BERBEDA

BERBEDA
Chap 47 (Flashback)


__ADS_3

...Apapun keputusan yang kamu ambil akan benar, selagi kamu bisa bertahan hingga detik ini. ...



Ditengah riuhnya para lautan manusia itu, Varo terdiam. Memandangi setiap langkah yang melewatinya. Duduk sendiri dibangku yang tak jauh dari area antara aula dan masjid itu membuatnya leluasa mengamati setiap kegiatan para anak rohisa yang sibuk menyiapkan acara isra' mi'raj untuk hari ini.


"Sepi banget nggak ada kalian," guman Varo. Dengan bayangan kenangan yang dahulu pernah ada. Dimana saat ia merusuhi kegiatan Zoya waktu acara maulid nabi dulu. Juga dimana saat Reihan mengusilinya saat hendak menemui Zoya dimasjid waktu itu. Dan, semuanya hanya tinggal kenangan. Setelah Zoya lulus beberapa bulan lalu, semuanya berubah. Kebiasaannya yang suka memperhatikan Zoya secara diam-diam juga tidak pernah anak itu lakukan. Pasalnya sang empu pun sudah tidak lagi disana.


"Assalamu'alaikum."


Varo terhenyak, lantas tersenyum kala mendapati siapa yang baru saja mengucap salam. "Wa'alaikumsalam Ustadz."


"Ngapain disini? Nanti kesambet loh bengong semdirian."


"Ah, nggak mungkinlah Ustadz. Em- duduk Ustadz."


Ustadz yang dulu pernah Varo temui itu lantas duduk disebelahnya. "Kok kesini Ustadz. Kenapa nggak langsung naik ke Aula?"


"Mau ketemu dulu sama kamu. Habisnya saya lihat kok bengong sendiri disini."


"Hehehehee...Nggak ada temen soalnya Ustadz. Pada sibuk semua."


"Kenapa nggak ikut mereka masuk aja? Lagian nggak akan dosa kan kalau dengerin saya ceramah?"


Varo mengernyit, sepertinya cukup menarik. Dari pada dia duduk sendiri tidak jelas seperti ini. "Emang, boleh Ustadz? Saya kan bukan- emm, Ustadz pasti tahu maksud saya."


"Iya saya tahu. Kalau didalam agama kamu nggak apa-apa, ya ayo! Kita nggak ngelarang buat umat lain dengar ceramah kok. Malah in sya allah nanti kamu dapat hidayah, aamiin."


Varo tertegun, menatap kedua netra Ustadz yang seakan menyihirnya. Ada getar aneh didalam sana yang membuat bibirnya menarik sebuah senyum manis. Lantas ia menganggukan kepalanya mantab sembari beranjak dari duduknya. "Ayo Ustadz, dari pada saya mati kebosanan disini."


Varo tidak menyangka bahwa Ustadz akan membawa cerita yang menyangkut pautkan nama Tuhannya- Isa. Tapi, disini mereka menyebutnya sebagai Nabi Isa. Tapi bukannya bosan atau merasa tersinggung, Varo lebih antusias mendengarkan setiap apa yang Ustadz katakan.


"Sebenarnya, saya mau bercerita tentang Nabi Muhamad ketika mendapat wahyu shalat lima waktu. Tetapi, karena saya ingin cerita tentang Nabi Isa yang diangkat ke langit oleh Allah SWT, saya jadi berubah pikiran. Nanti setelahnya, kalau ada waktu kita sekalian cerita tentang Nabi Muhamad mendapat wahyu pertama kali."


"Dulu, segolongan orang-orang Yahudi menuju ke sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isa as bersama sejumlah sahabatnya. Mereka mengepung rumah tersebut. Ketika Nabi Isa berkata kepada para sahabatnya..."


"Siapakah di antara kalian yang mau diserupakan seperti diriku? Kelak dia akan menjadi temanku di surga."


"Maka majulah seorang pemuda yang rela berperan sebagai Nabi Isa. Tetapi Nabi Isa memandang pemuda itu masih kurang yakin untuk melakukannya. Maka ia mengulangi permintaannya."


"Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tiada seorang pun yang berani maju kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa berkata..."


"Kalau memang demikian, jadilah kamu seperti diriku."


"Maka detik itu Allah menjadikannya mirip seperti Nabi Isa as hingga seakan-akan dia memang Nabi Isa sendiri."


Ustadz menjeda ceramahnya, menatap sosok yang ternyata sedang mengamatinya dengan serius. Senyum dibibir Ustadz pun terbit sekilas.

__ADS_1


"Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga tertidur, lalu ia diangkat ke langit dalam keadaan demikian. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:


إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ


Artinya: (Ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku." (Ali Imran: 55), hingga akhir ayat."


"Setelah Nabi Isa diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika para yahudi melihat pemuda itu, mereka menyangkanya sebagai Nabi Isa, sedangkan hari telah malam, lalu mereka menangkapnya dan langsung menyalibnya serta mengalungkan duri-duri pada kepalanya."


"Orang-orang Yahudi menonjolkan dirinya bahwa merekalah yang telah berupaya menyalib Nabi Isa dan mereka merasa bangga dengan hal tersebut.


{وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ}


Artinya: padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. (An-Nisa: 157)"


Disana, Varo tertegun. Seperti berada ditengah tengah jembatan yang hampir putus. Disisi kiri, dia bisa melihat ada api yang menyala nyala. Sedang disisi kanan dia bisa melihat air terjun yang begitu jernih.


“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159)


Semuanya mengalihkan atensi ketika suara berat itu menginterupsi sembari mengangkat tangannya.


"Ustadz, boleh saya bertanya?"


Ustadz itu tersenyum. Lantas menganggukkan kepalanya. "Iya, tentu boleh. Silahkan!"


Dia- Alvaro genandra beranjak dari duduknya. Ditempatnya ia terlihat melirik sekilas. Banyak para siswa siswi yang berbisik pelan. Jelas aneh melihat dirinya yang berada disana.


"Sekian, terima kasih Ustadz." Varo kembali duduk. Tanpa tahu, diluar aula ada sepasang netra yang mengamatinya sedari tadi. Dengan tatapan yang sulit terbaca.


"Alhamdulillah, terima kasih sudah bertanya. Pertanyaan yang bagus."


"Al-Hasan mengatakan sesungguhnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan kelak Dia akan menurunkannya sebelum hari kiamat untuk menempati suatu kedudukan di mana semua orang yang bertakwa dan semua orang yang durhaka beriman kepadanya."


"Ibnu Zaid mengatakan bahwa ketika Isa bin Maryam turun lagi ke bumi, ia akan membunuh Dajjal. Lalu tidak akan tersisa lagi seorang pun Yahudi kecuali akan beriman padanya. Wallahu A'lam."


Detik itu, Varo merasa ada benda berat yang terlepas dari dadanya. Terasa ringan. Hingga ceramah Ustadz yang semakin beralih topik kearah awal mulanya Islam disebarluaskan oleh Nabi Muhamad. Dimana pertama kali Nabi Muhamad mendapat wahyu sampai bertemu dengan Allah menembus langit ketujuh.


Semua itu, membuat Varo teringat dengan buku hijau yang ia beli dulu. Yang sudah tersimpan rapi didalam lemarinya. Tidak ia sentuh maupun buka semenjak adiknya itu mengancam untuk membakar buku yang sudah ia beli itu.


...)(...


Pemuda itu menutup buku tebal yang baru saja selesai ia baca selama satu minggu ini. Beranjak menuju ranjangnnya lantas merebahkan tubuh disana. "Kenapa semakin kesini makin kuat."


"Kenapa lo?!"


Varo terhenyak, menatap nyalang sosok Vero yang berada diambang pintu. "Mama udah pulang?"


"Udah. Barusan."

__ADS_1


"Masih dikamar?"


"Hmm."


Kening Vero mengernyit. Menyipitkan mata ketika melihat buku tebal yang baru saja Varo baca berada diatas meja belajar. Hingga langkahnya ia bawa mendekat, agar apa yang ia lihat itu memang benar. "Lo, baca ini lagi?!"


Deg


Jantungnya seakan mau lompat dari tempatnya. Sampai sebuah cengir andalan itu membalas sorot intimidasi yang adiknya berikan. "Jawab Varo! Lo, baca ini?!" teriak Vero sembari mengangkat buku hijau itu.


"Iya. Gue baca itu. Kenapa? Marah? Marah aja! Toh hak gue mau baca apa aja."


"Var! Gue nggak tahu apa yang ada dipikiran lo sekarang. Tapi please, jangan pernah berpikir untuk pindah agama!"


"Tapi sorry, kalau itu udah kepikiran."


Hening. Detik jarum jam disana berbunyi konstan. Membuat tubuh Vero benar-benar membeku setelah apa yang terlontar dari mulut Kakaknya itu. "Lo, nggak benar-benar berpikir mau pindah agama kan, Var?!"


"Kalau boleh jujur, makin kesini gue tambah yakin buat mempelajari lebih dalam apa itu Islam."


Prang!


Keduanya spontan menoleh. Mendapati sosok Miranti dengan gelas yang sudah pecah berserakan dilantai. Dan detik itu, adalah awal mula dimana hubungan mereka mulai terkikis.


Suara hela napas berat dari Varo membuat Zoya tidak tahan. Bahkan wajahnya yang pucat itu semakin kentara. Sudah satu jam dirinya terjebak didalam ruangan VVIP Cafe lentera yang berada didepan kantor. Seperti janjinya, Zoya datang menemui Varo. Yang tanpa ia sangka, Varo bercerita terus terang tanpa Zoya suruh.


"Nggak usah dipaksa. Aku juga nggak mau bikin kamu mengingat itu semua lagi," ujar Zoya sembari memberi lemon tea yang belum ia minum kepada Varo.


Setelah meminum sedikit lemon tea itu, Varo kembali menatap lekat Zoya dengan tatapan yang penuh akan isyarat  luka. "Apa keputusan aku salah?"


Zoya menggeleng berulangkali. "Tidak. Keputusan yang sudah kamu ambil tidak akan pernah salah jika kamu sendiri sudah yakin sedari awal. Sampai dititik ini pun, kamu masih bertahan. Jadi, semuanya benar. Tidak ada yang salah. Yang kamu butuhkan sekarang adalah waktu. Untuk mereka menerima keputusan kamu."


Ada hening cukup lama sebelum Zoya kembali bertanya. "Lalu, bagaimana setelah itu?"


"Ah, tidak perlu dilanjut kalau membuatmu-"


Ucapan Zoya terpotong ketika Varo kembali membuka suara. Mendongengkan cerita yang pernah ia lewati. Dan sampai saat ini akan tetap menjadi dongeng yang penuh akan suka duka. Hingga dititik ini, ia mampu bertahan.


...♡♡♡...


⚠️Mau Curhaaattt,,,, Baru kali ini aku ngalamin kalau para pembaca BERBEDA ini banyak yang jadi silent readers. Padahal setiap hari pembaca sama yang masukin favorit bertmbah bnyak, tapi nggak ada tanda2 kalian buat like atau komen. Pembaca aku yang ZEHNTARA aja cuma sedikit yang masukin Favorit tapi banyak yg like & komen. Jadi ngerasa bingung, ini ada yg baca nggsk sih? Kok jadi kecewa ya, ayo dong tunjukin AFEKSI KALIAN! Seenggaknya like atau komen. Biar tahu kalau tulisan ini ada yang BACA. Dan untuk yang selalu Like & Komen Terima Kasih BANYAK. LOVE KALIAN❣⚠️




^^^Tertanda^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2