
...Tahun 2020 adalah awal tahun dimana perubahan dunia di mulai. Dimana dengan senang hati semesta bermain bersama banyaknya nyawa yang harus menyerah secara paksa. Meninggalkan bumi. Selamanya. ...
Mega diatas sana terlalu mendung untuk banyaknya nyawa yang kini bersorak gembira. Menikmati pemandangan asri yang jarang sekali mereka pandang. Seperti kebiasaan setiap akhir tahun angkasa diatas sana akan sering menumpahkan tangisnya. Entah bersekongkol dengan alam, atau sudah takdir nya rintik itu akan selalu membasahi bumi. Menemani setiap detik-detik penyambutan tahun baru.
Sudah empat hari berlalu semenjak Vero kembali menutupi apa yang seharusnya ia ceritakan. Dan hari ini, binar kedua anak kembar itu kembali menyala. Berhenti sejenak dengan beban yang mereka lewati selama tahun 2019 ini.
"Nggak usah nyanyi! Suara lo jelek," celetuk Mei pada salah satu temannya- Reno.
"Mendingan juga suara gue. Dari pada suara lo kayak kucing keinjek ekornya."
Mei yang berada dibelakang Reno lantas menepuk kepala anak itu. Hingga tawa kecil terdengar memenuhi Bus yang sedang melaju.
Zoya dan Lia gelemg-geleng kepala. Dua anak seangkatan mereka itu selalu menjadi pemecah suasana. Hingga tatapan Zoya terhenti ketika sepasang netra hitam kelam itu mengarahkan binarnya. Menyihirnya beberapa detik hingga suara Lia mengambil alih.
"Semua bahan masakan udah lo taruh bagasi, kan?"
"Ah, u-udah kok."
Joy yang sedari tadi duduk sembari memetik gitarnya kini beranjak. Berdiri dengan tubuh bersandar pada pinggir kursi yang sebelumnya ia duduki.
"Nyanyi gih! Gue gitarin."
Semua orang terdiam. Beralih menatap Varo yang menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. "Iya elu! Alvaro," lanjut Joy memahami kebingungan juniornya.
Varo menggaruk tengkuknya. Menggeleng pelan lantas menoleh kepada sang adik yang langsung membuang mukanya keluar jendela.
"Aduh jangan Varo deh Kak. Nggak bisa nyanyi."
"Ck, nggak usah merendah. Suara lo tuh bagus. Gih nyanyi, sama Vero juga."
Semua orang bersorak menyuruh dua anak itu bernyanyi. Sampai anggukan pelan Varo mendapat tepuk tangan riuh.
Vero mendengus malas kala Kakaknya menyodorkan satu mix didepannya. Tidak ada celah untuk keduanya menolak, karena siapapun akan tahu bagaimana bakat kedua anak itu menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Dimana disaat keduanya menyanyikan lagu 'bunda' ketika Varo post di instan story IG nya.
Petikan gitar itu perlahan mengalun. Dan setelahnya disusul suara Varo yang membawakan lagu 'karena su sayang'
Kepala Varo menoleh kebelakang kala lagu mencapai reff. Sedang yang ditatap seakan salah tingkah. Kedua pipinya memanas bersamaan dengan degup didalam sana yang tidak lagi normal.
Biarkan cinta tumbuh sebisanya
Cinta dan resah itu pelengkapnya
Jang hanya datang dan tinggalkan lara
Sa tetap cinta walo tra bersuara
Biasa sa cinta coba ko pahami
Sa su bilang sayang jaga sap hati
Tra mendua sa berhenti mencari
Cukup ko dalam mimpi, kini dan nanti
Biasa sa cinta satu sa pinta
Jang terlalu mengekang rasa
Karna kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karna su sayang
Jangan kau berulah sa trakan mendua
Cukup jaga hati biar tambah cinta
Karna kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karna su sayang
"Sweet banget nggak sih punya pacar kek Varo sama Vero," celetuk Lia dengan senyum manisnya yang membuat kedua bola mata Zoya mendelik. Tidak habis pikir dengan ucapan yang baru saja sahabatnya itu katakan. Bagaimana bisa orang awam akan cinta seperti Lia tiba-tiba bicara seperti itu?
"Heh sadar Lia! Lo lagi kerasukan setan mana? Bisa-bisanya bahas soal pacaran. Bukannya lo anti banget ya sama kek gituan?"
"Kan cuma seumpamanya aja Zoy. Kalau beneran nggak mungkin. Gue masih waras buat bedain mana yang halal sama yang enggak. Plus mana yang bisa dihalalin dan mana yang nggak bisa."
"Lo kan tahu mereka agamanya beda sama kita," sambung Lia yang entah kenapa seperti menancap tepat direlung gadis disebelahnya itu yang langsung terdiam.
Ada jeda yang cukup memberi kernyitan didahi Lia. Hingga ia menyadari jika ucapannya barusan berefek kepada satu nyawa yang ada disebelahnya.
Aduh Lia, bego! Kenapa asal ceplos sih, batin Lia
Salahkan saja mulutnya yang tidak tahu diri. Asal bicara hingga melupakan satu hal. Bahwa Lia juga tahu bagaimana setiap curhatan Zoya mengenai sikap Varo selama ini. Hingga berani mengungkapkan rasa suka mesti lewat instan chatting. Meski begitu, Lia benar-benar kagum akan keberanian Varo yang secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada sshabatnya itu.
Seperti setiap istirahat, adik kelasnya itu tidak pernah absen masuk ke kelasnya hanya dengan alasan ingin menemui Fathur. Dan berakhir bermain game dikelas seniornya itu. Juga topik yang Varo cari selalu menyudutkan Zoya sehingga sang empu tidak bisa mengelak untuk membalas.
"Ma-maaf Zoy. Gue nggak bermaksud," cicit Lia pelan.
"Ha?"
"Ah, nggak usah dipikirin omongan gue tadi ya. Mending makan wafer ini aja," balas Lia menyodorkan wafer rasa keju yang dibaLas gelengan kepala oleh Zoya.
"Gue nggak suka keju."
Lia menepuk jidatnya pelan. "Aduh sorry. Gue lupa Zoy."
Zoya menghela napas berat. Entah itu karena masalah rasa keju yang tidak ia sukai...atau, masih terngiang akan ucapan Lia beberapa saat lalu. Entahlah. Yang ia rasakan sekarang hanyalah rasa gelisah yang tidak tahu apa penyebabnya.
"Woww keren banget suara duo twins," teriak Joy bersamaan dengan riuh tepuk tangan mengakhiri alunan nyanyian.
"Biasa aja kali Kak," balas Varo menyerahkan kembali mix kepada Joy.
"Entar ada games nyanyi. Yang dapat satu kelompok sama kalian berdua dipastikan jadi pemenangnya," sahut Hariz yang sedari tadi hanya diam.
"Yes! Gue satu regu sama Vero," ujar Lia lirih.
"Gue juga."
__ADS_1
Lia menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan. Terkesan sangat lebay dimata Zoya yang langsung berotasi. "Diregu gue nggak ada nama lo loh Zoy. Jangan bilang lo...satu regu sama Varo?"
Zoya mengangguk malas. "Siapa sih yang bikin regu, nya?"
"Kak Devi sama Kak Joy."
Keduanya mengalihkan atensi kala suara Joy kembali mengambil alih. "Lupa ya, lo kan juga satu regu sama Vero."
"Oh iya juga ya. Lupa gue," balas Hariz sembari menggaruk belakang kepalanya. Hingga tawa kecil kembali menguap bersama separuh perjalanan yang akan mereka tempuh.
Semua lelah perjalanan hampir memakan waktu dua jam itu terbayar habis kala didepan mereka menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Benar-benar membuat kedua mata menyalakan binarnya.
"Welcome dunia yang penuh akan drama baru!" teriak Reno.
"Heh! Nggak usah malu-maluin lo! Nggak jelas banget," sahut Mei.
Zoya dan Lia yang berada dibelakang mereka berdua terkikik geli. Keduanya itu seperti kucing dan tikus. Tidak pernah akur tapi selalu membawa warna.
"Bodo! Nggak usah ngerusak kebahagiaan gue lo. Sekarang waktunya bersenang senang," sahut Reno lantas merentangkan tangannya lebar. Berjalan kembali mengikuti rombongan yang sudah berada didepan.
"Ck, tuh anak kayak nggak pernah liburan," cibir Mei.
"Udahlah nggak usah berantem mulu kalian berdua. Nanti lama-lama..."
"Jadi cinta?! Ogah, nggak bakal gue jatuh cinta sama orang yang otaknya tinggal separuh," seloroh Mei memotong ucapan Zoya.
Lia mendengus melihat teman-temannya yang tak jauh dari pandangan sedang mendirikan tenda. "So, kita nggak jadi nginap di Villa," ujar Lia lirih.
"Ya. Itu pernyataan. Bukan pertanyaan," balas Mei meluruhkan kedua bahunya.
Zoya yang berada ditengah mereka berdua menepuk lengan Lia dan Mei yang langsung melotot kearahnya. "Anak pramuka tuh emang wajib tidur dimana pun. Apalagi tenda. Nggak usah lebay pengen tidur dikasur Villa yang empuk. Mending tidur dirumah aja. Nggak ngebuang uang juga. Lo tahu kan banyak adik kelas yang-."
"Iya gue tahu! Banyak adik kelas yang nggak setuju nginep di Villa. Karena harganya mehong! Gue juga lagi bokek, makanya gue setuju nggak usah nginep di Villa kalau tenda aja ada," potong Mei menggebu.
"Nah itu tahu! Nggak usah rewel kalau gitu. Yok keburu dicariin kita," balas Zoya lantas menarik lengan kedua temannya.
...)( ...
Angkasa diatas sana sempat menitikkan tangisnya. Namun tidak butuh waktu lama tetesan itu menghilang. Menerbitkan senyum disemua wajah para remaja itu. Kurang sembilan jam lagi pergantian tahun yang mereka tunggu. Tidak ada rasa bosan sama sekali. Karena saat ini, semuanya berkumpul dengan regunya masing-masing. Sibuk dengan games yang pertama mereka buka. Yaitu, lomba memasak yang akan dinilai oleh dua pembina yang mengikuti kegiatan mereka sedari awal.
"Zoy ini mau dibikin apa?" tanya Joy.
Zoya menatap bahan makanan yang ada didepan mereka. Ada banyak macam sayuran juga ikan. "Masak-masakan oooeekk...masak-masakaann," nyanyi Varo sembari membolak balikkan ikan segar yang masih terbungkus plastik.
Devi dan Joy lantas terkikik geli mendengar nada nyanyian Varo. Kecuali Zoya yang mendengus malas. "Menurut Kak Devi buat apa?"
"Emm kalau ikannya kita bakar aja. Terus kita bikin sayur capcay aja, gimana?"
"Nah enak itu! Varo setuju."
"Kita mah ngikut aja Var. Yang masak kan mereka berdua. Kita tinggal nikmati," sahut Joy sambil merangkul pundak Varo.
"Ck, bantuin juga lah! Enak aja cuma jadi penonton. Nih bagian kalian bersihin ikannya sampai bersih! Awas aja kalau masih ada lumut sama sisiknya."
"Iya Kak Devi. Siap," balas Joy dengan suara yang dibuat-buat.
"Terus sama cari air juga."
Kedua laki-laki itu pergi kearah sungai. Dengan Varo yang membawa timba dan Joy yang menenteng kresek berisi ikan. Sedang kedua gadis itu dengan cekatan memotong sayuran dan menyiapkan bumbu.
"Oh ya Kak Dev, Siska alasannya nggak ikut kenapa ya?" tanya Zoya yang sebenarnya sudah dari tadi ia pendam. Sejak awal, batang hidung Siska tidak terlihat. Bahkan sejak perkumpulan diaula waktu itu.
"Katanya sih nggak dibolehin sama kedua orang tuanya."
Zoya mengangguk. Tidak mempersalahkan masalah itu kembali. Lantas fokus kepada semua bahan yang ada didepannya.
"Lia, coba nih udah asin belum?" tanya Hariz menyodorkan sendok yang berisi kuah sup.
"Ha?"
Haris menyunggingkan senyum kala melihat Lia yang spontan mundur dengan wajah terkejut. Hingga membuat kedua pipinya terlihat jelas memerah. "Kaget ya? Sorry. Ini cobain udah asin atau ada yang kurang."
"Ah, iya Kak maaf," balas Lia kikuk. Mengambil alih sendok itu. Hingga beberapa kali lidahnya mengecap dengan kerutan didahi.
"Gimana? Ada yang kurang?"
"Kurang sedikit garamnya."
"Yaudah kamu tambahin. Sini biar aku yang potong," ujar Haris merampas pisau yang Lia pegang.
"Bi- bisa Kak?"
Hariz menoleh. Mengangkat sebelah alisnya. "Bisa. Cuma potong tahu tempe masa nggak bisa," balas Hariz diakhiri tawa ringan yang mampu membuat sang empu disebelah membeku.
"Astaghfirullah."
"Hah? Apa?"
"Eng- enggak Kak," balas Lia lantas beranjak menuju kompor yang sudah mereka tinggalkan beberapa saat lalu. Sampai langkah Mei dan Vero yang satu regu dengan mereka mendekat membawa satu timba air ditangan masing-masing.
Waktu yang diberikan kurang lima belas menit. Membuat pekerjaan yang belum selesai itu terlihat kepayahan. Tak jauh dari regu Joy yang heboh karena nasib malang satu ikannya terjatuh mencium tanah.
"Aaaa itu kasihan waduh! Masih belum lima menit. Dicuci bisa kan yaaa?!" teriak Devi menatap iba ikan yang dijinjing Varo.
"Buang aja Kak. Udah kotor itu nggak bisa lagi dimakan. Kalau belum kena bumbu masih bisa dibersihin. Itu juga udah setengah matang," balas Zoya.
"Kenapa pakai loncat segala sih kamu ikan?" celetuk Varo yang dibalas delikan dari Zoya.
"Enak aja lo bilang ikannya loncat. Iya sih loncat. Loncat gara-gara tangan lo yang nggak bisa diam itu!," sembur Zoya merasa kesal.
Jika bukan karena Varo yang merusuh ketika dia sedang membakar keempat ikan itu mungkin salah satu dari mereka tidak akan tersenggol oleh tangan Varo.
"Udah-udah jangan dipermasalahin. Lihat waktunya noh! Buang aja itu, udah nggak layak konsum," sahut Joy.
"Maaf. Kan nggak sengaja," cicit Varo dengan puppy ayes nya. Bermaksud membuat Zoya melunakkan tatapan sengitnya.
"Ck, yaudah buang sana. Duduk aja, nggak usah aneh-aneh."
Senyum Varo terbit. Lantas melempar asal ikan itu dari tempatnya.
__ADS_1
Cukup lama Varo dan Joy hanya duduk dibelakang dua gadis yang sibuk itu. Hingga suara interupsi dari Zoya membuat Varo segera bangun dari tempatnya.
"Varo tolong ambilin daun bawang. Potong sedang!"
Tidak butuh waktu lama Varo menyerahkan apa yang Zoya minta. Tapi, respon yang Varo inginkan tidak lagi menjadi sebuah kenyataan. Namun, menjadi mala petaka bagi dirinya.
"Varoo! Gue suruh potong daun bawang bukan bawang putih. Ya allah, astaghfirullah."
Semua orang yang mendengar suara lantang Zoya itu lantas tertawa. Menertawai Varo yang hanya cengengesan ditempat sembari menggaruk tengkuknya.
"Emang beda ya, Kak?"
"Beda jauh!"
"Ya maaf. Varo kan nggak pernah ke dapur," ujarnya dengan wajah polos yang ingin sekali Devi cubit.
"Ya ampun Var lucu banget sih lo! Gemesh deh gue."
Zoya mendelik mendengar penuturan Devi. Lucu apanya coba? Nyebelin sih iya.
"Heh! Dari tadi ribut mulu. Kapan selesainya?" lerai Joy.
"Ck, ngomong aja lo Joy! Bantuin sini, dari pada merintah doang."
"Dev, lo tahu kan kalau gue ikut gabung nantinya malah kayak nih anak. Salah semua. Nggak jadi makanan, malah hancur."
"Varo bisa bantu kok tadi. Nggak salah semua," sahut Varo yang tidak terima dijadikan alasan oleh Joy.
Belum sempat suara Joy menguar, alunan lantang dari Zoya menutup perdebatan. Hingga kedua laki-laki itu kembali pada tempat yang seharusnya. Sebelum semuanya berantakan.
"Udah stop! Mending kalian para jantan duduk manis aja dibelakang. Dari pada bikin rusuh."
...)( ...
Kini, setelah matahari berganti tugas dengan sang rembulan. Menenggelamkan cahaya yang menerangi, angkasa diatas sana berubah menjadi hitam kelam. Setelah acara memasak selesai, juga makan-makan selasai...berlanjut dengan lomba menyanyi. Juara satu memasak dimenangkan oleh regu Hariz. Sedang juara dua dimenangkan oleh regu Joy. Dan juara tiga dimenangkan oleh regu Reno.
Kurang dari lima jam pergantian tahun dimulai. Hingga tanpa sadar semua games telah selesai. Saatnya menyambut tahun baru yang kurang lebih dari satu jam.
"Dingin banget," ujar Lia sembari mengelus lengan yang terbungkus jaket.
Zoya mengangguk. Masih menatap indahnya cakrawala diatas sana. Kedua kepala itu menoleh pada satu sosok yang mengambil tempat didepan keduanya dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
"Dingin ya Kak. Tapi, seru."
Yang diajak bicara hanya mengangguk tanpa berniat membalas. Menikmati semilir angin yang membawa mereka larut dalam ketenangan.
"Mau Varo kasih tahu sesuatu, nggak?" bisik Varo sambil mencondongkan tubuhnya. Seakan apa yang ia ucapakan adalah sebuah rahasia besar.
"Apa?" balas Lia.
Varo tersenyum kecil. Menarik tubuhnya lebih dekat kepada dua orang yang saling tatap penasaran.
"Tahu nggak Kak, disini banyak dedemitnya. Dari tadi kita datang aja udah ada yang sambut. Tubuhnya gedee banget, tubuhnya warna hitam. Matanya-."
"Stop Var! Nggak usah bahas gituan disini. Jaga omongan lo, jangan aneh-aneh," potong Zoya.
Varo mengerucutkan birbirnya. "Beneran loh Kak. Hati-hati nanti malam bisa aja salah satu dari mereka tidur disebelah kalian."
"Nggak takut!"
Kedua bola mata Varo melebar sempurna. Membuat kedua gadis itu mengernyitkan kening bingung. Lantas mengikuti arah pandang Varo kebelakang. Hanya ada kegelapan bukit yang lebih tinggi dari yang mereka tempati. Sampai tepukan di lengan Varo menyadarkan kembali alam sadarnya.
"Heh! Nggak usah dilihatin. Awas aja kalau kesurupan beneran gue tinggal!"
"Hum, kaget aja lihat-"
"Husst! Jangan dijelasin," potong Lia.
"Udah ayok balik!" Zoya beranjak diikuti keduanya. Kembali kerombongan yang sudah meyiapkan beberapa petasan juga kembang api.
Saat-saat yang ditunggu pun tiba. Hitungan mundur dari angka sepuluh mereka ucapkan serempak. Hingga tepat diangka satu, suara petasan mengambil alih teriakan histeris seluruh nyawa yang ada disana.
"HAPPY NEW YEAR 2020!"
"SELAMAT TAHUN BARU 2020! SEMOGA LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA"
"WOOWWWW SELAMAT DATANG TAHUN 2020! SELAMAT TINGGAL 2019!"
Teriakan-teriakan itu melebur bersama ledakan petasan diatas sana. Tanpa tahu, setelah ini yang mereka hadapi adalah sebuah bencana. Bencana yang entah sampai kapan akan mereka hadapi. Atau, secara perlahan- tanpa sadar, bencana itu merenggut salah satu dari mereka.
Zoya menaikkan satu alisnya ketika uluran kertas dari tangan Varo memberikan tanda tanya. Apalagi riuh suara disekitar menelan suaranya.
"Apa?"
"Tulis keinginan Kak Zoya di tahun 2020 ini," teriak Varo.
"Buat apa?!"
"Tulis dulu aja, Kak!"
Zoya menuruti. Percuma menolak. Karena dia jelas tahu bagaimana sikap Varo yang keras kepala.
"Hadap belakang!"
Varo segera membalikkam badan. Membiarkan Zoya menorehkan beberapa keinginan dipunggungnya. Tanpa tahu, bahwa dibelakangnya- senyum gadis itu melebar bersama binar mata yang menyala.
...♡♡♡...
...⚠️MOHON DIBACA⚠️...
Sebelumnya maaf ya jadi lama updatenya. Ternyata sekolah offline tugasnya lebih banyak. Padahal maunya aku nggak update dulu, tapi takut kaliannya pada kabur hehehee. Mau kasih tahu, kedepannya aku bakal sellow update gara-gara tugas banyaakkk bangeettt. Apalagi ini aku lagi bikin naskah drama buat sekelas:( Begini nih kalau teman2 tahu kalau temannya ini author, jadi ditumpahin semuanya ke aku hiksss jahattt:(
Udahlah, setelah ini sabar" yaaaa😊 Aku usahain bakal cepet Update. Doain jangan sampai ada kepikiran buat Hiatus wkwkkwk
...Terima Kasih Buat Kalian Yang Udah Stay Nunggu Next Update Story Ini❣ Love Kalian Semuuaaaa😘...
Isi Otak : "Pengen cepet-cepet selesaiin ini cerita yang direalnya. Terus ganti ke full imajinasiku waktu mereka dah pada kerja heheheee."
__ADS_1
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^