
...Jangan pernah berharap lebih kepada orang lain. Ataupun menaruh kepercayaan lebih yang akan berakhir kecewa. ...
Euforia disekitar memanas ketika dua tatap tajam itu saling mengeluarkan ultimatum bahaya. Dari kedua raut wajahpun sama-sama mengeras. Pancaran api dari kedua pasang bola mata itu saling terpancar. Saling menusuk satu sama lain.
"Nyokab lo nggak pernah ngajarin sopan santun?! Tahu caranya bertamu nggak? Lo kira sopan main tendang gerbang-."
"Nggak usah banyak bacot!" Seloroh Varo.
Juna terkekeh sinis, meludah kesamping kiri. Yang detik selanjutnya tangan kekar itu melayang tepat mengenai rahang seseorang yang baru saja datang menghadang ditengah tengah keduanya. Hingga pukulan itu mengenai rahang Vero yang kini tersungkur dilantai.
"Vero!"
Anak itu meringis, menyentuh bekas bogeman Juna yang langsung membiru. Sedang Varo kembali menatap Juna sengit. "Var udah! Omongin baik-baik sama gue," ujar Vero meraih tangan Varo menjauh dari hadapan Juna.
"Gue udah nggak percaya lagi sama lo, Ver! Sejak lo tinggal disini, kepercayaan gue udah nggak ada lagi buat lo."
"Please, dengerin dulu. Jangan ribut disini."
"Lo diem aja! Kali ini urusan gue sama dia," tunjuk Varo tepat didepan wajah Juna yang mempertahankan wajah sinisnya.
"Mau apasih, hm? Perasaan hari ini gue nggak cari masalah deh sama lo!."
"Nggak usah banyak omong! Maksud lo apa suruh-suruh Vero beli minuman sampah ini hah?!."
Juna melirik sekilas keresek yang diangkat Varo kehadapannya. Hingga tawa ringan itu keluar dari mulutnya yang semakin membuat Varo geram. "Sorry, emang salahnya dimana kalau gue minta tolong sama adek sendiri buat beli minuman sampah itu? Kan yang minum juga bukan dia, seharusnya lo fine dong. Vero aja nggak keberatan tuh."
Varo spontan menarik kerah Juna. "Bang udah-."
"Lo diem!," sentak Varo yang membuat Vero kembali menutup mulutnya.
"Lo punya kaki sama tangan lengkap, kan?! Kenapa nggak beli sendiri? Nggak harus jadiin adek gue alat buat kesenengan lo, brengsek!."
"Apa gunanya punya adek kalau nggak digunain?," balas Juna ringan.
"Apa gunanya otak kalau nggak dipake'?! Punya tangan sama kaki itu dimanfaatin! Adek gue bukan babu lo, brengsek!"
PRANGG
Suara gaduh dari pecahan botol minuman yang Varo lempar itu tepat mengenai dinding belakang Juna. Hingga detik kemudian membuat kedua laki-laki itu saling beradu pukulan. Sedang Vero menjauhi keduanya tanpa ingin melerai. Percuma, jika nanti akhirnya dia yang menjadi korban dari tinjuan kedua Abangnya itu.
"Nggak usah sok jago! Lo itu cuma anak kemarin sore," teriak Juna yang lantas memukul kuat-kuat perut Varo yang lengah. Hingga anak itu terpukul mundur, jatuh kelantai yang langsung dihampiri Vero dengan raut khawatir.
"Bang, udah! Please, jangan cari masalah."
"Cari masalah lo bilang?!"
"Dia yang cari masalah duluan, Ver," lanjut Varo.
"Bawa dia pergi!," teriak Juna yang ditujukan kepada Vero. Lantas masuk kedalam rumah dengan bantingan pintu yang memekakkan telinga.
"Udah, kita pergi dari sini Bang!."
"Gue pergi kalau lo juga bawa barang-barang lo pergi dari sini! Ikut gue!."
Vero menghela napas berat. Selalu saja seperti ini. "Ayolah Var! Berapa kali kita harus debat cuma gara-gara masalah ini?."
"Sampai lo mau ikut balik ke rumah Mama!."
"Var-."
Suara Vero kembali tertelan kala suara mobil berhenti didepan rumah. Sampai sosok Genandra keluar membuka gerbang lebih lebar. Vero yang melihat itu menegang, melihat kekacauan disekitar semakin membuatnya panik. Takut jika Varo akan berbicara macam-macam. Sedang Varo, tersenyum seolah menemukan titik jawaban.
"Ada kamu Var," ujar Genandra melangkah mendekati dua kembar itu bersama istri barunya.
"Loh, ini kenapa berantakan banget?."
"Iya, kok banyak pecahan botol," sahut Genandra. Namun, tak lama kedua bola mata Genandra terbuka sempurna.
"Ini alkohol?!."
"Iya!."
Balasan mantab dari Varo berhasil membuat detak jantung Vero berdegup kecang.
__ADS_1
"Kalau Papa butuh penjelasan, tanya aja sama anak baru Papa!."
"Mulai sekarang, Vero ikut tinggal bareng Varo sama Mama."
"Maksud kamu apa Var-"
"Terserah Papa mau marah, mau larang Vero, yang penting Varo mau bawa Vero pergi dari neraka ini!."
...)( ...
^^^Dek, Ayah bisa jemput nggak? ^^^
Adek 1
Emang mbak mau pulang?
^^^Iya, udah libur Nataru. Mau kesana, Ayah kerja nggak? ^^^
Adek 1
Ayah sih ada dirumah. Tapi bentar ya mbak aku tanyain
Adek 1
Kalau hari ini nggak bisa mbak
^^^Kenapa? Katanya ada dirumah. Mau kerja? Inikan hari minggu ^^^
Adek 1
Iya nggak kerja. Katanya udah ada janji sama teman-temannya mau mancing
^^^Yahh, nggak bisa dibatalin apa?^^^
^^^Pengen pulang mbak, kangen ^^^
Adek 1
Nggak bisa mbak kata Ayah
Adek 1
Besok kan harus kerja mbak
^^^Yaudah makasih^^^
Gawai itu terlempar diatas kasur setelah sang empunya melempar begitu saja. Mukanya tertekuk lesu. Seharusnya dari awal dia tidak berharap lebih. Dan seharusnya dia juga tahu, bahwa dari awal firasatnya tidak akan pernah salah.
Ruang obrolan yang baru saja ia tinggalkan itu kembali berbunyi. Meraih benda persegi itu, yang detik setelahnya bibirnya terangkat mengukir senyuman.
Kak Hariz
Zoy, nanti rencananya anak-anak mau ajak libur nataru ke puncak nginap di villa. Mau ikut nggak?
Sekalian bilangi ke Lia, ya.
^^^Wah serius nih Kak? Mau banget, siapa aja yang ikut? ^^^
Kak Hariz
Banyak, hampir semua angkatan gue ikut. Lo sampaiin ke angkatan lo ya. Sekalian kelas sepuluh juga.
^^^Siap Kak^^^
"Zoya!."
"Iya Nek, bentar."
Pintu kayu itu terbuka, menampakkan sosok Nenek disana.
"Ada apa Nek?."
"Itu ada Arex. Nyariin kamu katanya."
Dahi Zoya mengerut. Tidak biasa-biasanya Arex mencarinya. "Ada apa?."
__ADS_1
"Tanya sama orangnya. Mana Nenek tahu," balas Nenek lantas pergi masuk kedalam kamar.
"Tumben nyari gue, ada apa?."
Arex mengalihkan atensinya dari benda pipih itu. Mengamati Zoya yang sudah duduk dikursi tunggal.
"Bantuin gue."
"Ck, nggak mau! Pasti ujung-ujungnya suruh gue bohong ke Om sama Tante kan? Nggak ya Rex. Lo itu cuma bisa nambahin dosa gue aja. Minta tolong juga kalau ada butuhnya doang, larinya ke gue."
"Kapan gue minta tolong sama lo?! Nggak usah ngada-ngada."
"Hehh! Nggak nyadar ya selama ini kalau Om ada dirumah pasti alasannya bawa-bawa nama gue biar bisa keluar malam. Nggak lagi ya!"
Ada hening yang mendekap keduanya. Sebelum alunan suara Arex kembali mengalun. Membuat Zoya terdiam cukup lama setelah penuturan itu keluar. "Kalau lo bantu gue keluar nanti malam, lo bisa lihat Varo tanding sama anak kampung sebelah. Acara lomba silat akhir tahun nanti nggak bakal seru kalau ketuanya aja nggak datang. Please Zoy, bantuin gue ya. Emang lo nggak mau lihat Varo tanding?"
"Gimana? Jangan kelamaan mikir."
"Ekhmm, lo nggak bohongkan bawa-bawa nama Varo?"
"Ck, ngapain sih gue bohong? Kalau nggak percaya ikut aja sama gue. Tapi, lo yang kerumah biar bokap percaya."
"Untung di elo Rex!"
"Emang lo nggak? Diem-diem senengkan bisa lihat Varo," balas Arex diakhiri senyum liciknya yang berhasil membuat kedua pipi sepupunya itu memerah.
"Ngapain gue seneng? Nggak ada untungnya."
"Jadi, gimana? Oke, kan?"
"Oke, deal!"
...)(...
Zoya melirik tak suka kepada orang yang ada disampingnya itu. Seharusnya sedari pertama kali Arex meminta pertolongan ia tidak mempercayainya. Lihatlah sekarang, dimana kedua orang itu berada. Menyusuri setiap gang juga jalan-jalan kumuh yang entah mau kemana. .
"Rex! Ini mau kemana sih? Dari tadi jalan nggak sampai-sampai. Kenapa nggak bawa motor aja? Malah ditinggal disana," gerutu Zoya yang menatap Arex sebal.
Arex berhenti, membalikkan badannya menghadap Zoya dengan wajah tertekuk sempurna. "Nggak usah banyak nanya! Ikutin aja, jangan cerewet!"
"Oh, ya. Masalah kenapa nggak bawa motor itu biar nggak naruh curiga kalau sewaktu waktu ada intel. Biar kita gampang juga larinya."
"Maksud lo, Rex-."
"Ayo! Udah telat ini," seloroh Arex lantas memacu langkahnya kembali.
"Rex, serius deh gue jadi takut habis lo ngomong gitu. Nggak bakal ada polisi kan yang tiba-tiba nyergap? Kayak yang gue baca di novel gitu, takutnya yang lo lakuin ini ilegal. Lo-."
"Bisa diem nggak?!," sentak Arex yang spontan membuat mulut Zoya terkantup sempurna. Merutuki dirinya yang gampang percaya dengan laki-laki satu itu.
Arex membuka pintu besi setelah keduanya menuruni tangga. Lokasi itu berada dibawah tanah setelah mereka memasuki rumah bertingkat yang sudah tua dan tidak berpenghuni. "Masuk!," titiah Arex ketika Zoya hanya diam.
Kedua netra coklat itu bergerak gelisah. Menatap takut kearah Arex. "Bang, gue pulang aja ya."
"Silahkan, kalau lo berani balik sendiri. Gue nggak bakal anter lo sampai kejalan raya."
Detik itu, mau tidak mau Zoya melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan yang gelap. Lantas memasuki sebuah pintu yang langsung menyambutnya dengan suara bising dari banyaknya orang disana.
"Hei Bro! Telat setengah jam," sapa laki-laki gembul yang menyambut Arex. Tatapannya beralih kearah Zoya yang langsung menunduk.
"Pantes lama, jemput cewek dulu ternyata."
"Bukan. Sepupu gue," balas Arex yang kemudian meraih tangan Zoya menjauh dari laki-laki itu.
Zoya menangkap satu ring yang berada ditengah tengah ruangan. Asap rokok yang memenuhi ruangan itu membuatnya sering kali terbatuk disepanjang Arex membawanya masuk lebih dalam.
"Boss, lama banget dah! Ditunggu sama Bang Odra noh," ujar Devan setelah Arex masuk kedalam ruangan. Yang membawa netra Zoya bertemu dengan tatap kelam yang ia kenali.
...♡♡♡...
...Like👍...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1