
...Biarlah waktu menjawab akhir skenario yang sudah Tuhan rancang sebaik mungkin. Ya, mungkin lebih ke putus asa. Dari pada kecewa karena ketidak mungkinan yang selalu ku semogakan....
Rintik hujan lagi-lagi turun disaat yang tidak tepat. Setelah kalimat demi kalimat anak itu lontarkan, guntur bersama angin tak lagi bisa mereka hindari. Banyak yang berlari ke arah aula, maupun ke masjid untuk berteduh. Aula dan Masjid Sekolah itu berseberangan yang hanya memakan jarak sekitar dua puluh meter. Entah akhir-akhir ini angkasa senang sekali menumpahkan tangisnya.
"Bu- bukan gitu maksud gue Var!."
Hela napas kasar keluar begitu saja dari mulut Zoya. Sungguh, dia tidak bermaksud menyalahkan anak itu. Dia hanya ingin mempererat persaudaraan mereka berdua yang seakan mulai menjauh.
Hendak Zoya kembali membuka suaranya, namun harus urung ketika tarikan tangan seseorang membuatnya berdiri tegak.
"Aduh aduh Kak mau kemana?."
Tarikan itu ia hentikan sebelum benar-benar jauh dari tempatnya semula. Oh ayolah dia perlu menjelaskan semuanya kepada Varo. Diliriknya sebentar Varo yang juga menatap kedua kakak kelasnya itu- Hariz dan Zoya.
"Di Masjid ada masalah. Ke sana sebentar."
Zoya mendengus sebal. "Harus banget Zoya ke sana?."
"Harus! Udah di tunggu sama Pak Zubaid," balas Hariz kembali menarik tangan Zoya. Sebelum turun menerobos hujan, Varo bisa melihat bagaimana jaket Hariz berpindah diatas kepala Zoya. Dengan Hariz yang sudah berlari lebih dulu- dan Zoya yang masih menatapnya seakan penuh syarat.
"Kenapa Bro? Gitu amat lihatnya."
Varo terperanjat, menatap sosok yang tiba-tiba duduk disebelah dengan tangan yang merangkul bahunya.
"Gimana pas ditenda biru? Berhasil nggak?."
Varo menggeleng pelan, membalas pertanyaan sahabatnya yang tak lain Reihan. Jika ditanya kenapa anak itu masih berada disini bersama kakak-kakak kelas lainnya- itu karena dia anggota organisasi SKI ( Sie Kerohanian Islam). Yang mengatur segala persiapan Maulid Nabi besok pagi.
Suara gelak tawa Reihan sempat mengalihkan atensi murid lainnya. "Yaahh sohib gue ditolak jiakhahaaahhh kasinan..."
Plak
"Bukan ditolak anying! Emang belum gue tembak!," ngegas Varo setelah puas menempleng kepala Reihan.
Ya, Varo tidak munafik untuk mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan. Dan seharusnya, sejak pertama kali ia mengajak Zoya ke tenda biru itu karena misinya- misi menembak kakak kelasnya itu. Ah, mungkin bisa dibilang sangat tidak elit berhubung perkenalan mereka masih sangat singkat. Tapi, bagaimana lagi...itu semua ide dari Reihan agar Varo segera mengatakan perasaannya.
Bukan karena alasan, Reihan menimang kalau saja sahabatnya itu kalah cepat dengan kakak kelas mereka- Hariz. Padahal, Reihan tidak tahu apa Hariz ada rasa dengan kakak kelasnya itu. Tapi, sekarang Hariz seperti boomerang.
"Tapi Rei-."
Ada jeda yang Varo biarkan sebelum suaranya kembali mengalun. "Lo yakin Kak Zoya juga suka sama gue?."
Reihan menggeleng.
"Enggak deh kayaknya."
"Anjing!."
Plak
"Omongan lo dijaga! Banyak anak alim disini,"sahut Reihan setelah menampar mulut Varo.
"Ngegas mulu dari tadi. Ada masalah?."
"Gara-gara lo mood gue buruk."
"Gara-gara gue atau mereka berdua?," balas Reihan menolehkan kepalanya kearah luar yang langsung dapat melihat Masjid. Jejak dimana Zoya dan Hariz terakhir kali ia lihat.
Varo mengembuskan napas kasar. Menunduk dalam sebelum akhirnya berucap lirih. "Kalau dibandingin sama Kak Hariz mah beda jauh sama gue, Rei."
"Jelas unggul Kak Hariz," sahut Reihan manggut-manggut dengan tampang polosnya.
"Nggak usah diperjelas!."
"Ya gue cuma ngingetin doang, kok."
Reihan menahan tawanya tak kala wajah Varo berubah masam. Ah, lucu sekali melihat sahabatnya yang baru saja mengalami masa-masa jatuh cinta itu.
"Kak Hariz sama Kak Zoya udah satu server. Lah elu kapan satu servernya?."
Pertanyaan Reihan yang tak perlu repot-repot Varo artikan maupun ia balas. Satu server, atau satu keyakinan? Sama saja.
"Jauh banget ya, Rei."
Varo kembali menundukkan kepalanya dalam. Meremat kertas warna warni itu tanpa sadar.
"Nggak usah sok merana gitu deh! Belum tentu dia suka balik."
"Omongan lo dari tadi nylekit banget tahu nggak Rei! Malah bikin mood gue berantakan!."
"Makanya nggak usah berharap lebih! Lo sama Kak Zoya bagai Langit dan Bumi, nggak bakal nyatu!."
Plak
"Terus yang suruh cepet-cepet nembak kemarin siapa, bego?!."
Lagi, kepala Reihan menjadi korbannya.
"Rumit banget hidup lo Var, pertama kalinya jatuh hati- eh malah dapet yang susah digenggam."
Sungguh, Varo ingin sekali membungkam mulut Reihan yang selalu benar itu!
Keduanya sama-sama terdiam cukup lama. Hingga suara Reihan kembali mengalun dan mendapat anggukan mantap dari Varo.
"Lo, beneran suka sama Kak Zoya?."
...)(...
Matahari mulai menampakkan wujudnya malu-malu. Bersamaan dengan itu, Shalat dhuha dimulai serentak didalam Masjid sampai diluar Masjid. Tak membutuhkan waktu lama, selesai Shalat sunah itu dilaksanakan seluruh siswa beragama islam- mereka kembali menuju aula. Tempat di mana Maulid Nabi dilaksankan.
Setelah mengurus ini itu, Zoya ikut duduk bersama ketiga sahabatnya dibagian paling belakang. Namun setelahnya netra itu sedikit membola ketika tatapnya bertemu dengan iris kelam milik Alvaro.
"Tuh anak ngapain disini?," bisik Zoya kepada Ayu yang ada disebelahnya.
Sahabat Zoya mengikuti arah pandangnya ke sebelah, tempat para anak lelaki. Dan, semuanya ikut mengernyit. Benar, kenapa dia ikut duduk disana?
"Ya, paling pengen ikut dengerin ceramah kali. Dari pada bosen di kelas," balas Lia.
"Heh! Ya nggak gitu juga. Dia kan harusnya ke ruang SKK," balas Zoya.
"Siapa tahu habis denger ceramah, sepulang ini dia masuk islam," celetuk Laila membuat Ayu dan Lia terkekeh. Namun, ada aamiin yang terucap dari hati lain.
Senyum itu melebar tak kala tatapnya kembali bertemu. Ada rasa lega didalam sana, itu artinya- Varo tidak marah dengannya kan karena kejadian kemarin?
"Biarin lah Zoy! Itu namanya toleransi, tau nggak?!."
"Nggak gini juga kali, Lai."
Atensi mereka berempat beralih kearah Varo- sedang berbicara dengan kembarannya yang baru menghampiri anak itu. Meski Zoya maupun sahabatnya tak bisa mendengar karena nyanyian hadroh yang sudah dimulai.
__ADS_1
"Ngapain sih, gue udah mager nih! Di sini aja udah."
"Jangan ngaco lo! Tempat kita bukan disini," bisik Vero yang berusaha menarik tangan kakaknya untuk berdiri.
Reihan yang ada disamping Varo mengumpat dalam hati. Lihatlah mereka, menjadi tontonan anak-anak yang duduk disekitarnya. "Jangan malu-malu in Var! Lo udah dapat bagian noh di ruang SKK,"ujar Reihan.
"Gue bilang nggak mau! Enak disini kena angin, adem."
"Goblok banget sih lo! Mau dikutuk sama Tuhan lo jadi umat durhaka, hah?!."
"Apaan dah Rei," balas Varo mengangkat kedua alisnya tanpa peduli, kembali duduk tegap kearah depan yang menampilkan anak-anak hadroh.
"Var, kasihan Bapa lo nungguin noh! Ngapain lo disini, nggak bakal ngerti juga kan? Mending ke ruang SKK- dapat ilmu lo nya. Sekalian minta ruqyah, biar otak lo waras lagi."
"Eh- tunggu, emang Bapa bisa ngeruqyah?," lanjut Reihan beralih menatap Vero.
"Berdiri atau gue tarik paksa?!," bisik Vero tepat disebelah telinga Varo yang membuat sang empu merinding.
Pada akhirnya, Zoya bisa melihat bagaimana raut kesal Varo berdiri dengan malas mengikuti Vero yang sudah berjalan didepan.
"Tuh anak ada-ada aja," gumam Zoya.
...)(...
Suara gaduh dari siswa siswi SMA itu semakin menambah hawa panas dikala matahari mulai mencapai puncaknya. Selesai sudah acara Maulid Nabi yang seharian ini digelar. Netra itu sibuk mencari sosok Kakak kelas yang kini menjadi tujuannya. Sampai atensi gadis itu teralih ketika panggilan menyerukan namanya.
"Kak Zoya!."
Zoya sedikit mengernyit, menemukan tampang penuh binar itu mengarah kepadanya. Hingga lari kecil anak itu ia bawa menuju targetnya. "Udah selesai, Kak?."
"Udah, lo ketemu Kak Hariz nggak?."
Alis Varo menukik tanda ia tak menyukai apa yang terlontar dari pertanyaan Zoya. Kenapa harua Hariz yang dicari? Kenapa tidak menanyai tentang dirinya saja? Batin Varo yang mulai ribut dengan pikiran negatifnya.
"Heh! Ditanyain juga, malah bengong."
"Ah, sorry Kak. Nggak tahu."
"Palingan udah pulang," lanjut Varo membual.
"Ngawur! Masih banyak kerjaan di sini. Nggak mungkinlah dia pulang."
"Ya udah lah biar Varo bantu. Emang mau apa cari Kak Hariz? Butuh bantuan? Bilang aja, biar Varo bantu."
"Buat kasih uang sama bingkisan ke Pak Ustadz," balas Zoya sembari mengangkat satu paper bag.
"Oh sini biar Varo aja yang kasih," balasnya dengan senyum lebar juga semangat penuh.
Zoya berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Ya udah ini kasih, Pak Ustadz nya tadi masih ke kamar mandi. Coba lo tunggu sampai beliau balik."
"Oke Kak siap laksanakan!," sahut Varo menerima bingkisan itu.
"Eh- Kak Zoya mau ke mana?."
"Ke Masjid."
Varo menatap ke pergian Zoya hingga punggung gadis itu tak lagi terlihat. Hingga beberapa menit setelahnya, ia menepuk jidatnya. Sial, kenapa dia lupa bertanya seperti apa ciri-ciri Ustadz itu?
"Gimana bisa nggak ngeh sih, Var! Bego lu."
Ya, meski Varo tidak tahu rupa Ustadz itu seperti apa. Tapi, instingnya menelusuri satu per satu orang yang ada di sana. Dan tepat netranya menangkap sosok pria paruh baya yang memakai surban. Tanpa banyak berpikir, Varo menghentikan cowok yang melintas didepannya.
"Apa?."
"Itu Pak Ustadz nya bukan?," tunjuk Varo ke arah Pria tadi yang hendak berjalan ke arah parkir.
"Iya, lo lupa atau pikun? Jelas-jelas yang ceramah ya-."
Ucapan cowok itu terpenggal kala melihat kalung salib yang menggantung dileher Varo. Wajahnya seakan mengisyaratkan keterkejutan, pantas saja cowok didepannya ini bertanya. "Eh sorry gue kira lo- ah iya pokoknya itu Ustadznya, gue duluan ya."
Varo tertawa geli melihat respon cowok seangkatannya itu. "Iya-iya, santai aja Bro!," balas Varo sedikit berteriak kala cowok itu mulai berlari kecil meninggalkannya.
Langkah Varo ia pacu ke arah Ustadz yang hampir saja membuka mobilnya kalau saja suara Varo tak menginterupsi.
"Assalamu'alaikum Ustadz."
"Wa'alaikumussalam," balas Pak Ustadz tersenyum kearah Varo.
"Iya, ada apa?."
"Maaf sebelumnya Ustadz, ini ada sedikit bingkisan dari Sekolah. Mohon diterima," balasnya sembari tersenyum.
Ustadz itu tersenyum menerima bingkisan itu. Lalu tak sengaja menangkap sesuatu yang menggantung dileher Varo. Dan- ya, sama persis seperti cowok seangkatannya tadi memberi respon. Namun, sepertinya Ustadz itu beranggapan lain.
"Kamu mu'alaf?."
"Hah, mu'alaf? Maksudnya a-apa ya Ustadz?," gugup Varo. Sungguh dia tidak tahu apa yang dimaksud Ustadz itu.
"Oh maaf saya kira kamu mu'alaf."
Varo ikut tersenyum. Dalam batin Ustadz itu, apa tidak ada murid lain yang bisa memberikan bingkisan ini? Ya yang setidaknya beragama Islam. Bukannya apa-apa, tapi lebih ke menghargai cowok didepannya ini, yang beragama non muslim. Tapi, kalau Varo saja tidak keberatan kenapa tidak?
"Ucapkan terima kasih banyak atas bingkisannya."
"Iya Ustadz."
"Kamu, benar nggak tahu apa itu mu'alaf?."
Varo menggeleng dengan senyuman khasnya.
"Kalau kamu nanti tahu apa itu mu'alaf, kamu mau...jadi salah satu golongan mu'alaf?."
Varo tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tak lama suara tawa Ustadz itu terdengar tanpa menerima balasan dari remaja didepannya.
"Nggak usah diambil pusing. Saya doakan yang terbaik."
"Kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Ustadz."
Setelah mobil Ustadz itu menjauh, Varo segera berlari menuju Masjid. Setelah kakinya itu tepat didepan batas suci, ia menimang apa harus masuk mencari sosok itu?
"Var, woy! Ngapain lo?!."
Tatap Varo bertemu dengan netra hanzel milik Reihan. Rambut dan tangan anak itu terlihat basah, sepertinya Reihan habis berwudhu. "Mau shalat? Gue ajarin yok!," celetuk Reihan yang langsung dapat delikan dari sang empu.
"Sekalian syahadat nggak apa-apa lah ya. Mumpung ada Pak Zubaid, noh. Biar anak-anak jadi saksinya."
"Your Mouth!."
Pekik tawa Reihan menggema hingga desisan dari sekitar menyuruhnya untuk diam. Banyak didalam sana yang masih melaksanakan shalat dhuhur.
__ADS_1
"Terus ngapain lo kesini?," tanya Reihan sembari mendudukkan dirinya ketangga lantai paling atas. Dan Varo masih setia berdiri disana, ujung batas suci.
"Cari Kak Zoya, ada didalam nggak?."
"Wah kalau cari Kak Zoya susah sih, beda soalnya. Cari yang lain aja, noh cari didepan sekolah kita! Banyak tuh yang sama."
Lagi, kekehan yang terdengar sangat menyebalkan itu membuat telinga Varo memanas. Sial, dia tahu maksud sahabatnya itu. Dan- tepat didepan sekolah mereka, terdapat sebuah gereja yang menjadi tempat anak-anak SKK (Sie Kerohanian Kristen) berkunjung.
"Awas besok ya, gue cingcang mulut lo!."
"Udahlah tunggu aja disitu. Gue mau shalat dulu, bye sad boy!."
Reihan melangkah ringan masuk ke dalam Masjid. Sedang Varo, raut wajahnya tak lagi terlihat kesal. Tapi, pandangannya seakan kosong. Menatap hampa kedepan, dimana gerakan demi gerakan Shalat ia amati.
"Heh! Lo ngapain disitu?."
Lamunannya kembali buyar dengan pertanyaan yang sama kembali mengalun. Detik setelahnya, binar itu kembali hidup. "Kak Zoy, udah belum? Varo mau ngomong."
"Ngomong apa?," tanya Zoya sembari berjalan menuruni tangga dan duduk ditangga terakhir. Memakai sepatunya sembari melirik sekilas Varo yang masih saja terdiam.
"Mau ngomong apa sih? Malah bengong."
"Oh ya, bingkisannya udah lo kasih kan?."
"Ah udah kok."
"Besok malam Minggu Kak Zoya sibuk nggak?."
Zoya menghentikan gerakannya yang hendak memakai kaus kaki. "Nggak ada, kenapa?."
"Mau ikut Varo ke Rumah sakit? Sama minta bantuan Kak Zoya bacain mantra buat Mama."
"Hah?! Mantra apa maksud lo!."
Zoya spontan menutup mulutnya, sadar akan pekikan itu membuat beberapa orang mengalihkan atensi padanya.
"Itu loh yang kemarin Kak Zoya bacain buat Mama. Waktu di Rumah Sakit," balas Varo ringan.
Detik itu Zoya melotot. Dengan spontan berdiri agar bisa menimpuk lengan Varo. "Itu bukan mantra Varo! Lo kok ngaco baget sih. Itu namanya ngaji, enak aja dibilang mantra."
"Hah? Iya ngaji. Maaf Varo kira kayak mantra gitu heheeheee."
"Iya, gue mau. Santai aja."
"Tapi jemput ya! Gue nggak berani naik motor ke sana. Jauh."
Varo berucap Oke dengan jari jempol terangkat.
"Tapi ikut Varo sebentar ya Kak, mampir ke Gereja. Sekalian lewat situ soalnya."
Zoya tersenyum sangat tipis. Entah, ada desir aneh ketika Varo mengucapkan satu kata itu. Gereja.
Keduanya berjalan bersama menuju parkiran. Tapi, tak lama langkah Zoya terhenti saat pertanyaan Varo kembali mengalun.
"Kak, Mu'alaf itu apa sih?."
"Ke-kenapa lo tanya gitu?."
"Ya tadi Pak Ustadz ngira kalau Varo itu Mu'alaf. Tapi Varo nggak tahu itu apa."
Zoya berdehem sebelum menjawab, dan- jawaban itu berhasil membuat tubuh Varo mematung.
"Intinya aja sih ya, lo pindah agama ke agama islam. Eemm gimana ya jelasinnya? Pokoknya lo masuk islam gitu!."
Zoya tetap melangkah pelan tanpa sadar sosok disampingnya tadi menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu nanti tahu apa itu mu'alaf, kamu mau...jadi salah satu golongan mu'alaf?."
"Nggak usah diambil pusing. Saya doakan yang terbaik."
Seketika suara Pak Ustadz itu kembali mengalun diotaknya. Zoya yang sadar ketika anak itu tak ada disamping, ia menoleh ke belakang. Dan benar, anak itu masih berdiam dengan pandangan kosong.
"Var, ayo!."
Varo tersentak, buru-buru menyusul Zoya yang sudah ada didepan.
"Kak!."
"Hm?."
"Tadi Pak Ustadz tanya, kalau Varo jadi mu'alaf Varo mau-."
"Lo jawab apa?," seloroh Zoya.
Keduanya lagi-lagi harus menghentikan langkahnya.
"Varo nggak tahu apa itu mu'alaf. Jadi ya diem aja."
"Terus....sekarang lo udah tahu kan?."
Varo mengangguk.
"Varo, harus jawab apa?."
Detak jantung Zoya merespon lebih dari seharusnya. Kenapa ia harus gugup? Ah, pertanyaan konyol apaan itu?
"Ke-kenapa lo tanya gue? Ya harusnya lo tanya diri sendiri lah."
"Kalau menurut Kak Zoya? Varo jawab iya, atau enggak?."
Zoya terdiam sejenak. Mengarahkan pandangannya ke sembarang arah. Ah, melihat mata anak itu semakin membuat detak jantung nya beratalu talu.
"Gimana Kak?.".
"Pindah agama itu enggak main-main Varo! Jadi lo nggak perlu tanya jawabannya ke gue. Tanya sama hati kecil lo sendiri!."
"Dan- gue yakin, menjawab pertanyaan itu nggak semudah membalikkan telapak tangan."
Zoya mendengus, melihat raut wajah Varo seakan berpikir sangat keras. "Nggak usah lo pikirin. Ustadz cuma lagi bercanda doang kok."
...♡♡♡...
Yuk pakai komentar berparagraf, udah tahu belum nih?
...Happy selalu Friends😊...
...Like👍...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1