
...Mulut bisa berdusta. Tapi, mata tak akan pernah bisa berdusta....
Pagi yang baru bagi semua murid Adi Bangsa melaksanakan ulangan akhir semester satu. Banyak siswa yang tak terlalu mementingkan hasil ulangan, melainkan libur panjang hingga menjelang tahun baru 2020 yang mereka nantikan. Detik terasa begitu konstan bagi mereka yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Namun, detik terasa sangat lamban bagi mereka yang hanya menjawab asal.
"Suutt,bagi contekannya dong Ver."
Bisikan dari Reihan disampingnya hanya dibalas lirikan. Sedang Reihan menghela napas berat. Percuma meminta bantuan anak itu, jika pada akhirnya ia akan diacuhkan. Lantas, Reihan menoleh kebelakang- di mana ada satu kembar lainnya. "Bagi contekannya dong, Var!."
Varo memutar bola mata malas. Dirinya saja sedang kesulitan sekarang. Bagaimana mau membantu anak itu?
"Gue aja jawabnya pakai batin," balas Varo lantas kembali beralih pada kertas ujiannya.
"Ayolah, gue yakin lo ketularan pinternya si Vero dikit. Masa, nggak ada yang lo bisa?."
"Nomor dua puluh lima aja deh! Susah banget tahu nggak, dari tadi nggak nemu-nemu."
"Var! Ayolah, jangan pelit," bisiknya lagi.
Detik selanjutnya Reihan terlonjak kala suara deheman keras dari belakangnya membuat anak itu lantas menunjukkan senyum lebarnya. "Eh Bapak. Lanjut ngitung lagi ya pak," ujar Reihan kemudian kembali mencoret coret kertas hitungnya.
"Kerjakan sendiri!."
Varo yang dibelakang Reihan tertawa sinis.
Setelah dua jam mereka lalui, kini ketiga anak itu berada digazebo belakang sekolah. Lebih tepatnya, Varo yang menarik Reihan dan Vero kesana. Entah, kenapa perasaannya dalam mode overtinking. Gelisah yang anak itu rasakan seakan berasal dari saudara kembarnya itu. Hingga tempat yang tak terlalu ramai inilah yang mereka bertiga pilih.
"Kenapa kemarin nggak bisa dihubungin?."
Reihan yang berada ditengah tengah saudara kembar itu menoleh bergantian. Bingung mau menyumbangkan suara seperti apa.
"Apa sekarang lo juga putusin hubungan kita?!."
Vero spontan menoleh dengan tatapan tajamnya. Juga Reihan dengan mulut juga matanya yang melebar. "Pikiran lo negatif mulu ya, Var!."
"Gue bahkan nggak ada niatan sama sekali."
"Berarti nanti ada niatan dong, buat-."
"Cukup Var! Kalau ngomong dipikir dulu. Sorry, gue kemarin lagi keluar. Jadi lupa nggak bawa HP. Baru buka tadi pagi, tahu-tahunya ada banyak panggilan dari lo."
"Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Sampai kapan pun lo tetep saudara kandung gue!."
Reihan menahan napasnya kala suara kedua nyawa itu saling bersahut sahutan. Hingga hening kembali merenggut ketiganya.
Dalam hatinya, Vero terus meminta maaf kepada Varo yang hanya bisa ia simpan. Dia bisa melewatinya, dan Vero yakin itu. Cukup Varo sakit akan kenyataan ini. Dan cukup dirinya yang merasakan dua kali lipat luka itu.
"Gimana, semua baik-baik aja kan?," tanya Varo tanpa menoleh kearah Vero.
"Baik."
"Keputusan gue masih berlaku. Kalau lo berubah pikiran, gue masih mau terima."
"Makasih," balas Vero lirih.
Sewaktu waktu, keputusan lo buat kita hidup sendiri bakal gue butuhin Bang. Kalau gue udah nyerah dan nggak kuat lagi.
"Eheemm, mending pulang sekolah nanti jalan yuk! Ke cafe yang baru buka itu loh. Mau nggak? Lumayan banyak diskon."
"Ulangan, belajar! Bukan main," balas Vero yang langsung dapat cebikan dari Reihan.
"Yaelah, belajar mulu. Gue aja udah belajar mati-matian tetep jelek nilai gue."
"Apalagi kalau nggak belajar!," sahut Vero.
Setelah itu, ada jeda diantara suara dedaun yang saling bergesekan tertiup angin. Hingga suara Varo mengalun begitu tenang, namun respon Vero melebihi ketenangan yang seharusnya.
"Gimana sama saudara tiri lo itu? Sama wanita ****** itu? Lo nggak disiksa kayak disinetron azab kan?."
Vero menelan salivanya susah payah. Ah, kenapa harus membicarakan seputar keluarga baru Genandra?
"Baik kok," balasnya setenang mungkin. Walau didalam sana, ada detak yang membuatnya sesak.
"Lo nggak bohong kan?."
"Ngapain gue bohong sih?."
"Kalau mereka ganggu lo bilang ke gue! Biar gue hajar tuh manusia iblis."
__ADS_1
"Eh- gue laper. Kantin aja yuk, kalian bahasnya terlalu berat buat gue yang stay kalem bro," sahut Reihan.
Detik setelahnya, anak itu menggeram kesal kala tangan Varo dan Vero mengusap wajahnya kasar bergantian.
...)(...
Langkah ringan itu ia bawa menuju lapangan basket. Di mana banyak Senior yang sedang melakukan pemanasan. Hingga sosok anak itu tertangkap oleh semua orang disana.
"Bisa bicara sebentar?."
Ada hening sebelum anggukan setuju dari lawan tatapnya itu ia dapat. Lantas keduanya berjalan menjauh, hingga ke tepi lapangan yang teduh. Duduk menatap banyaknya nyawa didepan sana.
"Tumben," ujar Arex menatap Vero penuh selidik.
Vero masih diam. Hingga suara Arex kembali menguar. "Butuh bantuan apa?."
"Pinjem KTP lo, bisa?."
Kedua alis Arex lantas terangkat. KTP? Untuk apa adik kelasnya itu membutuhkan KTP nya?
"Hah, buat apa?."
"Adalah, gue nggak bisa kasih tahu. Tapi, kalau lo nggak bisa gue bisa pinjam yang lain."
"Eh- boleh kok. Tapi jangan sampai hilang. Terus, jangan lo buat aneh-aneh sampai nama gue keseret! Jangan disalah gunain!."
"Iya, nggak bakal kecatat juga kok."
Arex mengangguk. Lantas berdiri, mengambil apa yang Vero butuhkan.
"Kak, jangan bilang ke siapa-siapa ya. Terutama, Varo."
...)(...
Sudah satu minggu mereka menghadapi ujian. Hingga besok adalah hari terakhir ujian akhir semester. Malam yang penuh bintang itu mengembangkan senyum Vero yang berada diteras rumah. Entah, setiap melihat gemerlap bintang- dia bisa merasakan hadirnya kedua orang tuanya diatas sana. Tersenyum begitu manis. Namun, lamunannya harus buyar ketika suara klakson menjerit diluar gerbang.
"Woy sini!," teriak si pengendara yang tak lain saudara kembarnya itu.
Langkah Vero ia bawa mendekat. Lantas membuka gerbang. "Mau apa?."
"Kenapa? Nggak boleh gue kesini ketemu adik gue sendiri?!."
"Iya, gue cuma mau kasih ini."
Varo menyerahkan paper bag. "Apa ini?."
"Makanan dari Mama. Sama oleh-oleh, Mama habis keluar kota kemarin."
Vero manggut-manggut. Sedang Varo mengamati rumah yang terlihat sepi itu. "Nggak ada orang dirumah?."
"Ada Bang Juna aja. Kalau Papa sama tante baru tadi pagi pergi keluar kota."
Varo tersenyum miring. Ternyata, Papanya itu benar-benar bukan seorang Genandra yang ia kenal dulu. "Nggak pantes wanita ****** itu lo panggil sama sebutan tante!."
"Bang-."
"APA LO BILANG?!."
Keduanya beralih kepada sosok yang melangkah cepat dengan tatapan tajam menghunus Varo. Lantas tanpa aba-aba menarik kasar kerah Varo sampai anak itu terpaksa turun dari motornya. "Sekali lagi, lo bilang apa?!."
"Vero nggak pantes panggil wanita ****** itu tante!."
BUGH
"Bang!," teriak Vero ketika satu pukulan keras itu mendarat dirahang Varo.
"BANGUN! DASAR BAJ-NG-N!."
Tangan itu kembali melayang, mendaratkan pukulan keras untuk Varo. Tapi, naas kala pukulan itu mengenai wajah Vero yang mencoba menghalau. Hingga amarah Varo sudah pada batas yang tak wajar. Dirinya bangkit, membalas satu pukulan dirahang Juna yang langsung tersungkur. Hingga Vero tak lagi bisa menghentikan keduanya yang mulai kalap akan pukulan.
Sampai beberapa tetangga datang melerai. Barulah keduanya berhenti. "Lepas anjing! Gue belum puas bikin bonyok wajah dia!," berontak Juna kala dua tangannya dipegang erat dua laki-laki.
"Tenang Mas! Kalau Mas masih ngotot pakai kekerasan, saya panggilkan Pak RT!."
Sedang Vero, menarik tangan Kakaknya itu untuk naik keatas motor. Dengan dirinya yang menyetir. "Mulai sekarang gue nggak bakalan lepasin kalian berdua anjing!."
Teriakan Juna itu mengalir begitu syahdu ditelinga Vero yang kini mulai merespon lebih dari seharusnya. Juga detaknya yang bertalu talu itu seakan memberi isyarat. Isyarat akan bahaya yang kapan saja bisa menemuinya.
"Ver! Berhenti di depan!."
__ADS_1
Laju motor itu memelan. Dipinggir jalan yang tamaram itu, keduanya terduduk ditepi trotoar. Saling bungkam hingga sesaat suara Varo mengalun. "Selama ini lo yakin dia nggak apa apain lo?."
Ada jeda sebelum Vero membalas tanpa menatap tatapan tajam Varo. "Enggak."
Tubuh itu tertarik menghadap kesamping sempurna kala tarikan dari Varo membuatnya mau tak mau menghadap. "Coba ngomong sekali lagi! Benar dia nggak berbuat kasar sama lo, selama ini?!."
Ada detak tak normal didalam sana. Bagaimana bisa Vero berbohong didepan Varo? Selama ini, Varo lah kelemahannya jika mencoba berbohong. Karena sepandai pandainya adik kembar Varo itu berbohong, pada akhirnya akan terbongkar kala berhadapan dengan sang Kakak.
Dengan satu tarikan napas Vero menggeleng. "Enggak, Bang."
Varo tertawa pelan. Tawa mengerikan yang pernah Vero dengar. "Lo nggak pernah bisa bohong sama gue, Ver."
"Iya benar, mulut lo bilang enggak. Tapi, mata lo bilang sebaliknya."
"Beneran-."
"Stop! Gue nggak mau denger alasan lo lagi. Sekarang ikut gue pulang!."
Tangan itu menarik kembali kala tarikan dari Varo tak membuatnya beranjak. "Nggak bisa Bang. Kita semua udah sepakat."
"Ver, lo itu goblok atau gimana sih?! Masih mau tinggal sama para iblis itu?!."
"Bilang sama gue, apa yang udah cowok brengsek itu lakuin sama lo?! Bilang Ver!."
Vero berdiri, menyamakan tatapan keduanya. "Udah Vero bilang berapa kali sih Bang? Kalau mereka nggak pernah buat macam-macam sama Vero."
"Dan sampai kapan lo mau bohong sama gue, Ver?!."
"Gue nggak bohong Bang!."
Tanpa mereka sadari, suara keduanya kini saling bersahutan dengan nada tinggi yang mengisi jalanan sepi itu. "Oh, sekarang lo lebih bela abang baru lo itu ketimbang gue. Iya?!."
"Ck, sampai kapan sih lo mau ngertiin apa yang gue maksud?! Jangan dikit-dikit bawa hubungan yang nggak perlu dijelasin lagi, Var!."
"Iya, gue tahu kok. Kalau lo udah punya Abang baru. Dan lebih bela dia yang bejat dari pada Abang kandung lo sendiri!."
"Cukup Var! Gue nggak pernah beda-beda in kalian berdua. Lo tetep Abang kandung gue dan dia tetap jadi Abang tiri kita. Bukan Abang gue sendiri, Var!."
"Dan sampai kapanpun gue nggak akan pernah anggap dia sebagai Abang. Meski hanya Abang tiri, Ver!."
Hening yang hanya diisi oleh tatapan penuh luka keduanya itu mengalir begitu saja. Hingga rintik hujan perlahan mulai jatuh. Ya, sampai kapanpun hujan hanya datang disaat mereka menemui luka. Seperti hari-hari yang lalu.
"Oke. Silahkan kembali kerumah baru lo! Gue nggak akan pernah lagi mohon-mohon buat lo ikut gue!."
Itulah kata terakhir yang Vero dengar. Setelahnya, hanya punggung Varo bersama motornya yang semakin jauh. Hingga hilang dari pandangannya. Bersamaan dengan jatuhnya tangis yang semakin deras.
"Maaf, Bang. Vero nggak bisa bilang. Kalau nggak, nyawa lo yang jadi taruhannya."
...)(...
Malam yang ditemani guntur itu menjadi saksi bagaimana tubuh ringkih itu menahan sakit. Pukulan dan cambukan berulangkali mengenai lapisan kulitnya. Tengah malam ini, adalah malam yang sangat ia benci. Benci akan amarahnya kepada Sang Semesta. Yang selalu punya celah agar anak kembar itu saling menyakiti. Rasa sakit dari pukulan diseluruh titik tubuhnya itu tak bisa melebihi sakit hatinya kala mengingat pertengkaran dengan Abang kandungnya itu. Yang beberapa saat lalu masih tercetak jelas diingatan. Dia- sama sekali tak punya niatan melukai Varo lebih dalam. Tapi dia juga tidak mau menyerahkan Varo kepada lelaki tak punya hati yang kini terus mengahajarnya.
"Cu-cukup Bang."
"Apa, cukup lo bilang?! Setelah saudara lo itu hina nyokab gue didepan mata gue sendiri?!."
CETAR
Sabuk kulit itu lagi dan lagi memberi luka panjang dipunggung Vero yang hanya bisa meringis. "Udah ngadu apa aja lo sama dia, hah?!."
Vero menggeleng.
"Jangan berani-berani lo bilang macam-macam ke dia! Kalau lo nggak ingat apa yang bakal gue lakuin! Jangan salah jalan, Ver!."
Sekali lagi, pukulan diperutnya menghantam begitu keras. Membuat tubuh anak itu benar-benar limbung di dinginnya lantai kamar.
"Lo udah cari mati sama gue, Varo!."
Teriakan Juna itu ternyata mendapat balasan lirih dari Vero. Yang malah membuat Juna tersenyum psyco. "Jangan ganggu Varo, Bang. Biar Vero aja, Varo jangan."
...♡♡♡...
...Boleh minta asupan poin nggak nih?😊...
...Part khusus si Kembar🥰...
...Ada yang mau disampaiin buat Bang Juna? Nanti aku sampaikan hehehe...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^