BERBEDA

BERBEDA
Chap 52 (Henti Jantung)


__ADS_3

...Salah satu ketakutan terbesarku adalah, melihat bagaimana dada itu tak lagi bergerak naik turun...



Wajah laki-laki itu kentara penat. Semalaman memantau para pasien membuatnya cukup kelelahan. Belum lagi menjadi asisten Dokter pembimbingnya yang melakukan operasi selama lima jam penuh itu berhasil menguras habis tenaganya. Ya, memang resikonya sebagai seorang Dokter yang harus siap kapan pun pasien datang dengan segala situasi darurat. Sampai pukul tujuh pagi ini barulah laki-laki bernama Alvero genandra itu keluar dari gedung persakitan.


Tepat saat ia menginjak rem, suara hantaman yang begitu keras masuk kedalam rungunya. Membuat tubuhnya sedikit terkejut bersama detak yang berpacu cepat.


"Ada apa?" gumamnya mencoba melihat jalan yang ada didepannya.


Entah kenapa, perasaannya menjadi tak tenang kala mendengar suara jeritan yang saling menyahut. Tangan itu refleks membuka pintu, lantas membawa tungkainya melewati beberapa mobil yang terhenti. Hanya satu yang bisa ia simpulkan, bahwa didepan sana telah terjadi sebuah kecelakaan.


Dan, yups! Ketika kedua netra itu melihat jelas bagaimana satu mobil dan truk berhenti di tengah-tengah yang membuat empat arah jalan harus terhenti. Namun, belum sempat keterkejutannya reda melihat bagaimana kerusakan kedua kendaraan itu- kedua bambinya menangkap sosok tak asing yang berada didalam mobil dengan pintu terbuka itu.


Tubuhnya seakan membeku, bahkan kakinya terasa lemas. Perlahan namun pasti, kedua kakinya ia bawa mendekati mobil yang sudah remuk parah dibagian depannya. Tanpa peduli suara orang-orang yang melarangnya mendekat.


Kepalanya menggeleng patah-patah kala tubuhnya berhenti tepat didepan laki-laki yang memiliki wajah sama dengannya itu.


Yeah, dia Alvaro genandra- dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya itu masih sadarkan diri. Ia tahu, bahwa disampingnya kini ada saudaranya yang terdiam. Melihat jelas bagaimana raut Vero yang terlihat begitu kalut. Sedang dirinya hanya bisa pasrah saat napasnya semakin memberat. Tersengal sengal persis seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air. Hingga detik setelahnya, ia menangkap Vero yang berlari cepat meninggalkannya yang masih berusaha menghirup oksigen rakus. Sesak yang ia rasakan sekarang melebihi penyakit asma yang selama ini ia alami. Sungguh, rasanya oksigen benar-benar menghilang dari jangkauannya.


Tak butuh waktu lama Vero kembali dengan membawa kotak P3K yang lumayan besar. Orang-orang sekitar masih saja meneriakinya agar menjauh dari sana. Karena polisi akan segera datang. Tapi dia seakan menulikan telinganya, tanpa perintah dari siapapun-Vero segera mengangkat tubuh Kakaknya itu dengan hati-hati. Meletakkan Varo yang terlihat kesusahan menghirup oksigen diatas aspal jalanan. Ia lantas membuka kotak P3K dengan tangannya yang gemetar hebat.


"Tenang. Jangan panik, " ujar Vero sembari memasang oksigen portabel hingga menutupi hidung dan mulut Varo.


"Ver...ma-af."


"Diam. Jangan bicara."


Sudut mata Varo berair, berbeda dengan sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman yang malah membuat dada Vero seperti diremas tangan tak kasat mata. Sakit.


Vero tak sadar ketika beberapa orang perlahan mendekat, menyaksikan apa yang ia lakukan dengan nekatnya ditengah jalan seperti ini. Dan tidak merasa takut sama sekali. Hingga sosok perempuan paruh baya mendekat sembari mengambil alih oksigen yang semula Vero pegang.


"Biar saya bantu."


"Saya perawat," lanjut perempuan itu yang mengerti akan tatapan tanya Vero.


"Terima kasih."


Vero segera membuka jaz yang masih melekat ditubuh Varo dengan cekatan meski tangannya benar-benar gemetar. Bahkan perawat itu bisa menyadarinya.


Saat melihat wajah kedua orang didepannya ini sama persis, barulah perawat itu memahami. "Tenang, jangan gugup. Dia akan baik-baik saja. Lakukan tugas mu sebagai seorang dokter," ujarnya memberi seulas senyum kepada Vero.


Vero mengangguk. Ketika mendapati memar dibagian dada Varo- detik itu ia memahami apa yang sedang saudaranya alami.


"Tension pneumothorax," ujar Vero menatap perawat itu.


Wajah perawat itu seketika menegang, melihat wajah Varo yang semakin membiru juga dengan napas yang masih tersengal sengal. "Apa kau akan melakukannya? Disini?" tanya panik perawat itu kala mendapati Vero mengambil jarum yang cukup besar dari dalam kotak P3K.


"Kalau tidak sekarang dia bakal mati."


"Tapi-"


"Aku yang akan bertanggung jawab," seloroh Vero sembari mengulas dada Varo dengan alkohol.


"Hei jangan tutup matamu. Tetap sadar! Ini akan sedikit sakit, tolong bertahan," ujar perawat itu menepuk nepuk pipi Varo. Kedua netra Varo kembali mengerjap pelan meski rasa kantuk yang menyerangnya teramat sangat menyiksa.


"Kau yakin?"


Vero mengangguk. Menatap dalam manik sayu Varo yang juga menatapanya. "Kau kuat. Tahan! Ini sedikit sakit," ujar Vero kemudian.


Varo mengangguk lemah.


"Tahan," ujar Vero memberi intruksi kepada perawat itu yang langsung menahan tubuh atas dan juga tangan Varo.


Jleb!


Tepat ketika jarum itu menancap dibagian tulang rusuk Varo- sang empu mengerang. Membuat beberapa orang yang ada disana merasakan ngilu akibat erangan itu. Dan tepat setelahnya suara sirine ambulan dan juga polisi memekakkan telinga.


"Teruskan!"


Vero mengangguk, menerima uluran slang dada (Chest tuba) dari perawat itu. Memasukkannya diantara garis aksilaris anterior dan midaksilaris. Sementara itu para polisi membubarkan kerumunan yang mengelilingi mereka, sedang para petugas medis mulai memindahkan para korban termasuk Galih kedalam ambulans. Terkecuali Varo yang masih ditangani.

__ADS_1


"Kau melakukam needle thoracocentesis?" tanya laki-laki petugas medis dengan raut tak percaya.


Needle thoracocentesis adalah upaya mengeluarkan udara yang terjebak didalam rongga dada bisa keluar, agar pasien tidak kesulitan bernapas. Jika pertolongan pertama ini tidak dilakukan, pasien bisa mengembuskan napas terakhirnya dalam dua atau lima menit setelah mengalami sesak napas.


Bukannya menjawab, Vero menempelkan stetoskopnya kedada Varo. Mengecek pernapasan sang Kakak yang masih terdengar lemah.


"Hey buka matamu," ujar perawat yang membuat Vero mengalihkan atensinya.


"Dia tidak sadarkan diri."


"Ayo cepat, bawa ke rumah sakit!"


Beberapa tenaga medis itu memindahkan tubuh Varo keatas tandu. "Kau hebat," ujar perawat menampilkan senyum manisnya.


"Dia akan baik-baik saja."


"Terima kasih atas bantuanmu."


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai manusia dan perawat."


"Ikutlah dengan mereka. Dia masih membutuhkanmu."


Vero mengangguk, segera menyusul Varo kedalam ambulans. Detak jantungnya masih saja berdetak tak karuan kala melihat napas Varo yang semakin menurun. Dalam perjalanan kerumah sakit, Vero berusaha menghentikan pendarahan dikepala Kakaknya. Mengambil alih tugas medis yang masih bertanya tanya.


"Apa kau seorang Dokter?!"


"Hei jawab pertanyaanku! Anda sudah lancang sekali melakukan needle thoracocentesis sembarangan seperti tadi. Bagaimana kalau-"


"Dia bisa mati kalau aku tidak melakukan itu! Dan ya, aku dokter! Dia Kakakku! Aku yang akan  bertanggung jawab. Jadi diamlah!"


...)(...


Angel bergerak gelisah kesana kemari, sudah satu jam lebih dari waktu yang ditetapkan. Namun dua orang yang ditunggu tunggu sedari tadi tidak nampak hidung batangnya. Tiga orang yang menunggu sedari satu jam lalu sudah menampakkan raut bosan. Sampai salah satu diantara mereka berdiri. Menatap kesal Zafir yang duduk menemani mereka sedari tadi.


"Ternyata Tuan Al tidak sebaik yang saya dengar, ya. Tidak menghargai waktu sama sekali. Kalau begini, batalkan saja kontraknya. Membuang waktu saya saja."


Zafir ikut berdiri. Menahan tiga orang itu agar mendengar penjelasannya lebih dulu. Dan beruntungnya Angel masuk kedalam ruangan itu. "Mohon maaf Tuan-tuan, mungkin kita bisa membahasnya lain waktu."


Telak. Angel dan Zafir hanya bisa menghela napas pasrah. Membiarkan ketiga pria itu keluar. "Udah kamu telpon Tuan Galih?"


"Udah Zafir. Tapi, nggak aktif."


"Terus Tuan Al?"


"Mana ada sih yang punya nomornya Tuan Al?"


"Kenapa nggak minta Bu Manager?"


"Lupa nggak nyimpan waktu dikasih kartu namanya. Kecuci lagi kartunya."


"Tck, kalau kayak gini kan jadi ribet ah!"


"Ada apa nih?"


Angel dan Zafir sama-sama menoleh kesumber suara. Menangkap wajah Zoya yang menyembul dibalik pintu.


"Gagal meeting. Tuan Al nggak bisa dikabarin," balas Angel.


Zoya mengernyit. Detik itu, perasaannya terasa mengganjal.


Sedang dirumah sakit, Alvero genandra itu menelungkupkan kepalanya diantara celah kedua kaki. Tangannya meremas rambut tanpa peduli darah yang masih menempel mengotori rambutnya.


"Al, kamu ngapain balik la-"


Kedua mata biru itu membola menyadari bercak darah yang menghiasi baju dan tangan sahabatnya itu.


"Astaga, ini da-darah siapa?!"


Tanya Javion andendra, sahabat Vero yang juga seorang Dokter Koas. Sang empu hanya bisa menggeleng pelan. Sorot matanya terlihat kosong. Membuat Javion semakin bertanya tanya apa yang sedang terjadi.


"Siapa yang didalam?"

__ADS_1


Lampu operasi masih bewarna hijau. Pertanyaan yang dilayangkan itu mendatat tatapan sendu dari Vero.


"Bu-bukan tante Miranti, kan?" tanya Javion gugup.


Vero seakan sadar akan sesuatu. Miranti? Bagaimana dengan wanita itu? Apa ia harus memberitahu keadaan saudaranya pada Sang Mama?


"Hei jawab Ver!" tekan Javion mengguncang bahu Vero.


"Bukan."


"Terus?!"


Dering telepon dari dalam saku Vero mengalihkan atensi keduanya. Hingga nama Mama lah yang pertama kali Vero lihat dilayar pipih itu.


Tangannya gemetar mengangkat telepon itu sampai suara khawatir Miranti yang pertama kali ia dengar.


"Vero kamu dimana? Kamu baik-baik aja, kan? Kenapa belum pulang, bukannya udah selesai ya koasnya?"


Suara isak tangis yang sedari tadi tertahan berhasil lolos. Bening buliran itu mendobrak pertahanan yang ia pertahankan tanpa henti. Javion yang melihat untuk pertama kalinya sang sahabat menumpahkam air mata itu tercengang tanpa tahu harus berbuat apa.


"Vero kamu nangis?"


"Kenapa sayang?  Kamu baik-baik aja,kan? Jawab Vero! Ada yang sakit, hm?! Kamu dimana sekarang?"


"Ma..hikss.."


"Nak-"


"Varo, Ma..."


Disana, tubuh Miranti tertegun. Mendengar nama yang sudah lama tak ia dengar maupun sebut itu berhasil membuat detaknya seakan berhenti. Juga mendengar isak tangis pilu diseberang telepon berhasil membuat perasaan tak nyaman itu kembali hadir. Ada apa?


Pintu ruang operasi itu terbuka, menampakkan dua perawat yang keluar mengambil langkah cepat melewati kedua laki-laki yang menatap bingung.


"Suster ada apa?" tanya Vero menahan lengan suster yang terakhir keluar. Mengabaikan presensi Miranti yang masih mendengar obrolan mereka.


"Mau ambil stok darah, pasien kehilangan banyak darah sekarang. Stok didalam sudah habis."


Setelah membalas, Suster itu kembali berlari menyusul Suster yang sudah hilang dipangkas jarak.


"Vero!" teriak Javion kala Vero menerobos masuk kedalam.


Wanita dengan pakaian anggunnya yang terlihat awet muda itu menjatuhkan ponsel yang semula menepel ditelinganya. Menatap kosong kedepan bersama pikiran-pikiran negatif yang mulai muncul. Namun, nalurinya membawa Miranti beranjak mengambil kunci mobil dan tas yang ada diatas nakas.


Semua mata yang ada diruang operasi menatap Vero yang main masuk kedalam. Dokter yang mengenalnya mendekati sosok Vero yang terdiam ditempatnya.


"Keluar lah. Biar kami yang tangani," ujar Dokter Rizqy yang notabenya adalah Dokter pembimbing Vero.


Suara dari alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi nyaring. Menunjukkan garis yang perlahan semakin lurus, tidak menunjukkan lengkungan yang seharusnya.


"Dokter pasien mengalami henti jantung."


...♡♡♡...


...Dari dulu bingung mau pakai cast siapa, kalau pakai cast nya Dinda haw sebagai Zoya dan Rey mbayang sebagai si Kembar cocok nggak menurut kalian?...








^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^

__ADS_1


__ADS_2