
...Maklumi kalau typo bertebaran, belum sempat ngedit. Capek habis pulkam𤧠Eh-kok curhatš ...
...)(...
...Bertahan adalah kunci dikala takdir kembali memberi luka. Mungkin, ini cara Semesta mendewasakan kita yang tak pernah sejalan. ...
Malam hari setelah kedua anak kembar itu pulang dari rumah Zoya- sesaat kala Siska mengungkap semua niatnya, ternyata Semesta juga mengungkapkan takdir baru untuk mereka berdua. Ternyata, luka baru menyambut mereka malam itu. Rumah yang beberapa hari lalu mereka anggap sebagai surga, sebagai tempatnya pulang itu kembali lenyap. Seakan Semesta tak menginginkan mereka hidup bahagia.
Hal pertama yang menyambut keduanya adalah gaduh dari benda kaca yang menghantam lantai hingga menyebabkan suara nyaring dipenjuru rumah. Detak yang tak lagi normal itu memaksa mendekat kearah dua orang dewasa yang saling mengarahkan tatapan tajam penuh amarah.
"Pah, Mah ada apa sih?," suara Varo membuat dua orang itu menoleh. Menatap bergantian kedua laki-laki yang kini menatap mereka penuh tanya.
Tatapan keduanya mengamati sekeliling, piring pecah itu berserakan dilantai. Juga beberapa perabotan dapur sudah tak berada ditempatnya.
"Kami urus mereka," ujar Genandra lantas beranjak hingga tubuhnya hilang ditelan pintu kamar.
Miranti menghela napas berat, mendudukkan dirinya dikursi meja makan. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan hingga isakan itu perlahan keluar.
Varo dan Vero terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sungguh, pikiran mereka sekarang tak bisa diajak berpikir positif. Sebelumnya, kedua orang tua sambung mereka itu tidak pernah bertengkar hebat sampai semua barang menjadi pelampiasan.
"Mah, semua baik-baik aja kan?," tanya Varo masih berdiri ditempat semula. Adiknya itu mendekati Miranti, mengusap bahu Mamanya yang begetar karena isakan yang mati-matian ia tahan.
"Kalian ke kamar gih, istirahat. Mama nggak apa-apa kok, nggak usah dipikirin ya. Ini masalah kecil Mama sama Papa, kalian nggak perlu ikut campur," balas Miranti dengan suara serak.
Dalam lubuk hati Varo dan Vero yakin, kali ini bukan masalah kecil jika melihat kondisi amarah orang tuanya itu. "Mama yakin? Kalau emang masalah kecil kenapa sampai semua barang jadi pelampiasan? Ini bukan tipe kalian selesaiin masalah," sahut Varo mulai melangkah, menarik kursi disamping Miranti lantas menggenggam tangan wanita itu.
"Iya bener, cuma salah paham aja. Udah kalian masuk kamar, biar Mama beresin dulu ini."
"Nggak usah Mah. Kita berdua aja yang beresin, Mama kalau mau nenangin diri di kamar tamu aja. Nanti Varo bikinin teh hangat ya."
Miranti hanya mengangguk. "Ma, Mama boleh cerita ke kita kalau ada masalah. Jangan disimpen sendiri ya," ujar Vero.
"Iya sayang. Makasih ya."
Miranti lantas berdiri, melangkah meninggalkan keduanya yang masih menatap punggungnya.
Suara hela napas kasar dari Varo mengalihkan atensi adiknya. "Gue rasa, masalahnya nggak sepele itu."
"Gue harap nggak sebesar itu," sahut Varo menimpali.
...)(...
Pagi yang menjadi awal dari semua yang telah terlewati hari lalu bukankah harusnya dimulai dengan ketenangan juga segaris lengkung dibibir? Tapi, entah kenapa pagi dirumah itu diwarnai dengan suara lantang Genandra yang menggema. Mengusik tidur dua remaja yang masih dialam mimpi itu terbangun. Hingga sayup-sayup suara lantang itu masuk kedalam gendang telinganya sampai menusuk relungnya yang paling dalam. Detik itu, dunia keduanya kembali runtuh.
"Terserah! Sekarang, detik ini juga kita pisah!."
Setelah kalimat itu mengalun begitu lancar, disambut dengan gaduh pecahan kaca yang entah apa itu. Hingga suara teriakan Miranti kembali membuat retak keduanya.
"Oke! Kita cerai! Kamu urus semuanya!."
"Anak-anak ikut aku!."
Genandra menatap tajam kearah Miranti yang baru saja mengambil keputusan sepihak. "Nggak! Mereka akan ikut aku!."
Miranti tertawa sinis. "Aku nggak akan biarin anak-anak hidup sama laki-laki bejat kayak kamu!."
Plak
Tamparan keras itu mengalihkan etensi kedua remaja yang lantas beranjak dari tempat tidurnya. Sama-sama berhenti tak jauh dari dua orang dewasa yang kini menatap keduanya. "Beresin barang-barang kalian! Ikut Papa kerumah baru."
"Nggak, jangan dengerin omongan dia! Kalian tetap disini sama Mama!."
__ADS_1
"Hah, apa kamu mampu menghidupi mereka berdua dengan butik kamu itu?! Percuma saja kalau aku bawa ini ke jalur hukum, mereka pasti nggak akan biarin anak-anak hidup sama kamu yang nggak punya penghasilan!."
"Aku ibunya! Aku yang lebih berhak untuk mereka berdua. Dan jangan lupa, kamu itu laki-laki brengsek! Nggak mungkin pemgadilan biarin anak-anak tinggal sama kamu!."
"Percuma kamu mau bilang apa Miranti! Anak-anak tetap-."
"STOP!."
Urat- urat diwajah juga lengan Varo mulai tercetak. Menatap kedua orang dewasa itu bergantian. Lantas melangkah mendekat. "Bisakan dibicarain baik-baik, Mah Pah?."
"Nggak harus kayak gini. Apalagi bawa-bawa kata cerai," lanjut Varo.
"Udah nggak bisa Var! Papa kamu memilih wanita itu dari pada Mama. Cukup, cukup sampai disini aja," sahut Miranti yang tak lagi mengeluarkan air matanya. Ya benar, dia tidak pantas mengeluarkan air matanya itu hanya untuk lelaki seperti Genandra. Yang selama ini ia anggap sebagai seorang suami yang baik. Ternyata, Miranti salah.
"Maksud Mama?," tanya Vero lirih.
"Tanya sama Papa kamu!."
Tangan Varo terkepal kuat. Beralih meenatap Genandra yang menatap kosong kedepan. Varo bukan lagi anak kecil yang harus dijelaskan tentang arti dari setiap perkataan Mamanya. Hingga tangan anak itu menarik kerah Genandra dengan cukup kuat. Menghunus netra Genandra yang sulit ia baca.
"Bilang Pah, siapa wanita itu? Siapa wanita yang berani buat Papa kayak gini?! Siapa Pah?!."
Genandra diam. Menikmati setiap perkataan Varo juga cengkraman kuat anak itu dengan mata terpejam. Lantas membuka matanya yang langsung bersitatap dengan kedua bola mata Varo. "Maaf."
Satu kata yang benar-benar memancing emosi Varo yang hendak melayangkan tinju kepada Papanya jika saja Vero tak segera menarik tubuh Kakaknya itu menjauh.
"Udah Var! Jangan ikut emosi!," teriak Vero menahan tubuh Varo yang masih berontak.
Sedang Miranti hanya terdiam. Pandangannya tak lagi memancarkan nyawa. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Karena, apapun yang dimulai dari tangis dan luka tidak akan pernah berakhir bahagia. Jadi, cukup sampai disini. Karena pilihan Genandra adalah awal dari kehancuran hatinya.
...)( ...
Ya, benar. Jika kedua anak kembar itu memanglah berbeda. Dari segi sifat yang sama-sama tak searah. Tapi, keras kepala keduanya benar-benar tak bisa dibantah sama sekali. Hadir keduanya didunia ini pun juga bukan atas kemauan mereka. Takdir yang sudah merancang semua dengan sangat apik. Menyatukan keduanya dalam sama yang terasa berbeda. Setelah satu minggu ini melewati hari penuh drama, keduanya masih sama denganĀ egonya masing-masing. Setelah keputusan kedua orang dewasa itu berhasil membuat keduanya menjadi seperti ini. Seperti orang asing. Saling membentang jarak yang sulit terkikis.
"Gue kan udah pernah bilang kalau ada masalah lagi lo bisa bicara sama gue."
"Ya, nggak seharusnya juga sih lo cerita masalah keluarga ke gue," lanjut Zoya melirih. Karena benar, tidak harus anak itu menceritakan masalah keluarga ke orang lain. Seperti Zoya contohnya.
Varo masih memandang jauh kedepan. Entah sekarang keputusan yang dia ambil itu benar atau salah.Ā Sampai Vero tidak mau menuruti kemauannya.
"Jadi, lo berantem sama Vero gara-gara apa?."
"Bukannya kedua orang tua lo udah setuju bawa salah satu dari kalian? Bukannya itu adil?."
Varo lantas menoleh cepat kearah Zoya yang langsung menutup mulutnya. Apa pernyataannya salah?
"Bagi Varo nggak! Dari dulu, kita berdua nggak pernah tinggal pisah satu sama lain. Dan sampai kapanpun Varo nggak mau pisah sama satu-satunyaĀ keluarga Varo," jelasnya menekan setiap kata.
"Sorry," lirih Zoya. Ah, benar. Tidak semudah itu memisahkan kedua nyawa yang selama ini hidup bersama. Bahkan sejak dalam kandungan.
"Vero nggak mau Varo ajak tinggal bareng. Ngekos kayak waktu itu. Dia lebih milih tinggal sama Papa."
Zoya hanya diam. Memberi tuntutan dari tatapannya agar Varo kembali melanjutkan. "Kata Vero, kita masih butuh mereka. Dia nggak mau ngecewain mereka berdua kalau kita malah lebih milih tinggal sendiri."
"Tapi, Varo nggak setuju. Varo nggak mau tinggal pisah sama Vero. Apalagi, Vero bakal tinggal bareng sama keluarga baru Papa."
Anak itu menghela napas berat. Sungguh rencana Semesta yang sangat mulus. Dalam hitungan waktu saja keluarganya yangĀ baru membaik kembali hancur sehancur hancurnya. Hingga mustahil mengembalikan keadaan seperti semula.
"Var, gue nggak tahu mau kasih saran apa. Gue nggak mau berpihak di salah satu dari kalian, tapi- gue harap keputusan kalian berdua nggak akan bikin hubungan adik dan kakak hancur. Cukup hubungan kedua orang tua lo aja, lo sama Vero jangan."
Varo terdiam. Mencerna kata demi kata yang dilontarkan Zoya. Sungguh, didalam lubuh hati Varo yang paling dalam- dia masih belum bisa menerima ini semua. Semuanya terlalu cepat. Hingga pikirannya saja tak mampu mencerna semua ini.
"Var, yang kuat ya."
__ADS_1
...)( ...
Sudah dua hari dia tinggal dirumah yang masih asing baginya. Dan dua hari itu mentalnya perlahan diuji. Kala laki-laki yang harus dia panggil dengan sebutan Abang itu mulai memberinya hadiah. Hadiah yang tak seindah seharusnya. Tapi, Vero sangat bersyukur bukan Varo yang mendapatkan hadiah itu. Karena, dia tidak ingin Kakaknya itu kembali terluka. Biar dia yang menebus dosanya yang membuat Varo selama ini menderita karena selalu dibanding bandingkan oleh Miranti dan Genandra dulu.
Vero juga sangat bersyukur kala keputusan Papa memilihnya untuk ikut dengannya. Kalau saja bukan dia yang tinggal bersama Papa sekarang, mungkin Varo akan mengalami siksaan ini. Hadiah dari orang yang baru saja masuk kedalam hidup Papanya. Yang membuat Genandra lalai akan janji sucinya bersama Miranti.
"Dasar nggak becus! Udah gue bilangkan nggak usah pulang kalau nggak bawa minuman yang gue suruh beli, bego!," teriaknya begitu lantang. Sedang anak itu masih diam, menikmati setiap dinginnya air yang menusuk sampai ketulangnya.
"Jawab! Punya mulut nggak sih lo?!."
Tangan kekar itu menarik rambut yang sudah basah kuyup hingga sang empu meringis. Menghunus kedua bola mata yang tak berdosa itu. Andai anak itu bisa melawan, dia akan melawannya sedari awal. Tapi apalah daya jika dirinya saja hanya secuil dari laki-laki didepannya ini.
"Udah berani bantah gue, ya?!," lirih suara itu penuh penekanan.
"Gue masih dibawah umur Bang. Nggak bisa beli minuman keras kayak yang Abang suruh."
"Halah, alasan! Kenapa nggak bilang aja umur lo udah diatas tujuh belas?!."
"Nggak bisa Bang. Harus tunjukin KTP juga. Kenapa nggak beli sendiri aja Bang?."
Ternyata, balasan darinya malah membuat laki-laki itu terpancing. Hingga kepala adik tirinya itu yang menjadi sasaran amarahnya. Membenturkannya ke dinding belakang. Hingga erangan kesakitan itu keluar dari sang empu.
"Mampu! Gue nggak mau tahu, lo harus bisa beli minuman itu buat gue! Kalau nggak, lo tahu akibatnya!."
Laki-laki itu lantas berdiri, melangkah keluar dari kamar mandi dengan bantingan pintu yang semakin membuat dengung ditelinga anak itu menjadi.
"Var, tolongin gue."
Setelah lirih kata itu hanya gelap yang ia temui. Hening yang terasa menenangkan kembali menjemputnya setelah kemarin Kakak tirinya melakukan hal serupa.
"Juna, kamu ngapain dikamar Vero?," tanya wanita itu yang melihat putra satu-satunya keluar dari kamar anak tirinya.
Juna tersenyum mendekat kearah sang ibu yang seperti hendak masuk kedalam kamarnya yang tepat berseberangan dengan kamar Vero.
"Cuma ngecek aja Mah, udah tidur atau belum dia. Mau aku ajakin main game, eh- malah udah molor duluan."
Wanita itu tersenyum hangat. Menyerahkan segelas susu yang mendapat tatapan tak suka dari Juna. "Ck, kan udah aku bilang Mah. Juna udah gede, udah duduk dibangku kuliah. Nggak perlu minum susu lagi."
"Mau udah kuliah kek, mau udah nikah yang penting susu itu masih tubuh kamu butuhkan Juna."
"Lebay amat sih Mah. Juna nggak bakal mati jugakan kalau nggak minum susu?!."
"Hustt nggak boleh ngomong gitu!."
"Yaudah kalau nggak mau buat Vero aja," lanjutnya.
"Eh- nggak usah Mah! Vero kan udah tidur, sini biar Juna aja yang minum."
Lebih baik meminumnya dari pada Sang Mama tahu kalau dia berbohong. Setelah mengembalikan gelas kosong itu, Sang Mama lantas turun meninggalkannya yang masih setia berdiri disana. Dengan senyum miring menatap pintu kamar, sedang didalamnya ada nyawa yang terpejam. Ditemani peluk dingin lantai kamar mandi yang mulai sekarang akan menjadi temannya. Entah sampai kapan.
Dia, Arjuna wiyasakti. Putra dari wanita bernama Anggraini itu akan mulai memberi cerita baru dalam kehidupan yang telah takdir goreskan.
Sedang dilain tempat, Varo membanting gawainya kesal. Sudah banyak sekali pesan dan panggilan yang ia kirim untuk saudara kembarnya itu. Namun, tak ada balasan sama sekali. Hanya suara operator wanita yang berulangkali membalas. Sejak Vero pindah, dan keduanya tak lagi seatap- adiknya itu sulit sekali dihubungi. Tapi sesulit apapun Varo menghubingi Vero, tidak pernah sampai seperti ini. Dan cemas akan hal yang tak Varo ketahui itu tiba-tiba menghampirinya.
"Lo kemana sih, Ver?."
...ā”ā”ā”...
...Likeš...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^