BERBEDA

BERBEDA
Bab 6


__ADS_3

Malam hari nya Riri pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk mama Riyo. kebetulan Rumah Sakit nya tidak terlalu jauh dari kediaman Riri dan hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai kesana.


Sesampainya di Rumah Sakit, Riri mengambil ponsel dalam tas nya dan segera menghubungi Riyo , agar menjemputnya di Lobi Rumah Sakit.


" Yo, aku udah sampai di Lobi nii..." ucap Riri.


" Yaudah, aku segera kesana, sebentar ya." jawab Riyo.


" hmmm beneran ga ada Tery disana ?" tanya Riri agak sedikit lirih.


" Beneran Ri, ga ada Tery disini. " sambung Riyo


" oh , ya sudah lah kalau begitu. " ucap Riri sambil mematikan telepon.


Benar ternyata Tery tak ada di Rumah Sakit, karena Riri melihat chat Grup. Tery masih asik bercanda di dalam Grup.


Sesekali mereka membahas kapan mereka akan menjenguk mama Riyo.


Pintu lift terbuka, Riri melihat sosok pria yang masih mengenakan setelan yang sama dari siang tadi.


Yeaahh, siapa lagi kalau bukan Riyo.


Riyo tak sempat membawa pakaian dari rumah karena tidak terpikirkan mama nya akan di rawat inap di Rumah Sakit, dan lagi tidak mungkin Riyo meninggalkan mamanya sendirian di Rumah Sakit.


" Kamu belum mandi ?" tanya Riri.


" Belum, hehe. " jawab Riyo sambil tersenyum.


" Yaudah, kamu pulang lah dulu. Mandi, terus ambil barang barang yang di perlukan. Biar aku yang jagain mama disini. " ucap Riri.


"Serius, kamu mau jagain mama aku ?". tanya Riyo seolah tak percaya apa yang di dengarnya.


" Iya serius loh. " jawab Riri sambil tersenyum.


Mereka sampai di ruangan mama Riyo.


Riri melihat sosok wanita separuh baya tertidur di atas ranjang Rumah Sakit dengan selang infus di tangan nya.


Riri memberi salam kepada wanita separuh baya itu.


Lalu Riyo pun memperkenalkan Riri dengan mamanya.


" Ma, ini teman aku. " ucap Riyo


" Hai ma, gimana keadaan mama ?" ucap Riri sambil mencoba meraih tangan mama Riyo.


Mama Riyo tersenyum dengan wajahnya yang begitu pucat dan lemas.


" Masih pusing, badannya lemas sekali." jawab mama Riyo sambil tersenyum dengan wajahnya yang pucat.


Riri mencoba menyentuh lengan mama Riyo dan mengelusnya perlahan.


" Ma, aku pulang sebentar ya, mau mandi dan mengambil barang barang yang di perlukan. " ucap Riyo.


" Loh, terus mama sama siapa disini ? " tanya mama Riyo cemas.


" Biar mama aku yang jagain disini. " jawab Riri.


" Iya ma, mama disini dulu sama Riri ya, aku akan secepatnya kembali. " sambung Riyo.

__ADS_1


Riyo bergegas pulang. Sementara mama Riyo mencoba memejamkan mata. Sambil sesekali Riri mengelus lengan mama Riyo.


" Mama mau kemana ?" tanya Riri yang melihat mama Riyo mencoba bangun dan turun dari tempat tidurnya.


" Mau ke toilet." jawab mama sambil mencoba meraih botol infus yang bergantung.


" Sini aku bantu ma, " ucap Riri seraya mengambil botol infus dan menuntun mama Riyo ke toilet.


Saat keluar dari toilet, tiba tiba mama Riyo bilang ingin minum air hangat.


Riri mencoba membuka termos air namun sulit terbuka.


" Itu ga ada isinya." ucap mama Riyo.


" Ya sudah aku isikan sebentar ya ma keluar. " jawab Riri


Riri melihat ke kanan dan kiri mencari dimana letak botol air minum.


Lalu Riri berinisiatif mendatangi meja jaga perawat.


" Sus, tempat minum dimana ya, saya mau ambil air panas ? " tanya Riri


" Sebentar lagi air panas datang mbak. " jawab suster yang sedari tadi memainkan ponselnya.


" Sus, itu infus di kamar no. 8 sudah habis..bisa tolong di gantikan ? ". tanya Riri sambil tersenyum tipis ke arah perawat tersebut.


" Iya , nanti saya kesana menggantinya." jawab perawat itu, lagi lagi dia memandangi ponselnya.


" Sial, kalau ga dirumah sakit saja, sudah aku marahi tuh perawat.. bukannya melihat pasien malah sibuk video call. " gumam Riri kesal.


Riri kembali ke kamar mama Riyo.


Dilihat nya mama Riyo memainkan ponselnya.


" Air panassssssss, air panaasssss." ucap sesorang dari koridor Rumah Sakit.


Riri keluar dengan membawa termos air ditangannya.


" Ya ampun, ini orang teriak teriak di Rumah Sakit." batin Riri sambil mencoba membuka tutup termos air.


Namun tutup nya tak kunjung bisa dibuka.


Riri meminta bantuan seorang bapak yang juga hendak mengambil air panas. Tapi si bapak juga tidak bisa membuka tutup termos tersebut.


" Sus bisa tolong gantikan termos ini, sepertinya termos nya rusak tak bisa di buka. "ucap Riri kepada suster yang membawa air panas.


" Iya, nanti saya bawakan.. dikamar berapa ya kak ?" tanya suster


" Dikamar no.8 sus ." jawab Riri


" Ok nanti saya antar ya kak. " sambung suster tersebut.


Setibanya Riri dikamar mama Riyo, Riri mendapati Riyo yang sudah duduk sambil menyuapi buah ke mulut mamanya.


" Termos nya ga bisa dibuka, jadi aku belum bawa air panas buat mama." ucap Riri lirih.


" Yaudah ga apa Ri," jawab Riyo sambil tersenyum.


Riri berpamitan pulang, dan Riyo mengantar Riri sampai bawah.

__ADS_1


" Terima kasih ya sudah jagain mama." ucap Riyo tiba tiba.


" Tak perlu bilang terima kasih, aku jadi ga enak dengarnya. " jawab Riri sambil berlalu.


****


Sudah 3 hari mama Riyo di rawat di Rumah Sakit, namun Tery belum juga menjenguk mama Riyo.


Sementara Riri menyempatkan diri setiap hari menjenguk mama Riyo meski hanya sebentar.


Malam itu, ketika Riri sampai di Rumah Sakit, ia melihat seorang pria duduk bersama Riyo di samping ranjang dimana mama Riyo terbaring.


Kevin, yeaah dia adalah teman Riri, Riyo dan Tery. Dia mewakili teman teman yang lain untuk menjenguk mama Riyo.


" Eh Ri, kamu kesini juga ?" tanya Kevin bingung.


" Hehehe iya, kebetulan aku jenguk saudara di lantai bawah..jadi sekalian saja ku jenguk mama Riyo.." jawabnya gugup.


Mataku melirik kearah Riyo yang sedang tersenyum sambil memegang ponselnya.


" Kenapa ga bilang sih kalau ada Kevin disini..kan entar ketauan kalau aku sering kesini." batin Riri kesal.


Rasa canggung menyelimuti mereka bertiga.. Entah apa yang ada dalam otak Kevin saat itu.


Riri takut Kevin akan bilang ke Tery yang bukan bukan.


" Ah sudahlaaa toh juga aku punya alasan yang tepat kok." batin Riri.


Sesampai nya dirumah, Riri membaca pesan dari Riyo. Yang isi pesannya membuat jantung Riri berdetak dengan sedikit cepat.


" Ri, kamu mau ga jalani hubungan yang serius sama aku ?" kata Riyo dalam pesan itu.


Sontak membuat Riri terkejut.


" Ini anak kan masih pacarnya orang..iya kali dia mau jadiin aku yang kedua..terus gimana dengan perasaan Tery ??" gumam Riri masih bingung.


Riri memberanikan diri dan membalas.


" Bagaimana mungkin aku bisa jalani hubungan sama kamu, sementara kamu masih punya Tery, aku ga mau di bilang orang sebagai pelakor..Tery temen aku Yo..aku ga mau menyakitinya.." balas Riri.


Tak lama dering ponsel berbunyi, Riri melihat Riyo memanggil.


" Hallo" jawab Riri


" Aku mau kita jalani hubungan yang serius Ri." kata Riyo mengulangi ucapannya dari balik telepon.


" Aku sudah nyaman sama kamu Ri, kamu begitu memperhatikan dan memperdulikan aku, kamu jagain mama aku sementara kita belum ada hubungan spesial, sementara Tery jangankan datang buat menjenguk mama aku, memeperdulikan nya saja tidak ada..alasannya jarak antara rumahnya dan Rumah Sakit jauh.. Ri, harus berapa kali aku katakan, aku tak memiliki perasaan apapun dengan Tery..aku hanya mencoba memupuk perasaan padanya, namun perasaan itu tak pernah tumbuh Ri.." sambung Riyo panjang lebar memberi penjelasan.


" Aku belum bisa terima kamu, aku mau kamu benar benar buktikan ke aku kalau kamu sungguhan.." ucap Riri.


" Oke, aku akan menyudahi hubunganku dengan Tery.."


Setelah telepon terputus, Riri semakin bingung..Riri takut kalau Riri dianggap pelakor.


Karena bukan hanya Riyo, dulu juga pria yang dekat dengan Tery mencoba mendekati Tery, namun Riri menolak bahkan menghindar, karena Riri tak memiliki perasaan apapun dengannya dan terlebih sifat pria itu tidak baik menurut Riri.


Namun Tery begitu menyukai pria itu..hingga akhirnya Tery tau bahwa pria yang dia kagumi dan sukai, menyukai Riri, temannya sendiri.


Riri takut kejadian itu terulang lagi.

__ADS_1


Karena setelah kejadian itu membuat pertemanan Tery dan Riri renggang.


Be continue...


__ADS_2