BERBEDA

BERBEDA
Chap 22 (Rumit)


__ADS_3

...Bukannya pasrah dengan keadaan. Tapi situasinya saja yang terlalu rumit dipahami....



Matahari diatas sana sudah berada diufuk Barat. Menampakkan warna orange yang dapat memanjakan mata. Bertepatan dengan dua Bis berhenti didepan gerbang Sekolah yang menjulang tinggi itu. Satu persatu langkah kaki itu menuruni transportasi persegi panjang dengan wajah-wajah lelah yang sangat kentara.


"Akhirnya sampe juga!."


"Aduh mules perut gue. Ini nggak dibuka apa gerbangnya?."


"Tahan dululah Rei. Bentar lagi nyampe rumah."


"Enteng banget lo ngomong Var! Udah nggak tahan ini, aduh ahh!."


Varo tertawa lepas kala melihat sahabatnya itu banyak gerak dengan tangan menyentuh pantatnya, menahan gejolak yang ingin mendesak keluar. Hingga salah satu nyawa yang ada disana mendekat. Memberi pertolongan yang sangat berharga bagi Reihan.


"Kenapa?."


"Ini kak aduh itu- udah nggak tahan," balas Reihan. Wajahnya memerah entah karena malu atau sudah benar-benar tidak tahan.


"Biarin aja Kak. Entar juga ilang sendiri," balas Varo yang langsung dapat geplakan dari Reihan.


"Tolong Kak, nggak bisa dibuka dulu apa gerbangnya? Numpang ke  WC sebentar."


"Iya, tunggu gue ambil kuncinya dulu," balas Zoya. Lantas pergi menghampiri Pak Arif dimana kunci gembok pagar itu beliau yang pegang.


"Lo ngerasa nggak sih?."


Celetukan Varo membuat kedua alis Reihan menyatu. "Ngerasa apa?."


Varo menoleh tepat menatap kedua bola mata Reihan yang juga menatapnya bingung. "Tatapan Kak Zoya kok kayak sinis ya, ke gue."


"Halah perasaan lo aja kali," balas Reihan yang masih menggerakkan badannya kekanan dan kekiri. Bersamaan dengan tangannya yang ia apit diantara kedua pahanya.


"Bentar, Vero mana?."


"Lah, tadi ada dibelakang  kita deh perasaan," balas Reihan.


"Oh itu dia!."


Ujar Varo menunjuk arah seberang. Dimana saudara kembarnya itu sedang duduk bersama yang lain. Tapi, hanya Vero yang terlihat sangat tenang diantara lainnya.


"Udah ayo masuk!," seruan Zoya mengalihkan kedua sahabat itu untuk segera masuk kedalam.


"Kak-."


Pertanyaan yang hendak Varo layangkan kembali tertelan kala kakak kelasnya itu melenggang masuk kedalam tanpa melihatnya sedikitpun. Ah, sepertinya Varo sedang diacuhkan sekarang. Dan, sang empu itu tak terlalu buta menyikapi sikap seniornya itu.


"Aneh. Kenapa ya?," gumam Varo.


Dilain sisi, gadis itu menghela napas kasar setelah berada diruang Pramuka. Mendaratkan tubuhnya diatas sofa empuk yang berada dipojok ruangan. Entah, perasaannya sekarang terasa campur aduk. Tidak hanya fisik, tapi juga batin yang tiba-tiba terasa jatuh. Dan- ia mengakui, pertama kali rasa aneh itu menjadi satu. Antara kesal, marah, kecewa, lelah fisik, batin, dan- entahlah semua seperti bertubrukan.


Jantungnya terlonjak ketika suara dentuman hampir membuatnya memaki, kalau saja yang ia dapat bukan orang yang lebih tua darinya.


"Eh sorry Zoy, kaget ya?."


"Ah Kak Hariz, enggak kok. Sedikit."


Hariz terkekeh, kemudian beralih dengan dua kardus yang baru saja ia turunkan begitu saja hingga menimbulkan suara keras. Menyeret sampai kepojok dekat kursi yang Zoya duduki- tanpa lepas dari rekaman kedua bola mata gadis itu.


"Isinya apasih, Kak?."


"Pancang sama tali temali," balas Hariz sembari mengusap keringat didahi dengan lengannya.


"Nih Kak minum dulu!."


Hariz menerima uluran botol mineral yang Zoya dapat dari meja disampingnya yang selalu menyediakan air mineral. Lantas duduk dilantai bawah yang diikuti adik kelasnya itu. Menegak hingga tandas tak tersisa.


"Haus banget ya," kekeh Zoya mengambil alih botol yang sudah kosong itu.


"Hm, habisnya dari tadi  belum minum. Ketiduran sampai sini."


Zoya mengangguk berkali kali. Menyenderkan tubuhnya kesofa. Tanpa sadar, canggung relung disekitar Hariz rasakan. Sebenarnya, tanpa Zoya tahu...Ada sepasang mata yang mengamatinya sedari tadi. Juga, ada hati yang ingin bicara, tapi enggan untuk mengungkapkan. Namun, setelahnya detak jantung gadis itu sudah merasa tak enak. Kala pembicaraan juga tatapan yang dibawa Hariz membawa pikirannya kemana mana.


"Zoy, gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"A- apa Kak?."

__ADS_1


Hariz mengusap wajahnya kasar, melihat Zoya menegakkan tubuhnya dengan raut penuh tanya malah membuat getar didalam sana semakin menjadi.


"Se- sebenarnya..."


Hening, cukup lama Zoya mewanti wanti apa yang akan seniornya katakan itu. Pandangannya ia bawa kesembarang arah kala Hariz menatapnya dengan syarat yang mudah ia tebak meski penuturan dari sang empu belum juga keluar.


"Jujur- gue suka sama lo."


Damn, benar bukan?


Ingin rasanya menghilang detik itu juga. Ah, bukannya senang...tapi, kenapa ia ingin sekali menangis? Bahkan dikedua matamya kini ada embun yang kapan saja bisa keluar. Kenapa tidak dari dulu Hariz mengatakan itu? Bukannya sudah pernah Zoya katakan, kalau seniornya itu pernah menjadi sosok yang ia kagumi. Iya, itu dulu. Dan kenapa sekarang cowok itu mengatakan sesuatu yang Zoya inginkan, dulu.


"Tapi, gue nggak maksa lo buat balas kok. Gue cuma mau ungkapin aja."


Pandangan gadis itu masih kearah lain. Enggan menatap Hariz. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kenapa rasanya sesak?


Ini pertama kalinya bagi Zoya, dan entah respon apa yang harus ia berikan. Mungkin, kalau saja cowok itu katakan dari dulu...dimana perasaan itu juga sama, pasti Zoya akan sagat senang. Namun sekarang berbeda. Ia, sudah mempunyai nama lain didalam sana. Mungkin.


Diluar pintu, ada dua nyawa yang saling bertatap. Lantas, cowok itu melangkah menjauh. Sedang nyawa lainnya melangkah masuk.


"Hai kawan! Lagi apa nih? Gue cariin dari tadi loh Zoy, ternyata disini."


Dalam hati, Zoya sangat berterima kasih kepada temannya itu. Datang diwaktu yang tepat. Dan ia, tak perlu repot-repot membalas penuturan Hariz.


"Ngapain nyari gue Sis? Semua udah pada pulang, kan?."


Hariz berdehem, lantas membuka suaranya. Kemudian beranjak meninggalkan kedua gadis itu. "Gue ke pos satpam dulu, ya."


Ada hening diantara dua nyawa yang ada disana. Hingga senyum penuh arti dari sudut bibir Siska terpancar. Juga perkataan yang ambigu itu tak repot-repot Zoya artikan.


"Jangan lupa traktirannya, ya."


...)(...


Denting sendok yang menjadi backsound ditengah tengah ruang makan itu menutupi dua nyawa yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing. Malam ini, terasa sangat membosankan. Tidak ada suara gaduh dari kedua anak kembar itu yang membuat kedua orang yang lebih tua saling lirik. Hingga decitan kursi yang didorong mengalihkan atensi keduanya.


"Kok nggak dihabisin dek?."


"Udah kenyang Mah. Vero ke kamar dulu."


Detik selanjutnya suara decitan itu kembali terdengar. "Varo juga. Selamat malam Ma, Pa."


"Tuh anak kamu pada berantem apa gimana? Dari tadi diem dieman."


"Nggak tahu Mas. Pulang dari kemah tadi aja nggak barengan. Mukanya pada ditekuk semua, nggak ada manis-manisnya."


"Kecapekkan mungkin," balas Genandra diangguki Miranti.


Esok paginya, kedua anak kembar itu masih sama-sama saling diam. Hingga mereka sampai dihalaman rumah, barulah Varo mengangkat suara kala kesialan sedang ada dipihaknya.


"Sial, kenapa pakai kempes segala sih?!."


Vero melirik sebentar, kemudian memakai helmnya kembali tanpa mengeluarkan sepatah kata. Varo yang sedang mengacak rambutnya kesal, lantas menghampiri Vero yang hampir menancap gasnya.


"Gue nebeng!."


"Pesen ojek aja."


Varo mengernyit, menangkap gelagat dingin Vero yang sedari kemarin mengabaikannya. "Lo kenapa sih? Sinis amat kayaknya sama gue."


Vero menoleh sebentar, hingga pandangannya ia bawa kembali lurus kedepan. "Perasaan lo aja."


Saudara kembarnya itu tertawa lepas. Sekarang ia tahu kenapa anak itu seperti ini. "Kalau cemburu bilang aja Boss," ujarnya menepuk bahu Vero dua kali sebelum melenggang pergi mencari ojek di gang depan. Tanpa Vero tahu, ada senyum penuh binar dikedua mata Sang Kakak.


Sedang adiknya itu terdiam bersama debar hebat yang ia coba redamkan.


Langkah lebarnya ia bawa menelusuri lorong-lorong kelas. Perasaannya kini mulai membaik setelah tahu rencana yang ia rancang berjalan sempurna. Sampai rangkulan dibahunya membuat Varo menoleh, mendapati senyum manis Jeslyn.


"Pagi pacar!."


Varo mendecak. Melepaskan tangan Jeslyn dari bahunya. Lantas berhenti agar bisa menatap kedua manik mata Jeslyn lebih jelas lagi. "Nggak ada orangnya, jangan panggil-panggil pacar. Jijik tahu nggak!."


"Biarin, biar lebih oke dramanya," balas Jeslyn, kembali mengalungkan tangan dilengan Varo. Menyeret anak itu untuk kembali berjalan.


"Nggak usah gini juga kali. Lebay, jijik gue."


"Ck, tahan sebentar Var."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kembaran lo ke mana?."


"Nggak tahu udah sampe belum. Dianya ngambek, cemburu beneran kayaknya."


Kedua mata Jeslyn melebar dengan mulut menganga, juga binar dikedua matanya sangat kentara. Varo yang melihat respon itu memutar bola matanya malas. Sampai tangan lebar Varo mengusap wajah Jeslyn hingga sang empu menggeram kesal.


"Sial, asin tangan lo! Ihh jijik, Varo nyebelin!."


Varo berlari kala Jeslyn hendak menganiaya tubuhnya. Hingga langkahnya terhenti tepat didepan pintu kelas, pandangannya bertubrukan dengan netra coklat yang berada diseberang sana.


"Nih rasain! Varo resek," seru Jeslyn mencubit lengan Varo yang hanya meringis pelan tanpa lepas dari tatap keduanya.


"Zoy! Ayo, udah ditunggu yang lain."


Pandangan keduanya terputus kala Zoya memutusnya lebih dulu. Beralih pada sahabatnya yang sudah berada disamping dengan wajah gelisah.


"Ayo, udah ditungguin yang lain," ujar Lia kembali. Menarik tangan Zoya agar cepat beranjak dari sana.


Sedang Jeslyn mulai tahu apa yang sahabatnya itu lihat. Hingga detik selanjutnya membuat keduanya terperanjat kala interupsi dari seseorang menelusup.


"Minggir! Jangan ditengah pintu."


Jeslyn tersenyum lebar, menggeser tubuhnya kesamping. Membiarkan sapaannya menguap begitu saja kala cowok itu melenggang melewati mereka berdua begitu saja.


"Hai Vero! Selamat pagi," sapanya sembari melambaikan tangan.


Varo menahan tawa hingga suara desisan tertahan itu mengalihkan atensi Jeslyn. "Bener kata lo. Dia lagi marah beneran kan?."


"Seperti yang anda lihat sendiri, Nona."


Jeslyn menggigit bibir bawahnya. Menahan pekikan yang hampir saja meledak.


"Jadi, itu artinya dia cemburu kan Var?."


...)(...


Aura tegang menyelimuti ruangan berdominan coklat dan hijau itu. Sedari tadi, hanya ada perkiraan perkiraan yang tak menemui ujung. Ruang pramuka yang sempat tenang itu kembali berisik kala bisik-bisik mulai merayap.


"Kok bisa hilang sih Sis? Emang terakhir kali lo simpan di mana?."


"Ya gue taruh ditas ini Zoy. Nggak pernah gue keluarin kok kalau nggak ada yang bayar. Terakhir kali gue buka itu pas sebelum kita berangkat kemah. Udah itu aja, terus nggak gue buka sama sekali," jelas Siska dengan raut wajah panik.


Anggota senior Pramuka inti itu masih duduk melingkar dengan wajah kalut. Bagaimana tidak, jika uang kas yang berjumlah banyak itu hilang.


"Tenang dulu Sis. Nanti cari lagi dirumah ya, mungkin keselip dimana gitu," ujar Hariz yang sudah berulang kali menenangkan.


"Iya Sis. Cari aja lagi dirumah," sahut Joy.


"Udah Kak. Semalam udah Siska cari dirumah, sampai Bunda sama Ayah aja ikut nyariin tapi nggak ketemu."


"Terakhir kali lo taruh tas dimana?," tanya Lia.


"Di ruang ini, waktu pulang kemah kemarin."


"Paling lo lupa naruh disini Sis, cari aja disekitar sini."


Usulan Lia dibalas anggukan setuju. Dan- sekarang semua bergerak cepat sebelum suara bel masuk menggema. Hingga satu per satu lemari juga loker mereka geledah.


"Gaes!."


Seruan Nando mengalihkan atensi semua orang, hingga detik selanjutnya semua mata membola kala dompet yang mereka cari kini sudah berada ditangan Nando. Namun, detak jantung Zoya berdegup kencang ketika tahu dimana dompet itu ditemukan. Lebih-lebih lagi kala semua mata tertuju padanya. Ah, apa yang baru saja ia alami?


"Sumpah, gue nggak pernah naruh dompet itu dilokernya Zoya," celetuk Siska lirih, namun semua orang bisa mendengarkannya ketika tatap mereka beralih kearahnya. Lalu, kembali menatap Zoya dengan tatapan yang berbeda beda.


"Zoy?," panggil Lia yang berada disamping gadis itu. Zoya menoleh, memberi gelengan dengan tatapan yang mulai tertutup embun.


...♡♡♡...


...Like👍...


...Nggak ada yang mau kasih poin banyak"🥺...




^^^Tertanda^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2