
...Kenapa Semesta selalu merencanakan sesuatu diluar kehendak kita? Kenapa Semesta selalu punya teka-teki yang suatu saat nanti menemui puzle nya? Iya, karena seperti itulah kerja alam Semesta. Penuh dengan rahasia....
Warna orange mulai mengintip diufuk Barat. Menyaksikan riuh kegiatan yang sedari pagi tadi tak ada hentinya. Kini, setelah pameran selesai...Zoya dan Lia mulai sibuk dengan pendataan calon pramuka inti baru. Hampir dua jam lamanya ia harus tertahan di Camp Pramuka ini. Ternyata peminat menjadi pramuka inti lumayan banyak. Hingga detik membawa sepasang tangan itu bergerak cepat membersihkan semua yang ada diatas meja setelah bel pulang berbunyi.
"Loh kok diberesin Zoy, nggak nunggu sampai jam lima-an?," ujar Lia.
"Nggak usah. Besok lagi aja kalau ada yang mau daftar, gue ada urusan."
Belum sempat Lia membalas ucapan Zoya, kini suara baru merayap diantara keduanya. Memecah fokus Zoya yang mulai buyar.
"Jangan diberesin dulu Kak, saya mau daftar."
Senyum itu, masih sama. Senyum yang selalu ia tunjukkan. Senyuman yang berhasil menyembunyikan segudang luka.
"Mau daftar?," tanya Lia dibalas anggukan.
Zoya yang masih diam membuat Lia mengambil alih tas yang semula dipegang sahabatnya itu. Lalu kembali mengambil buku calon anggota baru.
"Nama?."
"Alvaro sama Alvero."
Ditengah canggung yang tiba-tiba menyapa Zoya, suara familiar itu kembali mengisi hening diruang itu. Namun, setelah penuturannya...bukan tenang yang Zoya rasakan. Melainkan badai yang siap menghancurkannya.
"Kak, udah lihat belum kertas votingnya tadi?," ujar Varo tersenyum penuh arti.
"Kenapa?," balas Zoya penuh selidik. Entah kenapa, senyuman Varo berhasil membuat pikiran negatif kembali memenuhi otaknya.
"Belum lihat punya Varo, ya?."
"Emang ada apa?."
"Ada sesuatu."
Setelah balasan yang cukup membuat detak Zoya tak beraturan, sosok itu beranjak pergi sebelum membisikkan kata kepada Zoya. Janji yang harus mereka tepati. Tenda biru.
Tanpa berlama lama, Zoya berlari meninggalkan Lia yang meneriakinya. Sekarang, hanya ada satu dipikiran gadis itu...Isi dari voting yang Varo tulis. Gawat, dia tahu sifat Varo seperti apa meski baru mengenalnya.
Sesampai kaki Zoya menginjak dilantai kelas, juga matanya yang melebar detik itu. Pasalnya, semua kertas voting sudah berada diatas meja bersama tangan tangan yang mulai bergerak aktif membukanya. Sial.
"Eh Zoy-."
Belum sempat Laila melanjutkan ucapannya, Zoya sudah menghambur dengan tangan dan mata yang fokus mencari namanya. Semoga, teman-teman nya belum menemukan voting milik, dia.
"Lo cari apa sih?."
Detik berlalu tak ada balasan dari Zoya. Hingga suara Laila kembali meyambar, dan berhasil mematahkan tenang yang ia coba mati matian.
"Nih punya lo semua. Banyak yang vote lukisan lo, sama si Indri juga."
Tatap Zoya bertemu dengan sekumpulan kertas itu yang terpisah dari lainnya. "Lo nggak baca tulisan yang aneh, kan?," tanya Zoya sembari mengacak kertas-kertas itu.
"Aneh gimana maksudnya?."
"Yaudah kalau nggak ada."
Menit berlalu masih tak menemukan Vote yang bertuliskan nama Varo. Hingga Zoya kembali mengacak kertas yang masih dipilah oleh teman-temannya.
"Lo itu cari apa sih, Zoy?!."
"Ini udah gue pisah-pisahin main lo berantakin!."
Suara cempreng Laila saat ini tak perlu Zoya balas. Ada hal yang lebih penting dari itu. Dan, yah. Detik setelahnya membawa Zoya pada nama yang sedari tadi ia cari.
"Nah, udah ya gue pulang dulu," teriak Zoya beranjak meninggalkan mereka yang ada disana.
Kini kaki Zoya berpijak dilantai dingin kamar mandi. Mengamati lamat-lamat kertas yang berada ditangnnya itu, hingga detik demi detik membuat tangannya meremas kertas itu perlahan. Bersama getar aneh didadanya.
Nama : Alvaro
Vote lukisan : Beautiful girl
Karya : Zoya Prameswari
Kritik/Saran : Gambarnya cantik, kayak orangnya^_^
(Maaf kata Zoya buktinya udah dibuang, selebihnya seperti itu ya tulisan yang diingat)
...)( ...
"Nunggu lama, ya?."
"Enggak, baru aja."
Keduanya sejenak saling diam. Sebelum sepasang langkah kaki mendahului, mengambil duduk dibagian depan tenda yang terlihat lenggang.
__ADS_1
Pertanyaan yang sudah Zoya rancang sedemikian rupa akhirnya lenyap seketika. Sesaat setelah suara pria paruh baya itu merayap diantara hening yang mereka biarkan.
"Misi Mas, Mbak...mau pesan apa?."
"Saya es teh aja Pak," balas Zoya lalu beralih menatap Varo, memberi isyarat untuk memesan sesuatu.
"Emm saya juga Pak."
"Loh ini Mas yang kemarin hujan-hujan disini kan?."
Varo hanya membalas dengan senyuman. Sedang Zoya, kembali memutar ingatan yang sempat membuat pikirannya kacau. Hingga membayangkan bagaimana sosok Varo menunggunya saat hujan ditenda ini.
"Ohh ini temannya yang ditunggu itu?."
"Ekhhmm iya Pak," balas Varo sembari menatap Zoya bersama senyum lebarnya.
Setelahnya Pria paruh baya itu kembali kedalam. Kini, hening kembali menyapa keduanya. Sampai suara tegas Zoya menguar bersama desis angin sore yang mulai menusuk.
"Gue nggak mau banyak tanya. Lo tahu kan apa yang harus lo jelasin?."
Varo menarik napas dalam, sebelum akhirnya membuka suara. "Gimana ya Kak jelasinnya?."
"Kak Zoya tanya aja deh yang mau Kakak tahu,"pasrah Varo setelah lama berdiam.
Satu hela napas kasar berhasil lolos dari bibir Zoya.
"Lo, kenapa kabur dari rumah? Terus sekarang tinggal dimana?."
"Varo cuma pengen buat mereka sadar aja. Kalau sekarang Varo tinggal dikosan."
"Terus Vero?."
"Dia juga ikut kok."
Sore itu, sore yang tak pernah Zoya bayangkan. Dan sampai kapan pun, pertemuan hingga mengenal sosok yang ada dihadapannya sekarang tidak pernah ia sangka. Bisa akrab dengan lawan jenis selama ini tidak pernah ia rasakan. Dan, hadirnya membuat semua itu terpatahkan.
"Sampai kapan lo kabur? Mereka tahu kalau lo kabur dari rumah? Terus, lo nggak mikirin gitu kosekuensi apa yang bakal lo dapat cuma buat kabur dari rumah?."
"Lo kan tahu Var, kalian disini itu orang baru. Enggak punya saudara juga kan?."
Varo terkekeh sebelum membalas ucapan Zoya. "Udah, udah Varo pikirin semuanya. Kalau nggak sesuai ekspetasi ya udah. Gitu aja."
Dengan entengnya ia berbicara.
"Gue nggak setuju lo keluar dari rumah."
"Pede banget lo!."
"Ngomong-ngomong tadi lukisannya cantik loh kak."
Varo terkikik geli tak kala tatapan Zoya berubah tajam. Semua berjalan seperti seharusnya, tanpa mereka sadari...ada Semesta yang sedang melaksanakan tugasnya. Disana, dibawah rintik hujan yang selalu menyapa....ada sosok yang terus memanggili kedua anak kembar itu. Hingga perlahan, dunianya ditarik secara paksa kedalam hening yang terasa menenangkan. Hanya gelap yang ia temui.
"Lo, kenapa?."
Varo terhenyak, bola matanya bergerak gelisah. Entah kenapa seperti ada yang memanggilinya tadi. Tapi, siapa?
"Jangan ngelamun," lanjut Zoya kemudian.
Anak itu hanya mengangguk sekilas, sebelum kesadarannya kembali direnggut oleh suara nyaring gawainya.
Dahi Varo mengernyit, menemukan nomor Vero dalam panggilan. Pasalnya, selama ini anak itu jarang sekali menelpon...bahkan bertukar kabar melalu chatting itu tidak pernah mereka lakukan.
"Siapa? Kenapa nggak diangkat?."
"Ahh iya ini mau angkat."
Varo berdehem sebelum kemudian melontarkan pertanyaan. Namun, detik selanjutnya membawa ia dalam sunyi yang tiba-tiba membekap. Suara gaduh disekitar tak lagi mampu Varo dengar, bahkan panggilan dari Zoya tak bisa lagi ditangkap nya.
Sekarang, kejadian itu seperti terulang lagi. Kembali menyapa melewati tutur kata yang belum bisa Varo terima. Dalam sebuah panggilan yang terasa menyiksa relungnya lebih dalam lagi. Dan, hari ini...ia tidak ingin hal itu terulang kembali. Cukup, cukup beberapa tahun lalu mereka merasakannya.
"Varo!."
"Lo denger suara gue, kan?!."
Kini, tatap keduanya bertemu. Namun yang Zoya lihat hanya kekosongan yang lebih dalam lagi. Disini, dibawah langit sore...Zoya bisa melihat kelabu yang selama ini anak itu pendam. Sendiri.
Zoya beralih merampas ponsel yang masih tersambung itu. Sampai detik membawanya kedalam kelam yang baru Varo rasakan.
"Gue kesana sekarang, sama Varo."
Setelah itu, panggilan terputus.
Kaca yang membungkus kedua pasang mata itu perlahan melebur. Memburam seiringan dengan desakan air yang minta ditumpahkan. "Kak," lirih desis suara Varo menggema.
"Gue antar ke-."
"Tuhan emang nggak adil ya, Kak."
__ADS_1
Detik itu, Zoya melihat bagaimana mata penuh binar yang selama ini ia kenal....kehilangan cahayanya. Bahkan, dari getar suara itu...seakan mencabik hatinya sendiri. Sakit yang juga bisa ia rasakan.
...)( ...
Lantai dingin yang menjadi pijakannya sekarang tak lagi menenangkan. Ketika beberapa orang memakai jas putih itu berlarian memasuki sebuah ruang, dimana...ada nyawa yang harus Tuhan pertahankan. Agar tidak ada lagi luka yang Semesta torehkan.
"Varo, duduk dulu yuk. Temenin Vero," bisik Zoya.
Varo melirik sekilas Vero yang berada dikursi tunggu dengan kepala yang ia tenggelamkan diantara kedua kaki. Tatapannya kembali kedepan sebuah pintu yang amat memberi rematan didadanya. Dan, sampai kapan pun...Varo tak akan sanggup menerima kabar, apa pun itu.
"Ayo, Var."
Belum sempat Varo melangkah, sebuah tamparan keras mendarat dipipi kirinya. Yang belum sembuh dari sakit yang malam itu diberikan olehnya. Sosok yang kini juga melakukan hal serupa. Lagi.
Zoya sempat berteriak, hingga detik membawanya sadar ketika suara itu menggema mengisi lorong ruang yang terlihat tamaram.
"NGAPAIN KAMU DI SINI?!."
Vero bangkit dari kursinya, menarik lengan orang yang kini berkilat amarah. Namun, respon yang ia berikan lagi-lagi membuat detak jantung Zoya bertalu talu. Melihat semua ini dengan mata keplanya sendiri, adalah hal yang tak pernah bisa ia bayangkan.
Tangan Vero mengusap sudut bibirnya yang terasa basah oleh cairan darah. Rasa kebas dipipinya tak lagi ia pedulikan ketika saudaranya itu menarik kerah sosok yang baru saja menamparnya.
"Jangan sekali kali menyentuh adik saya!."
"Varo udah!,"
Ucapan Zoya juga tarikan yang berusaha cewek itu lakukan tak berarti apa-apa. Namun, setelah tarikan dari Vero...kini anak itu tak lagi menyulut api yang sedari awal sudah berkoar.
"Jangan bikin masalah, ini rumah sakit,"ujar Vero berusaha mendudukkan Varo dikursi. Sedang dia...Genandra, berulangkali meninju dinding yang tak bersalah itu.
Entah bagaimana sekarang perasaannya, tapi...satu hal yang bisa kedua anak kembar itu tangkap, adalah rasa sakit yang tak pernah menemui titik tepi. Sama, seperti yang mereka rasakan.
Dari awal, Zoya sudah merasa ketakutan. Kejadian beberapa menit lalu tidak pernah ia sukai. Pertengkaran yang melibatkan fisik itu selalu berhasil membuat getar tak nyaman. Membuatnya lagi dan lagi mengingat kejadian yang pernah ia alami sewaktu kecil. Perdebatan yang tak pernah ada hentinya. Dan itu, hanya karena pemikiran orang dewasa yang terlalu rumit. Senang sekali melibatkan emosi maupun fisik untuk melampiaskan segalanya.
Napas Varo masih naik turun, menatap tajam lantai yang tak tahu apa-apa. Sedang Vero menyenderkan punggungnya dengan mata terpejam. Hingga atensi Zoya teralihkan kepada benda pipih yang ia genggam. Perlahan, ia menjauh dari sana. Hingga gema yang melalui gendang telinganya bisa ia tangkap.
"Lo di mana? Nggak tahu ini udah jam berapa?!."
Zoya berdehem, mencoba menghilangkan serak sebisanya.
"Tumben nanya. Lo nggak lagi kesambet, kan?."
"Serius! Ini gue dirumah lo, dari tadi Nenek khawatir lo nggak pulang-pulang."
Zoya sempat menatap kedua anak itu, juga sosok Genandra yang sudah terduduk dilantai. Sebelum akhirnya menimang apa yang harus ia lakukan. Namun, sejauh apapun Zoya berpikir...ia tidak akan pernah sanggup meninggalkan kedua anak itu disana. Sendirian menghadapi semua ini. Tapi, dia juga tahu...disini tidak ada tempat untuknya masuk kedalam dunia mereka.
"Lo masih disana, kan?."
"Pulang sekarang, nggak usah bikin gue repot."
Detik selanjutnya, sosok disana mengernyitkan dahi. Pasalnya, Zoya tidak pernah memanggil namanya dengan sebuatan Abang jika tidak ada maunya, juga suara serak Zoya lebih menarik atensinya.
"Bang Rex."
"Kenapa, lo oke kan?."
"Bisa tolong kesini?."
"Kemana?."
"Rumah sakit."
"Heh! Lo kecelakaan?!."
"Bu-."
"Gue kesana sekarang."
...♡♡♡...
...HOLAP HOLAAPP👋...
...Aduh nggak tahu kenapa akhir-akhir ini susah banget buat nuangin tulisan. Dan maap banget ya, jadi jarang Update🙏...
...JANGAN LUPA LIKE...
...KOMEN...
...VOOTEEE🤩...
...SEE YOU NEXT CHAP...
...LOVE U ALL FRIENDS😘...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1