
Pov Riyo.
Ku lajukan mobilku dengan sedikit cepat setelah aku mengantarkan Tery kerumahnya. Sambil aku memikirkan bagaimana caranya aku menjelaskan pada Riri.
Aku baru bertemu dengannya hari ini, tapi bagiku dia sungguh gadis yang baik, energik dan murah senyum.
pantas saja kalau Dani takut kehilangannya, tapi cara Dani salah menurutku.. tak seharusnya dia bersikap seperti itu.. karena cewek itu ibaratkan pasir, terlalu kuat di genggam akan lepas dan jika tidak kuat kita genggam juga akan lepas..(diambil orang misalnya).. hehehe
Sesampainya aku di lokasi Riri menungguku. Aku melihat wanita ber dress hitam selutut dengan rambutnya yang terurai panjang sedang duduk menunggu ku dengan raut wajahnya yang kesal.
Aku menghubungi nya dan dengan cepat dia mengangkat telepon dariku.
"aku sudah sampai di depan nih..." kataku sambil melirik kearahnya.
"baiklah aku segera datang, jangan matikan telepon." ucapnya sambil berjalan kearah ku.
Aku pun hanya tersenyum mendengar dia mengatakan itu.
Sesampainya dia di dalam mobil, ku dapati senyum tipis nya yang enggan merekah. Yaaaa seperti itu lah ekspresi kekesalan. hihihi
Aku pun mencoba menjelaskan padanya kenapa aku tak mengangkat telepon dari nya dan tak membalas chat darinya.
__ADS_1
Benar dugaanku, ku lihat rauh wajah cemburu. Namun dia pintar menyembunyikan perasaannya. Dia mengatakan seolah olah dia tidak apa apa jika harus menunggu..
Wanita ini sungguh menarik bagiku.
Ku ajak ngobrol tentang rencana kami yang akan berangkat besok lusa ke suatu wisata alam.
" Apakah besok lusa kita jadi pergi ?" tanyaku padanya.
"Terserah kamu saja." jawabnya datar.
" Ya sudah, besok lusa kita berangkat ya, mau bawa minuman berapa botol ?" godaku.
Lagi lagi jawabannya TERSERAH..haha
aku tak pintar merayu.. jadi ku sudahi saja mengajaknya ngobrol dari pada aku salah bicara.
Sambil sesekali ku perhatikan dia menggerutu sendiri saat melihat pesan dari seseorang.
Sampai lah kami di depan rumahnya, aku bertanya apakah tak apa dia pulang jam segini..apakah orangtuanya tak marah..
Riri hanya menjawab "mereka sudah tidur."
__ADS_1
Dia mengulurkan tangan dan aku tak menyangka dia akan mencium tanganku..aku terkejut, karena selama aku memiliki pasangan, tak pernah seorang pun yang mencium tanganku dengan hangat seperti dia.
" Perasaan apa ini hmm, kau sudah punya pacar bung." Riyo mencoba menyadarkan dirinya.
Dengan cepat ku lajukan mobilku, agar cepat sampai dan memberi Riri kabar.
" Ah maafkan aku Tery,. " gumam Riyo sambil terus berjalan pulang.
Andai saja aku mengenalnya lebih dulu, pasti semua tak akan serumit ini.
Ku lihat ponsel ku berdering dan benar Tery mengirimiku sebuah pesan. Lagi lagi aku harus berbohong padanya bahwa aku sudah sampai rumah.
Entah apa yang ada dipikiranku saat Tery mulai mengajakku pecaran pertama kali.
Jujur aku tak memiliki perasaan padanya, kenapa aku mau menjalani hubungan dengan Tery, karena awalnya aku suka dengan Tery yang begitu apa adanya.. suka bercanda dan tak mudah sakit hati jika di ajak bercanda.
Ketika Tery mengutarakan perasaannya padaku , aku pikir tak ada salahnya jika ku jalani saja, siapa tau aku bisa mencintainya.
Namun aku salah, baru beberapa hari aku menjalani hubungan dengannya, Tery mulai menunjukkan sifat aslinya. Sifat yang hampir semua cewek memilikinya, yaa apalagi kalau sifat yang suka mengatur.
Tery berubah menjadi lebih posesif, dan perasaanku semakin tak bersisa karenanya.
__ADS_1
Terlebih Riri mulai menarik perhatianku..
be continue.......