BERBEDA

BERBEDA
Chap 36 (Marah)


__ADS_3

...Satu tanya yang terus aku pikirkan setiap malamnya. Ada apa dengan tubuhku? ...



Frasa antara kedua nyawa itu masih sedingin embusan malam yang kini menyapu permukaan wajah mereka. Gang sempit tanpa penerangan lampu tidak menyiutkan nyali untuk saling melempar belati dikedua pasang bola mata.


"Kenapa bisa ada polisi bego?!"


"Mana gue tahu Rex! Padahal biasanya juga baik-baik aja. Toh kita nggak lakuin hal diluar hukum kan?" balas Devan dengan napas menggebu.


"Tapi nyatanya sekarang apa?! Kalau ada yang ketangkep bisa runyam masalahnya!"


"Ya semoga aja nggak ada yang ketangkep."


Ada jeda diantara euforia yang masih terasa menegang. Hingga raungan panggilan dari gawai Arex mengalihkan fokus laki-laki itu untuk segera mengangkat. Sesaat setelah suara diseberang mengalun tanpa beban, sepasang mata Arex berubah dengan kilatan amarah. Beserta rahangnya yang mulai mengeras.


"Bagaimana bisa dia mengonsumsi barang haram itu?!" teriak Arex.


"Gue juga nggak tahu Boss. Makanya tadi polisi dateng itu juga gara-gara jack ada disana. Bukan gara-gara acara kita."


"Sial, dimana otak tuh anak sih? Bisa-bisanya kelewat batas!"


Arex memutus panggilan sepihak. Menatap Devan yang menaikkan satu alisnya seakan bertanya 'ada apa?'


"Jack pakai sabu-sabu."


"Hah?!"


Arex menatap tajam Devan yang seenak jidat berteriak didepan wajahnya, sampai deburan udara dari mulut sahabatnya itu menerpa. "Lo, serius Rex? Nggak mungkin Jack pakai barang haram kayak gitu."


"Nyatanya sekarang polisi udah bawa Jack ke sel," balas Arex ringan.


Devan menggeleng ribut, masih tidak percaya bahwa temannya selama ini sudah berani memakai barang haram seperti itu. "Sumpah, gue masih nggak percaya."


Detik setelahnya Arex spontan menendang tulang kering Devan tak kala celetukkan sahabatnya itu mengalun. "Lo nggak diam-diam pakai gituan kan, Rex?"


"Enak aja! Gue nggak mau mati muda ditangan bokap," balasnya setelah menendang Devan yang kini meringis ngilu.


"Eh tunggu-."


"Zoya ma Varo mana?"lanjut Arex sedikit berteriak.


Devan ikut mendelik. Celingungkan melihat sekitar yang teramat sepi. "Mereka nggak ketangkep polisi, kan?"


Arex menggeleng pelan. "Nggak mung-."


"HUUWAAA LARI POCOONGGG....TOLOOONNGGGG..."


Arex dan Devan memicingkan mata ketika mefokuskan netranya kesumber suara. Hingga perlahan dari ujung gang keduanya melihat sosok yang berlari terseok seok kearah mereka.


"AMPUN GUE NGGAK GANGGU...JANGAN GANGGU TOLOONGGG..."


"Varo?!" ujar Arex dan Devan secara bersamaan ketika melihat siluet Varo yang mulai mendekat.


"BANG TOLONGIN VAROO..." teriak Varo meski sudah berada didepan kedua seniornya itu. Menekuk tubuhnya seperti gerakan rukuk dengan napas terengah engah.


"Lo kenapa woy?!" tanya Devan.


"I-in- holer Bang."


Arex mengernyit memahami ucapan patah-patah Varo. Hingga detik setelahnya Arex segera merogoh benda ajaib yang Varo titipkan.


Anak itu bernapas lega setelah menghirup benda mungil itu. Mendudukkan tubuhnya diatas tanah dengan mata terpejam. Sungguh rasanya seperti habis naik rollcoaster. Dadanya berdetak kencang tak beraturan.


Arex dan Devan saling tatap. Mencoba memahami situasi sekarang. Hingga kesadaran Arex membuatnya melontarkan pertanyaan kepada Varo yang langsung membulatkan mata. "Lo kok sendiri, Zoya mana?!"


Varo spontan menoleh kebelakang, asal kedatangannya tadi. Namun nihil. Hanya ada kegelapan yang ia lihat.


"Mampus!" ujar Varo sembari menepuk jidatnya.


"Heh! Gue nanya serius. Zoya mana? Lo tinggalin dia?" tanya ulang Arex yang mendapat cengiran kaku Varo.


"Ketinggalan dibelakang, Bang."


"Goblok! Dodol banget sih lo?! Kalau dia nyasar terus ketangkep polisi gimana?" maki Arex lantas memacu kakinya.


Varo berdiri, hendak mengikuti Arex. Tapi langkahnya kembali terhenti ketika suara raungan itu terdengar lantang. Ketiganya terdiam hingga menangkap siluet bayangan yang hendak memasuki gang. Sesaat kemudian, satu nyawa berhasil ketiganya tangkap.

__ADS_1


"HUWAAA HIKSS.... VAROO GILAAA TUNGGUIN GUE....ALLAHU AKBAARRR..."


Kedua netra yang basah dengan air mata itu seketika berbinar menatap tiga nyawa yang berada didepan sana. Hingga langkahnya berhenti tepat didepan Arex yang langsung mengapit lengan kekar itu sembari menenggelamkan wajahnya disana.


"Zoy-."


"Hikkss takut Rex ada putih-putih tadi hikssss..."


Sungguh Zoya tidak berbohong. Itu tadi nyata. Benar-benar nyata kala netranya menangkap sesosok putih yang berdiri disamping pohon pisang dengan rambut panjang menjuntai. Walaupun hanya sekilas melihat ketika ia berlari mengejar Varo tadi, tapi- Zoya yakin bahwa dia melihat sesosok itu ada.


"Putih-putih apa? Hantu?"


"Aahhhh jangan ngomong gitu! Entar dia dateng kesini lagi hikss..Ayo pulaaang," racau Zoya yang tak luput dari tatapan bersalah Varo dibelakang. Seharusnya tadi dia tidak meninggalkan Zoya dan berlari sendiri. Ah, kenapa Varo menyesal sudah menjadi indigo penakut seperti ini? Bukankah sosok tak kasat mata itu sering ia lihat? Tapi kenapa masih saja rasa takut itu masih ada.


"Nih dua orang ngigau atau gimana sih?" sahut Devan yang refleks mengalihkan atensi Zoya dan langsung menangkap keberadaan Varo. Hingga kepalan kecil tangan gadis itu memukuli lengan Varo secara brutal tanpa leraian dari Arex dan Devan yang menahan tawanya.


"Varo giillaaaa! Jahat banget lo main lari aja! Gue hampir jantungan tahu nggak! Jahat jahat jahaaattt..."


Pukulan itu terhenti, berganti tatapan kesal Zoya. "Ma- maaf banget Kak. Varo panik banget tadi."


Zoya mengusap kasar air matanya yang terus jatuh. Jantungnya yang berdegup tak karuan juga mulai mereda. Tapi, bayang-bayang kegelapan bersama sosok putih yang ia yakini mbak kunti itu masih saja teringat. Sungguh malam ini adalah malam kesialannya. Dan, lagi-lagi berasal dari dua laki-laki itu. Arex dan Varo.


"Zoy, lo nangis?" ujar Arex diakhiri kekehan yang jelas-jelas bermaksud mengejek.


"Apa?! Emang nggak boleh gue nangis hah?!"


"Sumpah lucu banget tuh muka," tawa mengejek Arex menggema disusul tawa tertahan Devan yang langsung mendapat delikan tajam. "Ketawa aja sepuasnya! Seneng banget lihat gue menderita!"


"Kak-."


"Udah diem! Nggak mau ngomong sama lo lagi!"


"Dasar indigo penakut! Cemen," lanjut Zoya menggebu nggebu. Lantas menarik paksa tangan Arex pergi meninggalkan Varo dan Devan.


"Rex hati-hati! Lo lagi bawa macan ngamuk. Jangan sampai lo yang dimakan," teriak Devan.


"DEVAN JELEEKKK!"


Teriakkan Zoya itu tenggelam bersama kedua tubuh yang sudah hilang ditelan belokan.


"Ayo cabut! Lama-lama merinding juga gue," ajak Devan sambil menepuk bahu Varo dan melangkah mendahului.


"Hah, apa?"


...)(...


Setelah kejadian kemarin malam, sekarang Varo benar-benar mendapatkan perang dingin dari seniornya itu. Padahal sejak tadi pagi suaranya yang tidak ada hentinya itu terus mengoceh didepan Zoya dan Lia. Dan berakhir Lia lah yang menimpali sedikit-sedikit.


Sudah setengah jam mereka menunggu Joy sebagai ketua umum pramuka inti. Setelah memerintah semua anggota dikumpulkan di aula untuk membahas kegiatan nataru empat hari lagi.


"Mana sih Kak Joy lama banget," gerutu Lia.


"Masih dijalan kali Kak," balas Varo.


Lia menghela napas kesal. Ingin segera mengakhiri rapat itu. Bagaimana bisa tenang jika dia sedari tadi menjadi tembok pemisah diantara kedua nyawa yang sedang bermasalah itu.


"Ver, sini!"


Vero yang duduk dibagian belakang sendiri itu menggeleng. Menolak ajakan Varo agar duduk disebelahnya. Bukankah Vero sudah bilang sedari awal dia tidak berminat masuk ekskul pramuka. Jika bukan karena saudara kembarnya yang resek itu, tidak mungkin Vero berada disini sekarang.


"Lo lagi marahan ya sama nih anak?" bisik Lia.


Zoya mendengus, yang langsung dapat dimengerti sahabatnya itu.


Gara-gara Arex sama Varo gue jadi nggak bisa tidur kan semalem, gerutu Zoya yang hanya bisa ia ungkapkan dalam hati.


"Maaf-maaf saya telat...tes tes tes " ujar Joy sambil menepuk berulang mix.


Semua atensi yang semula sibuk sendiri kini beralih kepada Joy yang ada didepan. "Kita mulai sekarang saja..."


"....Jadi, rencana saya dan para senior lainnya mau mengajak adik-adik sekalian untuk merayakan libur Nataru ini ke puncak. Tidak perlu membawa tenda, kita bakal nginap divilla. Untuk tanggalnya sekitar tanggal 25. Bagaimana, ada yang mau ditanyakan?"


Bola mata penuh binar itu mengisi frasa disekitar aula. Bisik-bisik senang menguar hingga ketukan mix didepan sana kembali mengalihkan fokus semua orang.


"Jadi, nanti disana kita bakal adain games chalange. Untuk anggotanya terdiri dari empat orang. Akan dibagi nanti malam ya secara acak," ujar Joy yang langsung disambut tepuk tangan meriah.


"Waahh bakal seru banget tahun baru kali ini," celetuk Varo.

__ADS_1


Kepala itu menoleh kesamping yang tidak sengaja bersitatap dengan netra coklat. Namun hanya sedetik setelah netra coklat itu membuang muka kedepan.


Ck, masih marah aja. Gimana ya biar nggak marah lagi? Lo juga sih Var, goblog banget. Cemen banget lo jadi lakik, batin Varo.


Sedang dibelakang sana, raungan dari gawai canggih itu tidak ada hentinya. Sudah tiga kali panggilan itu ia abaikan, sampai satu geseran tombol hijau yang menjadi pilihan terakhir.


Langkahnya ia bawa menjauh dari kebisingan. Mendengar baik-baik suara lirih yang sialnya penuh dengan ancaman.


"Udah berani angkat kaki dari sini, ya? Atau udah nggak mau lagi lihat wajah Papa angkat lo?"


"Kalau masih sayang sama tua bangka itu, gue tunggu nanti malam di club."


Sambungan terputus sebelum ia menyuarakan suaranya menggenggam erat ponsel yang mulai meredup dengan pandangan kosong. Namun, penuh kilat akan kemarahan.


"Ver! Ngapain lo disini?"


Anak itu berdehem sebelum menatap wajah saudaranya. Menggeleng pelan, lantas melangkah menuju motornya dipakirkan. "Habis terima telepon dari siapa?" suara tanya yang mengalun begitu tenang berhasil menghentikan langkah Vero. Sedang dibelakangnya, ada tatap yang sulit diartikan.


"Dari operator telkomsel."


"Coba hadap ke gue!" balas Varo cepat sebelum langkah adiknya itu kembali terpacu.


Vero menelan salivanya susah payah. Mendengar suara dingin Varo itu berhasil membuat detak didalam sana kehilangan ritmenya. Hingga perlahan, ia membalikkan badan tepat menatap kedua bola mata Varo yang sulit ia artikan. "Kenapa? Nggak percaya?" ujar Vero setenang mungkin.


"Coba gue lihat!"


Deg!


Mati, batin Vero.


Varo terus menatap adiknya penuh intimidasi. Sedang Vero menatap ragu gawai yang ada ditangannya. Takut melihat wajah dingin Varo yang jarang sekali ia lihat. Namun tak lama kepala Vero mendongak kala suara erangan itu keluar dari mulut Kakaknya. Mengubah raut yang semula tegang menjadi cemas.


"Aarrghhh..." erang Varo sembari meremas dadanya.


"Var, lo kenapa?"


Please, kenapa harus sekarang? Rasa ini lagi.


Keringat dingin itu mulai mengucur dari dahi Varo. Detak yang melebihi batas normal itu lagi yang harus ia rasakan. Juga getar hebat seperti setrum mengenai tubuhnya yang entah dari mana asalnya.


"Var jangan main-main! Lo kenapa?" panik Vero berusaha menahan tubuh Varo yang hampir saja limbung.


Atensi orang-orang disekitar pun mulai mengarah kepada dua anak itu. Hingga satu nyawa disana mengernyitkan dahi dalam dengan perasaan tidak enak.


"Itu Varo kenapa?" tanya Lia.


"Tolongin, nggak?" balik tanya Zoya dengan suara lirih yang terdengar ragu. Namun, pertanyaannya itu tidak perlu repot-repot Lia jawab. Karena setelahnya, Joy dan Hariz datang memapah Varo. Membawanya kedalam sanggar pramuka yang jelas satu-satunya ruangan yang bisa mereka buka.


Kenapa? Dia sakit?


"Hey Zoy! Ayo pulang."


"Bentar deh, gue mau lihat tuh anak."


Lia melongo. Menatap kepergian Zoya sembari menggelengkan kepalanya. "Dasar, katanya marahan. Kok peduli."


...♡♡♡...


Update : 21.45


...Mampir yuk baca CERPEN baru author🤗 ...


...Awan Sang Biru...


...⚠️Siapkan tisu+mental⚠️...


...Ditungguu🤗...






^^^Tertanda^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2