
...Awal pertemuan adalah awal dari kita menilai sikap seseorang. Dan- awal itu adalah awal permusuhan yang tidak akan pernah menemui titik ujung. ...
Apapun yang ada didunia ini atas kehendak takdir yang bersekongkol dengan alam Semesta. Dan, alam pun punya cara tersendiri untuk memberi balasan setiap apa yang kita tanam. Dan- dia yakin, bahwa suatu saat semua akan bsik-baik saja selama dia tidak berniat membalas kejahatan dengan kejahatan. Karena apapun itu akan ada waktunya untuk kita menuai. Biarkan saja orang yang berbuat jahat kepadamu, karena alam tahu akan hukum karma. Tidak perlu repot membalas perbuatannya susah payah. Itulah yang Vero terapkan. Melihat seberapa jauh alam membalas kejahatan laki-laki itu.
"Gini dong, kan enak uang gue nggak berkurang."
Perkataan itu mengudara begitu saja. Lantas sang empu berjalan menuju meja makan. Mengambil gelas yang berada disana. "Tuangin!."
Langkah itu mendekat. Meraih gelas juga botol yang berisi cairan itu untuk dituang. Yang kemudian ia serahkan kembali pada sosok didepannya.
"Minum!."
Kedua matanya membola. Apa yang baru saja laki-laki itu katakan? Minum?
"Kenapa?,"tanyanya kala anak itu masih duduk terdiam tanpa menuruti perkataannya.
"Gue nggak bisa minum kayak gini."
"Makanya, dibiasain dari sekarang. Minum cepat!."
"Tapi Bang-."
"Minum atau gue cekokin?!."
Dia- Vero mengerjap dua kali lantas kembali mengamati gelas yang berada ditangannya. Tidak mungkin dia minum minuman seperti itu.
Vero menggeleng. "Enggak. Abang aja yang minum!."
Bukan balasan yang Vero dapat, melainkan cengkraman kuat dikerahnya dari Juna yang sudah berada tepat didepan wajahnya. "Temenin gue minum malam ini, oke?!."
Bisik lirih suara Juna berhasil membuat detak jantung anak itu kembali berdetak tak karuan. Deru napas patah-patahnya berhasil membuat Juna tersenyum miring.
Vero masih mengamati minunan itu, sedang Juna sudah menuangkan untuk dirinya sendiri. "Coba deh, pasti lo suka!."
"Plis Bang-."
Brak
"Nggak usah banyak bantah! Minum tinggal minum juga. Atau mau gue yang masukin ke mulut lo?!," teriak Juna setelah menggebrak meja cukup keras.
Juna mulai meneguk minumannya dengan tatap mata tajam yang masih mengarah pada Vero. Namun, perlahan tangan Vero terangkat. Hingga akhirnya, bibir anak itu benar-benar menempel digelas putih yang langsung mengalirkan rasa aneh yang baru Vero rasakan.
Dahinya mengernyit dalam kala rasa pahit itu masuk kedalam kerongkongannya. Memberi sensasi berbeda kala ia mengecap berulangkali mulutnya agar rasa pahit itu hilang. Ingin memuntahkannya pun tak bisa kala tangannya ditahan oleh Juna yang langsung memaksa Vero kembali meminum minuman itu.
Seteguk demi seteguk kembali masuk kedalam kerongkongan Vero. Detik berikutnya suara gaduh dari gelas pecah itu menguar. Mengusi sudut-sudut rumah yang terlihat muram.
"Anjing!," umpat Juna kala serpihan gelas yang Vero tampik itu mengenai kakinya. Sedang Vero berjalan cepat menuju wastafel. Namun percuma, semakin ia berusaha mengeluarkan kembali cairan itu, semakin membuatnya tersiksa. Seolah didalam perutnya sedang berputar hingga gejolak aneh itu ingin keluar.
"Kurang ajar!."
Satu tarikan dirambut Vero berhasil membuatnya terhuyung kebelakang sampai tubuhnya membentur meja.
Juna tersenyum miring. Mendekat perlahan kearah Vero. Lantas mencengkram dagu anak itu. "Beraninya lo buang-buang minuman gue, hah?!."
Vero tak tahu harus menjawab seperti apa. Karena apa yang keluar dari mulutnya itu seakan hanya memancing amarah Juna.
Dengan satu dorongan kuat, Vero jatuh dilantai. Di mana serpihan gelas itu berhasil melukai pergelangan tangannya.
...)( ...
Sesaat, keduanya saling tatap ketika dua bola mata itu beradu. Mereka juga tidak tahu kala keduanya sama-sama tiba di parkiran yang ramai pagi ini. Ingin tak peduli, tapi detik setelah netra itu menangkap sesuatu- langkahnya urung untuk beranjak. Mendekat dengan tatapan tajam yang membuat lawannya bergerak gusar.
"Tangan lo kenapa?."
Spontan diliriknya pergelangan tangan yang berbalut perban itu. "Ah- itu nggak sengaja kena pisau waktu ngupas buah."
Ada jeda yang cukup lama hanya untuk mengamati setiap lekuk wajah adiknya itu. Sedang Vero mulai bergerak tak nyaman. Setelah pagi tadi mual dan pening itu ia rasakan, anak itu memaksa untuk tetap masuk. Meski rasa pusing itu masih terasa.
Hingga Varo meninggalkannya tanpa kata. Melangkah ringan keluar parkiran dengan Vero yang masih menatap punggung Kakaknya itu miris. Kenapa keadaan kembali seperti dulu? Ketika jarak keduanya saling membentang. Menanam dinding tinggi yang tak bisa mereka jangkau satu sama lain.
__ADS_1
Hingga lamunan Vero buyar kala tepukan dibahu mengalihkan atensinya. "Bisa balikin KTP gue sekarang? Lagi butuh, bisakan?."
Vero mengangguk. Mengeluarkan benda itu dari dalam tas. Menyerahkannya pada sosok yang menatapnya penuh selidik. "Ada apa?," tanya Vero yang merasa heran.
Tapi setelahnya, ia tertegun kala mendapat jawaban yang seolah mengoloknya. "Lo kayak orang habis mabuk, tahu nggak."
"Udah lupain! Cuci muka sana, wajah lo nggak enak dilihat," lanjut Arex lantas beranjak pergi.
"Emang kenatara, ya?," gumam Vero yang beralih ke kaca spion motornya. Di mana wajahnya terlihat tak segar dengan mata memerah. Oh tidak, sangat kacau.
Disana, langkah Arex tertahan kala teriakan dari belakang membuatnya terpaksa berhenti. Napas patah-patah itu yang Arex dengar setelah satu nyawa memanggil namanya.
"Apa?."
"Gue mau ngomong-."
"Ya apa?."
"Ck, jangan dipotong!.
"Iya apa?," tanya Arex lagi sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Itu-."
"Itu apa?."
Senyum licik tercetak jelas diwajah Arex melihat wajah memerah gadis didepannya. "Diem dulu bisa nggak? Biarin gue ngomong!."
"Iya-iya, udah apaan?."
"Jangan kasih pinjam KTP lo buat Vero lagi."
...)( ...
Varo tak mengerti akan keadaannya sekarang. Namun, dia bersyukur kala rasa sakit itu datang ketika semua murid yang ada dikelasnya sudah beranjak pulang satu persatu. Dan hanya menyisakan dia sendiri disana. Erangan perlahan keluar dari mulutnya.
Detak yang tak normal itu terus menyerang dada Varo. Tangannya mencengkram erat dadanya yang berbalut seragam. Meletakkan kepala diatas meja. Lantas ia mendongak ketika suara panggilan itu menyeruinya.
"Varo, lo ngapain masih di sini?."
"Kak Zoya sendiri?."
Zoya terdiam, menimang apa yang ia bicarakan tepat waktunya. Atau, sebaiknya ia simpan saja. Sampai suara Varo kembali menguar. "Ada yang mau di omongin kak?."
"Ah, enggak."
Varo manggut-manggut. Perlahan tapi pasti, sakit yang ia rasakan mulai mereda. Keduanya berjalan ringan menyusuri setiap koridor yang masih dihuni beberapa siswa.
"Itu pacar lo nggak diajak pulang?."
Pertanyaan Zoya itu disambut gelak tawa Varo. Tanpa sadar membuat orang disampingnya itu mencebik kesal. Apa yang lucu coba?
Varo menunjuk Jeslyn yang berada didepan kelas bersama beberapa temannya dengan sisa tawanya. "Itu, Jeslyn yang Kak Zoya pikir pacar Varo?."
"Ya iyalah, siapa lagi?!."
"Kok bisa mikir gitu?."
Sial, kejadian waktu itu kembali berputar diotak Zoya. Hingga sampai sekarang rasa kesal yang tak tahu itu untuk siapa masih saja mengganggunya. "Ya emang bukan?," tanyanya ketus lantas kembali memacu langkah keduanya ke tempat parkir.
"Bukan. Kita nggak pacaran, cuma sempat pura-pura pacaran aja biar Vero itu sadar kalau dia ada rasa sama Jeslyn. Terus Jeslyn juga pengen biar cepat ditembak. Aneh nggak tuh mereka berdua? Sama-sama suka juga, malah pada diam. Yang rempot jadinya kan Varo."
"Hah, jadi cuma boongan?."
Varo mengangguk berulangkali. Sedang Zoya mengumpat kesal dalam hatinya. Cuma boongan? Terus untuk siapa selama ini amarah itu?
"Sekarang masih pura-pura didepan Vero?."
"Udah enggak. Anaknya udah tahu, tapi nggak ditembak tembak tuh Jeslyn. Kan kasihan," balas Varo diakhiri tawanya.
Ada hening sampai keduanya berada ditemoat parkir. Namun lantunan suara Varo membuat sang lawan bicara tertegun. "Kak, besok minggu jalan yuk! Bosen dirumah aja."
__ADS_1
"Ja-jalan ke mana?."
"Tinggal Kak Zoya mau ke mana?."
"Lah kok gue? Kan lo yang ngajak."
"Ya biar lebih pas aja sama kesesuaian selera Kak Zoya."
"Ck, gaya banget selera gue," sahutnya berdecak.
Ada hening sebelum Zoya kembali menyuarakan balasan yang belum sempat menguar. " Gramedia."
Dilain tempat, suara lantang itu terus membentak remaja yang menundukkan kepalanya. Takut akan amarah pelanggan yang sedang menumpahkan amarahnya. Tiga laki-laki yang duduk dengan menatapnya tajam itu sedari tadi tidak mau mendengar permintaan maaf juga pertanggung jawaban yang ia tawarkan. Dan seharusnya memang itu yang harus dia lakukan. Tetapi, ego orang yang lebih tua darinya itu enggan menerima. Untung saja, manager cafe sedang tidak ada disana. Jadi, untuk saat ini ia masih aman. Namun, percuma jika kata aman itu sedang tidak berpihak kepadanya kala pelanggan itu mulai menantang.
"Nggak gampang lo bilang ganti rugi!."
"Lo tahu, disini banyak file yang penting! Bukan masalah lo ganti laptop gue!," lanjutnya dengan suara tinggi. Lantas mencengkram kerah remaja itu sampai sang empu berjinjit.
Sudah banyak pengunjung cafe yang mulai tidak nyaman melihat kekacauan itu. Bahkan, beberapa rekan kerja remaja itu tidak ikut membantu. Karena mereka tahu siapa yang dihadapi rekan kerjanya itu. Geng motor yang terkenal kejam dilingkungan mereka.
"Ma-maaf Kak. Saya benar-benar nggak sengaja," lirihnya dengan tubuh yang sudah bergetar ketakutan.
Iya, dia mengaku salah ketika kecerobohannya menumpahkan kuah sup hingga mengguyur laptop pelanggan itu. Naasnya secara perlahan laptop itu benar-benar meredup dan hanya menampilkan layar hitam.
"Maaf lo nggak guna tahu nggak!."
"Udahlah Jun, hajar aja! Nggak tahu kita capek-capek ngerjain, eh malah dirusak," sahut salah satu dari mereka.
Dengan senyum seringai, tangan itu perlahan terangkat membentuk kepalan yang akan dilayangkan pada sosok yang sudah pasrah. Tapi, sebelum benar-benar menemui titik yang dituju, tangan itu tertarik ke belakang hingga erangan kesakitan itu terdengar.
"Anjing! Sakit brengsek!," umpatnya.
"Jangan main kekerasan. Orang banci yang suka main fisik nggak pantes buat mukul anak buah gue, ngerti?."
Dengan sakali hentakan, tubuhnya terdorong kebelakang. Meninggalkan jejak merah dipergelangannya akibat cengkraman kuat dari sosok asing itu.
"Siapa lo?! Berani-beraninya ikut campur, nggak tahu kita siapa disini?!."
Orang itu tersenyum miring, lantas mendekat dengan tatapan elangnya yang juga mendapat balasan horor dari ketiga laki-laki itu. "Gue nggak mau tahu siapa kalian, dan gue juga nggak mau kenal sama orang yang selesaiin masalah pakai kekerasan," ujarnya mantap. Lantas melirik laptop diatas meja.
"Nggak usah dibesar besarin. Masih bisa nyala dan gue jamin semua file lo masih ada."
Orang itu mengeluarkan beberapa uang seratus ribu dari dompet. Lantas menaruhnya diatas meja. "Ini buat bayar ganti rugi."
"Nggak usah lebay. Lo cowok, bukan cewek!."
Setelah menepuk dua kali bahu laki-laki yang kini sudah merah padam dengan urat-urat tangan juga wajah yang timbul, ia melangkah membawa pelayan remaja itu masuk kedalam area dapur tanpa peduli teriakan menantang dari ketiga orang itu.
"Bang, makasih banget ya. Kalau nggak ada Abang nggak tahu deh gimana jadinya."
"Nggak perlu makasih. Apapun masalah anak-anak lain juga masalah gue. Termasuk lo yang udah sah jadi anak Warios," balasnya sembari merangkul remaja itu dari samping.
"Biar aku ganti-."
"Nggak usah. Ganti sama latihan lo aja, jangan kecewain gue. Tambah ilmu bela diri juga penting kalau ada apa-apa kita bisa lawan. Nggak jadi pecundang yang mau aja dihajar."
Remaja itu tersenyum, lantas mengangguk mantap. "Mau latihan sama Abang aja kalau gitu."
"Kalau lo diganggu sama mereka lagi, bilang. Biar gue yang hadapin."
Sedang didepan sana, ketiga orang itu tersenyum remeh kala mendapat informasi dari pelayan yang baru saja meninggalkan ketiganya.
"Cari tempat bascampnya di mana!."
...♡♡♡...
...Maaf ya kemarin nggak Update, yg ikutin IG author pasti tahu kenapa😁 Mampir yuk biar bisa ikutin perkembangan karya" author, IGnya @naokimiki_...
...Nanti sorean Update lagi, gantinya kemarin...
...Oh iyaa, nggak ada yang mau ucapin selamat hari natal buat Varo & Vero nih?☺...
__ADS_1
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^