
...Aku berharap itu hanya mimpi! ...
Tiap detik yang terasa mematikan berangsur menghilang. Seperti yang ia alami beberapa hari lalu. Ketika detak didalam sana berpacu lebih dari seharusnya. Wajah pucat itu tersenyum lebar. Seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Terlebih kepada orang yang berada disamping kanannya. Genggaman tangan juga raut cemas masih lekat diraut wajah adiknya itu.
"Udah ayo pulang!"
"Serius udah nggak sakit?" tanya Vero yang dibalas anggukan mantap sang empu.
"Istirahat sebentar aja Var kalau masih nggak enak," sahut Joy.
"Beneran udah baikan ini. Mau istirahat di rumah aja."
Hela napas berat terdengar. Pasrah ketika keras kepala Varo mengambil alih. Hingga uluran tangan dari Vero dibalas Varo. "Yaudah Kak, kita pulang dulu ya."
Hariz dan Joy mengangguk, bersamaan dengan satu nyawa yang berada diambang pintung bergegas memacu langkahnya menjauh. Takut jika keberadaannya diketahui. Bisa besar kepala jika satu anak itu tahu bahwa ia sedari tadi hanya bisa melihat dari jauh.
"Zoy, kok balik. Gimana?" tanya Lia mencegah Zoya yang ingin naik keatas motor.
"Gimana apanya?"
"Keadaan Varo," balas Lia sembari mrotasikan kedua bola mata.
"Udah baik. Ayo pulang!"
Lia mengangguk. Lantas menaiki motornya yang terpakir disebelah sahabatnya itu.
Mereka tidak akan pernah tahu, bahwa takdir seperti apa yang harus mereka lewati ditahun baru 2020 nanti.Atau mungkin, ditahun 2021. Yang mereka tahu, merayakan tahun baru itu lebih penting. Bersorak dibawah letupan cahaya warna warni tanpa beban. Menyambut tahun baru yang siap menorehkan suka maupun duka.
...)( ...
Denting sendok yang beradu dengan piring itu kontras mengisi sunyi ruangan yang terdapat tiga nyawa disana. Makan malam tanpa adanya sosok Papa sudah menjadi hal biasa bagi kedua anak kembar itu. Juga bagi Miranti yang kehilangan sosok suami. Suami yang tega memilih wanita lain dari pada istrinya sendiri.
"Mah, malam tahun baru nanti Varo sama Vero mau ke puncak."
"Ke puncak? Sama siapa?"
Varo menelan makanannya sebelum membalas pertanyaan Miranti. Hingga setelahnya anggukan dari Miranti membuat kedua sidut bibir Varo terangkat. "Sama anak-anak pramuka. Ada kakak-kakak kelas yang pantau. Pembina mungkin juga ikut."
"Iya boleh, tapi jaga kondisi disana ya. Bawa jaket yang tebal, takut nanti asma kamu kambuh. Sama jangan lupa bawa inhalernya."
"Siap Ibu Negara," balas Varo sembari memberi hormat.
Sedang disebelah anak itu, ada saudara kembarnya yang hanya diam. Telinganya bahkan tidak mampu mendengar percakapan kedua orang berbeda generasi itu. Kedua tangannya fokus mengaduk aduk makanan. Tatapannya bahkan kosong. Hingga sepasang netra Varo menangkap keganjalan yang ada disana.
"Kalau nggak makan, nggak usah diaduk aduk gitu. Kasihan nasinya. Mending kasih ke ayam tetangga aja."
Lantunan suara Varo berhasil mengalihkan atensi Vero dan juga Miranti. Sampai decitan kursi yang terdorong kebelakang menggema. "Vero udah selesai Mah. Mau tidur dulu."
Langkah Vero tertahan kala suara Miranti merayap diudara. Dan setelahnya mampu membuat hati Vero terasa diremas. Sepertinya, dia telah melukai wanita itu.
"Kenapa Nak? Kamu nggak suka ya tinggal sama Mama? Vero nyesel balik kesini? Kalau Vero nggak suka, Vero boleh kok balik tinggal sama Papa. Asal Vero bahagia, Mama juga ikut bahagia."
"Apa apaan sih Mah? Nggak, aku yang nggak setuju Vero balik ke neraka itu!" sahut Varo dengan rahang yang sudah mengeras.
Bagaimana bisa Miranti bicara seenteng itu. Padahal, usaha Varo membuat Vero ikut tinggal bersamanya lagi tidak semudah kata cerai yang Genandra lontarkan.
Miranti menghela napas berat. Sedang Vero masih membelakangi keduanya dengan degup tak normal.
"Mama udah janji nggak bakal paksa kalian mau ikut siapa. Kalau cuma gara-gara kamu paksa Vero buat tinggal disini, itu nggak adil Var. Mama nggak mau lihat Vero tertekan dan nggak suka tinggal sama Ma-."
Belum selesai Miranti bicara, dekapan erat sudah mengambil alih tubuhnya. Menghentikan semua ucapan yang ingin ia tumpahkan. Hangat pelukan yang Vero berikan berhasil meloloskan liquid bening dari pelupuk matanya.
"Cukup Mah," lirih suara Vero mengalun dengan getar suaranya yang tidak bisa lagi ditahan.
Semua yang diucapkan Miranti hanyalah omong kosong bagi Vero. Karena kenyataannya, anak itu lebih suka seatap dengan Miranti juga Kakaknya. Miranti salah besar jika menilai Vero ingin tinggal bersama sang Papa.
"Vero sayang Mama. Vero nggak mau tinggal dirumah Papa."
Isakan itu akhirnya lolos dari bibir Vero. Menumpahkan segala beban yang hanya bisa ia ketahui. Tanpa ada orang yang bisa ia jadikan pundak. Bahkan, Varo tidak bisa menjadi tempatnya mengadu.
"Mama juga sayang sama Vero. Kalau ada apa-apa bilang ke Mama, jangan ditutupi ya. Kalau Vero nggak suka sama tindakan Mama apapun itu, bilang aja. Jangan dijadiin beban ya, Nak."
Vero mengangguk. Masih setia memeluk Miranti. Takut jika ia lepaskan, Miranti akan benar-benar hilang. Cukup Vero merasakan jati dirinya saja yang hilang.
"Ck, kalau gini aja aku dilupain!"
...)( ...
Pertama kali memasuki tempat yang tidak pernah ia kunjungi adalah sensasi mual kala mencium aroma alkohol yang sangat menyengat. Ditambah, musik DJ yang memekakkan telinga juga lampu disko berputar putar diatas kepalanya.
Tubuh itu terhuyung kedepan ketika bahunya didorong laki-laki yang ia yakini sedang dalam kondisi mabuk.
__ADS_1
"Nggak usah ngalihin jalan lo! Dasar bocah tengik!" sengit laki-laki itu. Lantas meninggalkan Vero dengan kedua alis menyatu.
"Yang salah siapa coba? Ck, dasar!"
Detik setelah ia bergumam, tepukan dibahu membuat anak itu menoleh. Mendapati tatap dingin yang tak pernah ia sukai menusuk tepat kedalam netranya.
"Gue kira lo nggak bakal dateng. Eh, ternyata masih sayang bokap kayaknya."
Vero tidak membalas. Hanya membalas tatapan dingin itu dengan wajah datarnya yang memang sudah dirancang apik sejak ia lahir.
"Kuy lah masuk!"
Vero hanya menurut, mengekor dibelakang ketika tarikan tangan dari Juna membawanya entah kemana. Ia harap, malam ini bukan malam terakhir. Hingga langkah keduanya terhenti didalam ruangan khusus yang kedap suara. Ruangan yang terdiri dari satu sofa panjang, dua sofa tunggal, satu meja, dan juga sepaket alat karaoke itu sengaja Juna pesan untuk mereka berdua.
"Duduk!"
Tanpa banyak penolakan, Vero duduk disofa tunggal. Sedang Juna duduk disofa panjang.
Cukup lama keduanya membiarkan hening memeluk. Sampai suara decitan pintu terdengar. Menampakkan cewek dengan pakaian **** masuk kedalam dengan membawa nampan yang berisi macam-macam tingkatan alkohol. Dari yang beralkohol rendah sampai tinggi.
"Thanks baby," ujar Juna setelah cewek itu meletakkan minuman diatas meja. Lantas mengerlingkan matanya.
Setelah tubuh **** itu menghilang dibalik pintu, Juna maju meraih gelas yang sudah diisi alkohol.
"Nggak ada lo gue jadi repot harus beli minuman sendiri," ujar Juna sembari memainkan gelas itu. Namun, tatapannya masih enggan beralih dari wajah Vero yang menatap kosong meja didepannya.
"Kenapa diam?! Nggak punya mulut?"
Vero tetap diam. Tidak peduli didepannya ada raut wajah yang mulai memerah. Hingga tarikan dari lengan kirinya membuat kedua pasang bola mata itu bersitatap.
"Kalau yang lebih tua ngomong itu ditatap!"
"Nggak sopan!"
"Sejak kapan lo tahu artinya sopan?!"
Entah keberanian dari mana kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut Vero. Yang semakin membuat Juna mengeratkan remasannya dilengan adik tirinya yang mungkin sudah memerah.
"Coba ulangi!" desis suara Juna seakan awal dari malapetaka yang bisa Vero rasakan. Dan sialnya, mulut anak itu tidak bisa diajak kompromi setelah melontarkan balasan. Hanya bisa terkantup rapat yang semakin mendidihkan kepala Juna.
"Minum!"
Rasa aneh itu terus meluncur melewati kerongkongan Vero. Cekokkan paksa dari Juna hanya bisa Vero nikmati. Tanpa melawan yang hanya akan membuatnya lebih tersakiti.
"Malam ini, bersenang senanglah dengan abangmu ini," ujar Juna sembari menepuk berulang punggung Vero yang masih terbatuk batuk dengan wajah memerah. Satu gelas penuh berhasil tandas, masuk kedalam perutnya yang mulai terasa panas.
"Oh ya, untung aja lo dateng. Kalau nggak racun ini bakal masuk kedalam perut tua bangka itu besok."
Vero mengepalkan tangannya kuat hingga membuat buku jarinya memutih. Menatap botol kecil yang betuliskan racun yang entah apa itu namanya berada ditangan Juna.
"Sadar Bang! Dia juga bokap lo sekarang!" teriak Vero.
"Bokap gue udah mati lama kali."
Belum selesai Vero menyuarakan suaranya, cengkraman Juna didagu membuat anak itu mau tidak mau membuka mulut. Kembali menelan paksa cairan bening yang menyakiti kerongkongan juga perutnya.
Detik demi detik terus berjalan. Berganti dengan menit yang membawa jarum.jam berganti angka. Tanpa sadar membuat Juna hilang kendali setelah puas memaksa adik tirinya itu meminum semua alkohol yang ia pesan.
Menikmati setiap dengkuran halus yang keluar dari celah bibir Vero yang kini terpejam. Ditemani gelap yang terasa menenangkan.
...)( ...
Hari ini begitu cerah bagi satu nyawa yang sedang asyik dengan dunia lain. Lebih tepatnya, dalam dunia halu. Pagi yang cerah ditemani dengan secangkir kopi juga alunan musih dari gawai berhasil menenangkan dunianya.
"Nulis aja terus. Biar nanti Nenek suruh Ibu kamu jemput sekalian nggak usah dipulangin!."
Zoya mendengus, menghentikan jari jemarinya dari layar pipih itu. Beralih memandang Neneknya yang duduk diseberang. "Dari dulu harusnya gitu Nek. Bilangin ke Ibu sama Ayah suruh jemput aku buat pulang. Biar ingat masih ada satu anaknya yang ada disini!"
Nenek membuang napas berat. Tidak menanggapi balasan dari cucunya. Membiarkan Zoya kembali kedalam imajinasi. Memenuhi teriakan para netizen yang meminta agar segera update chapter terbaru.
"Kamu benar-benar nggak jadi pulang?"
Zoya menggeleng. "Pulang kemana? Ini kan udah dirumah."
"Maksudnya rumah Ibu sama Ayahmu," balas Nenek geram.
"Enggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Ya nggak tahu Nek. Udah diam dulu, Zoya lagi nulis nih."
Keduanya sama-sama mendengus kesal.
__ADS_1
Setelah tiga jam berkutat menyelesaikan satu bab, Zoya membawa tubuhnya keatas kasur. Sekarang giliran waktu untuk dirinya sendiri. Didepan drama korea yang selalu menjadi teman berhalu selain novel-novel yang sudah banyak didalam list favorit.
Puas dengan tontonannya, jemari itu menyalakan data internet yang langsung memberikan suara bising dari banyaknya notifikasi terbaru.
Pesan dari Lia lah yang pertama kali Zoya buka, hingga kerutan didahinya tercetak jelas.
Lia
P
Zoy, buka grup kelas cepat!
Zoy...
^^^Anda^^^
^^^Ada apa sih? ^^^
Tanpa menunggu balasan Lia, Zoya menutup ruang obrolan itu hingga deretan dari beberapa grup membuatnya semakin penasaran. Namun, setelah ruang grup chating kelas ia buka- detik itu hatinya serasa disayat oleh benda tajam. Juga tubuhnya yang mendadak kaku. Fungsi otaknya pun seperti berhenti total hingga membuat ia enggan mencerna kata demi kata yang ada disana.
Asih
Beneran nggak sih?
Fathur
Beneran apanya? Kalau chat nggak usah setengah-setengah ogeb
Laila
Beneran apa @asiihhh?
Asih
Send foto
(anggap aja ada foto peti bersama foto ____ yups)
Fathur
Heh! Lo dapet dari mana itu?
Yang bener dong kalau kasih inpo! Jangan yang kayak ginian lo buat mainan
Asih
Beneran. Gue lihat dari storynya Jeslyn
Ayu
Itu yang Varo atau Vero?
Asih
Varo
Laila
Innalillahi wa innalillahi raji'un
Fathur
Innalillahi wa innalillahi raji'un
Ayu
Innalillahi wa innalillahi raji'un
Lia
Innalillahi wa innalillahi raji'un
...♡♡♡...
...Tadinya mau HIATUS- Eh, dapat notifikasi lolos kontrak, gagal deh rencana menghilang kemars🙂...
...Gimana ada yang kangen nggak?...
...Nexxtttt........
Update : 21.30
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^