BERBEDA

BERBEDA
Chap 35 (Varo Gila!)


__ADS_3

...Menjadi Indigo itu bukan keinginan setiap orang. Dan bukan keinginanku menjadi salah satu diantara mereka. ...



Dinding-dinding usang itu seperti bernyawa ketika dua nyawa yang ada disana saling beradu pandangan yang bertolak belakang. Satu dengan tatap penuh binar, sedang lainnya dengan tatapan tidak suka. Ruangan kecil yang kini hanya ada dua orang berbeda genre itu berdominan detak jarum jam yang menunjukkan pukul delapan malam. Menjadi saksi ketegangan keduanya yang masih enggan membuka suara satu sama lain. Hingga hening panjang itu patah ketika suara dingin menguar.


"Ngapain lo disini?"


"Seharusnya Varo yang tanya. Kenapa Kak Zoya bisa ikut Bang Arex ke sini?"


"Ya bisalah," balas Zoya sembari memalingkan muka kesal.


"Emang, Kak Zoya sering lihat lomba silat bareng Bang Arex?"


"Enggak ya! Ngapain gue lihat orang pukul-pukulan, suka enggak. Ngeri iya."


"Lah terus, kenapa sekarang disini?"


Zoya berdecak, menatap sebal anak banyak tanya modelan Alvaro. "Gue nggak tahu! Arex yang bawa kesini. Terus lo ngapain sih mau-mau nya dijadiin alat Arex buat sok jago sama anak kampung sebelah? Toh kalau menang juga mggak dapat apa-apa."


"Nggak usah ikut campur! Lo diem aja."


Zoya terlonjak kala suara Arex menyahut. Menatap sekilas Arex yang memasangkan sabuk bewarna biru dipinggang Varo. "Lo ngapain ajak Kak Zoya kesini Bang?"


"Biar dibolehin keluar."


"Kalau tahunya lo ajak gue ketempat kayak gini gue ogah kali," sahut Zoya sembari mendelik tajam kearah Arex yang juga menatapnya.


"Yaudah gue bilang apa tadi? Kalau nggak suka balik aja sana!"


"Heh! Nggak bertanggung jawab banget sih jadi orang. Udah bawa gue jauh-jauh kesini juga seenaknya suruh balik sendiri. Mikir nggak sih lo kalau nggak karena gue lo nggak bakal bisa dateng ke sini?!"


Suara Arex kembali tertelan ketika pintu terbuka. Menampakkan sosok Devan disana. "Udah siap belum? Lima menit lagi giliran kita."


Arex mengangguk. Beralih menatap Zoya dengan raut wajah yang sama-sama kesal. "Apa?," sentaknya kepada Arex yang tidak lagi meladeni.


"Udah jangan berantem! Jadi pusing Varo."


"Nyesel gue," gumam Zoya.


"Ingat, jangan pakai emosi. Lo harus tenang."


"Siap Bang!"


"Ayo!"


Varo beranjak, mengikuti Arex yang sudah melanglah dahulu. Namun, langkahnya terhenti ketika satu nyawa disana masih saja diam ditempat. "Kak, ayo!"


"Kemana?"


"Nggak mau lihat?"


"Ck, enggak! Gue disini aja. Udah sono, dicariin Arex nanti," ucap Zoya sembari mengibaskan tangannya.


"Beneran?"


"Iya bawel!"


"Yaudah disini aja, jangan kemana mana nanti nyasar."


Zoya menghentakkan kaki kesal saat tubuh Varo benar-benar hilang tertelan pintu. Sangat menyebalkan. Moodnya berantakan hanya karena satu orang yang sialnya masih dalam ikatan keluarga. Jika tidak, mungkin Arex sudah mati ditangan Zoya.


"Bosen," gumam Zoya sembari mengayun ayunkan kakinya.


Sedang diluar, lebih tepatnya diatas ring- kedua orang itu saling memancarkan tatapan misterius. Hingga ketika suara lonceng dipukul, keduanya lantas memberikan serangan. Membuat sorak sorai penonton menggema diseluruh penjuru.


Keduanya masih sama-sama bertahan ketika lonceng kembali berbunyi. Pertanda ronde kesatu telah selesai.


"Var, serang kaki kiri. Itu titik kelemahannya," ujar Arex ketika Varo duduk dikursi yang Devan bawakan.

__ADS_1


"Nih minum dulu," ujar Devan memberi sebotol air putih.


"Inhaler gue Bang."


"Kenapa? Asma lo kambuh?," tanya Arex panik meski tetap memberikan benda itu.


"Enggak. Buat jaga-jaga aja," balas Varo lantas menyemprotkan obatnya kedalam mulut.


"Oke, yang penting atur napas lo. Ingat, jangan terpancing."


Varo hanya mengangguk. Beralih menatap sekeliling, banyaknya penonton disana membuat pandngannya terbatas. "Cari siapa?," tanya Devan.


"Kak Zoya beneran masih diruang ganti?"


"Udah nggak usah pikirin dia. Fokus aja," sahut Arex.


Didalam sana, Zoya mengembuskan napas kasar. Mendengar riuhnya para penonton itu membuatnya tak nyaman. Ingin melihat Varo tanding pun selalu dikalahkan oleh rasa takut. Selama ini, dia paling tidak suka melihat kekerasan seperti itu. Mungkin, trauma masa kecilnya- ketika melihat dua orang saling melempar amarah juga melampiaskan kebenda sekitar membuatnya takut akan segala bentuk kekerasan.


Kedua bola mata Arex melebar ketika lawan Varo menendang titik lemah Varo dibagian pinggul kirinya. Ya, sudah Varo katakan sebelumnya. Bahwa dia pernah punya cedera dibagian pinggul kiri akibat jatuh dari motor saat pertama kali belajar. "Sial, kenapa pas banget kena titik itu sih," ujar Arex sembari memukul pinggir ring.


"Var ayo bangkit!" Teriak Devan.


Sedang Varo, menggeram kesakitan. Meringkuk dengan tangan memegangi pinggul kirinya.


"Var bangun!," teriak Arex, sedang disana angka terus dihitung mundur.


Keputusan Zoya sudah bulat. Mendengar suara hitungan mundur itu membuat langkahnya ia pacu keluar ruangan. Membelah kerumunan yang mengelilingi ring perlombaan. Hingga matanya melebar kala melihat Varo yang meringkuk diatas sana.


"Alvaro ayo semangat! Lo pasti bisa! Semangat!"


Bibir Zoya terangkat membentuk segaris senyum dengan genggaman tangan terangkat diudara ketika Varo menangkap hadirnya. "Semangat! Ayo lo pasti bisa," teriaknya lagi. Hingga detik setelahnya, Varo perlahan bangkit tepat dihitungan ketiga.


"Lanjut?"


Varo mengangguk.  "Oke, fight!"


"Yupss, ayo Var!," teriak Arex.


"Yak Var, bagus!," teriak Arex yang bisa Zoya tangkap.


"Ck, dasar pengadu manusia," gumamnya menatap Arex sengit.


Suara yang semula riuh itu seketika teredam dengan suara yang berasal dari pengeras suara. Yang detik setelahnya membuat semua orang yang ada disana terserang panik.


"Perhatian! Semua harap keluar ke pintu gawat darurat yang sudah diberitahukan. Bahaya, polisi dalam perjalanan kesini dalam dua menit lagi. Segera meninggalkan tempat ini!"


Suara itu berhasil membuat detak jantung Zoya bertalu talu. Sial, apa yang ada dipikirannya ternyata terjadi juga. Dasar Arex! Senang sekali membawanya dalam jurang kematian. "Bukan waktunya menyesal Zoy, sekarang lo harus kemana?," monolog Zoya yang masih berdiam diri. Sedang orang-orang disana sudah berlarian kesana kemari.


"Var cepat turun!," teriak Arex.


Sedang Varo fokus memandangi puluhan orang yang ada disana. Mencari satu nyawa yang ternyata masih diam disana dengan wajah kental akan ketakutan.


"Bang lari duluan!," teriak Varo lantas berlari menuju tepian ring yang berlawanan dengan posisi Arex dan Devan.


"Lari Rex! Varo samperin Zoya itu," ujar Devan menarik tangan Arex.


"Kak, ayo!"


Zoya merasa lega, mengikuti langkah lebar Varo dari belakang. Berkali kali keduanya bertabrakan dengan orang lain. Hingga satu pintu rahasia itu tepat didepan matanya.


"Masuk Kak," ujar Varo.


Detik setelah suara Varo menguar, bunyi tembakan itu menguar begitu lancang. Membuat degup jantung yang belum sempat normal itu kembali terguncang.


"Pinjam tangannya sebentar Kak," ujar Varo lantas meraih pergelangan tangan Zoya yang langsung ia tarik.


Netra Zoya menatap tangan Varo yang menggenggamnya erat. Hingga detak lain didalam sana semakin bertalu talu.


Kedua kaki itu terus berpacu hingga mereka menemukan jalan sempit yang mengarah ke dua jalan. Varo sempat menimang, mengikuti orang-orang yang berlari kekanan atau kekiri?

__ADS_1


"Var, kemana ini?," tanya Zoya panik.


"Ke- kiri aja."


Final Varo kembali berlari tanpa melepas genggaman keduanya.


Netra Zoya menangkap langkah Varo yang sedikit terseok seok meski kaki itu terus terpacu. "Var, badan lo nggak sakit?"


"Hah, enggak apa-apa."


"Masih kuat lari kan Kak?"


Zoya mengangguk. Keduanya kembali dipertemukan dengan dua gang kecil antara kanan dan kiri. Hingga pilihan kanan lah yang akhirnya mereka pilih.


Genggaman keduanya terlepas kala Zoya menghentikan kakinya. "Udah jauh Var. Capek," ujar Zoya patah-patah. Terduduk diatas tanah dengan napas tak beraturan.


Varo mengamati sekitar, dia merasa sangat asing dengan tempat itu. Sepi, dan jauh dari tempat tadi. Sepertinya aman.


"Kak istirahat disana aja," tunjuk Varo kesebuah bangku dekat pohon pisang yang tak jauh. Tidak ada rumah warga yang bisa mereka jangkau, hanya pepohohan yang mengelilingi keduanya.


"Ahhh capek banget," keluh Zoya setelah mendaratkan tubuhnya dikursi panjang itu.


Keduanya terdiam cukup lama. Kembali mengatur napasnya hingga detak jantung salah satunya seakan berhenti detik itu juga.


Zoya menoleh ketika tangan Varo memegang erat lengannya. Hingga raut tegang Varo juga tatap kosong anak itu membuat Zoya ikut menegang. "Var lo jangan aneh-aneh," ujar Zoya sembari menggoyang lengan Varo yang langsung menoleh.


Tatap keduanya sama-sama bergerak gusar. Hingga alunan suara Varo membuat Zoya paham akan situasi sekarang. "Kak, ayat kursi bacaannya gimana?"


"Kata Reihan, ayat kursi bisa ngusir setan kan Kak?"


Zoya mengangguk kaku. "Di- di mana Var?"


"Bacain ayat kursi dulu Kak," lirih suara Varo membuat bulu kuduk Zoya semakin meremang.


"Bismillahirrahmannirrahiim," ujar Zoya dengan suara bergetar. Tangannya tanpa sadar memegang erat lengan Varo.


"Bismillahirrahmannirrahiim," sahut Varo menirukan lantunan suara Zoya meski terdengar kaku.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum."


"Hah, gimana Kak? Pelan-pelan."


"Aduh Var, udah hilang belum? Lo lihat apaan sih?"


Varo kembali menatap titik dimana sosok itu berdiri. Hingga sebuah anggukan dari Varo membalas. "Masih lihatin kita Kak."


"Hah, aduh lo nggak bisa suruh dia pergi aja apa?."


"Enggak bisa Kak. Kalau Vero bisa. Kak Zoya bawa Hp nggak? Buat VC Vero biar diusir," bisik Varo.


"Ribet amat sih lo?! Udah gue baca sendiri aja," sahut Zoya lantas menggadahkan tangan sembari menutup rapat matanya. Bergumam pelan membaca ayat kursi.


"Kak..."


"...Pocoonggg nya lompat-lompat, kabur Kaaakk!!!"


Sungguh, detik itu Zoya ingin sekali membunuh Varo. Bagaimana bisa anak itu ngacir berlari meninggalkannya seorang diri?


Dengan sisa keberaniannya, juga tubuh yang mendadak kaku- Zoya bangkit menyusul Varo yang sudah ada didepan. Tanpa sadar dia terus membaca lantang ayat kursi dengan mata yang mulai berair.


"Varo gilaaa tungguin gueee!!!"


...♡♡♡...


...Sekarang Updatenya malam ya. Sibuk sekolah offline sekarang. Sekitar jam 7 mungkin udah lulus review....


...STAY TUNE DISETIAP MALAM YAAA🤗...


^^^Tertanda^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2