
...Angkasa itu penuh warna. Biru cerahnya seakan membawa kebahagiaan. Gelap abunya menumpahkan tangis. Namun, gelap kelamnya terasa menenangkan....
Angkasa diatas sana memanglah indah, tapi- angkasa yang benar nyata untuknya jauh lebih indah. Melihat caranya tersenyum saja sudah terasa sangat membahagiakan. Apalagi, melihat bagaimana ia kembali menemukan kehangatan dalam mata teduh itu. Sungguh, dia telah menemukan tempatnya untuk pulang. Dan- dalam seminggu ini, dia kembali menemukan dunianya. Ya benar, dia memang menyukai angkasa. Angkasa yang memiliki banyak warna. Angkasa yang mudah menyembunyikan jati dirinya. Jika hatinya sedang baik, angkasa diatas sana terlihat sangat cerah dengan warna biru yang membentang. Namun, jika hatinya memburuk- angkasa akan menumpahkan tangisnya kepada Bumi. Dan angkasa yang misterius jika malam tiba. Hanya ada warna gelap akan kelam, namun menenangkan.
"Varo sama Vero mau dibawain bekal apa besok?," tanya wanita paruh baya itu.
"Nggak usah repot masak Mah. Nanti beli aja," sahut Varo yang masih setia mengemasi kelengkapan kemahnya untuk esok hari- begitu juga adik kembarnya itu.
Ya, Miranti telah kembali ke rumah satu hari lalu. Bukan hanya Miranti yang kembali, namun dalam seminggu ini- kehangatan keluarga itu kembali. Sejak kedua mata seorang ibu itu terbuka dari pejam panjangnya. Mengubah bentangan jarak yang hampir membuat keluarga kecil itu berantakan.
"Nggak repot. Ada Bi Narsih juga kok yang bantu. Lagian kalau beli belum tentu sehat, lebih enak masakan rumah kan? Hm, mau dimasakin apa?," sahut Miranti. Mengusap kepala Si Kembar bergantian.
Suara dari benda persegi canggih itu menjadi jeda yang cukup panjang. Sebelum Varo menyudahi kegiatannya, lalu ikut duduk diatas sofa bersama Miranti. Menyenderkan kepalanya dibahu wanita itu.
"Yaudah kalau Mama maksa. Varo mau ayam tepung aja, biar simple."
Miranti tersenyum sembari mengelus kepala Varo yang bersender. Lalu menatap Vero yang duduk dilantai sebelahnya, masih sibuk memasukkan beberapa snack kedalam ransel. "Kalau adek mau bekal apa?."
"Samain aja Mah."
"Serius? Bukannya lo nggak suka ayam tepung, ya?," sahut Varo.
"Nggak suka bukan berarti nggak doyan."
Tawa Varo detik itu meledak. Sedang Vero menghentikan gerakannya, menatap sinis sang Kakak. "Ada yang lucu?!."
"Aduh duh sakit perut gue...," racau Varo memegangi perutnya.
"Abang, nggak baik kayak gitu ah!."
"Iya Mah, tuh anak habisnya ngelucu! Mana ada orang nggak suka berarti doyan?."
"Ck, suka-suka gue lah! Yang makan juga gue," balas Vero. Selesai dengan kesibukannya, ia membawa kepalanya diatas paha Miranti. Sampai tubuh itu benar-benar nyaman tidur dipangkuan Sang Mama.
Hendak Varo kembali membuka suaranya, namun urung kala Miranti membuka suara. "Ventolinnya udah dibawa kan Varo?."
"Udah Mah, semua udah siap. Tinggal berangkat aja."
"Kalau disana jangan aneh-aneh, jangan bicara kotor. Hm?!."
"Varo Mah yang suka kotor kalau ngomong!."
Pletak
"Enak aja kalau ngomong!."
Vero mengelus dahinya.
"Kalau ada Mbak Kunti nggak usah nangis-nangis nyari gue lo! Dasar indigo cemen!."
Varo melotot. Menggeram tak suka, hingga detik selanjutnya rumah itu penuh dengan tawa Miranti kala kedua anak itu saling adu lempar bantal. Berlari kesana kemari hingga Varo berhasil menangkap adiknya yang langsung tertawa kala gelitikan dikaki dari Sang Kakak membuatnya memohon ampun.
Dan- malam itu, adalah malam dimana semua kekhawatiran yang sempat keduanya rasakan seakan menghilang begitu saja. Tawa ceria keduanya, benar-benar kembali. Dan dari tempatnya duduk, Miranti bisa melihat bagaimana kedua anak itu kembali menemukan dunianya.
"Gini ya, pulang kerja langsung dapat tontonan adu gulat secara langsung."
Suara berat itu membuat mereka mengalihkan atensi. Dimana sosok tubuh tegap tinggi dengan balutan Jaz perlahan melangkah, mendudukkan dirinya disamping Miranti.
"Pah, anaknya yang satu ini nggak usah dikasih uang jajan bulan depan! Masak sama Abangnya sendiri kalau ngomong suka bener."
"Minggir lo! Berat tahu nggak!."
Varo berdiri dari perut Vero. Masih dengan tatapan tajam yang dibuat buat. Lantas kembali berjalan menuju kedua orang dewasa itu duduk.
"Ya kan emang bener."
"Indigo penakut! Wlleee...."
Vero berlari menaiki tangga. Tanpa tahu disana ada Varo yang hendak melemparkan Vas bunga kearahnya.
"Tuh anak jadi tambah resek ya. Padahal dulu anaknya pendiem banget loh Mah, Pah. Eh, sekarang tambah nyebelin dari pada waktu dulu jadi es batu."
Pasangan suami istri itu saling pandang. Lantas, sama-sama menarik kedua sudut bibirnya.
...)(...
Gedoran yang terus menggema itu sama sekali tak berpengaruh untuknya. Cowok yang masih memejamkan mata tanpa tahu disana ada suara yang terus memanggilinya.
"Woy Var! Lo mau ketinggalan Bis atau gimana sih hah?!."
Tangan itu terus memukul pintu kayu didepannya.
"Varo bangun! Kita udah telat ini. Kalau nggak jadi berangkat jangan salahin gue ya! Gue udah bangunin lo dari tadi!."
Vero mengembuskan napas kasar. Cowok yang sudah berpakaian rapi dengan balutan jaket tebal itu mulai memacu kakinya menuruni tangga satu persatu. Hingga netranya bisa melihat Sang Mama dan Papa dibalik meja makan.
"Loh, Varonya mana?."
"Masih molor Pah," balas Vero sembari menarik kursi untuknya.
"Kok masih tidur? Udah mau jam enam loh ini. Katanya jam setengah tujuh udah harus disana."
"Nggak tahu tuh Mah. Padahal dia yang paling exited ikut kemah. Eh, malah asik molor."
"Tunggu, biar Mama yang panggil."
Miranti mengehela napas, benar- pintu kamar anak itu masih dikunci.
__ADS_1
"Sayang, Kakak bangun yuk! Nggak jadi berangkat apa gimana ini? Kok masih tidur sih."
Berulangkali Miranti mengetuk pintu itu, namun percuma. Masih belum ada sahutan hingga lima menit lamanya.
Sedang didalam, Varo bergerak gelisah. Dahi itu terlihat basah akan keringat. Hingga mata itu tiba-tiba terbuka dengan napas patah-patah. Jantungnya berdegup kencang bersamaan dengan perasaan lega yang menghantamnya. Mengusap wajahnya kasar.
"Astaga, untung cuma mimpi."
Ketukan dari luar mengalihkan atensinya. Hingga detik berikutnya kedua mata anak itu membola.
"Varo bangun! Udah jam enam ini, kamu nggak jadi ikut kemah?."
Detik itu, tubuhnya meloncat turun dari ranjang.
"Iya Mah udah bangun mau mandi dulu!."
...)(...
Jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan mungil itu tak luput dari penglihatannya. Pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit, namun batang hidung kedua anak itu belum juga terlihat. Terik matahari sudah mulai naik.
"Ini gimana? Kurang dua doang loh, tinggal atau tungguin?."
"Ya jangan gitu dong Kak Joy. Masa main tinggal, mereka kan juga udah bayar lunas."
"Tunggu lima menit lagi ya Zoy. Kalau nggak, bakal berantakan acaranya."
"Siap Kak. Bentar lagi pasti dateng."
Joy mengangguk, lalu kembali naik kedalam Bis bersama yang lain. Sedang Zoya masih berdiri diluar bersama Hariz juga Pak Arif.
"Coba lo telepon deh Zoy," ujar Hariz.
Belum sempat Zoya menjawab, suara klakson disusul mobil bewarna putih itu berhenti tak jauh dari mereka bertiga.
"Itu mereka, yok suruh langsung naik aja," perintah Pak Arif, lantas menyusul Joy kedalam Bis pertama.
"Tuh kan gara-gara lo mereka cuma nungguin kita," ujar Vero yang masih bisa didengar kedua kakak kelasnya itu.
"Hati-hati, jangan sendirian kalau disana! Ajak teman kalau mau apa-apa, jangan sendiri," teriak Genandra dari dalam mobil.
Kedua anak itu berhenti tepat didepan Zoya juga Hariz. Melambaikan tangan kala mobil yang membawa mereka perlahan pergi.
"Udah nggak ada yang ketinggalan, kan?," tanya Hariz.
"Udah siap Kak. Maaf telat, tadi-."
"Udah yok langsung naik aja," seloroh Varo menarik tangan Vero.
"Nggak usah resek ya lo," bisik Varo yang dibalas decakan.
"Eh- kalian naik Bis kedua."
Selama perjalanan memakan dua jam, semua anggota pramuka inti itu berhenti sampai tujuan dimana mereka harus berjalan ke tempat perkemahan. Banyak dari kelas sepuluh atau calon pramuka inti menggerutu saat tahu mereka harus berjalan sejauh sepuluh kilometer.
"Beneran ini kita jalan dari sini?."
"Nggak mungkikan hehh?! Masa iya disuruh jalan sampai air terjun?."
"Bisa patah kaki gue kalau jalan dari sini sampai sono hikss."
"Kak yang benar aja dong masa kita baru mulai udah disuruh jalan sejauh sepuluh kilometer?."
Dan bla bla bla.... suara cewek yang paling mendominan itu terus meracau.
"Masih baik kalian jalan cuma sepuluh kilometer. Lihat, nanti kalian jalan sejauh empat puluh kilometer bahkan bisa lebih," balas Joy.
Hampir semua anak cewek menjatuhkan bahunya lesu.
"Kalian bisa berhenti dari sini dari sekarang. Mumpung belum terlambat. Silahkan yang mau mundur," sahut Hariz yang dibalas gelengan dari mereka semua.
"Yaudah jangan banyak protes. Ayo jalan, nanti keburu panas," ujar Zoya.
Kini, semua mulai berjalan memasuki daerah yang cukup curam. Ya, benar seperti informasi. Bahwa air terjun yang mereka tepatkan terakhir kali mempunyai jalan yang cukup meistreem. Tapi, tetap saja... keindahan setelahnya akan menjadi obat lelah mereka.
"Zoy, pantau dibagian belakang bareng Siska, Nando, sama Ardo ya."
"Oh, iya Kak siap!."
Hariz mengangguk sekali sebelum berlari kecil menyusul rombongannya didepan. Sedang Zoya berhenti, menunggu rombongan belakang yang belum terlihat.
Dari kejauhan, netranya bisa menatap sosok yang ia kenali. Hingga netra keduanya saling bertemu. Lantas, sosok itu berlari tepat berhenti didepannya.
"Kenapa sendiri disini Kak? Capek ya?."
"Enggak, nunggu yang lain."
"Mereka masih jauh?," lanjut Zoya.
"Bentar lagi juga kelihatan."
"Gimana, masih mau lanjut ikut Pramuka?."
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat kedua alis Varo terangkat. Lalu mengangguk berkali kali. "Masih dong Kak. Masa baru pengesahan udah mau mundur aja."
"Bagus, jangan nyesel nantinya tapi."
"Nggak bakal!."
"Terus, Vero kemana? Kok lo sendiri."
__ADS_1
"Ck, jalannya lama tuh anak. Kayak siput."
"Jahat banget lo! Dia ikut Pramuka juga gara-gara keusilan lo kan, malah main lo tinggal aja. Kalau dia kenapa napa gimana?."
"Ada Kak Siska juga dibelakang tadi. Aman lah," balas Varo enteng.
...)(...
Nyanyian yang baru saja selesai dibawakan oleh Varo dan Vero itu mendapat tepukan riuh dari semua nyawa yang ada disana. Angkasa malam ini terasa menenangkan bersama api unggun juga lantunan suara si kembar yang baru saja menyanyikan lagu Beta so sayang yang entah apa itu judulnya.
Bersamaan dengan pentas itu selesai, acara dilanjut dengan berbagai acara seperti bakar jagung dan permainan permainan lainnya.
"Rei, ikut gue yuk!."
"Kemana?," balas Reihan sedikit berteriak tak kala suara gemuruh tepuk tangan mendominasi.
"Ke kamar mandi, kebelet nih. Panggilan alam."
"Nggak bisa ditahan apa Var? Lagi seru nih."
"Udah nggak tahan ini, ayolah!."
"Ck, yaudah ayo. Tapi jangan lama-lama."
Varo berdehem, bangkit diikuti Reihan. Cahaya remang-remang dari lampu lentera itu tak sepenuhnya menerangi jalan yang hendak mereka lalui menuju kamar mandi yang letaknya agak jauh daru tenda mereka. Setelah mendapat ijin dari Siska, keduanya kini tepat berada didepan kamar mandi.
"Jangan lama-lama!."
"Iya bawel!."
Reihan celingak celinguk, keadaan tamaram disekitar membuatnya bergidik ngeri. Tangannya dengan cepat mencekal lengan Varo yang membuat sang empu urung masuk kedalam.
"Apasih? Udah nggak tahan ini yaelah!."
"Gue ikut masuk kedalam ya?."
"Hah?! Jangan ngaco deh lo! Tunggu situ aja."
"Nggak! Gue ikut masuk, tapi janji nggak bakal ngintip. Nanti gue madep tembok. Ya, ya please!."
"Kalau takut bilang aja. Dasar penakut!."
"Halah kayak lo nggak takut aja! Awas ya kalau lihat apa-apa didalam nggak usah teriak ke gue!."
Reihan melepas kasar lengan Varo, lantas melangkah cepat meninggalkan Varo disana. Ingin menyusul, tapi ada hal lain yang meminta untuk segera dikeluarkan. Tanpa pikir panjang, Varo membiarkan Reihan pergi dan dirinya masuk kedalam.
"Ah lega," gumam Varo setelah selesai buang hajat.
10 menit kemudian
Gadis itu berlari kecil kala sesuatu didalam sana sudah tak bisa ditahan. Namun, langkahnya harus terhenti saat melihat Nando dan Siska berlari dengan wajah yang tak biasa.
"Kalian kenapa lari-lari?."
Dengan napas patah-patah, keduanya menunjuk kearah asal mereka tadi. Hingga membuat kerutan bingung didahi Zoya. "Tenang dulu dong, ada apa sih?."
"Itu- itu ada yang kesurupan hah hahh..."
"Gue panggilin Pak Arif dulu," ujar Nando kemudian berlari meninggalkam dua gadis itu.
"Heh Sis, siapa yang kesurupan?," tanya Zoya ikut panik. Siska yang masih merasakan debar didadanya, hanya bisa megap megap dengan jari telunjuk mengarah ketempat tujuan awal Zoya.
"Nggak jelas banget sih lo kalau ditanya," geram Zoya lantas berlari disusul Siska yang meraih tangannya untuk digenggam.
"Dimana Sis?."
"Tadi ada di sini anaknya," balas Siska. Tubuh keduanya menegang kala mendengar lirih suara tangis dari belakang mereka.
"Sis," ujar Zoya yang persis bisikan. Menggenggam erat tangan temannya itu.
Tangisan itu belum berhenti, suaranya semakin terdengar jelas. Terdengar sangat mengerikan.
"Gu- gue nggak kuat Zoy."
Setelah itu, tubuh Siska luruh. Terduduk ditanah dengan tubuh begetar hebat. Zoya hanya bisa mengikuti Siska, terduduk. Kaki dan lututnya sudah tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya.
"Doa Sis, Doa!."
Masih dengan mulut komat kamit, Zoya dan Siska masih saja mendengar tangis itu. Tapi, setelahnya suara langkah kaki yang diseret benar-benar membuat keduanya tak sanggup melanjutkan doanya. Ingin lari tapi tubuhnya itu terasa mati.
"Zoy hikss gue takut..."
"Jangan nangis dong Sis."
Pikiran Zoya semakin kalut, ditambah Siska menangis dan suara langkah itu semakin mendekat. Ah, baru kali ini dia mengalami hal se-mencekam sekarang. Dan- entah apa yang harus dilakukan sekarang selain memohon pertolongan dalam hati. Berdoa membaca ayat kursi hanya akan sia-sia. Karena saking takutnya, ia lupa melafalkannya dengan benar.
"Zoya Siska!."
...♡♡♡...
...Like👍...
...Kalau Update diatas jam 18.00 berarti lagi sibuk sekolah ya paginyaa, sabar kan ya bund☺...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^