BERBEDA

BERBEDA
Chap 44 (Bertemu Kembali)


__ADS_3

...⚠️Wajib Baca⚠️...


^^^Aku perjelas disini ya, kejadian waktu chap Alvaro meninggal itu sekadar kasih tahu yang sebenarnya direal nya ya. Sudah aku bilang juga setelah real story selesai bakal lanjut ke full imajinasi author, jadi jangan disangkut pautkan sama kejadian terakhir di 2021. Anggap saja ini seosen 2 nya. So, kita lihat apa disini Alvaro tetap meninggal atau masih hidup. Next, happy reading:)^^^


...)(...


...Sebenarnya kita sadar, tapi enggan menyadarinya....


...Sadar akan hal apa? Dan menyadari akan hal apa? Itulah yang perlu dipertanyakan. ...



Dia tidak pernah berpikir bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dalam situasi selucu ini. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat semenjak terakhir kali jarak memisahkan. Hanya karena satu keputusan membuat salah satu dari mereka kecewa.


"Dokter sepertinya tulang rusuk pasien ada yang patah. Apa kita perlu merontigen atau langsung serahkan ke Dokter bedah?" Ujar laki-laki yang memakai Jaz Dokter. Dan sialnya Tuan Al membalas dengan kernyitan didahi. Sial, apa yang sedang terjadi?


"Dokter cepat ambil tindakan! Jangan diam saja," sahut Suster yang menariknya tadi.


Sedang diluar, ada Galih yang masih berusaha membuka pintu ruang IGD yang terkunci dari dalam.


"HEI BUKA! KALIAN APAKAN TUAN SAYA?!"


"CK! Berisik banget sih itu orang. Biar aku urus."


"Eh- Dokter mau kemana? Cepat periksa keadaan pasien Dok!" Cegah suster yang lain.


"Kalian salah orang! Saya bukan seorang Dokter!"


"Dok, bukan waktunya bercanda! Please, ayolah!"


Tuan Al menggeram kesal. Apa-apaan ini?


"Tuan tolong jangan berisik! Kami sedang menangani pasien," ujar suster setelah membuka pintu.


"Tuan saya ada didalam. Kenapa kalian membawanya?!" balas Galih.


"Tuan siapa?! Anda jangan melantur. Sekarang tolong pergi!"


"Tidak. Awas saya mau masuk!"


"Tidak boleh! Tolong silahkan pergi," cegah suster menutup kembali pintu itu.


"KALIAN ITU SALAH OR-"


"Ada apa ini?!"


Keduanya mengalihkan atensi kepada sosok yang baru saja tiba. Jaz Dokter yang melekat ditubuh tinggi tegap itu membuat auranya terpancar. Tapi, bukan itu masalahnya. Wajah itu-


"Dok- Dokter Al?" gagap suster sembari menunjuk Dokter itu. Sedang Galih menatap cengo orang dihadapannya sekarang.


"Jangan berisik!" sahut Dokter Al, lantas masuk kedalam. Tidak peduli dengan dua orang yang masih membuka mulutnya tanpa sadar.


"Te- terus yang ada didalam tadi siapa?"


"Sudah saya bilang itu Tuan saya! Tuan Al," balas Galih ngegas.


Bahkan didalam para suster dan Dokter itu masih berdebat. Sampai atensi mereka teralih kala laki-laki berjaz Dokter tadi datang. Namun langkahnya terhenti ketika sepasang netranya menangkap sosok tak asing. Hingga kedua pasang mata itu saling bertemu.


"Loh-" ujar suster sembari melongo menatap bergantian Tuan Al dan Dokter Al yang asli. Oh, good.


"Tuan!" panggil Galih membuyarkan ketegangan yang ada diruangan itu.


Dan yah, kini semua orang menatap penuh keheranan dua orang yang memiliki wajah sama itu. Hingga Tuan Al terlebih dulu melangkah menuju pintu keluar tanpa sepatah kata. Tidak lagi melirik Dokter Al yang masih membuku.


Hampir setengah jam berlalu ruangan itu menenggelamkam Dokter Al. Peluh sebesar biji jagung itu masih menetes dari dahinya. Namun, kali ini tidak ada kelegaan setelah keluar dari ruangan dimana ia menangani setiap pasiennya. Sekarang yang ada hanya perasaan kacau.


"Dokter Al tunggu sebentar!"


Perawat laki-laki itu berlari kecil menghampiri, hingga detik berikutnya ia menyodorkan kresek putih yang agak besar. "Apa?"


"Ini, tadi ada titipan buat Dokter."


"Dari?!"


Dokter Al menangkap gelagat gugup dari orang didepannya itu. Tak butuh waktu lama, Dokter Al memahami sumber keanehan yang jelas tercetak diraut wajah perawat itu.


"Da-dari orang yang wajahnya persis banget sama Dokter. Saya nggak bohong Dok, wajahnya sama kayak Dokter. Tapi pas saya tanya namanya dia nggak jawab. Saya kira tadi dia Dokter Al. Ternyata bukan."


"Oh."


"Hah? Mak- maksudnya Dokter percaya?"


Dokter Al mengangguk. Menerima uluran kresek itu.


"Ja-jadi Dokter Al punya kembaran?"


"See?!" balas Dokter Al mengendikkan bahu.


Perawat laki-laki itu melongo menatap punggung Dokter Al yang mulai mengecil dari pandangan.


Selamat! Impianmu tercapai. Tapi ,jangan mentang-mentang jadi Dokter malah nggak teratur makan. Jadi, jangan lupa makan tiga hari sekali. Jangan sampai tumbang. Selamat makan! Have a nice day:)


Batin Dokter Al membaca deretan kata di notes yang tertinggal didalam kresek itu. Beralih menatap isi kresek yang dipenuhi banyaknya makanan berat hingga makanan ringan juga macam-macam roti.


Satu hela napas berat keluar dari mulut Dokter Al.


Sudah lewat satu jam Galih hanya mondar mandir didepan ruang kerja Tuan Al. Padahal hari ini adalah tanggal merah yang seharusnya jadwal liburnya. Namun, dia adalah tipe orang setia. Yang sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Tuan Al selama tuannya itu berpergian. Entahlah, Galih sebenarnya lebih merasa ingin melindungi sosok itu. Bukan hanya sekedar menganggap Al sebagai majikannya. Umur Galih yang lebih tua empat tahun dari Al membuat naluri sebagai seorang kakak keluar. Namun, hanya satu yang mengganggu Galih saat ini- yaitu kejadian kemarin. Orang itu, siapa? Kenapa sangat mirip dengan Tuannya itu?


"Ck! Kayak nemuin jalan buntu. Siapa orang itu? Kenapa mirip banget sama Tuan Al. Apa cuma kebetulan, kan didunia ini ada tujuh orang yang punya wajah sama. Tapi, kenapa Tuan pesan banyak makanan buat orang itu kalau emang nggak kenal," monolog Galih panjang lebar tanpa tahu sosok yang ia bicarakan sudah ada dibelakangnya persis.


"Ekkhhmm..."


Galih berjingkat. Hingga selanjutnya bola mata itu melebar sempurna. Melihat mata berkantung hitam Tuan Al itu sedikit mengalihkan keterkejutannya.

__ADS_1


"Tu- tuan..."


"Pulang saja."


"Eh-"


"Pulang! Bukan waktumu kerja. Kenapa malah disini?"


Galih menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Ini juga bukan waktunya Tuan kerja. Kenapa malah ke kantor? Mending pulang aja ya, istirahat. Tuh lingkar hitam udah persis kayak mata panda."


Tuan Al melotot sampai Galih kembali sadar. Lantas menundukkan kepalanya dalam. "Ma-maaf Tuan."


"Sudahlah pulang saja! Kalau satu menit dari sekarang masih disini, gaji kamu saya potong."


Tuh kan sukanya main ancam potong gaji, batin Galih.


"Iya, saya pulang."


" Jangan lupa pulang juga Tuan," lirih Galih masih menunduk.


Tanpa tahu setelah punggungnya hilang ditelan pintu lift, ada seukir senyum tulus.


Sedang dilain tempat, Zoya menggeram kesal dengan orang disampingnya itu. Sudah satu jam lebih mereka hampir mengelilingi kota Bandung. Tapi apa yang dicari tak kunjung jua menemui titik temu.


"Udahlah Win, yang tadi aja kenapa sih?"


"Nggak!"


"Susah Win cari kos yang diisi perempuan aja. Palingan juga kayak yang tadi, udah penuh semua."


Darwin melirik tajam Zoya yang ada disebelahnya. Kini, mereka kembali menaiki bus mini ketempat kos berikutnya. "Nggak peduli sampai kita ketemu kos khusus putri! Titik."


"Kalau nggak ada?!"


"Ya balik pulang. Batalin kontrak kerjanya."


"DARWIINN!!!"


Spontan semua mata terfokus kepada dua orang yang kini menunduk dalam. "Teriak sekali lagi aku seret kamu balik ke Surabaya beneran," desis tajam Darwin yang membuat mulut Zoya mencebik kesal.


...)( ...


Tidak menyangka setelah susah payah mencari kos-kosan khusus putri- Zoya dan Darwin menemukannya. Walau cukup jauh dari letak kantornya. Tapi beruntung kala ada transportasi bus mini yang langsung menuju halte dekat tempatnya bekerja. Hari ini, adalah hari pertamanya masuk kerja. Resmi menjadi bagian dari perusahaan Booksmart.


"Zoya!"


Senyum Zoya semakin lebar mengetahui siapa yang memanggil. Hingga detik setelah sang punya suara sampai, mereka saling berpelukan sejenak. "Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Kamu?"


"Alhamdulillah baik juga."


"Oh ya Zoy, kamu satu ruangan sama Zafir kan?" tanya Angel.


"Dilantai sembilan. Ayo aku antar, sekalian aku kelantai dua belas nanti," balas Angel sambil mengapit lengan Zoya.


"Kalau Caca dilantai berapa?"


"Sama kayak kalian. Akunya aja yang misah."


Zoya mengangguk kecil sembari tersenyum kala bertatapan dengan banyaknya orang yang juga menunggu lift terbuka.


"Hai Zoya!" teriak Zafir melambaikan tangan setelah menangkap keberadaan Zoya dan Angel yang melangkah mendekat.


"Hai Zafir, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Oh ya, kamu beneran nih satu grup sama aku?"


"Iya. Grup A kan?"


Zafir mengangguk dengan seulas senyum.


"Nih, aku titip teman aku ya Fir. Awas jangan sampai lo apa-apain! Bantuin kalau ada apa-apa."


"Apaan sih Ngel," balas Zoya menyenggol lengan Angel.


"Ah, kalau itu mah tenag aja. Sekarang kita juga teman kan, Zoy?"


"Tentu!"


"Yaudah deh, aku mau keatas. Nanti istirahat jangan lupa ke kantin ya kalian bertiga. Bye!"


"Makasih Ngel," teriak Zoya mendapat acungan jempol dari Angel.


Dentang jarum jam berputar lebih cepat. Membuat keempat orang itu sudah duduk anteng dibangku kantin perusahaan. Dengan berceloteh ringan tanpa melepaskan senyum juga tawa ringan.


"Oh ya, nanti malam ada pesta penyambutan Direktur baru. Kalian ikut, ya?!"


"Beneran Ngel? Kata siapa?! Nggak ngada-ngada kan lo?!" cerca Caca.


"Enggak! Kan gue yang udah milih tempatnya. Dapat wewenang dari Bu besar Indira."


"Waaahh, beneran serius?! Semua diundang?! Terus Pak direkturnya datangkaann? Nggak mungkin nggak datangkan yaaa. Dimana Ngel, jam berapa? Gue mau ikut!"


Zoya dan Zafir geleng-geleng kepala mendengar kehebohan Caca yang mengalihkan beberapa atensi disana.


"Bisa biasa aja nggak Ca?! Kamu bikin kita jadi sorotan tahu nggak."


"Yaudah makanya jawab!"


"Nanti di hotel bintang lima yang ada disimpangan jalan raya Anjipan. Udah aku booking tempatnya. Dilantai lima jam tujuh malam."


"Oke! Kita ikut kan gaes?!"

__ADS_1


"Iyalah harus! Orang sekantor pada diundang kok. Masa nggak datang. Apalagi tempatnya dihotel," timpal Zafir.


"Loh, kamu udah tahu kalau ada acara penyambutan?" tanya Caca yang dibalas anggukan Zafir.


"Ck, kok nggak bilang aku dari tadi?"


"Toh sekarang udah tahukan?"


"Zafir nyebelin ya?!"


Zafir mengendikkan bahu acuh.


"Nanti datang ya Zoy, aku jemput."


"Nggak usah Ngel. Aku naik ojol aja kesananya."


"Udah aku jemput. Ngapain sih naik-naik Ojol kalau ada yang gratis."


"Nanti ngerepotin."


"Udahlah Zoy nanti bareng Angel aja. Kita bertiga kesana sama-sama. Kasih aja alamat kos kamu," sahut Caca.


"Oke deh. Nanti ya jam tujuh."


"Yeeesss! Nggak sabaaarrrr."


Sekali lagi, ketiganya menggelengkan kepala karena tingkah Caca. Mengebalkan muka kala tatapan heran kariyawan lain menuju kearah mereka berempat.


Sepanjang langkah menuju ke lift, Caca masih saja berisik dengan segala khayalannya. Bercerita bagaimana ketampanan sang direktur baru bersinar ditengahnya lampu kelap kelip pesta. Sampai Zoya terheran, setampan apa direktur yang sejak tadi disanjung sanjung oleh Caca?


"Emang udah tahu wajahnya gimana, Ca?" tanya Zoya akhirnya.


"Udah. Kemarin aku stalking direktur baru Booksmart diinternet."


"Astaga ini orang," ujar Angel menatap aneh Caca.


"Sumpah aku nggak bohong Zoy. Dia itu kayak jelmaan dewa tahu nggak, tampaann banget. Itu cuma difoto loh ya, nggak tahu lagi gimana nanti  aslinya."


"Hust, jangan bawa-bawa dewa. Syirik," sahut Zafir.


Tepat setelah Zafir berucap pintu  lift terbuka. Mengeluarkan beberapa orang dari lantai atas. Hingga kembali penuh oleh beberapa orang yang diantaranya dari keempatnya.


Namun, sebelum pintu itu tertutup sempurna- ada tangan yang menghalangi hingga pintu iyu kembali terbuka. Menampakkan dua orang tinggi tegap dengan jaz hitam juga kaca mata hitam yang bertengger apik dipangkal hidung.


Deg


Sepasang mata itu- hitam kelam pekatnya berhasil menegangkang tubuh Zoya. Juga detak yang ada didalam sana seketika bertalu talu. Tidak menghiraukan sikap orang disekitarnya yang langsung menunduk.


"Silahkan masuk tuan," ujar Galih.


Detik seakan berhenti, membuat Tuan Al bersusah payah mengalihkan fokusnya dari netra coklat yang juga menatapnya tanpa berkedip. Tapi detik kemudian keduanya tak lagi bersitatap kala tangan Caca mendorong kepala Zoya agar menunduk. Dan setelahnya, Tuan Al masuk kedalam dengan getaran yang susah payah ia redamkan.


Suasana didalam sana sangat sunyi. Tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya. Bahkan Caca yang sudah tak tahan ingin berteriak menggigit kuat bibir dalamnya. Melihat bagaimana dirinya satu lift dengan sosok yang sedari tadi mereka bicarakan. Sedang Zoya kembali mendongakkan kepala. Menatap lekat tubuh tegap tinggi itu dari belakang lekat-lekat.


Satu yang ada dipikirannya saat ini- siapa yang ada dihadapannya sekarang?


Ting


Lihat, sepeninggalan dua orang itu- semua orang yang ada dilift berbisik bisik heboh. Tak khayal dengan Caca yang sudah loncat-loncat bak anak kecil dengan tawanya. Namun harus terhenti ketika Zoya mencekal tangannya agar diam.


Caca, Angel, dan Zafir mengernyit mendapati tatapan Zoya yang berubah serius. "Itu tadi siapa?"


"Ya ampun Zoya, itu tadi direktur baru kita! Masa nggak tahu sih ya ampun. Gimana udah-"


"Namanya siapa?" seloroh Zoya mendesak.


"Alvaro genandra."


Deg


Hati Zoya mencelos. Nama itu lagi. Kenapa? Apa maksudnya? Apa benar bumi ini sekecil itu?


"Zoy, kamu nggak apa-apa?" tanya Angel terselip khawatir menyadari wajah Zoya yang seketika pucat pasi.


"Di- dia direktur baru itu?"


Ketiganya mengangguk mantap.


"Alvaro, atau Alvero?"


Ketiganya mengernyit, saling tatap heran. Tidak mengindahkan pertanyaan Zoya yang membuat mereka bingung.


"Maksud aku, namanya Alvaro genandra atau Alvero genandra?!"


"Ck, udah aku bilang Alvaro genandra Zoya!" balas Caca menekan nama yang ia sebut.


Dan untuk kedua kalinya, kepala Zoya menunduk. Oh good. Apa lagi kali ini?


Kenapa harus bertemu kembali


"Kenapa Zoy? Kamu, aneh."


Ucapan Angel diangguki Caca dan Zafir.


"Enggak."


"Emm- kayaknya nanti malam aku nggak jadi ikut," lanjut Zoya.


...♡♡♡...


...Like & Komen❣...


^^^Tertanda^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2