
...Sudah semestinya Semesta merahasiakan ceritanya. Namun, kenapa Semesta seperti tak menginginkan bahagia itu hadir untukku? ...
Hening panjang yang mereka berdua pertahankan mulai terkikis kala suara hela napas pelan itu keluar dari salah satunya. Mencoba membuka akses untuk keduanya saling menjelaskan. Atau, lebih tepatnya salah satu dari mereka yang harus memulainya. Hingga detik jarum jam yang menyeruak diantara keduanya itu kembali mendominan. Tapi tak butuh waktu lama hingga suara rendah yang penuh akan penuntutan itu merayap, mematahkan hening lama yang mereka biarkan.
"Jadi, lo lakuin itu semua karena apa?."
Kedua netra itu saling beradu beberapa detik. Namun, setelahnya mereka saling memutus.
Mereka yang berada dibalik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah pun hanya diam. Menjadi pendengar sejak sepuluh menit lalu tak membuahkan hasil. Karena, keduanya masih enggan bersuara hingga suara tanya sang pemilik rumah merayap.
Tamu itu, sosok yang kini duduk dengan mempertahankan wajah angkuhnya itu mendongak. Menatap tajam sang lawan pandangnya dengan api yang menyelimuti kedua bola matanya.
"Lo mau tau alasan gue lakuin itu?."
Nada bicaranya lirih, namun didalam sana terdengar isyarat penuh kebencian yang ia coba redamkan.
"Karena gue nggak tahu, makanya gue tanya ke lo sekarang. Siska!."
Tatapan keduanya saling mengunci. Saling memberikan sinyal bahaya yang kapan saja bisa meledak. Sudah, sudah cukup Zoya bungkam sedari tadi. Sekarang dia hanya ingin tahu alasan dibalik kelakuan teman seorganisasi yang selama ini ia anggap sebagai teman baik. Tapi, seperti pepatah katakan. Orang terdekatmu lah yang lebih berbahaya. Dan, nyatanya benar.
Siska tersenyum tipis, tetapi raut wajahnya masih tak sedamai pertama kali ia datang. Bukan membawa kata maaf ataupun penyesalan, melainkan amarah yang entah untuk apa.
"Karena lo, Zoya!."
"Iya, gue tahu itu. Tapi, alasan kenapa lo lakuin ke gue itu gara-gara apa Sis? Gue punya salah apa sama lo, sampai lo fitnah gue kayak gitu?."
Perlahan, kesal yangs sedari tadi Zoya tahan sudah mencapai puncaknya. Membawa dingin ruang itu melebur bersama api keduanya.
"Karena dari awal gue emang nggak suka sama lo! Dan kejadian sepulang kemah waktu itu makin buat gue benci sama lo, Zoya!."
"Atas dasar apa?," balasnya cepat.
"Gara-gara Kak Hariz lebih suka sama lo daripada gue!."
Tanpa sadar bentakan Siska membuat semua telinga yang ada disana terdiam. Membeku. Bersama perkiraan-perkiraan yang ada diotak mereka. Mencerna setiap perkataan Siska.
Zoya masih bungkam. Menatap Siska dengan tatapan menuntut agar anak itu melanjutkan.
"Gue udah suka sama Kak Hariz sejak dulu pertama kali gue masuk sekolah. Jauh sebelum lo kenal Kak Hariz diorganisasi. Tapi, nyatanya perhatian yang selama ini gue tunjukkin nggak pernah dilirik sama sekali. Dia- malah deketin lo dan, kemarin saat dia nyatain perasaannya disitu gue makin nggak suka sama lo!."
Zoya terdiam. Cukup terkejut dengan penuturan Siska yang tanpa sadar sudah menumpahkan tangisnya meski tak memgurangi tatapan amarahnya. Begitu juga ketiga orang yang sama-sama terkejut. Tapi, tidak dengan Varo yang mulai memutar kejadian dimana ia melihat kedua kakak kelasnya itu. Bersama Siska yang juga merekam semuanya.
"Jadi, gara-gara cemburu lo bisa senekat itu Sis?."
"Gue pengen Kak Hariz ubah cara pandangnya ke elo! Gue udah tahan selama ini lihat kedekatan kalian, tapi- nggak untuk sekarang. Gue udah muak lihat muka polos lo itu, Zoy!."
__ADS_1
Setelah itu, hening kembali merenggut. Memberi jeda untuk keduanya menarik napas juga mengembalikan ketenangan yang sempat hilang. Hingga sayup lirih suara Zoya kembali mengalun.
"Jujur, gue pernah suka sama Kak hariz. Tapi itu dulu. Dan kalau gue tahu lo suka sama Kak Hariz gue juga bakal jaga jarak sama dia."
Tanpa mereka sadari, ada perasaan lega yang sosok itu rasakan. Hingga sudut bibirnya melengkung keatas.
"Buktinya, gue nggak beri respon apa-apa kan waktu dia ungkapin semuannya? Kalau pun gue masih suka, gue bakal beri balasan Sis. Tapi lo lihat sendiri kan kemarin gue cuma diem aja, hm?."
"Tapi lo seneng kan dia suka sama lo! Ngaku Zoy, lo seneng kan ternyata dia juga suka sama lo, hah?!."
"Kok lo nyolot sih? Gue udah bilang itu dulu, sekarang udah nggak ada artinya dia bilang suka ke gue! Jangan kayak anak kecil gini dong Sis, cuma gara-gara kemakan sama cinta lo jadi bego! Fitnah orang yang malah ninbulin dosa ke lo sendiri, apa gunanya coba? Toh sekarang lo harusnya bersyukur karena gue secara tidak langsung nolak Kak Hariz, jadi please sadar Sis. Lo masih punya kesempatan kalau emang lo pengen perjuangin cinta buta lo itu!."
Nyatanya, perkataan panjang lebar Zoya tak membuat api didalam mata Siska melunak. Tangannya semakin terkepal hingga kukunya menancap diperkmukaan kulit.
"Udah cukup gue nggak mau debat sama lo cuma gara-gara alasan lo itu," lanjut Zoya sebelum Siska kembali membuka suaranya.
Gadis itu lantas berdiri, seakan pembicaraan itu sudah cukup sampai disana. Mempersilahkan Siska untuk segera pergi sebelum amarah yang coba ia redam kembali menguar.
"Udah malem, mending lo pulang."
Siska berdiri, menatap tajam Zoya yang mengalihkan pandangannya kearah lain. Enggan bersitatap dengan lawannya yang hanya memunculkan kembali rasa kesal itu.
Belum sempat tubuh Siska berlalu sempurna dari ambang pintu, langkahnya terhenti kala sindiran halus itu membuat amarahnya kembali terbakar.
"Gue udah maafin lo kok, dan gue nggak bakal sejahat itu buat ngebongkar kebusukan lo! Yang malah bikin Kak Hariz nggak suka."
...)( ...
"Kamu yakin nggak sanggup jalanin tugas yang saya berikan?."
Pertanyaan yang kedua kalinya dari Pak Arif itu kembali mengalun. Disini, dikantor pembina pramuka itu Zoya menghadap. Keputusannya sudah bulat, dia tidak ingin menambah masalah lagi dengan temannya itu. Hanya karena tugas yang diberikan untuknya dan Hariz yang otomatis akan sering berinteraksi membahas ini itu.
"Saya yakin Pak. Saya cuma mau latih anak-anak yang punya bakat dalam bidang smaphore saja. Kalau menjadi pembibing pelaksana yang mengurus ini itu saya nggak bakal sanggup," tuturnya serendah mungkin.
"Kan ada Hariz, dia pasti bakal bantu kamu kok. Nggak bakal lepas tangan juga."
Zoya menghela napas pelan. Ya, seperti dugaannya. Membujuk pembina pramuka yang terkenal tegas itu akan sulit. Tapi ia tak menyangka akan sesulit ini. Sudah hampir setengah jam keduanya masih saja membahas hal yang sama berulang kali.
"Iya Pak saya tahu ada Kak Hariz. Tapi saya benar-benar takut nggak bisa mengemban dengan baik. Lebih baik, saya jadi pembimbing dibagian smaphore aja Pak. Juga masih banyak yang layak Bapak tunjuk, misalnya Siska."
Dalam hati, Zoya tertawa. Apa yang dilakukannya sekarang seperti mencomblangkan dua orang itu? Ya, mungkin dengan cara ini ia bisa mendekatkan mereka berdua.
"Siska?," tanya Pak Arif dengan kerutan didahi.
"Iya Pak, dia juga selama ini bertanggung jawab dan juga aktif. Saya pikir, dia lebih layak mengemban tanggung jawab itu."
"Iya saya kenal, dia juga sangat aktif dipramuka. Biar nanti saya bicarakan sama Hariz."
__ADS_1
Bibir Zoya terangkat berbentuk bulan sabit terbalik. Ah, lega sekali ketika tugas itu lepas darinya. Tanpa repot-repot mengurusi segala macamnya.
"Makasih banyak Pak. Maaf saya belum bisa kasih yang terbaik, tapi saya janji bakal latih adik-adik sebaik mungkin."
Setelah Pak Arif mengangguk dengan seulas senyum, Zoya berdiri lantas mengucapkan salam dan segera undur diri dari sana. Tempat yang terasa menyesakkan.
Langkah ringan itu ia bawa menuju lapangan, dimana jam kelasnya itu olahraga. Namun, belum sempat ia menginjakkan kakinya diatas lapangan basket, netranya lebih dulu menangkap dua orang yang tak jauh dari sana. Entah apa yang mereka bicarakan. Akan tetapi, Zoya bisa melihat gerak dari keduanya yang saling berteriak. Juga satu anak yang baru saja datang melerai.
"Berantem kenapa lagi sih mereka," gumam Zoya.
Hingga netra itu mengikuti sosok yang memilih pergi lebih dulu. Meninggalkan dua orang disana. Kali ini, rasa penasaran itu lebih besar daripada seharusnya. Memilih berbalik mengikuti kemana anak itu pergi. Mengabaikan teriakan dari ketiga sahabatnya yang sudah ditengah lapangan.
Langkah kecil itu berhenti ketika langkah didepannya juga tak lagi bergerak. Dari tempatnya berdiri, Zoya bisa melihat bagaimana anak itu mengatur napasnya susah payah. Punggungnya terlihat naik turun tak beraturan bersama batuk yang setelahnya membuat anak itu terduduk.
Zoya mengamati sekeliling yang jelas sepi, karena jam pelajaran masih berlangsung. Ditaman belakang sekolah ini, langkah kaki itu ia bawa mendekat. Lantas duduk disamping satu nyawa yang mulai tenang setelah menghirup benda ajaib itu.
Tatapan disampingnya sedetik tertegun, lantas memanggil namanya hampir seperti bisikan. "Kenapa? Berantem lagi sama Vero?.".
Keduanya membiarkan hening mengambil alih. Membiarkan ucapan gadis itu bagaikan angin lalu. Tatapan keduanya lurus kedepan, menikmati helaian angin yang menerpa setiap inci wajah mereka. Hingga tak disangka suara yang begitu tenang itu mengalun.
"Kak, kenapa seakan Semesta nggak suka kalau lihat Varo bahagia?."
Detik itu, Zoya bisa mendengar getar dari suara Varo yang begitu tenang. Wajahnya memandang kosong kedepan. Entah apa yang anak itu alami sekarang, tapi- yang Zoya tahu keadaan Varo tidak pernah dalam kata baik jika sudah menyangkut dengan Vero. Apalagi, barusan keduanya beradu mulut.
"Lo ngomong apa, sih?."
Ada jeda sebelum suara Zoya kembali mematahkan hening.
"Nggak usah salahin siapa-siapa Var. Apalagi salahin takdir Tuhan. Kalau ada apa-apa bilang, gue bakal bantu sebisa gue."
Zoya tak mengira Varo membalasnya begitu cepat. Mengungukapkan deretan kata yang perlahan ia coba pahami. "Baru aja Varo rasain gimana hangatnya sebuah rumah. Tapi, kenapa yang baru aja Varo genggam hancur begitu aja?."
"Ada masalah apa, Var? Gue nggak bakal ngerti apa yang lo bilang kalau cuma pernyataan ambigu kayak gitu."
Zoya akui, ada yang aneh sejak beberapa hari lalu. Kedua anak kembar itu sering berjauhan, bahkan kala mereka berdua biasa bermain ke kelasnya sekarang tak ada lagi keduanya. Hanya Varo yang lebih sering mengunjungi kelasnya untuk bermain game bersama Fathur. Juga keanehan lain yang nampak kala biasannya Varo yang suka usil me-spam nomornya dengan jejeran kata yang tak bermutu, kali ini jarang anak itu lakukan.
"Varo nggak mau pisah," lirihnya menunduk dalam. Meremat jari jemarinya yang begetar.
"Pisah sama siapa?."
"Vero."
...♡♡♡...
__ADS_1
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^