BERBEDA

BERBEDA
Chap 49 (Sakit)


__ADS_3

...Aku berharap, semua yang terjadi selama ini akan menjadi hal baik kedepannya. Apapun rencana sang maha kuasa, aku ingin yang terbaik untuk kita. Kita yang bertemu atas takdir semesta. ...



Perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima belas menit itu terasa begitu jauh bagi seorang Alvaro. Berulangkali menarik napasnya dalam agar mengurangi rasa sakit yang menyerang di ulu hatinya itu hanya sia-sia. Satu tarikan napas yang sebelumnya ringan itu seakan memberat bersamaan dengan rasa sakit disekujur tubuhnya. Juga rasa mual yang tak tertahan tidak bisa lagi ia tahan. Meraih kresek yang berada dikantung kursi mobil. Bukannya lega, rasa sakit yang mencengkram di area perut semakin menjadi.


"Varo, tahan ya. Jangan tutup mata kamu," ujar Zoya menepuk lengan  Varo.


"Sebentar lagi sampai."


Namun, percuma. Kala rasa kantuk itu menyerangnya hingga gelap yang ia temui. Juga tubuhnya yang seakan meringan bersamaan dengan suara Zoya yang masih bisa ia dengar memanggili namanya, dan setelah itu hanya tenang yang ia rasakan. Dalam pejam yang menenangkan.


Zoya sudah kepalang panik ketika tubuh Varo jatuh dalam pangkuannya. Begitu juga Galih yang semakin menancap gas. "Tidak perlu belok arah, akan memakan waktu jika balik ke rumah sakit. Aku sudah panggil Dokter," ujar Zoya sebelum Galih memutar balik setir.


Tidak butuh waktu lama, gedung pencakar langit itu sudah berada didepan mata. Galih membuka pintu belakang, dengan bantuan Zoya tubuh Varo berpindah dipunggung lebar Galih. Bahkan dengan mudahnya Galih bisa mengangkat Tuannya yang memang sangat ringan. Entah kenapa membuat hati Galih merasa bersalah.


Dari lorong gedung Apartemen itu, Zoya bisa melihat seorang perempuan yang berada didepan pintu menatap mereka cemas. "Astaghfirullah, Kak Al kenapa Om?"


"Tekan paswordnya!" sahut Galih tanpa membalas ucapan, Sahira.


Tanpa bertanya lagi, Sahira menekan beberapa nomor hingga pintu itu terbuka. Raut khawatir itu sangat kental diwajah Sahira yang tak luput dari pandangan Zoya.


"Kapan Dokternya sampai?"


"Tunggu sebentar lagi. Aku kedepan dulu," balas Zoya meninggalkan ketiga orang disana. Dengan Sahira yang melepas sepatu dan sabuk Varo juga mengendorkan dasinya.


"Apa, dia Sahira?" gumam Zoya sebelum membuka pintu Apartemen. Tepat ketika pintu itu terbuka, wajah panik Vero lah yang pertama kali ia lihat.


"Ah tepat-"


"Apa yang sakit?" seloroh Vero mengamati Zoya dari atas sampai bawah.


"Bukan aku yang sakit. Ayo cepat masuk!"


Vero sempat terdiam ditempatnya sebelum sadar, lantas mengikuti Zoya dengan perasaan lega. Dia kira Zoyalah yang sakit, tapi tepat saat ia tiba orang itu malah berdiri tegak menyambutnya.


"Ayo, Ver!"


Galih dan Sahira segera menepi ketika Zoya dan Vero mendekat. Tidak ada keterkejutan diwajah Sahira melihat saudara kembar Varo, ya- karena dia tahu siapa Vero. Kecuali Galih yang baru bertemu Vero di rumah sakit waktu itu.


Tepat setelah wajah pucat itu tertangkap kedua netra Vero, tubuhnya membeku detik itu. Bersama debar jantungnya yang menggila. Menatap lamat wajah yang dibanjiri keringat dingin dan bibirnya yang hampir membiru itu seakan mencubit relungnya. Bahkan suara Zoya yang memanggili namanya tidak mampu menyadarkan kesadarannya yang masih terambang. Sampai tepukan dilengan berhasil mengembalikan fokusnya.


"Ver! Cepat periksa, jangan bengong."


"Kenapa nggak bilang kalau dia?"


Sungguh, rasanya Zoya ingin menempleng kepala Vero saat ini. Bagaimana bisa dia malah menanyakan hal yang tidak penting itu dari pada langsung memeriksa pasien yang membutuhkannya?


"Lo gila?! Apa pentingnya gue kasih tahu siapa yang sakit hah?! Ada pasien yang butuh ditangani, Ver. Dan itu bukannya tugas seorang Dokter ya?!" emosi Zoya. Sedang kedua orang dibelakang mereka hanya saling tatap. Geram melihat kedua orang itu yang malah berdebat.


"Dia Kakak kamu, Ver. Aku ingetin kalau kamu lupa."


Pernyataan Zoya ternyata berhasil menusuk kerelung Vero yang semakin terasa menyesakkan. Hingga pandangannya ia alihkan kepada sepasang mata yang masih nyaman dalam pejamnya. Lantas tanpa berbicara ia membuka tasnya guna mengambil stetoskop.


"Sudah berapa lama dia pingsan?"


"Sepuluh kalau nggak lima belas menit lalu."


Kening Vero mengernyit dalam, setelah memeriksa detak jantung Varo dia beralih menekan beberapa bagian perut. Lantas memeriksa suhu tubuh Varo yang melebihi batas normal. Pandangannya ia alihkan kepada tiga orang disana. "Ada catatan riwayat kesehatannya selain asma?"


"Asam lambung kronis," balas Galih cepat.


Kedua wajah perempuan itu sempat terkejut, sedang Vero mengangguk perlahan. Seakan apa yang ia tebak memanglah benar.


Jujur, Vero juga merasa sakit ketika mengetahui itu. Ikatan saudara antara dia dengan sang Kakak tidak bisa dibohongi barang sejengakal pun. Melihat bagaimana mata sang Kakak terpejam saja sudah mampu membuat relungnya kesakitan.


"Aku beri cairan infus aminoleban," ujar Vero sembari mengambil cairan infus dari dalam tasnya.


"Tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Sahira.


"Tidak, bisa rawat jalan. Nanti kalau infusnya mau habis hubungi aku saja."


Setelah memasang infus, Vero mengambil kertas kecil yang selalu ia bawa disaku. "Tebus antasida, antibiotik, suplemen, sama paracetamol di apotik."


Galih menerima uluran kertas yang bertuliskan obat-obatan itu. "Berikan sesudah makan, tiga kali sehari. Untuk bebetapa hari kedepan makan makanan yang halus seperti bubur. Jangan langsung makan nasi, boleh nasi tapi haluskan dulu. Jaga pola makan mulai saat ini."


"Tidak mau menunggu sampai dia sadar?" tanya Zoya sebelum Vero melangkahkan kakinya.


Sejenak, tubuh tinggi itu kembali menatap wajah yang sama dengannya. Hanya sebentar, sebelum gelengan ia berikan. Lantas benar-benar membalikkan badan hingga tubuhnya hilang dibalik pintu.


"Aku antar sampai kedepan," ujar Zoya menyusul Vero.


"Jaga Tuan sebentar ya, saya mau nebus obat dulu."


"Om tenang aja. Aku jaga disini kok," balas Sahira sembari tersenyum manis.


Sedang didepan pintu Apartemen, Vero menghela napasnya berat. Menatap Zoya yang sedang memandangnya kesal. "Aku udah tahu semuanya, Ver."


"Tolong kamu ngerti-"


"Maaf kerjaan aku masih banyak. Aku duluan," seloroh Vero tanpa menghiraukan teriakan Zoya.


Bodoh! Siapa yang suruh aku makan tepat waktu tapi dianya malah nggak bisa jaga diri sendiri.


...)( ...


Zoya terdiam diambang pintu kala pandangannya bertemu dengan kedua netra Sahira. Senyum keduanya mengembang detik itu. Namun juga ada getar tak nyaman yang berusaha Zoya tahan mati-matian. "Emm masuk aja, Kak."


"Eh, nggak usah panggil Kak."


Sahira tersenyum canggung. "Panggil aja Zoya."

__ADS_1


"Eng- nggak enak, kayak lancang. Aku panggil Mbak Zoya aja, ya?"


"Duh, kayak udah tua banget aku."


Keduanya terkekeh pelan. "Emm, kamu Sahira?"


"Eh- kok tahu Mbak?"


"Nebak aja sih."


Kedua alis Sahira sempat menyatu. Tapi tak terlalu peduli. Yang masih mengganjal pikirannya sekarang adalah siapa sosok perempuan didepannya ini? Apa hubungannya dengan Kak Al juga saudara kembarnya?


"Hei, kenapa bengong?"


"Ah enggak Mbak. Itu, emm Mbak kenal sama Kak Al?"


Senyum Zoya perlahan meluntur. Kenal? Ya, jelas dia mengenal siapa orang yang sedang berbaring itu.


"Hmm," balas Zoya sembari mengangguk.


Keadaan kembali hening. Keduanya berdiri kaku disebalah ranjang Varo tanpa mengalihkan pandangannya ke arah sang empu. Detak jarum jam terdengar begitu konstan menemani sunyi ruang kamar yang begitu luas. Hingga suara lembut Sahira mengalun bersama dinginnya udara disana. "Aku kedapur dulu ya, Mbak. Mau buat bubur."


"Eh, aku bantuin ya?"


"Enggak usah Mbak. Aku aja, Mbak jagain Kak Al aja kalau-kalau udah siuman."


"Benaran? Nggak mau aku bantu?"


"Beneran nggak usah Mbak. Kalau gitu aku keluar ya, Mbak."


Sehilangnya Sahira dari kamar Varo, Zoya menghela napas panjang. Rasanya aneh. Entah kenapa, dirinya merasa sangat kecil berada didekat Sahira. Perawakan perempuan itu yang sangat lembut juga auranya yang membuat siapapun nyaman membuatnya tidak bisa lepas dari perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan.


Ia dudukkan tubuhnya ditepi ranjang Varo. Lantas memejamkan matanya sejenak. Ada rasa sesak yang kembali bersarang kala melihat wajah pucat yang masih damai dalam pejamnya itu. "Sejauh mana kamu melewati semua ini, Varo."


"Kamu sudah banyak berubah. Tidak ada lagi Varo yang suka seenaknya sendiri. Tidak ada lagi Varo yang jahil. Kamu benar-benar sudah dewasa, tapi tidak dengan keras kepalamu itu," lanjut Zoya diakhiri kekehan pelan.


"Banyak yang sudah aku lewati, ya?"


Tanpa Zoya tahu, dibalik pintu ada sepasang telinga yang mendengar semuanya. Hingga senyum yang sulit diartikan itu terlukis dibibirnya.


"Sahira, kenapa diluar?"


...)( ...


Pagi ini keadaan kantor yang riuh akan suara cempreng Caca sedikit menenangkan suasana hati Zoya. Tidak disangka, ketika tiba dirinya sudah disambut Angel dengan selembar undangan pernikahan teman barunya itu. Disambut suka riang suara Caca yang kesenangan, padahal bukan dirinya yang akan menikah.


"Berisik tahu nggak Ca!"


"Tahu tuh. Yang mau nikah siapa, yang heboh siapa. Heran aku sama si Caca marica," sahut Angel.


"Biarin! Aku tuh bahagia banget kalau ada yang mau married. Sekaliankan nanti aku cari jodoh dikondangan, kayak cerita di novel-novel yang aku baca gitu. Siapa tahu ketemu jodoh."


"Cari jodoh kok dikondangan. Aneh, kamu!"


"Nggak salah ngomong, Ca? Kamu sendiri aja belum punya ayang. Kok nyuruh-nyuruh Zafir, mending kalian langsung jadian aja. Biar nggak sama-sama jomblo," sahut Zoya yang langsung mendapat cubitan dilengan dari Caca.


"Ngawur! Ogah banget aku sama si curut Zafir!"


Angel tertawa keras melihat wajah Zafir yang memerah menahan jijik. Enak saja, siapa yang mau menikah dengan Caca yang otaknya kegeser sedikit itu?


"Eh, tunggu- nama tunangan kamu Joylendra?" tanya Zoya dengan kedua mata membulat setelah membaca nama yang tertera diundangan.


"Iya, kenapa? Gitu banget ekspresinya."


"Serius?!"


"Iyaa Zoyaa, kenapa sih? Kamu kenal?".


Zoya masih ternganga. Apa Joylendra calon suami Angel sama dengan orang yang ia kenal?


"Ada fotonya, nggak?"


"Ada, tunggu!" Anggel mengambil gawainya yang berada ditas. Membuka galeri yang kemudian menunjukkan sebuah foto laki-laki yang memakai baju TNI kepada Zoya.


"Astaga, Kak Joy?!"


"Kamu kenal, Zoy?" tanya Caca yang mendapat anggukan.


"Dia senior aku waktu SMA, Ngel. Astaga nggak nyangka banget kalau calon suami kamu itu Kak Joy," ujar Zoya menggebu. Benar-benar tidak menyangka. Suami Anggel adalah Kakak kelas sekaligus ketua umum pramuka di SMA dulu. "Hah, kamu serius?"


"Iya Ngel, ngapain coba aku bohong."


"Wahh kebetulan banget," celetuk Caca.


"Kapan-kapan kita ngobrol bareng deh. Aku ajak Joy ketemu sama kamu."


"Loh, kita nggak diajak?" sahut Caca menunjuk dirinya dan Zafir.


"Iya deh, kalian juga."


"Gitu dong, aku juga pengen lihat wajah aslinya Mas loreng kacang ijo."


"Duh awas Ngel, suami kamu ntar direbut sama Caca."


"Enak aja kamu Fir! Aku bukan pelakor, ya!"


"Bisa aja, kan? Nggak ada yang tahu."


"Kurang ajar ya kamu!"


"Aduh duh, sakit Ca!"

__ADS_1


Tidak peduli, Caca terus memukuli Zafir menggunakan buku tebal yang ia ambil dari meja. Sedang kedua perempuan yang menjadi pendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Suara getar dari gawai Zoya mengalihkan atensinya. Hingga nomor tak dikenal terpampang dilayar benda pipih itu. "Sebentar ya," ujar Zoya kepada Angel yang dibalas anggukan.


"Hallo, siapa ya?"


"Galih."


"Oh, Tuan Galih. Ada apa?"


"Bisa anda kesini? Ah, maksud saya ke Apartemen Tuan Al."


Dahi Zoya mengernyit, menatap teman-temannya yang ternyata juga mengamatinya dengan tatapan penuh tanya.


"Emm memang ada apa?"


"Tuan Al tidak mau makan dan minum obat. Cuma satu sendok bubur yang masuk kedalam perutnya. Sudah saya bujuk sedari tadi tapi tetap tidak mau. Saya juga sudah menghubungi Sahira siapa tahu Tuan Al mau makan, tapi nomor Sahira sibuk."


Detik itu, Zoya berdecak geram.


"Tapi saya harus kerja," balasnya sembari menggigit ibu jarinya. Kebiasaan jika sedang dilanda kebingungan.


"Tidak apa-apa. Nanti biar saya ijinkan."


"Tapi-"


"Tolong, kali ini saja. Saya sudah tidak tahu lagi mau membujuk seperti apa."


Zoya bisa mendengar nada putus asa Galih. Sebenarnya sama, dirinya juga khawatir. Dan tanpa panjang lebar lagi Zoya mengiyakan. Lantas memutus panggilan lebih dulu.


"Siapa?" tanya Caca tepat setelah Zoya mematikan sambungan.


"Emm, itu aku ada urusan. So, aku ijin hari ini aja dulu ya. Kalian semangat kerjanya. Bye!"


Sebelum mendapat cercaan tanya dari ketiga temannya itu, Zoya memilih ngacir begitu saja tanpa peduli teriakan dari ketiga orang itu.


Tepat pukul delapan Zoya sudah berada tepat didepan pintu Apartemen Varo. Pintupun terbuka setelah tiga kali bel ia tekan. "Silahkan masuk!"


Zoya tersenyum kecil, melewati Galih yang kali ini memakai pakain cassual. "Kenapa tidak mau makan?"


"Kebiasaan kalau sakit. Pasti lebih sulit disuruh makan apalagi minum obat."


"Ck, dasar anak kecil," gumam Zoya yang masih bisa Galih degar. Dan itu, membuat Galih terkekeh geli.


"Makanannya?"


"Sudah ada didalam."


Zoya mengangguk, kemudian memutar knop pintu. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah tubuh Varo yang meringkuk diatas ranjang. Terpampang jelas kernyitan dalam didahinya yang sedang menahan sakit.


"Sudah ku bilang, aku tidak ingin makan Galih! Jangan menggangguku. Keluar!"


"Kau mengusirku?"


Kedua netra kelam itu spontan melebar ketika mendapati Zoya berjalan kearahnya. Tanpa sadar diri tubuhnya yang masih sakit itu ia ajak duduk dan tidak menghiraukan rasa sakit yang sebelumnya menyerang. Sial, kenapa ada Zoya disaat keadaan dirinya yang sangat berantakan seperti ini?


"Si- siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar saya?!"


Hampir saja Zoya meledakkan tawanya melihat muka akward Varo. Dasar, masih saja menjaga image disaat dirinya sakit.


"Tidak ada."


"Emm satu lagi Varo, jangan bicara formal. Ini diluar kantor. Kamu bukan lagi Bosku."


Dimata Zoya Varo benar-benar lucu sekarang. Lihatlah wajah yang dibuat sedatar mungkin. Juga aura wibawa yang Varo junjung seakan muncul dipermukaan detik itu.


"Tidak peduli! Bukannya kamu sekarang harusnya kerja?"


"Iya," balas Zoya tenang. Masih bersedekap dada dengan santainya, padahal laki-laki didepannya itu sudah menunjukkan tampang bossynya.


"Terus ngapain disini?!"


"Lah, ini lagi kerja."


"Kerja?"


"Kerja ngurusin anak kecil yang lagi sakit. Katanya sih, dia nggak mau makan sama minum obat. Kayaknya, mau disuapin deh baru mau makan."


Damn!


Dalam hatinya, Varo mengumpati Galih. Siapa lagi kalau bukan tangan kanannya itu yang melapor seenak jidat?


Tubuhnya mati kutu, wajahnya memanas tanpa tahu sudah berubah merah. Sial, mau ditaruh mana mukanya?


Zoya mendekat kearah nakas, mengambil semangkok bubur yang sudah mendingin itu. Menyodorkannya didepan Varo yang menatap malas sembari menggeleng ribut. Persis seperti anak kecil yang merengek jika sedang sakit.


"Beneran nggak mau makan?"


Varo lagi-lagi menggeleng, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut. Tidak sampai disitu, Zoya mengambil duduk disamping tubuh Varo yang tertutup sempurna. Lantas menarik selimut itu hingga wajah Varo yang memberenggut kesal bisa ia tangkap dengan jelas. Benar-benar lucu. Mengingatkan Zoya sewaktu Varo masih dibangku SMA dulu. "Mau makan sendiri atau aku suapin, hm?"


"Suapin."


"Dasar bayi gede!"


...♡♡♡...


...Gimana perasaannya baca Chap ini? Masih kurang, kah?...


...Ada yang ngerasa bakal terjadi sesuatu nggak nih?!😁...


...Sesuatu, apa ya?!...

__ADS_1


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2