BERBEDA

BERBEDA
Akhir(?)


__ADS_3

Malam harinya, sesudah Senja selesai melakukan kewajibannya, ia merebahkan tubuhnya di kasur. "Fiuhh... Hari ini cape banget, kenapa ya? Mana besok ada mapel matematika lagi. Haaa..." Senja terus menerus menghela nafas, tak terhitung berapa kali yang ia lakukan dalam 5 menit.


"Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt..." ponsel Senja bergetar menandakan ada yang meneleponnya.


"Ah, siapa sih?" Senja kembali menghela nafas sebelum akhirnya membangunkan tubuhnya untuk mengambil ponsel yang ada di atas meja.


Senja mengambil ponselnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Alangkah terkejutnya Senja ketika ia melihat di layar ponselnya muncul notifikasi yang bertuliskan '203 missed voice call, Laut' dan '112 missed video call, Laut'


"Ya Allah, kok bisa tu bocah nelpon segini banyaknya? Ohh iya, kan gue yang nyuruh dia nelpon, ehehe." Senja nyengir tak berdosa.


Senja kembali melihat layar ponselnya yang terus bergetar, lagi-lagi Laut memulai panggilan. Tanpa pikir panjang Senja segera mengangkat telpon dari Laut tersebut.


...****************...


Senja: "Assalamualaikum-"


Laut: "Shalom.."


...****************...


Keheningan terjadi di antara mereka. "Setelah semua hal yang kita lakuin bareng-bareng, gue pikir gak ada perbedaan yang bisa misahin kita berdua. Tapi... ternyata gue salah, ya? 'Berbeda' tetaplah 'berbeda', gak akan bisa 'sama'." batin Senja.


Senja kembali menghela nafas cukup panjang.


Terdengar suara berat Laut memecah keheningan saat itu.


...****************...


Laut: "Senja, gue mau ngomong serius."


Senja: "... Apa?"


Laut: "Gue udah pikirin ini baik-baik dari beberapa hari lalu.."

__ADS_1


Laut: *Menghela nafas*


Laut: "... Senja, maaf. Tapi.. Ayo putus."


...****************...


Senja terkejut mendengar ucapan Laut. Ia tak menyangka Laut akan berbicara semudah itu mengenai hubungan mereka. Ponsel Senja terjatuh dari genggamannya, air mata Senja perlahan terjun deras membasahi pipinya. Dadanya terasa sakit sekaligus sesak, tangannya tak berhenti bergetar. Senja menahan agar suara isakan tangisnya tidak terdengar oleh Laut. Hanya terdengar suara Laut yang terus memanggil nama Senja.


...****************...


Laut: "Senja?.. Senja?? Senja?!"


Laut: "Nja? Jawab gue, Nja."


Senja: *Senja kembali menghela nafas sebelum akhirnya ia menjawab Laut.*


Senja: "HHAHAH..HAHA..haha..ha..."


Senja: "Haha.. Becanda lo lucu banget, Laut. Tapi kenapa yang keluar malah air mata, ya?? Apa gue yang terlalu lebay?"


Laut: *Laut terdiam sejenak, suaranya bergetar.*


Laut: "Maaf.. Tapi gue gak lagi bercanda, Nja. Gue serius.. Putus, ya? Kita beda, Senja. Mau sampe kapan pun kita gak bisa bersatu. Gue gak bisa ninggalin Tuhan gue, gue juga gak bisa ngambil lo dari Tuhan lo. Maaf... Maaf kalo selama ini gue gak becus jadi cowok yang baik buat lo, maaf kalo gue ngeselin, maaf juga kalo tadi pagi gue gak bisa berangkat bareng lo, gue jahat banget, ya? Ngebiarin cewek secantik lo jalan kaki sendirian ke sekolah, maaf."


...****************...


Senja tak kuasa menahan tangisnya lagi, Senja menjatuhkan ponselnya dan menangis histeris. Dadanya benar-benar terasa sakit, isakannya begitu kuat sehingga Laut dapat mendengarnya dengan jelas.


...****************...


Laut: "S-Senja? Maaf.."


Laut: "Maafin gue-"

__ADS_1


Senja: "BR*NGSEK!!!"


...****************...


"Bipp bipp" Senja mematikan ponselnya.


"BR*NGSEK, BR*NGSEK, BR*NGSEK!!! LAUT B*JINGAN!!" Senja melempar ponselnya ke sembarang arah hingga terjatuh di dekat pintu.


Malam itu, Senja menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menangis. Senja tidak menyangka kisah percintaannya hanya akan bertahan sampai detik ini. Semua kenangan mereka memenuhi kepala Senja, entah sudah berapa kali Senja tertawa lepas saat bertemu dengan Laut. "Aku baru menyadari, betapa indahnya hidup ketika kita bersama dengan orang yang mencintai kita."


...****************...


Sementara itu, di dalam kamar Laut, Laut berusaha menahan dirinya agar tidak menangis, namun ia gagal, air matanya mengalir deras membasahi layar ponselnya. "Iya, Senja.. Gue br*ngsek, bahkan di saat-saat terakhir, gue bikin lo nangis. Maaf, lo berhak dapetin yang lebih dari gue." ucap Laut lirih.


Tangis mereka berdua pecah pada malam itu, mereka tidak tahu bagaimana nasib hidupnya besok.


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul 06.54, namun Senja belum tidur sama sekali sedari malam. Ia terus menerus menangis sampai detik ini, Senja tidak tahu harus melakukan apa, tubuhnya terlalu berat untuk bersekolah. Ia hanya akan menangis setidaknya hingga rasa sakitnya hilang.


Sementara itu, walaupun suasana hatinya benar-benar kacau, Laut tetap berniat untuk berangkat sekolah. Laut hanya ingin memulai lembaran baru lagi yang bahagia, berharap di sekolah ia akan jauh lebih baik dari semalam. Laut benar-benar ingin melupakan kejadian semalam, "Maaf, Senja. Tapi gue gak mau bikin hidup lo terus-terusan menderita cuma gara-gara bareng cowok penyakitan kayak gue." batin Laut.


Saat Laut hendak berangkat sekolah, baru saja Laut melihat motornya, air matanya kembali menetes, entah berapa banyak kenangan mereka berdua dengan motor Ninja nya itu. Laut terduduk lemas saat dadanya tiba-tiba sakit. "A-Arrgghhh... J-jangan sekarang... T-tolong... Aaarrgghhhh..." Laut terus mengerang kesakitan, hingga akhirnya ia tak bisa menahannya lagi, Laut pingsan di tempat dengan air satu tetes air mata yang jatuh ke lantai.


Damian yang saat itu bersiap untuk berangkat sekolah tiba-tiba merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia tiba-tiba teringat dengan Laut, "Setelah Laut cerita tentang penyakitnya ke gue beberapa hari kemarin, terus dia sampe nggak masuk sekolah, gue jadi kepikiran kondisi Laut terus. Kayaknya gue udah bener-bener nganggep Laut sebagai adek gue sendiri. Gue harus mampir ke rumah Laut dulu, sebelum berangkat ke sekolah." Damian menaiki motornya dan berangkat menuju Perumahan Tulip Putih yang di tinggali oleh Laut.


Di sepanjang jalan Damian terus menerus merasa khawatir, "Apa ada yang terjadi sama Laut? Perasaan gue udah gak enak banget nih. Apa jangan-jangan Laut... Gak mungkin kan? Duhh, Gue harus cepet-cepet ke sana." batin Damian. Damian terus menarik gasnya hingga kecepatannya bertambah, dengan begitu ia bisa cepat sampai ke rumah Laut.


Sesampainya Damian di sana, ia mengetuk pintu rumah Laut beberapa kali, namun tidak ada respon sama sekali dari dalam. "Laut? Lo hari ini nggak berangkat lagi??" panggil Damian sedikit lebih keras dari sebelumnya. Damian pikir mungkin Laut sudah berangkat duluan ke sekolah, jadi ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan kembali menuju motornya. Namun, Damian di buat penasaran dengan pintu garasi Laut yang terbuka, "Apa Laut ada di dalem?" batin Damian. Karena rasa penasarannya yang tinggi, Damian memberanikan diri untuk mengecek garasi itu. Dan, alangkah terkejutnya Damian ketika menemukan tubuh Laut yang tergeletak lemas di samping motor Ninja nya. Damian mencoba untuk membangunkan Laut, namun itu sama sekali tidak berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon ambulans dan membawa Laut ke rumah sakit.


...****************...


"ninu ninu ninuu"

__ADS_1


Terdengar sirine ambulans dari gerbang depan perumahan. Benar saja, ambulans itu berhenti tepat di depan rumah Laut. Hampir semua orang yang ada di perumahan itu keluar hanya untuk melihat kegaduhan yang terjadi di rumah Laut. Untungnya ada beberapa tetangga yang juga membantu menaikan tubuh Laut ke atas ranjang ambulans. Supir ambulans tersebut memberi instruksi kepada Damian untuk mengikuti mobil mereka di belakang, dan juga Damian harus menghubungi salah satu anggota keluarga Laut. Damian panik, anggota keluarga mana yang harus ia hubungi? Namun, yang terpenting saat ini adalah perawatan Laut. Damian menaiki motornya dan mengikuti mobil ambulans yang membawa Laut sesuai instruksi.


BERSAMBUNG


__ADS_2