BERBEDA

BERBEDA
Bertemu


__ADS_3

Senja yang mendengar itu langsung tahu perumahan mana yang Damian maksud, perumahan Tulip Putih adalah salah satu perumahan yang dulunya sempat famous dikalangan masyarakat. "Beneran kan? Laut ada di sana?" tanya Senja memastikan.


"Iya, gue juga mau kesana. Mau bareng? Nanti gue yang bilang ke Laut kalo gue yang ngajak lo bareng." Damian menawarkan boncengan menuju perumahan itu kepada Senja.


Senja sempat ragu sebentar karena ia takut Laut akan marah jika melihatnya berboncengan dengan pria lain, apalagi Damian adalah teman dekatnya. Namun, keraguannya itu hilang seketika saat Senja memikirkan keadaan Laut. Senja segera mengangguk dan berjalan di belakang Damian menuju parkiran.


...****************...


Butuh sekitar 6-13 menit menuju tempat tinggal Laut. Sesampainya mereka berdua di sana mereka langsung bertanya kepada petugas keamanan di mana rumah yang Laut tinggali. Setelah mendapatkan informasi, mereka mulai berjalan masuk menyusuri perumahan itu. Rumah yang Laut tinggali terletak agak ujung sebelah kiri, blok B nomor 08, itu yang disampaikan oleh petugas keamanan tersebut.


Di perjalan, Senja hanya tertuju pada bingkisan yang Damian bawa sedari tadi. "Dam, lo bawa apaan?" tanya Senja penasaran sembari terus memperhatikan bingkisan itu.


Damian menatap Senja lumayan lama sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Senja. "Bawa doa." ucap Damian bercanda.


Lagi-lagi Senja dibuat kesal dengan jawaban Damian. Namun, saat itu yang Senja khawatirkan adalah Laut, Senja sama sekali tidak menghiraukan lelucon Damian.


Damian terus menatap Senja secara diam-diam yang sedari tadi terlihat khawatir. "Nja," panggil Damian dengan nada serius. Senja yang mendengar namanya dipanggil langsung menyahut, "hm, paan?". "Gue mau jujur, sebenernya gu-" ucapan Damian terpotong saat Senja berteriak "ITU RUMAH LAUT, DAM!!", Senja meloncat-loncat kegirangan kemudian berlari menuju rumah yang bertuliskan 'Blok B, nomor 08'.


Melihat tingkah Senja, Damian hanya diam dan tersenyum sedikit menatap Senja. "Sederhana, kamu bahagia, aku juga akan berusaha untuk bahagia, walaupun itu menyakitkan." gumam Damian melihat Senja yang terus berlari penuh senyum.


...****************...


Senja menyuruh Damian untuk menekan bel yang terpasang tepat di samping pintu. Damian hanya mengangguk lalu menekan bel rumah Laut dengan perlahan. Namun, setelah menunggu cukup lama, Laut tak kunjung keluar. Mereka berdua saling bertatap dengan raut wajah panik. "Dam.. Laut gapapa kan ya? Laut ada di dalem kan? Dam," suara Senja terdengar gemetar, Senja takut sekaligus khawatir dengan kondisi Laut.

__ADS_1


Sepasang tangan mendarat di kedua bahu Senja. Ya, itu Damian. "Ssttt, Senja.. Dengerin gue. Laut gapapa, dia ada di dalem. Gue bakal coba masuk, jadi lo tunggu dulu di sini, ok? Tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Damian mencoba menenangkan Senja dan mulai masuk ke dalam. Ternyata pintunya tidak terkunci.


Damian masuk dan melihat Laut yang terbaring lemah di kamarnya. Melihat itu, Damian panik dan segera menghampiri Laut, "Woy! lo kenapa?! Lo gapapa kan?" Laut terus menerus memegangi dadanya dengan raut wajah kesakitan. "Gini.. Ini emang mendadak, tapi gue gak dateng sendirian. Gue bawa Senja." ucap Damian. Mendengar nama Senja, rasa sakit Laut perlahan hilang dan ia hampir benar-benar pulih seperti semula.


"S-Senja! Di mana Senja?! Dam??" Laut berdiri lalu mulai mencari kehadiran Senja. Damian dapat melihat Laut yang panik mencari-cari sosok Senja, kekasihnya. "Senja ada di luar," ucap Damian memberitahu. Laut segera berlari ke luar menghampiri Senja. Senja perlahan melihat sosok Laut yang berlari mendekatinya. Laut memeluk Senja hingga mereka berdua terjatuh bersamaan ke karpet berbulu yang berada di lantai teras rumah. "LAUUTT!" Senja kegirangan dan segera memeluk kembali Laut. Senja tahu ini memang agak aneh karena mereka jarang berpelukan terang-terangan seperti ini, apalagi di depan teman dekat Laut, Damian.


...****************...


Mereka bertiga duduk di teras rumah tanpa berbincang-bincang sedikit pun. Keheningan terjadi di antara mereka, hanya suara angin yang terdengar. "Bro, lo kenapa gak masuk hari ini?" tanya Damian memecah keheningan. Senja yang mendengar hal itu jelas kaget, Senja pikir Damian tahu alasan Laut tidak berangkat ke sekolah hari ini.


Laut terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Damian. Laut tahu kenapa Damian melontarkan pertanyaan itu padahal Laut sudah memberitahu Damian alasan ia tidak berangkat hari ini, "Gue ketiduran, semalem gue begadang jagain Senja tidur. Terus hp gue juga mati karena dipake telponan sampe pagi. Padahal tadinya gue mau ngasih tau lo sama Senja kalo hari ini gue gak bakal berangkat." jelas Laut. Senja menguping pembicaraan mereka lalu membulatkan bibirnya, "Oohh ketiduran toh, syukurlah Laut gak kenapa-napa." batin Senja.


Setelah merasa sedikit lega, Senja tiba-tiba merasa ingin pergi ke kamar mandi. "L-Laut.." panggil Senja dengan raut wajah yang kurang enak. "Senja? Kenapa?! Ada yang sakit??" Laut jelas panik melihat wajah pacarnya yang seperti itu. "K-kamar mandi.. C-cepetan!!". Laut melongo mendengar jawaban Senja, namun Laut segera mengantar Senja ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusan pribadinya.


"Oy, sampe kapan lo mau nyembunyiin ini? Lo gak kasian apa sama ce-" belum sempat Damian menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba Laut memotongnya dengan tegas.


"Widih, si Damian udah mulai ngomong nih. Eh? Nyembunyiin? Nyembunyiin apaan?" batin Senja, ia hanya asyik menonton perdebatan itu.


"Shut up! Jangan berani-beraninya lo bawa-bawa Senja ke masalah ini. Gue tau Senja pacar gue dan... Gue juga udah ngerasa br*ngsek banget lakuin ini semua. Gue gak mau selamanya nyembunyiin ini, gue juga pengen jujur. Tapi gue gak mau liat Senja sedih, gue gak mau liat Senja sakit. Cukup gue aja yang sakit, Dam.." Laut menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia terdiam sejenak, keheningan kembali terjadi di antara mereka, "Lo sendiri? Kenapa lo bisa dateng ke sini sama Senja?" tanya Laut tajam. Senja yang mendengar hal itu seketika panik, ia takut mereka berdua akan berkelahi hanya karena dirinya.


Senja tidak mau terjadi perdebatan antar sahabat, maka dari itu, ia berniat menjelaskan semuanya kepada Laut. Senja perlahan keluar dari tempat persembunyiannya, membuka mulutnya perlahan bersiap untuk menjelaskan semuanya, "Laut-" namun, Senja segera mengurungkan niatnya saat mendengar suara berat Damian. "Gue yang ngajak Senja bareng. Katanya dia khawatir sama keadaan lo gara-gara lo gak berangkat hari ini. Gak mungkin gue nyuruh Senja buat jalan kaki dari sekolah ke sini." jelas Damian.


Senja jelas terkejut mendengar jawaban Damian yang benar-benar sigap, rahangnya sedikit turun sangking tak menyangka-nya."What?! Seorang Damian bisa ngomong kayak gitu?? Momen langka." batin Senja.

__ADS_1


...****************...


Mereka terlalu asyik mengobrol, hingga akhirnya Senja menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 16.02. Senja menyuruh Damian untuk bergegas pulang karena hari sudah hampir Maghrib. "Dam, pulang, Dam." pinta Senja.


Saat Damian mengecek jam tangannya, benar saja mereka harus cepat-cepat pulang. "Oy bro, kita duluan ya. Udah hampir Maghrib," pamit Damian kepada Laut.


"Ohh, Oke. Senja.." Laut menatap Senja yang berdiri di samping Damian. Senja menatap kembali mata Laut dengan dalam. Wajah Senja terlihat menahan tangis saat matanya saling bertemu dengan Laut. Senja tak kuasa menahan semuanya, ia berlari menghampiri Laut dan memeluk kekasihnya itu hingga mereka jatuh ke lantai.


"Laut!!" Senja menangis seperti anak kecil di pelukan Laut. Laut jelas terkejut dengan tingkah Senja yang tak diduga-duga itu. "Nja??" Laut hanya tersenyum dan memeluk kembali tubuh Senja dengan erat sembari mengelus lembut kepala Senja. "Laut, jangan lupa charger hp biar bisa ngasih kabar lagi. Pokoknya nanti malem harus telponan sampe pagi, Gak mau tau." pinta Senja dengan wajahnya yang menunjukkan raut sedih. Kedua sudut bibir Laut kembali terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat tulus. "Iya, iya, sayangg. Sekarang Senja harus pulang dulu, ya?? Nanti keburu Maghrib, terus terlambat deh sholat Maghribnya." Laut kembali menepuk-nepuk kepala Senja dengan lembut. "See u tomorrow, babe." bisik Laut. Senja hanya menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.


Damian yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya, jelas tak bisa mengatakan apapun. Damian hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


...****************...


Di perjalanan pulang, Senja terus bersenandung kecil. Tampaknya, hati Senja sedang gembira. Damian yang terus mendengar Senja bersenandung pelan di motornya itu jelas merasa nyaman. Damian kembali tersenyum sembari terus menikmati suara lembut Senja.


...****************...


"Damian, makasih banyak, ya? Maaf banget kalo gue ngerepotin lo. Sekali lagi makasih, yaa! Dah gue masuk dulu, pulang sana." Senja hanya tersenyum lalu berbalik meninggalkan Damian sendirian di teras rumahnya.


"Terkadang yang tak bisa kamu lupakan adalah seseorang yang tak pernah bisa kamu miliki."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2