BERBEDA

BERBEDA
Chap 17 (Segudang Petuah)


__ADS_3

...Terkadang apa yang kita ucapkan belum tentu searah dengan kata hati. Karena tidak semua harus diungkapkan....



Sepanjang lorong itu hanya hening yang memeluk keduanya. Tidak ada sepatah kata yang keluar setelah sesi basa basi perkenalan itu keduanya lakukan. Meski tidak duduk dikursi yang sama, canggung yang dirasakan gadis itu teramat kental. Walau pria paruh baya itu terlihat santai memainkan gawainya. Melirik jam dipergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit. Beralih menatap pintu ruang inap Miranti yang menenggelamkan kedua remaja beberapa saat lalu.


Lama banget sih mereka, nggak tahu ada Bapaknya diluar apa? Batin Zoya.


Wajah kesal itu berubah tak kala seorang pria berbalut Jaz Dokter tersenyum kearahnya. Lalu dengan santainya duduk disamping Genandra. Sial, bertambah satu orang. Ah mungkin dia hanya sebuah patung disana.


"Gimana kabarmu?."


Zoya melirik dari tempatnya duduk yang hanya sekitar empat meter dari kedua orang dewasa itu. Genandra tersenyum miring, dan setelah suara kekehan Dokter yang tak dikenali Zoya terdengar.


"Masih belum sadar?."


Zoya tak mendengar balasan setelah cukup lama Dokter itu bertanya. Ah, dia seperti menguping pembicaraan. Bagaimana lagi, jarak keduanya cukup dekat- apa dia harus berpura pura tuli saja? Atau pergi dari sana?


"Aku kan udah bilang, jangan terlalu dipaksakan. Awal semua ini kan juga dari egonya kalian berdua."


"Jadi maksud kamu musibah ini gara-gara aku, gitu?!."


Suara Genandra sedikit meninggi. Entah apa yang dibicarakan orang dewasa sama generasi itu bicarakan, Zoya hanya menjadi pendengar yang tidak sengaja mendengar dengan baik. Meski dia berusaha seolah tak mendengar dengan membuka buku novel yang baru dibelinya kemarin. Pasalnya Dokter itu selalu mencari kesempatan melirik kearahnya. Sungguh, dia ingin cepat pergi dari tempat itu sekarang.


"Bukan seperti itu. Aku turut sedih atas istrimu."


"Yaa, terserah kau saja."


"Kayak gini nih jadinya kalau lama nggak konseling."


"Udah baikan, nggak perlu juga."


"Baik apanya. Aku tahu ya kamu masih suka lepasin semuanya ke si kembar."


Detik itu, Zoya menoleh ketika pembicaraan mengarah ke si kembar menarik perhatiannya. Tapi setelah itu ia tersenyum kikuk tak kala netranya bertemu dengan sang Dokter. Ah, ingin menghilang saja daripada malu. Lihatlah tatapan Dokter itu yang membuat detak jantung Zoya bertalu talu. Apa hanya perasaannya saja, kenapa Dokter itu seakan membaca pikirannya melalui kedua matanya?


Sedikit menganggukkan kepala, lalu kembali menatap deretan kata yang hanya ia lihat tanpa membacanya.


"Dia siapa?," bisik Dokter itu yang masih bisa didengar Zoya.


"Temannya si kembar."


"Terus mereka dimana?."


"Di dalem."


Ada hening sejenak sebelum suara Dokter itu kembali mengalun. "Aku dengar, mereka pergi dari rumah ya?."


Suara hela napas kasar Genandra sudah membuktikan bahwa itu memang benar. "Dra, aku udah bilang ke kamu berkali kali. Jangan terlalu nekan mereka berdua, mereka itu masih dimasa peralihan ke dewasa...pasti egonya masih tinggi. Kamu nggak bisa buat mereka ikutin apa kemauan kamu, mereka juga punya pilihannya sendiri."


Tidak ada yang Zoya dengar setelahnya. Namun, suara lembut dari Dokter itu kembali terdengar.


"Kamu itu kayak nggak pernah jadi remaja. Dulu, siapa yang suka ngedumel kalau disuruh ini itu sama orang tua kamu? Siapa Dra?...Kamu kan?!."


"Rasanya nggak enak kan Dra? Padahal kamu sendiri nggak suka apa yang dipilih sama Nyokap Bokap."


"Sama, sama kayak mereka alami sekarang. Apalagi, aku tahu sifat keduanya berbeda. Jangan pikir kalau Vero selama ini patuh sama kamu itu nggak bawa beban tersendiri. Mentalnya Dra, mental dia mungkin udah jatuh perlahan."


Tidak kedua orang dewasa itu sadari, ada tiga remaja yang hanya diam dengan segala pikiran yang berkecambuk.


"Dulu aku pernah bilang sama kamu kan, buat mereka bebas tapi tetap dengan arahan dari kamu. Jangan sampai salah jalur juga. Mereka itu masih labil Dra, kalau kamu otoriter banget, aku jadi takut mereka akan nekat juga dan nggak akan dengerin omongan kamu lagi."


"Ini bukannya aku nggak tahu kondisi kamu sekarang ya, tapi sekalian aja mumpung kita lagi ketemu. Kalau nggak gini kamu nggak bakal datang buat konseling."


Zoya sedikit menoleh, ingin rasanya melihat ekspresi Genandra sedari tadi yang hanya diam tidak membalas. Dan, benar...Genandra hanya menatap kosong kedepan. Entah, dia mendengar dengan baik atau tidak.


"Oh ya, bicarain baik-baik buat mereka pulang. Atau aku yang harus turun tangan hadapin mereka."


"Sekali lagi Dra, mereka masih butuh kasih sayang dari orang tua. Aku tahu kamu sayang sama mereka seperti kamu sayang sama Fadil, tapi mulai sekarang- ubah cara kamu Dra! Ikhlaskan masa lalu, lihatlah kedepan. Jangan sampai kamu menyesal nantinya."


Setelah ucapan itu selesai, Zoya menangkap gerakan Dokter itu berdiri. Sebelum netranya bertemu lagi dengan tatap tegas Dokter yang mulai melangkah kearahnya. Dan itu semakin membuatnya gugup.


"Nama kamu siapa?."


Damn, kenapa harus bertanya? Ah Zoya bukan tipe orang yang supple, lihatlah sekarang keadaan semakin kaku dengan senyum kikuk juga kedua bola matanya yang bergerak gusar.


"Zo- Zoya Dok."


Dokter itu manggut-manggut. Sebelum pergi, pria paruh baya  itu mengeluarkan beberapa kata juga tepukan dua kali dipundaknya. "Kalau kamu pengen bicara atau ngobrol datang aja ke rumah sakit ini, ya. Cari saya, Dokter Marchel."


Setelah itu, Zoya terpaku beberapa saat. Apa maksudnya? Tunggu, otak kecilnya itu belum mampu menangkap maksud dari Dokter Marchel. Sampai lamunannya buyar ketika suara Varo mengintrupsi.


"Kak!."


"Hah?....Ah udah selesai?."


Varo mengangguk.

__ADS_1


"Dokter Marchel bilang apa?."


Zoya mengernyit sebelum membalas. "Nggak bilang apa-apa. Cuma tanya nama."


Zoya beralih mencari sosok Genandra yang sudah menghilang. Mungkin masuk kedalam ruangan Miranti. Pandangannya bertemu dengan netra Vero.


"Vero mau pulang atau mau disini?."


"Disini aja Kak."


Varo terlihat mengernyit tak suka. "Kok Vero doang yang ditanya?."


"Lo kan harus pulang anterin gue! Lo mau gue pulang ngesot, gitu?!."


"Ah iya yaa," cengir Varo menggaruk tengkuknya meski tak gatal.


"Mending kalian berdua istirahat dirumah aja malam ini. Kalau disini pasti nggak bisa tidur nyenyak."


Kedua kembar itu hanya diam, sebelum senggolan ditangan Varo dari Zoya menyadarkan sang empu. "Iya benar kata Kak Zoya. Pulang aja Ver, ada Papa juga. Gantian, nanti lo sakit gue lagi yang repot."


Zoya tersenyum kecil, memandang Vero dan mengangguk membenarkan. Anak itu menghela napasnya kasar sebelum mengangguk setuju.


"Ya udah pulang duluan aja Ver. Gue mau Shalat Ashar sebentar. Pinjem abang lo, ya."


"Santai aja Kak. Vero jalan dulu."


Vero beranjak menjauhi keduanya. Ya, dia juga butuh menenangkan pikiran dan tubuhnya sebelum menghadapi hari demi hari yang entah membawa kabar baik atau sebaliknya.


"Kalian, masih diem-dieman sama Bokap?."


Varo berdehem. Membawa kedua pasang langkah mereka menuju mushala. "Dokter tadi siapa? Kok kayak akrab banget sama Bokap lo?."


"Om Marchel itu sahabatnya Papa dari kecil. Juga satu-satunya orang yang sama-sama pindah kesini."


"Ouh, Dokter apa?."


Ya, bukan tanpa alasan Zoya bertanya seperti itu. Karena setiap perkataan yang keluar dari Dokter Marchel membuatnya kagum. Dia, seperti penasihat hukum kehidupan yang sangat handal.


"Psikiater."


"Pantes," gumam Zoya yang masih menarik atensi Varo.


"Kak Zoya, dengar semuanya?."


Zoya menghentikan langkahnya. Menatap lekat kedua manik Varo. Jangan bilang, Varo juga mendengarnya?


"Lo, juga?!."


"Pantesan dia Psikiater."


"Semoga aja Papa bisa ngerti," lirih Varo yang dibalas anggukan beserta senyum lebar Zoya.


Suara Dokter Marchel kala terakhir kalinya membuat Zoya kembali berpikir. Juga tatapan penuh syarat yang diberikan untuknya itu seakan Dokter Marchel tahu sesuatu. Tunggu, Dokter Marchel bicara seperti itu tidak hanya sekedar membual kan? Atau, dia tahu sesuatu?


Apa mata Zoya bisa dengan mudah dibaca oleh Psikiater itu? Tidak mungkin kan? Dia hanya seorang Psikiater, bukan cenayang.


"Kak!."


"Hah?."


"Ck, ngelamun aja. Udah sampai nih."


Zoya mengamati sekeliling. Benar, dia sudah didepan mushala Rumah sakit. "Oh, yaudah tunggu dulu. Nggak lama kok."


...)(...


Matahari mulai tergelincir diufuk Barat. Setelah bel pulang sekolah tidak membuat anak-anak SMA itu lekas pulang. Jari jemari dan banyaknya langkah disana tak ada niat untuk menyudahi aktifitasnya.


"Zoy bantu rangkai bunga noh! Biar gue yang bikin laporannya. Anak lain pada nggak bisa diandelin, buat rangkai bunga aja pada ribut," gerutu Laila mengambil alih laptop yang ada dipangkuan sahabatnya.


"Kenapa nggak lo aja, sih?."


"Males gue ada si Fathur."


"Benci banget lo kalau sama dia. Suka awas ya, jadi bucin lo nanti."


"Nggak ya, gue udah ada Adkel yang lebih oke!."


"Idih, cari tuh Kakak kelas bukan Adkel," ledek Zoya sembari memakai sepatunya.


"Halah bacot lo! Nggak lihat diri sendiri yang lagi deket sama Adkel."


Zoya melotot. "Omongan lo! Siapa juga yang lagi deket sama Adkel?."


"Bulshit! Gue tahu lo kemarin sama sikembar ke Rumah sakit kan jengukin Mamanya. Ngaku! Lo kira gue nggak tahu?."


Zoya menatap arah lain, tak lagi menemukan netra keduanya. Sial, kenapa Laila tahu?

__ADS_1


"Emang salah ya jenguk orang sakit?."


"Nggak salah."


"Nah itu lo tahu. Nggak semua harus lo hubungin sama kedekatan seseorang!."


"Cielah omongan lo berat banget. Kalau nggak deket ngapain jengukin orang yang nggak kita kenal, hm?!."


"Kembali ke awal! Emang salah jengukin orang sakit? Enggak kan?! Malah kita yang dapat pahala."


"Nggak usah banyak alasan deh, ngaku aja kalau lo mulai suka kan sama Varo?! Gue tahu kok, Varo juga suka sama lo! Kelihatan banget dari tingkahnya."


"Jangan bikin kabar hoax lo, Lai!."


"Hoax apanya sih? Gue tau sendiri dari Si Varo, kan sahabatnya Varo gebetan gue. Dia aja curhatnya sama si Reihan."


"Hah, Reihan gebetan lo?! Serius?!."


Laila menyembunyikam wajahnya diatara kedua lutut kakinya. Sial, mulut Zoya itu selalu bisa membuat dirinya malu. Lihatlah, banyak pasang mata yang menatap keduanya dengan alis menyatu.


Zoya tersenyum kikuk membalas banyaknya pasang mata yang mengarah kepadanya. "Pergi atau gue timpuk lo pakai sepatu!," bisik Laila menatap horor kearah Zoya yang sudah menampilkan cengirannya.


...)(...


"Ada yang bisa Varo bantu?."


Hampir saja tangan Zoya meleset mengenai girisan seletip. Netranya mendelik menatap netra pekat dengan binarnya yang sudah kembali. "Kayak jelangkung aja sih lo!."


"Ganteng gini kok dibilang jelangkung sih, kak?."


"Mau ada apa Kak, kok pada hias aula?."


"Buat besok Maulid Nabi," balas Zoya tanpa mengalihkan gerakannya membuat bunga dari kertas warna warni itu.


"Oh Maulid Nabi."


Varo melihat sekitar yang dipenuhi wajah-wajah kakak kelasnya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Varo boleh bantu nggak?."


Zoya menatap sekilas Varo yang masih anteng duduk didepannya. "Emang lo nggak ke Rumah sakit?."


"Entar malam aja."


"Terus Vero di mana?."


"Nggak tahu," balasnya sembari mengedikkan bahu.


Zoya menghela napas kasar, meletakkan rangkain bunga itu dan beralih menatap lekat Varo. "Mulai sekarang stop lo bilang nggak tahu apa yang Vero lakuin, Var!."


"Maksudnya?."


"Yah lo itu kayak kurang perhatian banget tahu nggak sama Vero. Dia itu adik lo, loh. Masa lo nggak tahu sekarang dia dimana, padahal kalian juga sekelas. Seharusnya lo tahu dia kemana."


"Gue tanya, lo udah berapa banyak bicara sama tuh anak dari pagi tadi?."


Varo terlihat menatap ke atas sembari mengingat. "Tadi pagi nggak sempet ketemu. Gara-gara Varo bangunnya telat, dia udah berangkat duluan. Terus disekolah dia sibuk sama pacarnya, alias buku."


Varo menjeda sejenak.


"Oh ya, tadi sempet bicara pas dia suruh ngerjain tugas kelompok yang bagiannya Varo. Itu aja, sih."


Bugh


"Awhh, kok ditimpuk sih kak?!," ujar Varo sembari mengelus lengannya yang terkena timpukan koran dari Zoya.


"Terus gue tanya, tadi pas pulang lo nggak ada nanya dia mau kemana, ngapain aja habis ini, gitu nggak?!."


"Enggak."


Zoya menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa dua saudara itu saling berdiam seharian?


"Lo tahu nggak dia udah makan nasi atau belum dari tadi pagi?."


Varo menggeleng dengan tampang polosnya.


"Lo udah nggak peduli lagi ya sama adik lo? Seharusnya lo itu jadi abang yang bisa bersikap dewasa buat adik lo dong Var. Lo tau kan sekarang nggak ada lagi yang buat ingetin kalian ini itu, dan kalian berdua jangan kayak gini...Ngejauh seakan nggak ada apa-apa."


Ada hening sebelum suara Varo kembali merayap dan berhasil membuat Zoya membeku.


"Bener kata Papa, Varo sebagai abang nggak bisa di andelin. Jadi, Varo lagi ya yang salah?."


...♡♡♡...


Terima kasih sudah membaca my story & maaf kalau masih ada typo🙏😊


...Like👍...

__ADS_1


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2