
...Seperti laut yang penuh akan misteri. Tetapi menyimpan begitu banyak keindahan didalamnya. Dan tidak semua bisa melihat keindahan itu....
Apa yang pernah ada dalam pikirannya, ternyata sekarang mejadi nyata. Tantangan beberapa saat lalu masih jelas terdengar lantang dikedua telinganya. Bagaimana cara Miranti berteriak kepadanya. Melarang akan apa yang baru saja ia putuskan. Semuanya menjadi kabur kala melihat raut kecewa yang jelas terpancar dikedua netra Miranti. Amarah juga sangat mendominan diwajah wanita paruh baya itu.
Sampai pagi ini, suasana masih belum kondusif. Bahkan dimeja makan ketika tiga orang itu sarapan, mereka masih sama-sama terdiam. Hingga Varo beranjak lebih dulu sebelum akhirnya memilih naik bus mini ke sekolah. Pagi yang seharusnya cerah, ia awali dengan hati yang buruk. Namun tanpa disangka, setibanya disekolah Varo melihat Ustadz melangkah menuju masjid. Tanpa disuruh Varo mengikuti langkahnya yang tidak sadar mengikuti langkah Ustadz yang sudah masuk kedalam masjid sekolah. Lantas dirinya menunggu dibalai masjid sembari memainkan jemarinya. Rasanya, aneh. Gugup juga rasa takut lebih mendominan, entah karena apa.
Dari tempatnya duduk, Varo bisa melihat setiap gerakan shalat yang sedang Ustadz kerjakan. Sampai tanpa sadar, bibir Varo terangkat tipis. Hingga netranya bertemu dengan kedua manik Ustadz yang baru saja melangkah keluar.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Ustadz," jawab Varo sembari mencium punggung tangan Ustadz.
Ustadz tersenyum sembari ikut mendudukkan tubuhnya disebelah Varo. Keduanya cukup lama ditemani hening. Sampai suara Varo menguar dengan ditemani debar jantungnya yang semakin menggila. "Ustadz, saya boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Mau tanya apa?"
Hening. Pertanyaan yang sebelumnya ingin ia utarakan itu seakan lenyap. Lidahnya terasa kelu hanya sekadar membuka suara. Hingga tepukan dibahunya mengalihkan kesadarannya yang hampir berlarian. "Tanyakan saja apa yang membuatmu ragu, Nak. In Sya Allah kalau saya bisa menjawab, akan saya jawab."
Varo tersenyum lembut. Lantas menghadapkan duduknya menghadap sempurna ke arah Ustadz. keduanya saling berhadapan. Dengan satu tarikan napas, Varo membuka suaranya. Yang detik selanjutnya mampu membuat Ustadz tersenyum lebar.
"Maaf kalau pertanyaan saya lancang, Ustadz. Sebenarnya Sudah dari dulu saya mencari jawabannya, dan sekarang Varo mau tanya sama Ustadz-"
"Sebenarnya Allah itu seperti apa? Bagaimana wujudnya? Apa Ustadz pernah bertemu dengannya?"
"Kamu pernah melihat udara? Tidak kan, tapi kamu bisa merasakan udara itu. Begitulah Allah. Allah ada dihati orang-orang yang beriman."
"Mau saya ceritakan tentang kisah sahabat Nabi Muhamad yang mendapat pertanyaan yang sama seperti pertanyaanmu ini, Varo?" lanjut Ustadz yang dibalas anggukan.
"Seorang cendikiawan nasrani pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, mereka bertanya 'dimanakah Allah?' Lantas Ali tidak langsung menjawab. Beliau justru menyalakan api. Kemudian beliau balik bertanya 'Manakah bagian depan atau wajah dari api ini?' Para cendikiawan itu pun mengamati api tersebut hingga mereka menjawab 'seluruh sisi api ini bisa dianggap sebagai bagian depan atau wajahnya, tidak ada belakang dan tidak ada pula depan' Ali pun balas menjawab 'Ketika api saja yang merupakan ciptaan Allah yang tidak memiliki bagian depan secara khusus, maka penciptanya sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan-Nya. Lebih dari itu depan dan belakang, barat dan timur, semata mata berasal dari Allah, kemana saja engkau menghadapkan wajahmu, itulah wajah Allah. Dan tak satupun tersembunyi dari-Nya."
Ustadz menepuk pundak Varo sebelum beranjak berdiri. "Jika ada yang kamu tanyakan lagi, datang ke pesantren Al- Fatih. Saya ada disana."
"Terima kasih Ustadz, lain kali saya ke sana."
Seperti ada ikatan kuat yang membuat hati Varo terasa lepas dari beban berat yang mengikat. Sehilangnya Ustadz dari pandangannya, pundak Varo merosot. Menghela napasnya berat. Lantas memejamkan mata.
Berikan jalan yang terbaik untukku, Tuhan.
...)( ...
Seminggu ini rutinitasnya setelah pulang sekolah hanya mendekam didalam kamar. Tapi, tidak hanya sekadar berdiam diri. Didalam sana, ada pikiran yang terus menghantuinya. Entah perasaan apa yang membuatnya tenang sekaligus gelisah ketika mendengarkan ceramah tentang apa itu islam yang selalu ia dengar di Youtub gawainya. Namun, malam ini ia memberanikan diri untuk menemui Mamanya- Miranti. Membahas hal yang yang ia tahu sangat sensitif.
Netranya menangkap sang Mama yang sedang membaca majalah diruang tengah. Perlahan bersama degup jantung yang tak lagi normal, langkahnya ia bawa mendekat.
"Ma!"
Miranti menoleh, menepuk kursi disebelahnya agar Varo duduk. "Ada yang mau kamu omongin," ujar Miranti datar masih dengan menatap majalahnya.
Kedua tangan itu saling meremas. Gugup? Jelas. Merasakan respon Mamanya yang sudah tak bersahabat membuat nyalinya menciut. Tapi, jika tidak segera Varo takut akan terlambat. Dan semuanya bisa saja hancur.
"A-aku mau bahas soal yang kemarin."
"Soal kemarin yang mana?"
Netra tajam Miranti tepat menusuk kedua netra Varo hingga kerelungnya. Menelan ludahnya kasar hingga beberapa kalimat yang menguar itu membawa afeksi yang luar biasa. "Soal aku ingin mengenal islam, ah tidak- tepatnya aku ingin masuk islam, Ma."
Detik itu, Varo bisa melihat kedua tangan Miranti meremas majalah erat. Tidak luput dengan tatapannya yang kosong namun penuh dengan syarat kecewa.
"Maaf, Ma. Varo minta doa dan restu dari Mama."
"Minta maaf sama Tuhan Yesus! Bukan sama Mama," balas Miranti dingin yang setelahnya beranjak meninggalkan Varo seorang diri disana. Ditemani sunyinya ruang yang semakin mencekatkan hatinya yang terasa teriris.
Ramainya ibu kota yang ia pijaki kini tidak berpengaruh apa-apa setelah kejadian beberapa saat lalu yang masih terngiang. Suara Mama yang terus berdengung itu mengalahkan bisingnya kendaraan malam ini.
Setelah Miranti pergi begitu saja, Varo memilih keluar. Berjalan kaki yang entah mau kemana. Hingga sorot cahaya dari samping juga klakson mobil yang menyuruhnya menepi tidak ia hiarukan. Tepat ketika beberapa langkah kaki mobil itu menjangkaunya, tangannya ditarik paksa oleh seseorang yang memekik histeris.
__ADS_1
BUGH
Keduanya tersungkur diatas aspal. Butuh beberapa detik sampai kesadaran Varo kembali naik kepermukaan. Melihat sosok yang menolongnya tadi sudah duduk sembari menepuk nepuk bajunya yang kotor.
"Kakak nggak apa-apa? Ada yang luka, nggak?"
Varo mengerjap, lantas berdiri. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bodoh, hampir saja dia kehilangan nyawanya. "Hei, Kak! Ada yang luka ya, yang mana? Perlu ke rumah sakit, nggak?"
"Ah- enggak. Kamu sediri ada yang luka?"
Gadis itu menggeleng. "Tapi itu, siku Kakak berdarah."
Varo baru menyadari jika tetesan darah itu mengalir dari sikunya yang ternyata luka. Baru saja ingin bersuara, sosok didepannya itu sudah menyela lebih dulu. "Kita obatin dulu ya, Kak. Disana ada warung yang jual obat merah. Ayuk!"
Varo tidak bisa mengelak kala gadis itu berjalan mendahului. Sampai keduanya duduk dibangku warung yang dituju. "Sini, aku bantu ya Kak."
"Aku aja, bisa kok."
"Enggak apa-apa biar aku aja, bakal susah nanti."
Tidak butuh waktu lama, luka yang ada disiku Varo tertutup plester. Keduanya cukup lama terdiam dalam hening yang menemani. Sampai tak lama, suara Varo menguar. "Nama kamu siapa?"
"Emm Sahira Kak. Kalau nama Kakak?"
"Alvaro."
"Oh, emm aku panggil Kak Al boleh?"
"Boleh. Terserah kamu aja."
"Tadi, kenapa Kakak nggak minggir. Padahal mobilnya udah klakson berulang kali. Kakak, enggak ada niat buat bunuh diri, kan?"
Ucapan polos Sahira itu berhasil membuat Varo terkekeh. "Ya, enggaklah. Konyol banget mati muda, bunuh diri lagi."
"Ya, kirain."
"Ke-kenapa Kak?" tanya Sahira gugup. Pasalnya, Varo sedari tadi menatapnya seolah olah ada yang salah dengannya.
"Boleh tanya sesuatu, nggak?"
"Tanya aja kali, Kak."
"Kamu, muslim?"
Sahira tercengang, bagaimana bisa Varo bertanya hal yang jelas-jelas sudah pasti jawabannya iya. Hanya dengan melihat pakaian yang dikenakan gadis itu. Tapi bukannya menjawab, Sahira malah asyik tertawa. Menertawakan pertanyaan juga wajah Varo yang terlihat polos.
"Kok ketawa? Ada yang lucu?"
"Ya Kakak nanya aneh-aneh," balas Sahira masih dengan kekehan.
"Aku serius, kamu muslim?"
Detik itu, Sahira terdiam. Mematung. Mengamati lamat-lamat wajah Varo. Tidak ada candaan disana, hanya ada raut wajah serius.
Perlahan, kepala itu mengangguk bersama senyum tipis. "Iya, aku muslim Kak."
Dari sini, tanpa Sahira tanya- ia tahu bahwa pemuda yang baru saja ia kenal itu tidak sama dengannya.
"Kenapa setiap perempuan islam memakai pakaian tertutup? Seperti yang kamu kenakan contohnya. Selalu memaki penutup kepala juga, emang enggak gerah?"
Sahira sempat tertegun mendapat pertanyaan seperti itu yang jelas menjawab perkiraannya, dan benar- Kakak yang ia temui ini bukan beragama islam.
"Didalam islam, kita sebagai seorang perempuan sudah sewajibnya memakai pakaian tertutup guna menutup aurat kita, Kak. Seperti yang sudah diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran. Agar semua perempuan muslim menutup auratnya supaya tidak menimbulkan fitnah. Karena sejatinya, seorang perempuan dalam islam itu seperti Ratu. Yang tidak semua orang bisa melihatnya."
"Juga yang Kakak maksud penutup kepala itu adalah hijab, Kak. Gunanya untuk menutupi mahkota seorang perempuan, yaitu rambut. Seperti yang sahira katakan, tidak semua orang bisa melihat mahkota itu. Yang bisa hanya mahramnya saja. Perempuan dalam islam itu sangat dijaga kesuciannya. Semua tubuh perempuan itu aurat kecuali wajah dan telapak tangannya. Jadi, itulah kemuliaan perempuan dalam islam yang sudah Allah tetapkan. Allah sudah mengatur itu semua untuk menjaga kesucian perempuan, Kak."
Jelas Sahira sembari tersenyum tulus setelahnya. Melihat kernyitan didahi Varo membuat Sahira tersenyum geli.
__ADS_1
"Contohnya nih, Kak Al pernah lihat jajanan pinggir jalan seperti gorengan yang tanpa plastik sama jajanan roti yang sudah dibungkus rapi sama plastik?"
"Iya," balas Varo sembari mengangguk perlahan.
"Nah, Kakak sering lihat nggak kalau gorengan itu suka dihinggapi lalat?"
Lagi, Varo mengangguk. "Terus apa roti yang terbungkus itu dihinggapi lalat?"
"Tidak."
"Jadi, Kakak mau pilih gorengan yang nggak dibungkus sampai dihinggapi lalat atau roti yang sudah dibungkus tapi nggak dihinggapi lalat? Pilih yang mana, Kak?"
"Jelas pilih yang roti, karena masih higenis."
"Nah, aku tahu Kak Al pintar. Seperti itulah perumpamaannya, Kak. Kita sebagai perempuan sepatutnnya menutup apa yang tidak seharusnya dipamerkan. Dalam islam, perempuan itu sangat suci dan mulia."
Detik itu, Varo tersenyum lebar bersama hangat yang perlahan menjalar didalam relungnya. "Terima kasih, Sahira."
...)( ...
Ruang VVIP itu kembali sunyi setelah suara yang sejak tadi menguar terhenti. Suara detak jarum jam didalam sana mengisi canggung yang kembali hadir. Sudah hampir dua jam keduanya duduk didalam sana. Jarum jam terus berjalan hingga suara adzan membelah keheningan yang sempat tercipta.
"Shalat maghrib dulu. Kalau mau lanjut cerita, nanti habis makam malam ya."
Varo mengangguk. Wajahnya yang kentara pucat itu tersenyum tulus. "Makasih, udah mau dengar semuanya."
"Belum semuanya," ralat Zoya yang lantas berdiri.
"Aku ke Mushala dulu."
Setelah pintu terbuka, Zoya mendapati Galih yang masih berdiri disamping pintu. Astaga, apa laki-laki itu berdiri disana selama dua jam lebih?
Galih menunduk sebentar, lantas masuk kedalam. Membiarkan Zoya yang kembali melangkah menuju mushala Cafe.
"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" ujar Galih panik kala hampir saja Varo terhuyung ketika hendak berdiri jika tidak Galih tahan.
"Hm."
"Tapi wajah Tuan-"
"Aku mau ke Mushala. Jangan banyak bicara!"
Galih mendengus, mengikuti Tuannya itu dari belakang. Berjaga jaga jika saja Tuannya itu tiba-tiba ambruk.
Selesai shalat, Zoya kira ia akan mendapat lanjutan cerita dari Varo. Namun kenyataannya ia harus terjebak didalam mobil bersama dua orang laki-laki itu. Dimana sosok disampingnya itu yang masih merintih kesakitan. Semenjak selesai shalat tadi, Varo benar-benar membuatnya cemas akan tubuh Varo yang tiba-tiba ambruk diruang VVIP. Hingga Zoya dan Galih berusaha membawa Varo kedalam mobil dengan kesadaran yang hilang muncul. Saat ini saja kernyitan didahi Varo semakin dalam. Keringat dingin juga membasahi seluruh tubuhnya.
"Ke rumah sakit aja ya," ujar Zoya untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi hanya gelengan yang ia dapat.
"Tuan, ke rumah-"
"Apartemen, Galih!" seloroh Varo. Suaranya yang lirih itu masih bisa Galih dengar. Dan hanya anggukan yang bisa Galih berikan. Percuma saja, ia sangat tahu bahwa Tuannya itu sangat keras kepala dan tidak bisa dibantah.
"Iya, kita pulang. Nggak ke rumah sakit," sahut Zoya sembari membersihkan keringat dingin yang membasahi wajah Varo dengan tisue.
Varo menekan perutnya yang semakin terasa diremas kencang, membuat desisan keluar begitu saja. Dan itu, membuat kedua orang yang juga disana semakin cemas.
Tanpa pikir panjang, Zoya meraih gawainya. Teringat akan seseorang yang pernah memberinya kartu nama. Hingga pesan itu ia kirim.
Jika Varo tidak ingin pergi ke rumah sakit, tidak ada kemungkinan lagi untuk memanggil dokter yang datang ke rumah, kan?
...♡♡♡...
...Lagi kangen sama Varo:(...
^^^Tertanda ^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1