengan Hariz.
"Seru amat kayaknya, lagi ngobrolin apa nih?."
"Random lah pokoknya," sahut Siska.
"Mana kembaran, lo?."
"Lagi apel sama ceweknya."
"Hah, Vero punya cewek?."
"Bukan cewek Kak Zoya. Tapi gebetan, paling," celetuk Varo asal.
"Oh ya, kok nggak kelihatan Kak Lia dari kemarin?."
"Nggak ikut dia. Ada urusan," balas Zoya.
__ADS_1
Hingga cukup lama keempat remaja itu saling bertukar cerita. Tanpa terasa, matahari mulai naik tepat diatas puncaknya.
"Yok balik ke tenda. Nanti sore main air terjun sepuasnya," seru Hariz dibalas sorakan Varo yang lebih mendominan.
Langkah Hariz dan Siska mendahului, disusul pelan oleh Varo dan Zoya yang beriringan. Sudut bibir gadis itu tertarik kesamping kala melihat Varo yang bertingkah aneh seperti biasanya. Tersenyum lebar dengan binar dikedua matanya itu sangat kentara.
"Kak, nanti malam bakar jagung yuk."
"Jagung dari mana? Bukannya udah habis dibakar semalam?."
"Masih ada, Varo ambil dua kemarin," balasnya dengan kekehan.
"Wah nguntit ya lo!."
"Cuma dua aja kok, nggak banyak."
"Sama aja Varo!."
Anak itu tertawa sembari menggaruk belakang lehernya. Tak selang berapa lama, atensi keduanya teralihkan kala suara seruan dari belakang membuat mereka menoleh. Dan pertama yang Zoya tangkap- sosok Jeslyn yang menubruk tubuh Varo untuk dipeluk. Kedua mata gadis itu membola bersamaan getar tak suka didalam sana.
"Woy woy lo apa apaan sih hah main peluk aja!."
"Aaahhhh gue seneng bangeett!!!!."
Jeslyn melepaskan kedua tangannya dari leher Varo. Namun tangan itu tak lepas dari tangan Varo yang masih digenggamnya erat. Dan- semua itu tak luput dari rekaman kedua bola mata Zoya.
"Kayaknya nanti malam gue nggak bisa tidur deh," ujar Jeslyn lantas menggigit dalam bibir bawahnya.
"Kenapa? Lo mau gantian jaga keliling sama panitia?."
"Ihh bukan itu!."
"Terus?," jengah Varo memutar kedua bola matanya. Lagi, keduanya tak melirik nyawa disampingnya. Tanpa tahu, rasa dongkol gadis itu sudah tak bisa ditahan. Ia beranjak menjauh, meninggalkan keduanya tanpa sepatah kata.
Kalau pengen pacaran nggak usah didepan gue yang jomblo juga kali. Batin Zoya.
...)(...
Zoya menghentikan gerakannya kala ingin mengangkat kedua timba berisi air itu. Menatap sosok didepannya yang baru saja memanggil namanya.
"Kenapa?."
"Varo cariin di sini ternyata."
"Mau apa?."
Varo mengernyit, merasa ada yang janggal dengan reaksi Kakak kelasnya itu. "Enggak, tadi kenapa Kak Zoya main ngilang aja."
Ada hening yang mereka biarkan, memberi ruang gemuruh suara air sungai yang mengalir diantara keduanya. Hingga pertanyaan yang Varo layangkan menguap begitu saja, kala Zoya memilih pergi dengan dua timba ditangannya. Namun, tak lama satu timba itu beralih ditangan Varo.
"Varo bantu Kak."
Zoya terdiam, menatap punggung anak itu yang semakin mengecil. Tak lama kemudian ia menyusul langkah didepannya.
Kini, pukul tiga sore. Seperti yang Hariz janjikan, mereka semua sudah berada didepan tebing tinggi yang menjulang. Dengan air jatuh dari atas sana. Namun, seperti enggan bergabung dengan yang lain....Gadis itu berjalan menjauh, hingga menemukan batu besar untuknya duduk. Dari sini, ia bisa melihat semua orang dengan tawa lepasnya. Terutama, satu nyawa yang lebih mengalihkan atensinya.
"Gue nggak mungkin kan kalau-."
Monolognya ia simpan kembali, mengubur dalam-dalam pikiran yang sempat terlintas.
"Zoy, ngapain lo di sana?! Sini woy!."
Teriakkan Siska menyadarkannya. Setelah menimang, akhirnya gadis itu turun, melangkah menuju pusat keramain. Namun, setelahnya ia menyesal. Seharusnya dia tetap disana, tanpa harus bergabung dan berakhir menyesakkan.
"Hai pacar, renang bareng yuk!."
Tangan gadis cantik itu melingkar dilengan cowok yang membalas dengan senyum manisnya. Hingga detik selanjutnya, kedua pasangan itu berjalan menuju kolam yang lebih dalam. Tanpa keduanya sadari, ada tatapan terluka dari dua nyawa yang sama-sama merekam keduannya.
"Woy Ver! Ngapain lo bengong aja. Ayok nyebur!," seru Reihan lantas menarik lengan Vero yang hanya menurut. Tanpa tahu, ada retak didalam sana.
"Zoy, ngapain sih lo diem aja di sini? Ayo, nggak mau main air?."
Lontaran suara dari Siska hanya mendapat tatapan sendu dari sang empu. Temannya itu mengernyit heran, lantas menempelkan punggung tangannya. Takut, jika teman seorganisasinya itu sedang sakit, sebab sejak tadi seperti orang linglung.
"Nggak demam," gumam Siska setelah merasakan suhu Zoya normal.
"Lo nggak lagi kesambet kan Zoy?," lanjutnya sembari menggoyang lengan Zoya yang dibalas senyum tipis oleh sang empu.
"Enggak, ayo."
Ya, nggak usah berharap lebih Zoy. Batinnya
Siska mengedikkan bahu, tak terlalu berpikir jauh. Mengikuti Zoya yang sudah berjalan didepannya.
...♡♡♡...
...Like👍...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^