BERBEDA

BERBEDA
Chap 32 (Menunggu Halal)


__ADS_3

...Sejak detik itu- apa yang telah terlontar akan menjadi sebuah Do'a yang terus aku panjatkan. Hingga kata halal berada diantara kita berdua. ...



Malam terasa sangat lama dikala pikiran itu terus menghantui. Beberapa jam lalu, dimana Semestanya seakan terbang tinggi- namun sedetik itu juga kesenangannya jatuh melebihi yang seharusnya. Masih enggan menutup ruang obrolan yang membuat perasaan bersalah juga rasa kecewanya entah untuk siapa itu terus menganggunya. Bahkan, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun mata itu enggan tertutup. Memikirkan bagaimana hari setelahnya ia harus mengahadapi satu anak itu? Dan, bagaimana ia harus menghadapi hatinya yang terus saja ia bohongi.


(Bukti Chatnya udah nggak ada. Maaf nggak aku tulis secara langsung, bingung sama kata-katanya)


Gadis itu- Zoya sekali lagi melihat riwayat obrolannya bersama Varo. Di mana setelah kemauan anak itu Zoya tolak mentah-mentah. Zoya tidak habis pikir dengan Varo yang mengungkapkan rasa sukanya lewat media juga pemaksaan anak itu untuk menjadi pacarnya. Apa apaan itu? Hanya karena Zoya berjanji akan menuruti kemauannya gara-gara taruhan tadi, dia jadi pacar seorang Alvaro yang jelas-jelas mereka berbeda. Tapi, tidak hanya itu alasan Zoya. Dia juga tidak ingin melanggar larangan Allah SWT untuk berbuat Zina. Bisa bahaya jika anggota Sie Kerohanian Islam tahu bahwa dirinya berpacaran. Karena siapa pun itu anggota SKI dilarang keras melakukan Zina terutama berpacaran.


Sedang dilain tempat, Varo mendesah kasar. Nyatanya, apa yang ia takutkan terjadi. Apa yang ia khawatirkan selama ini sudah ada didepan matanya. "Tenang Varo kalau jodoh nggak bakal ke mana," gumam Varo lantas menarik selimutnya hingga menenggelamkan seluruh tubuh anak itu.


Pagi ini, semua siswa kembali heboh dengan berita Virus Covid-19 yang katanya mulai ada di Indonesia. Dan mereka semua bebas berkomentar, karena hari ini setelah upacara selesai adalah jam kosong. Mereka hanya tinggal menunggu pengumuman hasil ulangan Semester satu yang entah kapan dibagikan.


Satu nyawa itu menggeram kesal kala jalannya dihalangi oleh satu anak yang awalnya ingin ia hindari. Namun, sialnya kenapa kelas mereka berdampingan? Kan jadi susah menghindari makhluk satu itu.


"Ck, awas gue mau lewat!."


Varo terus memamerkan senyum pepsoden. Menghalangi langkah Zoya yang ingin lewat masuk ke kelas. Hingga decakan kesal dari Zoya keluar begitu saja ketika melihat sekelilingnya terfokus kepada dua anak itu.


"Var, nggak usah bikin gue emosi!."


"Ke kantin yuk Kak! Dari pada disini bahas virus nggak jelas itu," balas Varo ringan.


"Ogah! Awas ah."


Hendak saja Zoya mendorong tubuh Varo agar menghindar, tapi urung ketika suara Fathur mengalun. Berhasil membuat detak jantung Zoya bertalu talu dengan wajah memanas.


"Ciiieeee yang baru jadian nih! Pajak pacarannya mana? Boleh lah Mie Ayamnya Mak Ser, ya nggak Var?."


"Apaan sih lo?! Nggak ada yang jadian ya! Jangan ngumbar gosip kayak emak-emak kompleks," sarkas Zoya.


Seluruh temannya yang berada disana kini bersiul menyoraki. Gara-gara mulut ibu-ibu Fathur membuat wajah Zoya memerah menahan malu dan amarah yang siap ia ledakkan kepada Varo yang masih menyengir lebar.


"Zoy, lo jadian sama Varo?."


Satu anak lagi yang membuat Zoya mengembuskan napas kasar. "Enggak Laila! Lo kayak nggak kenal mulutnya Fathur kek gimana aja. Nggak usah percaya!."


"Dan lo!," lanjut Zoya menunjuk tepat didepan wajah Varo.


"Gue rasa penjelasan semalam udah buat lo paham. Tapi, nyatanya nggak juga ya. Pergi dari sini atau gue nggak mau lagi ketemu sama lo."


"Varo paham kok. Tapi, Kak Zoya deh disini yang nggak paham. Lupa sama janjinya? Varo nggak terima penolakan loh," sahut Varo mengalun begitu tenang.


"Ck, lo tuh maunya apasih ya ampunn?!," geram Zoya sampai menarik jilbabnya kebelakang.


Varo mendekat tepat disamping telinga Zoya. Yang detik selanjutnya benar-benar membuat sang empu membeku.


"Mau nepatin janji Varo dulu. Kak Zoya udah jadi milik Varo. So, tunggu Varo seriusin kayak waktu itu Varo bilang. Tunggu delapan tahun lagi."


Entah apa yang akan Semesta torehkan kali ini. Tapi, Zoya berharap ucapan anak itu tidak seperti kelakuannya yang tidak bisa dipercaya. Hanya untuk saat ini saja, apa boleh keduanya berharap untuk Semesta restui?


Varo menjauhkan wajahnya masih mempertahankan senyum mengembang itu. Lantas kembali mengucapkan beberapa patah kata yang membuat detak jantuk Zoya kembali tak normal.


"Tunggu Varo bisa sentuh Kak Zoya dengan ikatan halal."


Semua bising yang berada disekitar itu bagaikan kaset rusak yang menganggu telinganya. Aktivitas disekitarpun terasa berjalan sangat cepat dimata Zoya. Pandangannya kosong mengikuti punggung Varo yang menghilang masuk kedalam kelas. Hingga tepukan dibahu kembali menyadarkannya.


"Zoy! Kasih gue satu modelan kayak Varo dong," ujar Laila dengan puppy eyesnya.


Zoya tersentak, menatap bergantian ketiga sahabatnya itu. Jangan bilang mereka mendengar apa yang Varo katakan.


"Lo- nggak dengar kan?," pertanyaan patah-patah Zoya itu dibalas cengiran Laila, Ayu, dan Lia.


"Sorry, kita dibelakang lo dari tadi masa iya nggak dengar," balas Ayu lantas melangkah masuk kedalam kelas diikuti Laila. Sedang Lia mengelus bahu Zoya yang sudah terduduk. Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut.


"Aarggghh gilaaa..."

__ADS_1


...)(...


Angin yang berhembus diantara keduanya itu tidak lagi terasa. Hanya ada api yang berusaha keduanya redamkan. Hingga cukup lama keduanya saling diam, suara akan penuh permohonan itu melantun yang hanya dibawa angin mengudara. Tidak ada balasan maupun respon dari lawan bicaranya.


"Gue mohon mulai sekarang nggak usah cari masalah sama Bang Juna."


Suara gesekan dedaun yang tertiup angin terdengar konstan. Kedua anak kembar itu masih enggan kembali membuka suara maupun beranjak dari taman belakang sekolah yang sudah sepi. Hingga menit berlalu membawa perintah mutlak yang berikutnya memancing emosi lawannya.


"Beresin barang lo! Balik kerumah Mama. Nggak ada bantahan!."


"Nggak bisa Var! Sampai kapanpun gue nggak bakal tinggalin Papa sendirian disana."


"Lo kira Papa anak kecil yang harus lo jagain sedang diri lo sendiri aja cuma jadi pecundang disana!."


"Alasan apapun itu lo nggak berhak bela Papa yang udah milih jalannya sendiri. Apapun itu resikonya, dia udah milih nerakanya sendiri Ver! Lo nggak seharusnya bela dia, apalagi kalau cuma alasan lo buat lindungi Papa dari Juna, kan?."


Varo menatap tajam adiknya yang kini mengalihkan wajahnya. Sangat jelas jika Vero tidak ingin semua masalahnya dibaca oleh Varo. Ya, meski Vero tahu sepandai pandainya dia menyembunyikan sesuatu pasti suatu saat nanti saudaranya itu akan mengetahuinya.


"Kenapa, gue benar kan?."


"Var! Please, masalah gue tinggal sama siapa itu biar gue yang putusin. Lo nggak usah ikut campur."


"Ohh, ternyata lo emang benar-benar pengen hubungan kita hancur ya Ver? Gue kira lo juga nggak mau pisah atap sama gue. Ternyata gue salah Ver. Lo udah berubah!."


Deretan kata itu mampu membuat hati Vero terasa disayat. Menyakitkan. Bukan, bukan itu maksud Vero. Dia juga tidak menginginkan ini semua. Tapi, keadaan yang selalu membuatnya diposisi serba salah.


Tangan Varo dicekal Vero kala anak itu ingin bangkit dengan emosi yang meledak. "Lo tahu gue nggak mungkin punya niat buruk kayak yang lo pikirin. Tapi, yang harus lo ingat Papa masih orang tua kita Var. Gue nggak mau Papa celaka ditangan manusia iblis itu. Lo boleh benci Papa, tapi jangan pernah lupain jasa beliau selama ini."


"Ck, alasan lo terlalu klise tahu nggak!."


Belum sempat anak itu bangkit kembali, suara raungan dari dalam sakunya membuat niatnya urung. Segera menggeser tombol hijau ketika nama Reihan terpampang.


"Kemana aja lo? Bolos nggak ajak-ajak," ujar Varo yang tak lepas dari pengawasan Vero.


"Ke Rumah sakit," balas Reihan diseberang sana dengan tawa kecilnya yang mampu membuat Varo ikut terkekeh.


"Alasan! Jangan bilang lo lagi holiday."


Varo ikut tersenyum kala membayangkan wajah sahabatnya itu dengan mata berbinar. Sial, sehari tidak ada hadirnya Reihan membuat Varo dan Vero kesepian sekaligus canggung. Biasanya ada Reihan yang selalu menjadi penengah diantara hening yang terasa mencekat.


Varo menoleh kala tepukan dari Vero mengintrupsi agar dia menspeaker panggilan itu. Lantas keduanya sama-sama mendengar ocehan Reihan yang seharian ini kehilangan jejaknya.


"Tangan gue rasanya kebas banget tahu nggak. Gara-gara jarumnya gede, nggak tahu apa gue takut sama jarum suntik. Sampai malu diketawain suster. Mana susternya cantik lagi."


Varo mengernyit. Ini lelucon Reihan kenapa sampai sejauh itu? Hingga otak Vero yang lebih cepat menangkap segera melontarkan pertanyaan yang detik setelahnya membuat kedua pasang bola mata itu melebar.


"Tunggu Rei, lo beneran lagi di Rumah sakit?."


"Loh, ada Vero juga. Kan udah gue bilang, gue holidaynya di Rumah sakit. Nggak percaya? Kesini aja!."


"Heh! Kalau becanda nggak usah bawa-bawa Rumah sakit lo! Kalau sakit beneran baru tahu rasa!."


"Ya ampun Varo gue mana ada bohong. Dosa!."


"Sakit apa?," tanya Varo dan Vero bersamaan. Sedang Reihan yang ada disana terkekeh. Membayangakan wajah duo twins itu yang sedang mencemaskannya.


"Sakit apa ya? Nggak tahu gue. Kalau mau tahu kesini cepat! Tapi gue nggak menerima tamu yang nggak bawa buah tangan."


"Rei, gue serius ini! Lo beneran di Rumah sakit? Kenapa? Sakit apa?."


"Sakit hati! Udah ah buruan. Sekalian bawain gue martabak, seblak, ceker setan, bakso mercon, pizza-."


"Lo sakit atau mau porotin kita hah?!," potong Varo lantas memutuskan panggilannya sepihak.


Ada jeda sebelum Varo berdiri, lantas menatap Vero yang membalas kedua netra yang masih tercetak jelas api yang ia coba sembunyikan. "Kalau gue ada masalah sama Juna itu bukan karena masalah kita. Tapi, Juna sendiri yang cari masalah sama anak Warios."


Vero menghela napas kasar. Merutuki sifat keras kepala kembarannya itu. Kemudian melangkah mengikuti Varo yang sudah berada jauh didepan.

__ADS_1


...)( ...


Lantai dingin bersama dengan aroma obat-obatan yang pertama kali menyambut keduanya. Tersenyum lebar kala tatap keduanya bertemu dengan netra sayu itu. Lantas beradu tinjuan seperti yang sering mereka lakukan.


"Loh, mana pesanan gue?," tanya Reihan melihat kedua pasang tangan anak itu tidak membawa sebarang makanan pun.


"Entar tunggu aja. Masih OTW," sahut Varo.


Ucapan Reihan yang hendak menguar itu terpotong oleh pertanyaan Vero. "BTW lo sakit apa Rei?."


"Banyak banget nih alat medis," sahut Varo mengamati tubuh Reihan yang banyak terpasang alat medis. Juga yang mencuri perhatiannya adalah selang infus yang berisi darah.


"Lo nggak sakit keras kan?."


Pertanyaan spontan Varo dibalas jitakan yang susah payah Reihan meraih puncak kepala anak itu. "Lo suka kalau gue sakit keras?!."


"Ya enggak lah! Gue sahabat yang baik ya."


"Ck, baik apaan. Kesini jenguk orang sakit aja cuma bawa badan doang."


"Rei, bisa serius?."


Reihan menghela napas pelan mendengar penuturan serius Vero. Ya, Vero lebih ke warasnya dari pada Varo yang hanya membuat Reihan suka darah tinggi dengan kelakuan anak itu.


"Kena demam berdarah aja kok. Tenang."


Varo tertawa lepas. Membuat kedua alis Reihan menukik tak suka. "Heh! Ini Rumah sakit, jangan berisik."


"Lucu aja. Ternyata nyamuk doyan sama darah lo ya."


"Gini-gina darah gue manis. Nggak kayak lo, pahit!."


"Udah sejak kapan disini?," tanya Vero.


"Udah dari minggu pagi."


"Kenapa nggak kabarin?."


"Gue nggak sempat pegang HP. Drop banget keadaan gue kemarin."


"Cielahh gaya banget bahasa lo. Drop drop segala," sahut Varo.


"Hadugh Var, pusing gue dengar suara lo! Pergi aja deh, dari pada kepala gue tambah pusing."


"Ck, ngambekan!."


Wajah pucat Reihan mengerucut. Tapi tak butuh waktu lama bibir itu melengkung keatas. "Nanti kalau gue udah keluar dari sini, kita holiday nya naik gunung yuk! Udah dari dulu pengen muncak bareng kalian."


"Setuju gue! Ajak Kak Zoya sekalian ya. Entar Vero ajak Jeslyn. Lo nya yang jadi pemandu kita berempat," celetuk Varo.


"Enak aja! Nggak ada yang boleh bawa pasangan. Ini khusus time kita bertiga!."


Cukup lama keduanya berbincang diselingi tawa pecah Varo yang lebih mendominan. Hingga petang merenggut tugas matahari mulai mengambil alih. Keduanya berpamitan kepada Ibu Reihan yang baru saja datang.


"Hati-hati dijalan. Kalau nggak ada gue disekolah jangan berantem mulu! Kalian itu saudara loh ya. Masa setiap hari kalau nggak adu mulut kurang afdol," ujar Reihan sebelum keduanya benar-benar pergi.


"Ya itu buktinya kalau kita beneran saudara. Kalau nggak berantem mulu bukan saudara namanya," sahut Varo.


"Udah ayo! Nggak pulang-pulang nanti," ujar Vero lantas menganggukkan kepala kepada Ibu Reihan. Disusul Varo hingga kedua punggung anak itu benar-benar hilang dari pandangan Reihan yang semakin sendu.


Esok hari yang menjadi awal dari rasa kehilangan untuk kedua kalinya itu kembali mereka berdua rasakan. Sungguh, pagi itu- adalah pagi yang membawa keduanya masuk kedalam lubang gelap yang menyakitkan. Padahal, baru kemarin tawa ketiganya pecah didalam ringannya obrolan. Namun, waktu kembali memutar warna secepat detik berdentang. Mengubah alur yang sudah mereka rancang hancur berantakan.


...♡♡♡...


...Like👍...


*Oh ya, yang belum tahu gara-gara prolognya aku revisi- sama banyak tanya dari kalian author ulangi lagi ya...Ini garis besar ceritanya memang aku ambil dari kisah nyata. Jadi jangan heran kalau diepisode sebelumnya ada kata-kata yang mengarah ke*bukti atau tulisan author.

__ADS_1


^^^Tertanda ^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2