BERBEDA

BERBEDA
Chap 46 (Hari Sial Untuk Zoya)


__ADS_3

...Sesuatu yang pernah ada, akan hilang pada waktunya. Seperti hubungan yang pernah dekat, akan kembali asing pada waktunya. ...



Dia pernah berpikir, bahwasannya menjadi atasan adalah hal yang mudah. Ternyata ia salah, semakin hari bukannya santai malah diembankan banyak berkas yang harus ia selesaikan. Padahal perusahaan ini mempunyai banyak staf, namun kenapa harus dia yang menangani? Jelas tugasnya lah yang hanya bisa mengerjakan. Bukan kewenangan staf yang kekuasaannya masih dibawahnya.


"Tuan, ayo makan siang sebentar. Dari tadi pagi Tuan hanya makan sepotong roti saja. Apa mau saya pesankan sesuatu?"


Hening. Lagi dan lagi, suara Galih bagaikan angin lalu diruang yang begitu luas itu. Tanpa adanya balasan dari sang empu.


Galih menghela napas lelah. Sudah beberapa hari ini, Tuannya itu gila kerja. Tidak memperhatikan pola hidupnya yang membutuhkan asupan. "Tuan, saya pesankan ayam geprek dikedai biasanya, ya? Harus dimakan tapi."


Varo tetap diam dengan fokus yang masih setia kepada benda persegi canggih itu, bersama tangan lincahnya menari diatas keyboard.


Tepat ketika Galih memutar knop pintu- suara Alvaro menguar ditengah hening relung disana. "Tidak usah, nanti mubazir. Kamu aja yang keluar makan siang. Lima belas menit lagi balik kesini, antar berkas ke ruang manager."


"Tapi nanti Tuan bisa sa-"


"Jangan banyak bicara Galih! Kau membuatkan tidak bisa fokus. Keluarlah!"


Ya, ya, ya- kalau sudah menghadapi Varo dengan keras kepalanya, Galih tidak akan bisa melawan. Hanya bisa mengomeli Tuannya itu didalam hati. Jika sudah seperti ini, sosok Alvaro itu  akan kembali mengingatkan kepada adik kandungnya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Sampai Galih dipertemukan dengan sosok Alvaro yang sama persis dengan watak adik bungsunya.


"Baik Tuan."


Sepeninggalan Galih, ruang itu benar-benar sunyi. Hanya ada suara keyboard yang mengisi relung disana. Hingga sekian detik lamanya, dia baru menyadari. Membawa pandangan kejam tangan yang melingkar dipergelangan.


"Astaga kenapa sampai lupa," ujar Varo lantas beranjak dari kursi kebesarannya.


Disisi lain, Zoya menggerutu dalam hati. Gara-gara Bu Indira meluapkan berkas yang seharusnya menjadi tanggung jawab grup sebelah, malah dia dan rekannya yang harus menyelesaikan. Alasannya, dari kemarin grup rekan Zoya terlihat santai. Padahal tidak!


"Udah ah, lanjut nanti aja. Mau shalat dulu."


"Eh ikut dong. Aku juga belum shalat dzuhur," sahut Zafir mengikuti Zoya yang sudah beranjak dari kursi.


"Ca, nggak ikut?"


"Nggak dulu Zoy, lagi libur. Sama Zafir aja sana! Tapi jangan lama-lama. Masih numpuk nih kerjaan."


"Nggak baik buru-buruin orang mau ibadah, Ca."


"Iya-iya adikku yang paling tamvan," balas Caca mengusak rambut Zafir kasar.


"Udah ah, yok!"


Keduanya berjalan bersisihan menuju lift. Entah kebetulan seperti apa yang sedang semesta rencakan, hingga membuat kedua netra yang tidak asing satu sama lain itu kembali bersitatap. Oh, good.


Zafir membungkuk sekilas sebelum masuk kedalam. Menyapa sosok berwibawa yang berada didalam lift. "Zoy! Ayok," lirih Zafir sembari memberi syarat tangan agar Zoya yang masih terdiam didepan lift itu segera masuk.


Sungguh, demi apapun didunia ini- hari ini adalah hari dimana semesta tidak mendukung harapannya. Untuk lima kali pertemuan, dan untuk pertama kalinya dia benar-benar bersitatap langsung dengan netra kelam yang selama ini tidak pernah ia tatap.


Hanya ada hening didalam lift yang diisi tiga orang itu. Dari sini, Zoya bisa melihat sosok Alvaro yang dulu pernah ia kenal. Dan sampai saat ini juga- getar didalam sana masih sama. Sampai berhasil membuat tubuhnya panas dingin.


"Kamu kenapa?"


Bisikan dari sebelah membuat Zoya sedikit tertegun. Menoleh- mendapati Zafir dengan kerutan kening menatap Zoya heran. "Sakit? Pucat banget tuh muka."


Zoya hanya menggeleng. Dia tidak sakit, tapi- terlalu gugup.


Ting


Lift sampai dilantai dasar. Membuat Zoya ikut bernapas lega kala langkah Alvaro keluar menjauh. "Gitu amat lihatnya. Jangan kayak Caca, ya. Tergila gila sama Tuan Al, udah tahu dirinya sama Tuan Al kayak langit sama bumi," celetuk Zafir yang entah kenapa membuat rasa nyeri itu muncul. Ah, langit dan bumi ya?


"Ap-apaan sih. Udah ayo keburu habis waktunya."


Setelah sampai didepan mushala, lagi-lagi Zoya dibuat kaget dengan keberadaannya yang hendak masuk kedalam mushala dengan wajah basah. Namun, suara interupsi yang asal keluar dari mulut Zoya membuat semua atensi orang yang ada disana langsung tertuju kepadanya.


"Kamu kok disini? Mau ngapain?!"


Damn!


Kini, Zoya merutuki dirinya sendiri ketika semua mata menatapnya aneh. Sedang, sosok yang ia tanyai itu menatap datar sebelum menjawab dan memberikan efek luar biasa kepada jantung Zoya yang tidak lagi berfungsi dengan baik.


"Menunaikan kewajiban. Shalat."


Zafir yang berada disamping Zoya menahan malu. Benar-benar malu ketika tatapan disekitar masih menatap mereka dengan aneh. Apalagi tatapan sinis untuk Zoya yang sudah menanyakan hal konyol itu kepada Alvaro yang notabenya adalah direktur perusahan. Lancang sekali.


"Ma-maaf Pak," gugup Zafir sembari membungkukkan badannya. Setelahnya, Varo melanjutkan langkah masuk kedalam mushala. Sebelumnya, dia tersenyum tipis. Yang masih bisa dengan jelas Zoya menangkap lengkungan dibibir direktur baru itu.


"Lo apa apaan sih Zoy?! Gila apa ya, berani banget ngomong gitu. Jelas-jelas ini mushala, tempat ibadah. Masa ya mau makan.  Bikin malu tahu nggak, astaga."

__ADS_1


Zafir yang sudah geram melihat Zoya hanya diam terpaku itu menyenggol sang empu yang langsung terjatuh diatas lantai mushala hingga menarik beberapa atensi kembali tertuju kepadanya. Sial, bukan sakit yang Zoya rasakan. Tetapi malu untuk kedua kalinya. Awas aja ya Zafir! Sudah main dorong, sekarang main kabur begitu saja.


"Awhh, Zafir nggak ada akhlak. Awas aja ya kamu nanti! Durhaka sama orang yang lebih tua bakal dapat karma."


Tepat setelah Zoya berucap, dari tempatnya ia bisa mendengar suara jatuh yang berasal dari tempat wudhu laki-laki.


"Awwhh sakit pantat aing. Kuwalat nih," ujar Zafir sembari mengelus pantatnya. Tidak peduli dengan suara ngik-ngik dari beberapa orang yang sedang berwudhu. Menahan tawa disaat berwudhu adalah hal yang sangat tidak enak.


"Ketawa aja kali Mas. Wudhu lagi apa susahnya coba."


Detik itu, tiga orang yang tadinya menahan tawapun langsung tertawa lepas. Sedang Zafir menye-menye sembari berusaha berdiri.


Pikirannya setelah shalat masih tidak bisa tenang. Fakta yang ia terima beberapa saat yang lalu masih perlu penjelasan. Tapi, tidak mungkinkan dia langsung bertanya kepada sang empu?


"Suutt, Zoy! Balik nggak?"


Zoya menoleh, mendapati kepala Zafir yang menyembul dari bakik tirai. "Ck, balik sendiri aja sana!"


"Ketus banget. Iya udah, aku duluan."


Helaan napas berat itu keluar begitu saja. Lantas sang empu melepas mukenanya kemudian beranjak keluar mushala.


Detak didalam sana kembali berulah ketika ia mendapati sosok itu yang juga sedang memakai sepatu dengan jarak dua meter darinya. Oh, good.


Tidak lagi memikirkan tali sepatunya, Zoya langsung beranjak berdiri. Tidak ingin terlalu lama dengan jantungnya yang kembali berulah. Namun, baru tiga langkah ia kembali terjatuh naas diatas lantai. Sial! Arghh kenapa hari ini selalu sial?


"Aisshh, tali sepatu bodoh!"


Rutuknya lantas kembali berdiri dan berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang maupun kanan kiri. Sedang disana, tepat dibelakangnya ada sepasang netra yang menangkap jelas kejadian itu. Hingga lengkungan dibibir Alvaro genandra itu kembali dibuat terangkat membentuk bulan sabit.


"Lucu."


...)( ...


Kehebohan yang diperbuat oleh seorang Caca itu semakin memperburuk mood Zoya. Dan semua itu karena ulah mulut Zafir yang tidak bisa diam.


"Kamu cepu juga ternyata, Fir."


"Ya maaf. Kan lucu aja gitu buat bahan obrolan."


Netra Zoya berubah tajam, menatap Zafir yang dengan santainya terkikik geli. "Kamunya aja Zoy yang aneh. Masa orang dimushala ditanya mau apa. Ya jelas mau shalatlah. Terus kenapa kamu berani banget tanya gituan sama Tuan Al, hah?" sahut Caca.


"Ck, udahlah nggak usah dibahas. Lanjut kerja!"


Jarum jam terus berdentang hingga pukul lima semua orang bisa bernapas lega. Waktu jam kerja sudah selesai, namun yang membuat Zoya geram kenapa file yang harus ia edit masih banyak. "Iya, duluan aja. Masih banyak yang harus aku edit."


"Beneran nih, berani sendiri disini?"


"Ya ampun Ca! Udah aku bilang berapa kali sih, pulang aja. Aku bukan anak kecil kali yang takut sendirian."


"Yaudah deh semangat ya! Jangan pulang kemaleman. Kalau udah sampai rumah kabarin."


"Mau aku temenin nggak, Zoy?" sahut Zafir.


Zoya mendelik, lantas memberi gerakan mengusir kepada dua curut itu. "Udah husst! Husst! Pulang aja sana. Dari pada ganggu aku nggak bakal selesai ini."


Didepan pintu bertuliskan RUANG DIREKTUR itu- Galih mondar mandir tidak jelas. Berulangkali melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


"Udah jam delapan masih terlalu sore buat Tuan Al selesai kerja. Tapi, bebal juga orangnya. Udah tahu suka lembur, kenapa disuruh makan dari tadi aja susah banget," gerutu Galih.


Bahkan, makan malampun dilewati. Dan berakhir membuat Galih kepayahan. Pasalnya, jika Tuannya itu tumbang seperti beberapa bulan lalu, yang menjadi korban juga dirinya. Harus susah payah merawat bayi gede seperti Tuannya itu.


"Masuk ajalah, suruh pulang."


Belum sempat Galih memutar knop pintunya, pintu besar itu lebih dulu terbuka dari dalam. Menampakkan wajah Varo yang kentara penat.


"Tuan-"


"Ayo pulang," potong Varo berjalan dahulu.


Galih mengambil alih tas yang berada ditangan Varo. "Biar saya bawakan."


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Galih mengamati wajah Tuannya yang terlihat pucat.


"Hm."


Setelah berada dilantai bawah, Varo menunggu Galih yang masih mengambil mobil. Sebenarnya, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Namun, tubuhnya itu seakan menolak. Hingga membuatnya ingin segera mengistirahatkan diri yang sudah ia forsir seharian ini.


"Mari Tuan!"

__ADS_1


Varo masuk kedalam mobil setelah Galih membukakan pintu untuknya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Namun, tidak lama Galih terpaksa menghentikan laju mobilnya didekat halte ketika Tuannya itu menyuruhnya berhenti. Lantas Galih mengikuti Varo yang tiba-tiba turun dari mobil.


"Ayo aku antar!"


Hampir saja gawai yang perempuan itu mainkan jatuh jika saja tidak cepat ia tangkap. Zoya mendongak, menatap sepasang netra kelam yang baru saja bicara. Detik itu, Zoya kembali terpaku dengan sosoknya yang suka muncul seperti hantu yang ada dimana mana.


Zoya sontak berdiri, mengedarkan pandangannya. Yang terpenting tidak bersitatap dengan kedua netra itu. "Ekhmm-"


Bingung harus bicara seperti apa, Zoya hanya bergumam tidak jelas. "Ayo, aku antar pulang! Sudah malam, jarang ada bus yang lewat."


Tidak hanya Zoya yang dibuat bingung, disana ada Galih yang menatap Tuannya aneh. Kenapa tiba-tiba Tuannya itu care dengan orang asing? Galih tidak pernah tahu Tuannya itu kenal dan dekat dengan perempuan yang ada didepannya ini.


"Emm- tidak perlu. Terima kasih Tuan, saya-"


"Tidak ada penolakan! Atau saya pecat."


Zoya melotot sempurna. Apa apaan? Kenapa main pecat?!


Belum sempat melontarkan protesan, tubuh tinggi tegap itu berbalik menuju mobilnya. "Suruh dia masuk!" ujar lirih Varo saat melewati Galih.


"Baik Tuan."


"Mari ikut saya," ujar Galih kepada Zoya yang masih terpaku.


"Ah- tapi.."


"Jangan membantah. Atau anda akan benar-benar dipecat."


"Enak aja!" Ngegas Zoya yang langsung menutup mulutnya.


"Ah, maaf."


Ya, mau tidak mau Zoya mengikuti Galih. Membukakan pintu belakang yang langsung Zoya tolak. "Didepan aja, ya?"


Galih menatap Varo yang mendapat anggukan. Hingga Zoya berakhir duduk didepan, sebelah kemudi. Tidak mungkin dia duduk disebelah Varo. Bisa-bisa jantungnya berhenti mendadak.


Sepanjang perjalanan hanya ada sunyi. Zoya merasa, mereka bedua seperti orang asing. Kembali menjadi asing pada waktunya itu memanglah benar adanya. Sampai setengah perjalanan, mobil itu kembali berhenti ketika suara Varo mengintrupsi.


"Tuan!" ujar Galih panik ketika Varo membuka brutal mobil sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti menepi.


Hingga detik setelah Zoya menangkap tubuh Varo berjongkok disebelah pohon dengan Galih yang menepuk nepuk pundak Tuannya itu- Ia mengerti bahwa Varo sedang muntah. Entah naluri apa yang membuat Zoya tertarik untuk mendekati dua orang itu.


"Ini ada minyak kayu putih, pakai aja."


Galih menatap horor Zoya yang main datang ketika Tuannya dalam kondisi seperti ini. Varo yang masih muntah itu menarik jas Galih agar menutupinya.


"Kembali kemobil!" ujar Galih berat. Zoya menjadi salah tingkah, lantas berjalan cepat kembali masuk kemobil.


"Ahh Zoya bego! Ngapain sih main kesana, malu hiksss."


"Tuh kan Tuan, maghnya pasti kambuh."


Varo tidak mendengarkan, sibuk membersihkan sekitar mulutnya dengan tisue yang baru saja Galih berikan. "Sudah diam. Jangan mengomeliku seperti seorang ibu."


"Tuan sendiri yang suka mencari penyakit."


Detik itu, Galih merutuki mulutnya yang main lepas kendali. "Tidak ada libur bulan depan!"


Damn!


"Jadi, tidak ada libur untuk tiga bulan berturut turut,"  gumam Galih melemah. Dua bulan terakhir dia tidak mendapat jatah libur, dan sekarang ditambah bulan depan. Dan itu semua karena ulah mulut lemesnya itu.


Dengan langkah lunglai, Galih mengikuti Tuannya kembali ke mobil.


"Terima kasih," ujar Zoya setelah mobil itu berhenti didepan tempat kosnya.


Sebelum tangan itu benar-benar membuka pintu, suara yang menguar dari belakang membuat tubuh Zoya menegang. Tak terkecuali Galih yang spontan menoleh kebelakang dengan tatapan menyelidik.


"Besok sepulang kerja temui saya di Cafe depan kantor."


...♡♡♡...


...**HOHOHOOO SETELAH SEKIAN PURNAMA AKHIRNYA UPDATE JUGA🤟...


...⚠️JANGAN LUPA LIKE & KOMEN YANG BANYAK BIAR AKU MOOD NEXT CHAP CEPATT⚠️...


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki**^^^

__ADS_1


__ADS_2