BERBEDA

BERBEDA
Chap 53 (Terluka)


__ADS_3

...Seharusnya rumah adalah tempat ternyaman, untuk istirahat sejenak setelah menghadapi dunia luar. Tapi tidak bagi semua orang 'rumah' adalah tempat pulang. Melainkan tempat awal luka itu timbul. ...



Langit malam ke dua semenjak mata itu terpejam masih sama. Terlihat kelam yang diselimuti awan mendung. Namun tak menyurutkan dua orang berbeda generasi itu untuk terus menemani sosok dengan tidur panjangnya. Ya, dua hari ini dia-Alvaro genandra dinyatakan koma setelah berhasil melewati masa kritisnya. Sedang kabar Galih yang juga menjadi korban kecelakaan itu sudah sadar satu hari yang lalu dan masih dalam tahap pemulihan. Cedera ditangan kirinya itu butuh pemantauan medis berskala.


Detak jarum jam yang berbunyi konstan berhasil mengalihkan atensi seorang Alvero. Kedua netranya menatap Mama yang masih tersadar. Tidak ada tanda-tanda kantuk meski waktu sudah menunjukkan tengah malam. "Ma, biar aku aja yang jaga. Mama pulang, istirahat. Biar bisa tidur, udah dua hari Mama nggak pulang."


Miranti memandang Vero yang tengah duduk disofa ruang rawat. Menampilkan senyum yang bisa ia tunjukkan. Seakan berkata ia baik-baik saja. Tidak ada rasa lelah menunggu kedua mata itu kembali terbuka. Meski setiap menatap wajah pucat itu ada rasa tak nyaman yang membuat ingatan pertengkaran masa lalu kembali menyapa. Mengoyak relungnya yang sempat terluka.


"Kamu aja yang pulang. Pasti capek seharian dinas. Besok baru gantian kamu yang jaga, kan lagi libur juga."


"Tapi Mama dari kemarin nggak sempat tidur-"


"Siapa bilang? Mama kemarin tidur di sofa," potong Miranti yang dibalas embusan napas kasar dari Vero. Meski tahu betul Mama nya itu tidak tertidur nyenyak. Terbukti dari kantung mata Miranti yang terlihat jelas seperti mata panda.


Ruang rawat VVIP itu kembali hening. Vero dengan segala pemikirannya, sedang Miranti yang betah menatap wajah tanpa rona Varo. Sampai suara Vero menguar dan mengubah suasana yang mendadak tegang.


"Setelah ini, apa semuanya bisa kembali seperti dulu?"


Pertanyaan ambigu Vero itu masih mengambang diudara tanpa balasan. Hingga tiap detik berdentang, lambat laun kedua netra Miranti membalas tatapan menuntut Vero. Tatapan wanita paruh baya itu jelas memancarkan gurat amarah, kecewa, sedih, dan entahlah. Semua sesak itu berhasil keluar kala setetes bulir bening menetes dipipi tirus Miranti.


"Seperti dulu? Maksud kamu, seperti apa?"


Kedua tangan Vero mengepal kuat. Yang perlu kalian ketahui, satu hal yang paling Vero benci adalah saat dimana sosok didepannya itu menangis. Dan sejak kejadian beberapa tahun lalu, membuat tekad Vero semakin kuat. Dia- tidak akan pernah membiarkan siapapun itu kembali menyakiti dan membuat Mamanya terluka.


"Mama nggak nyangka, setelah beberapa tahun lamanya dia kembali dengan kondisi seperti ini."


"Mungkin ini takdir Tuhan," lanjut Miranti lirih.


Tangannya terulur mengusap kasar air mata yang kembali jatuh membasahi pipi.


"Aku boleh tanya sesuatu?"


Miranti mengangguk. Namun, pertanyaan yang keluar dari mulut Vero kembali membuat kerja otaknya terasa berat.


"Kalau Varo bangun, apa Mama bisa lupain semuanya? Rela dan menerima kenyataan yang sekarang, Ma?"


Vero meremas kedua tangangannya cemas. Cukup lama menanti jawaban yang akan Mamanya lontarkan. Namun, harapannya patah detik itu, kala Miranti melontarkan kata yang tanpa sadar membuat hati sosok disana hancur tak terbentuk.


"Tidak. Tidak semudah itu merelakan, Vero. Ya, mungkin Mama bisa menerima. Tapi rasa kecewa yang lebih dominan membuat semuanya terasa abu-abu. Sulit."


Mereka tahu, sama-sama tahu bagaimana satu keputusan itu ditentang oleh banyaknya anggota keluarga. Juga sangat tahu bagaimana retaknya perasaan Miranti kala salah satu putranya itu memilih keluar dari agama yang dianut olehnya dan keluarga besar. Vero bisa merasakan apa yang Mama rasa. Tetapi, dilain sisi dia juga merasa bahwa semua ini bukan lagi menjadi urusannya untuk ikut campur. Walaupun dia juga merasa kecewa dengan pilihan saudaranya yang lebih memilih masuk islam.


"Rasanya sulit," gumam Miranti terisak.


Vero sangat paham kenapa hati Miranti sekeras itu untuk sekadar memberi restu. Pasalnya, keluarga besar genandra ialah orang yang sangat taat pada agamanya. Bisa dibilang, Mama dan keluarga besar itu adalah Hamba Tuhan. Dan karena keyakinan itulah, Mama serta keluarganya sangat menentang keputusan Saudara kembarnya. Hingga detik ini. Sampai semuanya berantakan.


"Apa Mama nggak bisa memberi maaf, Varo?"


Lirih suara itu hanya bagai angin lalu tanpa adanya balasan. "Setelah Varo sadar, apa yang mau Mama lakuin?"


"Mungkin, tidak muncul dihadapannya adalah pilihan yang tepat," balas Miranti setalah lama terdiam.


Vero tersenyum sangat tipis. Entah senyum senang atau senyum miris yang ia rasakan. "Lalu kenapa Mama susah-susah jagain dia sampai cancel semua  rapat penting cuma buat anak yang udah Mama buang tanpa sadar?!"


Miranti mematung ditempatnya. Suara Vero yang sedikit meninggi itu mengubah afeksi ruangan semakin panas. Kedua pasang netra mereka saling beradu. Memancarkan gurat yang sulit mereka lampiaskan secara langsung.


"Vero-"


"Maaf," potong Vero lantas beranjak keluar meninggalkan Miranti yang terus memanggil namanya.


Setelah Miranti menghilang ditelan pintu mengikuti jejak Vero, kedua mata yang terpejam itu terbuka perlahan. Mengerjap berulang kali kala cahaya masuk kedalam netranya.


Dan tanpa mereka ketahui, sosok yang terbangun dari komanya itu sudah sadar sejak satu jam yang lalu. Namun netranya masih enggan terbuka. Hanya bisa diam mendengar suara-suara disekitarnya yang saling bersahutan.


Setetes bulir bening berhasil lolos dari sudut mata, Varo.


...)( ...


Minggu pagi ini langkah ringannya ia bawa menelusuri setiap lorong rumah sakit. Untuk pertama kalinya-Zoya datang menjenguk Varo. Setelah mendapat kabar buruk itu, perasaannya benar-benar kacau. Bahkan masuk kedalam gedung persakitan ini berhasil membuat hatinya ngilu. Kembali mengingat bagaimana dulu seseorang yang sangat penting baginya berjuang antara hidup dan mati. Dan kini, kedua netranya kembali menyaksikan bagaimana tubuh itu kesulitan bernapas. Tepat setelah ia membuka pintu rawat inap.

__ADS_1


"Dokter! Dokter tolong! Suster!"


Dari ambang pintu, Zoya dapat melihat jelas bagaimana oksigen yang seharusnya menutupi hidung dan mulut tak lagi berada ditempat. Juga tubuh yang sedikit mengejang membuatnya seperti dejavu.


Beberapa dokter juga perawat segera masuk setelah meminta Zoya menunggu diluar. Kedua tangannya tak henti meremat. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


Sedang didalam sana, Varo hanya diam ketika dokter menanyakan apa yang ia rasa. Hanya tatapan kosong menatap langit-langit kamar. Tidak ada sahutan, dokter itu memberi kode agar suster memanggil Zoya yang mereka kira keluarga pasien.


"Varo," panggil Zoya. Namun, nihil. Laki-laki itu masih setia menatap ke atas.


"Var, ini aku Zoya. Are you okey?"


Detik itu, Varo menoleh. Memandang Zoya yang memancarkan raut khawatir yang begitu kentara.


"S-sakit," balas Varo lirih.


Dokter dan suster disana saling pandang, lantas kembali memusatkan perhatian kepada pasiennya. "Mana yang sakit? Bilang aja, ya."


Semuanya


"Var, bilang mana yang sakit? Bilang aja nggak apa-apa. Biar dokter tahu."


Belum sempat mereka mendengar jawaban dari Varo, suara pintu yang terbuka kasar membuat mereka mengalihkan atensi. Sosok Vero berjalan mendekati ranjang saudaranya.


"Bagaimana, dok?" tanya Vero langsung.


"Tadi sempat kejang. Syukur sudah lebih baik. Tapi, ada yang aneh."


"Maksudnya?"


"Kalian, siapa?"


Raut wajah mereka yang ada disana sukses dibuat penuh tanya. Sedang Varo mengamati satu persatu wajah yang menatapnya dengan ekspresi berbeda beda.


"Sayang, kenapa aku disini? Bukannya kita lagi tunangan, ya?"


"Hah?"


"Ngomong apaan sih Dok, dia?" tanya Zoya.


Dokter dan Suster itu hanya tersenyum paham. Sudah biasa hal seperti ini mereka dapati ketika seseorang baru sadar dari tidur panjangnya. Apa yang di ucapkan kebanyakan melantur. Belum sepenuhnya sadar. Tapi, entah apa yang ada dipikiran Varo sekarang. Sadar atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Mas, boleh saya tanya?"


Varo mengangguk.


"Nama Mas, siapa?"


Bukannya menjawab, Varo malah mendelik menatap Vero yang sudah mengernyitkan alis kala ditatap seperti itu. "Sayang, kenapa  wajah dia mirip sama aku?!"


Lagi, mereka dibuat terkejut dengan apa yang keluar dari mulut Varo.


"Habis kepentok kepala kamu jadi gesrek, ya?"


Hanya beberapa detik Suster dan Dokter itu tertawa. Sampai suara penuh keseriusan keluar dari belah bibir Vero.


"Aku tanya, nama kamu siapa?"


"Varo."


"Nama lengkap?"


"Alvaro."


"Hanya Alvaro?"


Varo mengangguk malas. Memutar matanya jengah. Bahkan pertanyaannya masih belum terjawab. Kenapa wajah orang itu sama dengannya? Apa dia mengikuti wajah tampannya ini?


"Kamu ingat aku siapa?"


"Dih, banyak tanya! Jawab dulu, ngapain kamu ngikutin wajah pari purna saya, huh?!"

__ADS_1


"Sayang, aku kenapa disini sih? Seharusnya kan kita tunangan hari ini."


Zoya yang dibuat bingung pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menatap Vero agar mendapat jawaban. Namun sang empu mengedikkan bahunya tidak tahu.


Mereka semua kembali memutar kepala ketika seseorang masuk. Sempat terdiam diambang pintu, namun perlahan langkah itu-Miranti bawa mendekat.


"Kalau dia, kamu kenal?" tanya kembali Vero sembari menunjuk Miranti yang berada disamping Zoya.


Varo menggeleng.


Oke, sekarang empat orang itu seakan tahu apa yang sedang terjadi. Kecuali Miranti yang menatap bingung Varo yang tidak mengenalinya.


"A-apa yang terjadi, Ver?"


"Dia siapa?"


Lagi, alis Miranti hampir menyatu mendengar ucapan Varo.


"Sayang, kita pulang aja yuk! Lanjut tunangannya," racau Varo. Tanpa peduli Zoya yang sudah mengerut pangkal hidungnya pusing.


"Var, kamu benar nggak ingat aku siapa?"


"Tck, saya nggak kenal ya kamu siapa! Maksa banget pengen dikenal. Lagian itu muka ngapain juga dioperasi


segala!"


Entah mau ketawa atau sedih, Zoya dan Suster itu sudah tak bisa lagi menahan tawa kecilnya. Hingga suara Miranti memecah hening yang sempat tercipta.


"Kamu, benar-benar nggak ingat Mama?" tanya Miranti dengan raut datar.


"Maaf, Mama saya sudah meninggal. Jangan ngaku-ngaku!"


Seperti tangan tak kasat mata meremas relung hati Miranti. Sakit, seakan tumpuannya saat itu juga meluruh kalau saja Zoya tidak sigap memegang lengannya.


"Tante, kita keluar dulu ya."


"Eh- sayang kok aku ditinggal sih?! Ayo kita pulang, ini selang apaan sih? Ribet banget," racau Varo yang hendak melepas infus yang ada ditangannya. Namun cepat-cepat Vero menahan  tangan saudaranya.


"Keluar sana! Sekalian panggilin calon istri saya. Oh ya, sama Galih juga. Bilang, Tuannya mau pulang. Eh, iya kamu kenal Galih nggak? Kalau nggak tahu saya kasih nomor HP nya."


"Bentar, HP mana?"


"Ekhmm...sebaiknya kamu keluar. Biar saya periksa lebih lanjut," ucap Dokter kepada Vero yang masih terdiam mendengar ocehan Varo.


Tanpa sepatah kata, Vero keluar. Menyisakan ketiga orang yang masih diselimuti kebingungan.


"Bagus, ya Dok. Harusnya saya jadi aktor. Pasti lulus casting."


Setelahnya suara tawa miris itu mengudara. Menimbulkan teka-teki bagi dokter dan suster yang saling tatap heran.


"Habis koma kok jadi aneh gini ya, Sus? Heran saya."


"Dokter aja heran. Apalagi saya."


...♡♡♡...


...MAU DOUBLE UPDATE?! KOMEN BANYAK-BANYAKK🔥...


...Malaman ya kalau mau updte lagi😊...


...Maaf nggak bisa update rutin. Dan Terima Kasih Sudah Membaca❣ LIKE & KOMEN!...


^^^Tertanda ^^^


^^^Naoki Miki^^^


^^^



^^^

__ADS_1


__ADS_2