
...Yakinlah, disetiap cobaan pasti ada hikmah yang sudah Tuhan atur sebaik mungkin. Melebihi apa yang manusia itu harapkan. Kuncinya adalah, ikhlas dan sabar. ...
...
...
Zoya tak mengira ia mampu bertahan dalam waktu sebulan ini. Mampu bertahan dibawah tekanan Sang Direktur yang tak pernah melihat apa tugas asli seorang Zoya prameswari yang hanya sebagai penulis dan editor tim. Sialan! Bukan hanya di sinetron-sinetron saja yang ia lihat sekarang, namun kisah itu memang benar adanya. Seorang bos yang semena mena terhadap karyawannya itu telah Zoya alami selama satu bulan terakhir. Menjadi pesuruh seorang Alvaro genandra adalah hal yang paling Zoya hindari. Setiap hari ada saja perilaku laki-laki dewasa itu yang membuatnya jengkel. Semisal, menyuruh Zoya mencetak banyaknya laporan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Namun, ada yang lebih parah dari perintah direkturnya, yaitu mulut para karyawan lainnya.
"Caper banget sih. Padahal juga baru jadi karyawan disini, eh tahu-tahunya malah jadi penggoda sana sini."
"Iya, nggak banget deh sama mukanya yang sok ramah itu. Padahal mah, dalamnya busuk. Suka banget cari perhatian Tuan Al, sampai-sampai nih ya- kemarin minta antar Tuan Al pulang tahu nggak?!"
"Ih, masa? Sampai sejauh itu dia lakuin? Astaga! Nggak banget ih!"
"Jadi orang sadar diri dikit kali! Nggak lihat yang dia embat itu kayak bumi sama langit, apa?!"
"Semua aja noh di embat! Nggak Tuan Al, Zafir, Chiko, Jerry, semua aja deh embat! Dasar SASIMO!"
Dan bla bla bla... bisik-bisik itu lolos masuk kedalam gendang telinganya. Empat orang wanita yang tidak jauh berada dari tempatnya berdiri itu masih melirik sinis. Lantas mulai bubar kala Caca mendekati Zoya yang masih menata beberapa kertas laporan itu.
"Zoy, biar aku yang antar, ya?" ujar Caca sembari menepuk bahu Zoya. Tatapan sahabat barunya itu terlihat jelas memancarkan rasa khawatir, cemas, kasihan, dan entahlah itu semua membuat Zoya semakin risih.
"Aku udah biasa kok, Ca. Ya, walau jujur rasanya nggak enak banget dibilang ini itu. Tapi, I am Fine."
Caca menggeleng. Memberi senyum manis yang bisa ia berikan. Tahu akan desas desus selama hampir satu minggu itu membuatnya merasa iba kepada Zoya yang dijadikan topik sana sini. Namun Caca, Angel, dan Zafir bisa apa? Jika banyak mulut yang sudah termakan omongon kosong yang entah berasal dari mana.
"Yaudah, biar aku aja ya yang antar ke ruang direktur. Biar nggak tambah runyam nanti."
"Aku sih oke aja, tapi kamu tanggung sendiri ya kalau 'Si Singa' ngamuk," balas Zoya terkekeh kecil membuat Caca mencebik.
"Ya semoga nggak ngamuk, nanti aku yang kena semprot."
"Kayak nggak tahu aja gimana Si Singa kalau lagi ngamuk."
"Kamu sih udah biasa, lah aku? Bisa mati kaku, kena tatapan dinginnya aja udah bikin lemes."
"Gimana, jadi nggak kamu yang antar?"
Caca terdiam sebentar. Lantas mengangguk patah-patah. Demi sahabat! Demi Zoya tidak mendapat gunjingan lagi, Caca rela mendapat amukan maupun tatapan tajam 'Singa'
"Oke deh, makasih banyak Caca yang paling Cantik. Kapan-kapan aku traktir, oke?!"
"Oke," balas Caca lemah sembari melangkahkan kakinya membawa beberapa tumpuk laporan yang baru saja Zoya selesai print-keruang direktur.
"Bu, saya pesan kopi hitamnya satu ya," ujar Zoya setelah sampai didepan Ibu kantin.
Secangkir kopi panas itu lebih menarik atensi Zoya ketimbang memikirkan tatapan tidak suka yang jelas-jelas dilayangkan Ibu kantin. Duduk dibangku dekat cendela seorang diri itu agaknya membuat beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Banyak tatapan yang bisa Zoya artikan meski tidak langsung menatap intens. Tanpa peduli dengan keadaan sekitar, Zoya lebih memilih menghirup aroma kopi yang bisa menenangkan pikirannya. Lantas menyeruput sedikit kopi itu. Seperti ada yang aneh, sekali lagi ia teguk minuman hitam itu.
"Ya allah Mbak, kenapa?" ujar Sahira panik kala melihat Zoya menyeburkan minumannya. Dengan cekatan, perempuan itu mengambil tisu yang ada dimeja sebelah dan memberikannya pada Zoya.
"Hati-hati Mbak kalau minum, masih panas itu kopinya."
Zoya tersenyum getir. Ah, panas ya? Sepertinya bukan karena panas. Melainkan rasa asin yang memenuhi indera pengecapnya.
"Iya, makasih."
"Sama-sama Mbak."
Kedua netra Zoya beralih ke arah Ibu kantin yang sedang melayani karyawan lain. Ada rasa getir yang membuatnya tak nyaman. Bukan mau berperasangka buruk, tapi kenapa ada yang janggal? Apa semuanya sekarang membencinya? Ah ayolah, mungkin Ibu kantin itu tidak sengaja memasukkan garam dan bukannya gula.
"Kenapa Mbak? Kok ngelamun?"
"Enggak kok, eumm kamu kok disini?"
Wajah Sahira detik itu berubah masam. Mengingat kejadian beberapa saat lalu ketika laki-laki itu menyuruhnya pergi kekantin untuk sarapan. Dan sialnya, Sahira terlalu patuh untuk tidak menolak perintah itu yang membuat beberapa temannya harus menggantikan tugasnya sementara.
"Disuruh sarapan sama Kak Al. Padahal kan Sahira lagi banyak kerjaan. Kasihan sama teman-teman yang lain, jadi ngerepotin. Ngulur waktu juga, Kak Al mah kalau udah bilang harus ini, harus itu, ya harus dilakukan sekarang."
Sudut bibir Zoya terangkat sedikit. Ya, hanya sedikit. Tidak lupa akan setiap perilaku Varo yang sering membedakan Sahira dengan anak-anak magang lainnya. Entah itu karena masalah apa. Tapi yang membuat Zoya heran adalah perilaku semua karyawan yang tidak mempermasalahkan kedekatan Sahira dan Tuan Direktur terhormat itu. Padahal jika menyangkut kedekatan Zoya dan Tuan Alvaro genandra yang sebatas karyawan dan Boss malah menjadi bahan gosip. Entahlah, Zoya juga pusing sendiri memikirkan hal itu.
"Iya sih jelas Tuan Al suruh kamu sarapan, karena sarapan itu penting."
Sahira mengangguk mengiyakan, kemudian tersenyum manis kepada Zoya yang menatapnya iri. Bolehkan sekali ini saja Zoya egois?
Sedang dilain tempat, suhu dingin AC ruangan itu tidak membuat Caca merasakannya. Euforia menegangkan yang saat ini meliputi perasaannya yang sudah membeku. Tidak berani menatap sorot dibalik binar tajam yang Alvaro berikan.
"Apa saya menyuruhmu mengantarkan kertas-kertas ini?!"
__ADS_1
Caca menggeleng. Masih dengan posisi menunduk.
"Apa saya juga yang menyuruhmu print semua kertas-kertas ini?!"
Lagi, Caca menggeleng.
"Lalu, kenapa kamu yang membawa semua berkas ini?!"
Caca tidak menggeleng maupun menjawab. Susah payah ia menelan salivanya sendiri. Merutuki keputusannya yang main ambil tugas Zoya.
"Apa kau tidak punya mulut?!" ujar Varo masih dengan suara pelan nan dinginnya.
"Ma-maf Tuan," balas Caca terbata.
"Apa dia menyuruhmu mengantarkan ini?!"
Caca mendongak, membalas tatapan tajam Varo dengan kernyitan. Maksudnya 'dia' apakah sahabatnya Zoya?
"Ti-tidak Tuan. Anu...itu, Sa-saya..."
"Bawa balik kertas-kertas ini! Berikan kepada yang punya tugas!" seloroh Varo membuat Caca terperanjat kaget. Tanpa banyak kata, ia mengambil kembali kertas-kertas itu dan segera membawanya keluar setelah mengucap maaf.
Setelah pintu besar itu tertutup sempurna Caca mengembuskan napas kasar. Mengelap keringat yang mengucur didahinya dengan lengan tangan. Pupus sudah kekagumannya kepada Tuan Al yang dulu ia puja-puja.
Caca yang baru sadar adanya sosok gagah yang mematung didekatnya itu langsung tersenyum kikuk.
"Pagi Om," sapa Caca sedikit menundukkan kepalanya.
Galih yang lagi-lagi mendapat panggilan 'Om' dari Caca hanya bisa tersenyum pasrah. Ya, hanya Caca yang memanggilnya dengan sebutan Om. Tidak seperti lainnya yang memanggil Galih dengan sebutan 'Pak Galih' ataupun 'Tuan Galih'
"Pagi juga."
"Saya permisi dulu, Om. Mau manggil anak Singa, takut keburu ngamuk induk Singanya."
Galih yang tahu akan maksud Caca hanya tersenyum kecil sembari memandangi kepergian Caca yang terkesan dikejar hantu.
...)( ...
Keduanya sama-sama bungkam. Belum ada jawaban setelah wanita itu menyerahkan setumpuk kertas-kertas yang sempat menyentuh meja besar itu sebelumnya. Hanya ada detak konstan dari jam dinding disana. Juga tatapan dingin Alvaro yang menatap sosok didepannya.
"Udah bosan kerja disini?!"
"Jawab! Punya mulut, kan?!"
"Tidak, Tuan."
"Terus kenapa tadi yang antar orang lain, hm?!"
"Maaf," balas Zoya sembari menunduk. Meski mengenal laki-laki didepannya ini sudah lama, namun ia belum terbiasa dengan tatap tajam yang orang itu punya.
"Tidak butuh kata maaf. Saya butuh penjelasan!"
"Ta-tadi saya keburu ke kamar mandi Tuan. Jadi minta tolong ke teman supaya diantar keisini. Takut berkasnya keburu dipakai."
Satu kebohongan hari ini.
Tidak ada balasan dari Alvaro. Menyisakan hening yang mampu membuat Zoya kagok. Sial, kenapa aura Varo saat dikantor sangat berbeda jika sang empu bersamanya diluar? Meski tidak sesering itu Zoya bercengkrama dengan Varo. Mungkin, satu atau dua kali keduanya pulang bersama setelah kejadian Varo sakit waktu itu. Jelas dengan Varo yang lebih dulu memberi tumpangan. Bukan Zoya yang meminta Tuan Al terhormat agar ia diantar pulang.
"Tidak saya maafkan!"
Kedua bola mata Zoya membelalak. Menatap tak percaya orang didepannya itu. Hei! Ini masalah sepele, loh?!
"Ta-tapi Tuan..."
"Ada syaratnya," seloroh Varo.
"Maksudnya?"
Detik itu, perasaan Zoya tidak tenang. Pasalnya diam-diam Alvaro yang ia kenal dulu tidak berubah sepenuhnya. Selalu saja menambahi kata 'syarat' diakhir permintaannya.
"Siap-siap nanti malam jam tujuh. Saya jemput."
"Hah?!"
"Kalau nggak, kamu tahu sendiri akibatnya."
Belum sempat Zoya membantah, usiran dari tangan Varo mau tak mau membuat Zoya mundur perlahan dengan mata yang masih menuntut penjelasan. Apalagi,kali ini?
Setelah hilangnya Zoya dibalik pintu, sudut bibir Varo melengkung sempurna.
__ADS_1
...)( ...
Wanita itu menggerutu sembari merutuki ban mobilnya yang tidak tahu kondisi. Malam yang semakin pekat itu membuatnya was-was. Apalagi ia sekarang berada dijalan yang sepi. Jarang kendaraan yang lewat.
"Kenapa bocor diwaktu dan tempat yang nggak tepat, sih?!"
"Astaghfirullah," ujarnya mengelus dada.
Ia menangkap arloji yang menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit, namun tampak seperti pukul sepuluh lewat. Mungkin karena mendung yang menyelimuti awan malam ini.
Sorot lampu dari arah belakang mengalihkan atensinya. Seketika tubuhnya menegang kala motor itu berhenti tepat disamping mobilnya. Pikiran negatifpun sudah memenuhi kepalanya.
Oh Tuhan, tolonglah hamba...
"Assalamu'alaikum, maaf mobilnya kenapa ya Mbak?"
Satu hela napas lega, sepertinya laki-laki digadapannya ini orang baik.
"Wa'alaikumsalam, ini Mas ban mobil saya bocor."
"Ohh, eum ada ban serep?"
"Ada Mas, tapi saya nggak bisa ganti."
"Kalau saya bantu boleh? Disini takut nggak ada bengkel, udah malam juga, nggak baik perempuan sendiri diluar."
"Boleh banget Mas. Sebelumnya makasih banyak, kalau nggak ada Mas, nggak tahu nasib saya gimana heheee..."
"Iya, udah sewajibnya saling tolong menolong."
Laki-laki itu mulai melepas ban yang bocor lebih dulu. Dengan lihainya dan tidak butuh waktu lama ban baru sudah terpasang.
"Masya Allah, makasih banyak ya Mas. Udah mau bantuin saya," ujar Wanita itu dengan senyum tulus.
"Udah Mbak makasihnya kelebihan."
Keduanya saling tertawa ringan.
"Mas mau kemana? Kok bawa tas banyak?" tanyanya ketika menangkap barang bawaan orang itu yang lumayan memenuhi motor.
"Saya mau kerja disini, dari Surabaya ke Bandung."
Mata wanita itu membola seketika. Satu kata untuk orang didepannya sekarang- Gila!
"Ya allah, Mas dari Surabaya ke Bandung naik motor?!"
"Iya," balasnya enteng.
"Masya Allah, Mas hebat banget. Jadi ngerasa bersalah, jauh-jauh dari Surabaya, eh malah ganti ban aku. Aduh jadi nggak enak, maaf ya Mas. Pasti capek banget ya, duh gimana kalau saya traktir makan, ya Mas?! Mau ya, please! Saya jadi nggak enak beneran loh.."
Laki-laki itu benar-benar dibuat gemas, sampai tertawa hingga mengabaikan tatapan tak enak hati perempuan itu.
"Nama kamu siapa?"
"Eh?"
"Yeah, nama kamu siapa?" tanya laki-laki itu lagi setelah mendapat tatapan loading.
"Panggil aja Lia, Mas."
"Oke, Lia. Jadi ini nomor telepon aku, kapan-kapan aja ya traktirannya. Hati-hati dijalan," ujarnya diakhir seulas senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Assalamu'alaikum."
Sampai motor dan tubuh itu menghilang, Lia masih dengan wajah cengonya sembari memegang sebuah kartu nama.
"Wa'alaikumsallam."
Kedua netranya mengerjap, lantas mengusap wajahnya kasar. "Astaghfirullah."
...♡♡♡...
...SELAMAT MUNUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN BAGI YANG MENJALANKANNYA😊🙏...
...MAAF BARU BISA UPDATE🙏 BUTUH ASUPAN SEMANGAATTTT, JAN LUPA LIKE & KOOMEEENNN🤗❣...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1