BERBEDA

BERBEDA
Chap 24 (Terungkap)


__ADS_3

...Ternyata, cinta itu bisa merubah sikap seseorang. Dari yang semula buruk menjadi baik. Namun dari mereka yang baik, cinta bisa merubahnya menjadi buruk. ...



Bau khas obat-obatan itulah yang pertama kali tercium. Warna putih mendominan suasana sekitar yang pertama kali ia tangkap. Hingga suara dari luar mengalihkan atensinya untuk perlahan bangun.


"Eh- udah bangun Var. Ke enakan lo nya ya, tidur lama banget."


"Rame banget diluar, ada apa?," tanya Varo sembari memijit tengkuknya yang terasa pegal.


"Itu, Kak Zoya lagi adu mulut sama temen-temennya," balas Reihan setengah berbisik.


"Hah, adu mulut kenapa?."


"Ya itu soal tragedi kemarin."


Kaki itu hampir saja memijak lantai jika saja satu nyawa tak masuk kedalam indra penglihatannya. Hingga raut khawatirlah yang pertama kali menyambut.


"Lo udah bangun. Gimana, masih sakit badannya?."


"Baik kok Kak. Emm-."


"Yaudah syukur, kalau gitu gue pulang dulu."


"Kak Zoy!."


Zoya berbalik, mengangkat satu alisnya seakan bertanya ada apa? Hingga perlahan suara Varo mengalun begitu tenang. "Varo bantu cari orangnya, Kak."


Ruangan itu hening setelah suara Varo merayap. Sampai anggukan dari Zoya menerbitkan senyum lebar kedua orang disana. "Caranya gimana Var?," tanya Reihan.


"Bentar, Vero di mana?."


"Dia kan hari ini ada bimbingan sama Pak Satya."


"Yah, padahal tuh anak pinter banget kalau disuruh mikir," balas Varo menunduk lesu.


"Yaelah, gue kira lo udah punya solusi. Eh- malah nyari Vero."


"Bahas ditempat lain aja. Jangan disini, banyak yang bisa denger," sahut Zoya mulai melangkah mendahului.


Ke empat bibir itu sama-sama terangkat kala memandang senja diufuk Barat. Warna orange yang menyilaukan mata itu membuat suasana hati mereka tenang. Duduk diatas rerumputan seperti ini dengan pemandangan taman yang indah ternyata dapat menjernihkan pikiran setelah lamanya berkutat bersama deretan rumus.


"Ahhh jadi pengen tiduran," ujar Reihan lantas merebahkan tubuhnya diatas rerumputan, disusul Varo yang ada disampingnya.


"Kak Lia, udah punya feelling belum siapa dalang dibalik ini semua?," tanya Varo tiba-tiba.


Ya, Lia ikut mereka atas ajakan dari Zoya. Mana mungkin ia mau jika hanya ada dia diantara dua cowok itu.


"Nggak tahu sih, juga nggak kepikiran. Soalnya setahu gue Zoya nggak pernah punya masalah ataupun punya musuh."


"Var, jangan cari musuh atau yang nggak suka sama Kak Zoya dulu. Fokus sama siapa orang yang udah naruh itu dompet, udah itu aja dulu!," sahut Reihan.


Varo menegakkan tubuhnya kembali terduduk. Menatap kedua Kakak kelasnya itu bergantian. "Kak, punya ide nggak?."


Detik itu, suara cempreng keduanya meneriaki nama Varo kesal. Sedang sang empu juga Reihan menutup kedua telinganya. "Gue kira lo udah punya ide goblog!."


"Hust, astaghfirullah Zoya!."


"Astaghfirullah, maap kelepasan."


Lia menghela napasnya kasar, sedang sahabatnya itu berulangkali menampar mulutnya. Ah, kesal sekali meladeni satu cowok didepannya itu. "Ya kan Varo nggak bilang punya ide, Varo cuma bilang mau bantu cari siapa dalangnya."


"Sabar Kak, sohib Reihan emang agak miring anaknya."


"Lo juga miring berarti. Kan sahabatan sama gue, sama-sama miring," sahut Varo.


Sedang Zoya dan Lia menarik napas dalam-dalam. "Udah ya nggak usah bahas yang nggak penting," ujar Lia.


Ada hening yang cukup lama sebelum teriakan dari Varo membuat mereka semua terkejut hingga hampir saja Reihan melepas sepatunya untuk dilempar kepada sahabatnya itu.


"Santai aja kali, nggak usah teriak juga!."


Varo tersenyum lebar dengan kedua mata berbinar. Menepis jarak antara ketiga orang itu agar lebih mudah menjangkau. "Gue udah nemu idenya."


Ketiga pasang bola mata itu ikut berbinar dengan mulut melebar. "Serius, apa?."


"Gini Kak...."


Penjelasan panjang lebar yang Varo utarakan itu membuat euforia disekitar semakin terasa menyenangkan. Sepoi-sepoi angin sore itu seakan bisa merasakan jalan pintas akan masalah yang mereka hadapi. Hingga senyum lebar keempat orang itu terpampang sempurna.


"Woaahh astaga Var mantap bener ide lo!," teriak Reihan sembari adu tos dengan Varo.


"Tunggu- masalahnya kamera CCTV punya siapa?."


"Tenang aja Kak, Reihan punya CCTV dirumah. Besok pagi-pagi Reihan bawa."

__ADS_1


"Jadi besok berangkat pagi, terus kumpul didepan sanggar pramuka. Oke?," ujar Lia dibalas anggukan semua.


"Eh, jam berapa? Gue belum shalat."


Reihan melirik jam dipergelangan tangan yang menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. "Ya ampun Kak jam lima kurang sepuluh menit. Shalat dimushala sana aja yuk," ajak Reihan lantas berdiri disusul ketiganya.


"Gue juga belum Shalat," sahut Lia.


"Yaudah kalian buruan Shalat gih! Varo tunggu di sini."


"Nggak ikut kesana aja Var?."


"Nggak usah Rei, disini aja."


Ketiganya mengiyakan lantas beranjak dari sana. Meninggalkan Varo yang kembali terduduk dengan pandangan kosong mengarah ke angkasa.


...)( ...


Pagi ini, setelah kemarin sore mereka merencanakan misinya...Disinilah ke empat remaja itu berada. Sanggar pramuka yang masih sepi.


"Sini, biar saya bantu pasang."


Satpam bernama Pak Hendra itu mulai menaiki satu persatu tangga untuk memasang kamera CCTV tersembunyi itu. "Kesini pas istirahat atau pas pulang sekolah?," tanya Reihan.


"Nanti pulang sekolah aja gue kumpulin semua anggota pramuka inti baik Senior maupun Junior," balas Zoya.


"Nanti bapak bantuin ya mbak. Pengen ikut drama hehehee," sahut Pak Hendra yang mulai menuruni anak tangga.


"Iya Pak boleh, makasih."


"Iya mbak santai aja."


"Udah yok bubar, keburu ada yang datang," ujar Varo. Lantas semua orang itu kembali menuju kelasnya. Sedang Pak Hendra beranjak menuju pos satpam.


Kedua gadis itu melangkah ringan melewati setiap lorong kelas. Namun, ketika tatap keduanya bertemu dengan sepasang netra...langkahnya terpaksa berhenti.


Canggung yang Zoya rasakan tak bisa dirasakan Lia yang membalas senyum lawan pandangnya. Hingga langkah tegap itu tepat berhenti didepan keduanya.


"Tumben kalian udah dateng pagi-pagi."


Lia dan Zoya saling tatap sebelum tersenyum kaku. "Ah itu Kak kita berdua ada jadwal piket kelas," balas Lia, jelas berbohong.


"Oh, emm gue bisa bawa Zoya sebentar?."


Sosok yang disebut menegang, tidak. Dia tidak ingin berinteraksi dengan cowok itu untuk beberapa hari ke depan. Kejadian dua hari yang lalu saja masih teringat jelas, dan itu membuat rasa canggung menyelimuti euforia diantara keduanya. "Boleh kok Kak. Kalau gitu Lia ke kelas dulu ya," balas Lia kemudian melangkah pergi walau sebelumnya sempat tertahan kala tangannya digenggam erat oleh sahabatnya itu.


"Tenang aja Zoy, gue nggak mau bahas hal serius sama lo kok," ujarnya diakhiri tawa ringan.


"Ma- mau apa Kak?."


"Ikut ke kantor, dipanggil Pak Arif."


Mata itu mulai menatap lawannya dengan kedua alis terangkat. "Kenapa? Masalah uang itu lagi, ya?."


"Ah bukan kok. Nanti lo juga tahu sendiri. Ayo!."


Zoya menghela napas kasar sebelum mengikuti Hariz dengan muka tertekuk. Apa lagi ini? Masih pagi juga udah dipanggil ke kantor oleh pembina pramuka. Ah, sepertinya hal baik atau buruk sedang menantinya kali ini.


"Permisi Pak," ujar Hariz yang langsung dapat balasan dari pria dewasa itu untuk masuk. Diikuti Zoya yang masih setia dibelakang dengan rapalan doa yang entah untuk apa.


"Duduk aja! Kita bicara santai kok disini."


Keduanya lantas duduk didepan meja Pak Arif. Dengan Hariz yang masih mempertahankan senyum manisnya. Sedang Zoya dengan raut setengah gelisah.


"Gini, langsung ke intinya aja ya. Tahun depan sekitar bulan tiga atau dua kita ada lomba Pramuka se-kabupaten."


"Nah, tujuan saya panggil kalian berdua itu untuk mengkoordinasi lomba ini. Yang in sya allah saya serahkan kepada kalian berdua. Hariz sebagai pembimbing pelaksana acara ini, sedang kamu Zoya...saya beri tugas untuk membimbing adik-adik kelas sepuluh yang memiliki potensi untuk diikut sertakan lomba tahun depan," jelas Pak Arif.


"Saya Pak? Beneran saya?," tanya Zoya menunjuk dirinya sendiri.


Ah, tidak. Dia sama sekali tak menginginkan itu. Dan ya, sepertinya hal buruk kali ini menimpanya lagi.


"Iya, saya pasrahkan kamu dan Hariz yang mulai atur dari sekarang,"  balas Pak Arif sembari mengangkat secangkir kopi lantas meneguknya.


Zoya menunduk lesu, kenapa harus dia? Apalagi ini bersama Hariz. Ah, bagaimana bisa ia melakukannya?


Hariz tersenyum, lantas menepuk tas punggung Zoya sembari membisikkan kata-kata semangat yang malah membuatnya frustasi. "Semangat! Lo pasti bisa."


Aisshh menyebalkan!


...)( ...


Riuh bisik-bisik itu membuat Zoya semakin tak sabar kala melihat respon dari semua orang yang ada disana. Hingga suara Siska menguar untuk yang pertama kalinya.


"Ini kenapa lo panggil kita semua kesini sih? Lo nggak tahu gue ada les habis ini?!."

__ADS_1


Zoya dan Lia saling pandang  sebelum akhirnya tersenyum yang membuat mereka semua mengernyit bingung. Terutama Joy dan Haris yang tak tahu apa-apa itu hanya duduk diam.


"Udah kumpul semua belum nih kakak-kakak sama adik-adik?."


"Udah kayaknya Zoy," balas Joy.


Zoya manggut-manggut. Lantas menganggukkan kepala kepada Reihan yang berada diambang pintu. Sedang Varo berdiri mendekati Zoya dan Lia yang ada didepan dengan membawa laptopnya. Lantas Reihan berlari menuju pos satpam.


Semua orang disana saling lirik. Namun tak butuh waktu lama semua nyawa yang ada disana terdiam kala suara Zoya menguar begitu tenang.


"Langsung aja, kenapa saya kumpulkan kalian semua disini..."


"....Karena saya mau buktikan, kalau dompet yang ada diloker saya itu bukan karena saya yang mencuri. Melainkan ada orang yang sengaja menaruhnya."


Ketiga orang didepan sana saling tatap dengan senyum penuh arti kala wajah didepan mereka menegang bersama bisik-bisik mulai merayap.


"Hah, jadi maksud lo ada yang sengaja gitu naruh dompet itu ke loker lo?!," teriak Siska.


"Ya, seperti itu."


"Mana buktinya?!."


"Tenang Kak Siska, buktinya udah ada didalam laptop," sahut Varo.


Alis Siska mengernyit dengan kerutan dalam didahi. Sedang yang lain semakin bergerak gusar. Hingga atensi semua orang terpecah kala Pak Hendra datang membawa tangga yang langsung ia sandarkan pada dinding sebelah lemari, tempat dimana ia menyembunyikan kamera itu.


Sepasang mata mereka semua membola kala Pak Hendra turun dengan kamera kecil ditangannya. Namun, diantara banyaknya nyawa disana- ada detak jantung yang berdetak tak karuan.


"Seperti yang kalian lihat, ternyata Pak Hendra menyembunyikan kamera itu diatas sana."


"Benar kata mbak Zoya. Kamera ini sudah saya pasang sejak dulu, dan kemarin sudah saya lihat siapa pelaku yang sebenarnya. Sekarang saya serahkan masalah ini pada kalian semua, jangan sampai pembina tahu. Paham?."


Penjelasan panjang lebar Pak Hendra mendapat acungan jempol tersembunyi dari Varo yang duduk dengan laptop dipangkuannya. "Makasih Pak Hendra," teriak Zoya, Lia, Reihan, dan Varo kala Pria paruh baya itu kembali beranjak pergi dengan tangganya.


"Nah, buktinya udah ada dilaptop," teriak Reihan mengacungkan kamera kecil itu. Membawanya maju kedepan bersama Varo yang sudah duduk anteng disana.


"Jadi, siapa pelakunya Zoy?," tanya Hariz.


"Maaf Kak, kita nggak bakal kasih tahu siapa pelaku sebenarnya. Karena, kita masih punya rasa kemanusiaan. Kita nggak mau dia malu setelah melakukan hal itu, tapi kita mau dia yang mengaku sendiri dan meminta maaf ke kalian semua."


"Terus lo mau apa?!," tanya Siska lantang.


"Kita mau pelakunya dateng ke Zoya sendiri," sahut Lia.


"Ya, lebih baik mengaku dari pada kita bocorin disini- didepan kalian semua."


Setelah ucapan Zoya berakhir, suara riuh itu kembali terdengar. Hingga tepukan berulang dari Joy membisukan mereka semua.


"Udah udah jangan berisik dulu!."


Joy beranjak kedepan. Menatap semua orang yang disana sebelum keputusan ia ambil. "Gini, siapapun itu pelakunya...mending lo minta maaf langsung ke Zoya. Dari pada lo malu didepan banyak orang!."


"Emm lo kasih waktu berapa lama, Zoy?," lanjut Joy.


"Sampai nanti malam."


"Dan- langsung dateng ke rumah Kak Zoya," sahut Varo yang dapat delikan dari sang empu.


Varo mengangguk mantap sembari tersenyum lebar kearah Zoya. "Oke, setuju?."


"Setuju!," teriak semua orang disana. Kecuali, satu dari mereka yang hanya diam.


...)(...


Keempat orang itu bergerak gelisah. Mondar mandir tak jelas didalam kamar Zoya. Sudah pukul setengah tujuh orang yang mereka tunggu tak segera muncul. Hingga desisan kasar keluar dari mulut Zoya.


"Gimana kalau dia nggak mau dateng?."


"Tenang aja Kak, nggak mungkin dia mau dipermaluin didepan umum," sahut Varo.


"Heh! Gimana dia mau dipermaluin depan umum kalau kita aja nggak tahu pelakunya siapa."


"Oh iya ya," balas Varo menggut-manggut.


"Eh- eh suara motor siapa itu?," teriak Reihan heboh.


"Husstt jangan berisik," ujar Lia menempelkan jari telunjuknya ke bibir.


Mereka semua lantas melompat dari ranjang menuju cendela yang langsung melihatkan area halaman rumah Zoya. Dan, detik itu mata mereka semua membola kala melihat siapa yang baru saja melepas helmnya.


...♡♡♡...


...HEI SELAMAT HARI SENINN, VOTE YUKK😅🔥...


Siapa hayo yang datengg?!

__ADS_1


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2