BERBEDA

BERBEDA
Chap 31 (Weekand)


__ADS_3

...Apa akan selamanya kisah anak remaja itu hanya dibuat sebagai kenangan? Tapi, jika kisah remaja itu dirajut untuk masa depan yang mengikat tanpa lepas- apa boleh aku meminta agar kisah kita tetap bersama selamanya? ...



Pagi itu sangat padat meski bukan hari senin yang mereka hadapi. Minggu hari ini bersama  dengan orang-orang yang menikmati waktu mereka untuk berlibur. Menghabiskan waktu untuk mengistirahatkan sejenak pikiran mereka. Tak luput dari dua orang beda generasi itu yang kini masih menikmati perjalanan. Setelah motor itu perlahan berhenti tepat di tempat tujuan- keduanya melangkah berdampingan dengan satu nyawa yang masih menahan tawanya. Hingga nyawa disebelahnya itu berdecak tak suka.


"Ck, kalau mau ketawa, ketawa aja kali Kak."


Mendengar itupun, Zoya lantas tertawa tanpa peduli beberapa orang disekitar yang menatapnya aneh. Sedang Varo menyek-menyek tak jelas. "Aduh sakit perut gue- udah ah capek ketawa," ujar Zoya masih dengan sisa tawanya.


"Ketawa aja Kak. Ketawa sepuasnya," sahut Varo kemudian melangkah mendahului yang segera disusul Zoya.


"Salah siapa lo buat gue ketawa."


Zoya menatap sekali lagi penampilan Varo dari atas sampai bawah. Hingga gemelitik diperutnya kembali hadir. Menahan pecah tawa sampai suara ngik-ngik itu Varo dengar. "Udah dong Kak ihh. Varo jadi malu kalau kayak gini!."


"Pakaian lo kayak buronan yang lagi nyamar nih yang bikin gue ngakak," sahut Zoya lantas menurunkan topi hitam Varo lebih dalam lagi.


Bagaimana tidak, sejak Varo menjemput tadi-  Zoya sudah menahan tawanya agar tidak menyinggung anak itu. Zoya jelas tidak mau rencananya jalan-jalan bubar hanya karena pakaian yang dipakai Varo.


Dimana semua pakaiannya serba hitam. Memakai jaket hitam, topi hitam, juga masket hitam. Dan- alasannya jelas karena lebam-lebam diseluruh titik wajahnya. Tidak mungkin Varo mengekspos itu semua didepan umum yang malah membuatnya menjadi sorotan.


"Kayak gini udah mending kali Kak. Dari pada nanti wajah Varo jadi perhatian terus banyak yang suka pada pandangan pertama kan malah nggak epik kalau gitu ceritanya. Kasian nanti saingan Kak Zoya banyak."


"Idih, ngapain gue saingan buat rebutin lo! Ogah."


"Bener nih nggak apa-apa? Sekalian deh Varo cari Cecan disini. Pasti banyak cewek-cewek cantik, kan setahu Varo toko buku surganya para cewek."


"Pakaian Varo juga udah mendukung. Berdemage sekali. Serba hitam. Misterius. Ngaku deh Kak, banyak yang suka kan kalau cowok pakai baju warna hitam tuh banyak cewek yang suka?," lanjut Varo.


Alis Zoya menukik keatas. Apa apaan coba, kenapa bahas yang tidak-tidak? Bawa-bawa anak cewek lagi. Dia kesana mau liburan mencari novel kesukaannya. Bukan membantu anak itu mencari CECAN!


"Heh! Nggak usah sok kegantengan deh lo. Berdemage pala lo peyang! Malah pada takut kali cewek-cewek lihat lo kayak gini."


Hendak Varo menimpali, namun urung kala tak sadar langkah keduanya sampai didepan pintu Gramedia. Dengan sambutan ramah dari pegawai laki-laki yang berjaga didepan pintu. Keduanya tersenyum ramah, lantas memasuki tempat yang selalu menjadi favorit bagi Zoya.


"Nggak nyangka gue bisa kesini sama lo," lirih suara Zoya mengalun begitu ringan. Hingga lengkung dibibir Varo terangkat.


"Wah jadi ini pertama kalinya Kak Zoya kesini? Sama Varo lagi?," tanyanya dengan mata berbinar yang dibalas acuhan wajah dari Zoya.


"Udah ayok ikutin gue! Jangan nyasar. Nanti yang repot gue."


Varo terkekeh, yang pada akhirnya mengekor dibelakang Zoya menelusuri setiap rak buku.


"Kak Zoya suka banget ya sama Novel?," celetuk Varo.


Zoya menoleh sekilas. Kembali memilah milah buku yang pada kenyataannya semua sudah masuk kedalam list favorit. Bagaimana bisa memilih salah satu dari mereka? Ingin memborong pun, ia sadar nominal uangnya tak seberapa.


Cukup lama, Zoya mengangguk.


"Tuh Kak, cantik banget mbak nya. Varo kesana ya, sapa sebentar atau nggak minta nomor WA nya sekalian," ujar Varo sembari menunjuk dua cewek yang berada dirak seberang.


Zoyamengerucutkan bibir. Kemudian meraih lengan Varo untuk dicubit hingga sang empu meringis kesakitan. "Ayo sana kalau berani coba minta no WA! Kalau berhasil gue kasih apa yang lo mau."


Dan detik setelahnya, Zoya sungguh menyesali perkataannya itu. Dia lupa, lupa bahwa Varo adalah Varo yang mempunyai tekad sangat kuat. Juga Varo yang suka berbuat seenaknya. Lihatlah, dengan tidak malunya anak itu menyetujui perkataan Zoya. Lantas tanpa bisa Zoya cegah, langkah Varo mendekat ke dua cewek itu.


"Sial, tuh anak nggak ngotak atau gimana sih? Malu-maluin gue tahu nggak," gumam Zoya yang kemudian menyembunyikan tubuhnya. Untung ada rak yang cukup menyembunyikannya. Dari celah-celah rak, Zoya bisa melihat interaksi ketiganya hingga Varo menyerahkan HP kepada salah satu cewek itu.


"Ihhh tuh anak nyebelin banget sih! Nyesel gue ngajak lo ke sini. Dasar buaya!."


"Makasih ya mbak," ujar Varo yang masih bisa didengar Zoya. Setelah itu, Zoya melihat kedua cewek tadi tersenyum lantas pergi dari sana.


Varo menatap Zoya yang sudah muncul menampakkan kepalanya beserta wajah memerah. "Nih Kak, udah dapat nomornya," ujar Varo sesampainya disamping Zoya dengan senyum lebar yang tak bisa gadis itu lihat karena tertutup masker.


"Gila nggak sih, bisa dapat nomor Cecan. Benar juga ya, cari cewek di Gramedia itu nggak bakal sia-sia. Kalau gini, sering-sering ajak Varo kesini ya Kak."


"Lo yang Gila!."


Pekikan Zoya itu bersamaan dengan hentakan kaki yang ia bawa pergi menjauh dari Varo yang tertawa puas. "Lucu deh lihatnya," gumam Varo lantas mengikuti Zoya yang sudah hilang ditelan jejeran rak.


"Kak, inget loh ya janjinya mau turuti kemauan Varo kalau dapat no WA mbak cantik tadi," celetuk Varo ketika Zoya berhenti, kembali memilah buku-buku novel yang menyilaukan mata.


Zoya diam tak menimpali. Bahkan, separuh hatinya sekarang sudah tidak lagi dalam mode baik. "Ya ya ya Kak! Pokoknya harus kabulin, udah janji soalnya. Nanti malam Varo mintanya, jangan lupa online."


Zoya melirik sinis. Berdecak sebelum melangkah ke rak berikutnya.


...)( ...


Mata itu mengamati sekelilingnya yang sudah berantakan. Ruang tamu itu penuh dengan botol-botol minuman keras juga bungkus-bungkus makanan ringan. Mengingat kembali kejadian semalam dimana ia menjadi babu untuk mereka para iblis berkedok manusia. Melayani untuk membelikan semua yang mereka butuhkan tanpa adanya bantahan. Karena disana, dia tidak punya suara untuk didengar. Bahkan, sedikit saja suaranya keluar bisa-bisa salah satu tubuhnya yang menjadi korban. Dengan langkah mantap, kaki itu berjalan mengambil sekrop juga sapu untuk membereskan semua kekacauan itu.


Baru saja membuang sampah-sampah plastik ke tong sampah, teriakan dari kamar atas membuat Vero mau tidak mau meninggalkan sebentar pelerjaannya itu.


"Lama banget sih dipanggil! Nggak tahu gue haus apa?!."


Suara lantang itu menyambut Vero ketika berada diambang pintu kamar Juna. Anak itu lantas kembali turun kebawah sebelum mengatakan untuk menunggu sebentar. Sedang Juna, kembali merebahkan dirinya. Untuk sekedar duduk saja dunianya terasa berputar.


Vero pernah berpikir, sampai kapan dia akan seperti ini. Menjadi pengecut dibalik ketakutannya akan ancaman dari Juna. Dimana perkataan Juna saat pertama kali ia masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


"Jangan bantah apa kemauan gue. Kalau nggak, Bokap sama saudara kembar lo yang bakal jadi tumbalnya."


Dari situ, Vero masih berani untuk membalas ancaman Juna. Namun, esok hari dia menyesal telah meremehkan ucapan Juna yang tidak main-main. Bagaimana ia panik melihat Genandra yang hampir saja drop karena alergi kacang kedelai. Dan semua itu berawal dari Juna yang mencampurkan kacang kedelai yang sudah menjadi bubuk kedalam makanan Genandra. Sungguh, dari situlah ketakutan Vero tidak main-main.


"Udah tahukan gimana nekatnya gue?."


Vero diam, sembari menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Menahan gejolak amarah yang sedari tadi ia pendam.


"Gue bisa bikin Bokap lo hancur lebih dari ini. Jadi, jangan macam-macam, oke?!," lanjut Juna lantas pergi setelah menepuk pundak Vero.


Vero mengamati Genandra yang masih terpejam. Dan kejadian itu tidak pernah dia katakan pada siapapun sampai sekarang. Termasuk Varo.


Kembali ke Vero yang sudah menyerahkan seteko air juga gelasnya diatas nakas. Lantas berbalik hingga  langkahnya tertahan kala suara Juna mengintrupsi.


"Jangan kemana mana! Gue nggak bisa jalan kayak gini gara-gara kembaran lo. Kalau gue butuh apa-apa lo yang gue suruh."


"Bikinin gue sup daging. Bikin sendiri! Awas aja kalau beli," lanjut Juna tanpa menoleh. Tetap memunggungi Vero dengan mata terpejam.


Satu hela napas lelah keluar begitu saja dari Vero. "Lo bikin masalah apa lagi sih Bang?," gumam Vero lalu menutup pintu pelan.


Diujung tangga terakhir suara ketukan pintu membuat Vero mengernyit. Detik kemudian langkah cepatnya ia bawa menuju pintu. "Iya sebentar!."


"Hallo Vero!," teriak gadis yang kini menyengir lebar.


"Lo ngapain disini?."


"Mau main lah. Bosen dirumah, masa hari minggu rebahan. Dari pada booring gue ke sini deh," balasnya ringan.


Vero masih menunjukkan raut terkejutnya dengan kedua alis menyatu. Masih berdiri ditengah pintu tanpa memberi celah tamu itu untuk masuk.


"Hello! Gue nggak di suruh masuk gitu?," ujarnya melambaikan tangan didepan wajah Vero yang membuat sang empu mengerjap.


"Tahu dari siapa gue pindah ke sini?."


"Tahu dari tante Miranti. Tadi sempet kerumah sebentar, tapi ternyata lo nya nggak ada."


"Sorry, Mama nggak tahu alamat rumah ini. Lo tahu dari Varo kan?."


Gadis itu- Jeslyn gelagapan. Menghindari tatapan intimidasi yang mengarah kepadanya.


"Em itu anu-."


"Jangan bilang lo disuruh sama Varo?!."


Sial, gue lupa otaknya satu anak ini nggak bisa dibohongin. Dasar Varo, kalau kayak gini gue kan yang harus putar otak, batin Jeslyn.


Vero masih diam, menelisik setiap inci wajah Jeslyn. Sedang sang empu masih mempertahankan tatapan angkuhnya itu. Padahal ada detak tak normal yang membuatnya mati kutu. Ditatap Vero selekat itu adalah hal langka selama ia berteman dengan cowok itu.


"Ekhmm paling Varo yang kasih tahu tante Miranti," alibi Jeslyn.


"Ck, udah deh gue kesini tuh mau cari temen biar nggak bosen! Kok malah lo interogasi sih. Nggak mau nerima gue sebagai tamu nih?."


Butuh beberapa detik sampai Vero menganggukkan kepala. Lantas menggeser tubuhnya agar Jeslyn bisa masuk kedalam. Namun, ketika netranya kembali menangkap banyaknya botol hijau yang berserakan itu- tangannya mendorong tubuh Jeslyn hingga anak itu mengaduh dengan tubuh Vero kembali berdiri ditengah tengah pintu.


"Tunggu sebentar! Jangan masuk sebelum gue bukain pintu lagi!."


"Eh Vero! Bukain woy! Tega banget lo ninggalin gue disini," teriak Jeslyn sembari menggedor pintu yang sudah Vero kunci dari dalam.


Dengan cekatan, tangan anak itu memasukkan semua botol kedalam kantung keresek. Setelah dirasa semua sudah bersih, ia berlari mengambil pewangi, lalu menyemprotkan keseluruh ruangan itu.


"Hahh selesai!."


Sedang Jeslyn kembali mengetuk kasar pintu dengan umpatan yang ia lontarkan. Sampai beberapa detik sang tuan rumah membukakan pintu. Yang langsung disambut omelan dari gadis yang sudah main masuk tanpa perlu ia persilahkan.


"Lo ngapain aja sih?! Lama banget!."


"Cerewet!."


Jeslyn mendelik tak suka. Tanpa peduli Vero yang melangkah kearah dapur dengan dia mendudukkan diri disofa panjang.


"Wangi bener rumah lo Ver," celetuk Jeslyn membuat Vero yang berada didapur berdehem. Bagaimana tidak wangi, baru saja Vero menyemprotkan pewangi agar bau alkohol itu tidak tercium.


Jeslyn tersenyum melihat Vero datang membawa nampan berisi jus jeruk dengan roti kering. "Wah punya adat bertamu juga lo."


"Gue bukan lo ya!."


Jeslyn tak menanggapi, mengambil gelas dan menuangkan jus jeruk itu lantas menegaknya. Belum sempat suara Jeslyn terbuka, teriakan dari atas membuatnya urung.


"Woy mana makanan gue?!."


Kedua pasang netra itu saling beradu. Sebelum Vero menormalkan tatapan gelisahnya lantas menjawab suara lantang itu juga dengan teriakan. "Iya Bang tunggu!."


"Jes, gue mau masak dulu ya. Dirumah nggak ada orang soalnya. Jadi harus bikin sarapan sendiri," ujar Vero sedikit mengatur kata demi kata. Agar Jelsyn tidak curiga jika bahwasannya dia sedang menjadi pembantu manusia iblis itu.


"Oh, emm tadi itu siapa?."


"Abang tiri gue. Lo nggak apa-apa kan gue tinggal masak dulu?."

__ADS_1


"Lo mau masak? Emang bisa?."


Iya juga ya. Gue kan nggak pernah masak, batin Vero.


Melihat Vero hanya diam saja, membuat Jeslyn tahu apa yang anak itu pikirkan. "Gue bantu masak yuk!."


Jeslyn berdiri dengan penuh semangat. Sedang Vero menatap gadis itu was-was. "Emang lo bisa masak?."


Vero mengaduh kala jitakan dari Jeslyn mendarat dikepalanya. "Malah balik tanya."


"Gini-gini gue sering bantu Mama didapur ya. Nggak kayak lo, cuma bisanya makan doang!."


"Udah ayok, keburu Abang lo marah!," lanjut Jeslyn menarik tangan Vero.


Tanpa sepengetahuan Jeslyn, Vero diam-diam tersenyum.


...)( ...


Senyum itu terus mengembang mengamati ciptaan Tuhan didepannya itu. Sudah sejak setengah jam mereka menikmati makan siang disalah satu tempat makan di mall yang seharian mereka kunjungi. Hingga netra keduanya saling beradu,membuat tatapan sang lawan berubah sengit.


"Ngapain lihat-lihat?."


"Mubazir Kak untuk diabaikan," balas Varo ringan. Namun setelahnya suara Varo berubah menjadi rintihan ketika sendok makan itu mendarat ditangannya.


"Dosa tahu! Zina mata," ujar Zoya yang membuat Varo mengerucutkan bibirnya.


"Zina mata itu apa? Kok dosa?."


Pertanyaan polos Varo membuat Zoya terdiam. Tidak ada lagi tatapan sengit yang beberapa saat lalu ia tunjukkan. Hingga suara adzan dhuhur membuyarkan lamunannya yang sempat merusak moodnya kembali.


"Adzan Kak. Shalat disini atau mau langsung pulang?."


"Shalat disini aja," balas Zoya lantas beranjak dari kursinya. Diikuti Varo yang berada dibelakang dengan pikiran yang kembali menyadarkannya. Tentang alur kedepan yang belum saatnya ia pikirkan.


"Lo mau nunggu dimana?," tanya Zoya memelankan langkah agar sejajar dengan Varo.


"Ikut Kak Zoya aja deh."


"Beneran mau nunggu didepan? Nggak cari tempat duduk aja gitu entar gue samperin kalau udah selesai."


"Enggak usah, nunggu didepan mushalanya aja. Sini tasnya Varo bawain."


Zoya mengalah, memberikan tas juga paper bag belanjaannya kepada Varo. Sesampainya didepan mushala, Varo benar-benar menunggu disana. Untung saja disamping pintu mushala itu ada tempat untuk dia duduk.


Gue nggak tahu kenapa rasanya sakit banget ya kalau keinget sama iman kita yang berbeda. Padahal gue nggak tahu cinta ini bertahan sampai kapan, batin Varo.


Varo tersadar ketika getaran dari dalam sakunya meraung. Dan nama Jeslyn terpampang paling atas. Ternyata respon yang Varo dapat melibihi ekspetasinya. Tangan itu meremat kuat-kuat gawai yang mulai meredup.


Jeslyn


Var, gue udah dirumah Vero dari tadi pagi. Ada yang harus lo tahu, gue udah nggak tahan pengen ngomong sama lo. Asal lo tahu, Abang tirinya Vero tadi hampir pukul Vero kalau nggak gue teriak. Cuman gara-gara masakan gue nggak enak dia marah banget sama Vero. Gedeg banget tahu nggak gue sama orang itu, dari cara dia bentak-bentak Vero aja udah kelihatan kalau selama ini kelakuannya nggak beda jauh kasar ke Vero.


Gue takut Var. Tapi lo tenang aja, gue bakal sering-sering kesana buat cari tahu. Tapi tadi Vero bilang ke gue buat jangan main lagi.


Oh ya sorry, gue belum sempet taruh kameranya. Nggak sempet soalnya, gue langsung diusir sama kembaran lo gara-gara kejadian tadi.


"Var, lo kenapa?."


Varo terkejut, menatap Zoya yang sudah ada didepannya. Menit berlalu hanya ia gunakan untuk membakar api didalam sana yang semakin menjadi. Sampai tidak bisa menyembunyikannya dari Zoya yang menatapnya curiga.


"Ah nggak apa-apa kok Kak. Udah selesai? Mau pulang atau jalan-jalan dulu?."


"Beneran oke? Lo kayak lagi marah gitu, kenapa? Bilang aja Var!."


Varo menggeleng berulangkali. Mengangkat sudut bibirnya. Lantas kembali mengatakan semua baik-baik saja.


"Yaudah ayok pulang aja."


"Udah nggak mau jalan ke lain tempat?."


"Udah cukup. Nanti kalau kecapekkan asma lo kambuh."


"Ciee khawatir nih?," sahut Varo dengan senyum jahilnya yang berhasil membuat pipi Zoya memanas.


"Bukannya khawatir! Gue nggak mau lo repotin. Nanti siapa yang nyetir kalau lo sakit?."


"Ck, bilang aja kali Kak. Nggak usah malu."


"Varo?!," geram Zoya mendelik tajam yang semakin dibalas tawa lepas Varo.


...♡♡♡...


Aaaaa mau curhatt boleh yaaa🥺


Sebenarnya udah dari kemarin malam senin aku di datengin Varo dialam mimpiii...Nggak nyangka banget baru kali ini dia dateng dimimpi. Ya ampun nggak tahu apa yang mau disampein, tapi dalam mimpi itu dia nangis tapi akunya malah jutek, moga tenangg di sana ya Varo🥺 Makasih udah datang, disini banyak yang doain kamu kok, peluk dari jauh Varo🤗


^^^Tertanda ^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2