BERBEDA

BERBEDA
Chap 28 (Kebetulan Yang Sesungguhnya)


__ADS_3

...Kalau Chap 27 belum ada, berarti belun lolos review ya. Dari kemarin malam padahal Updatenya. Kalau yang muncul Chap 28 jadi loncat satu Chap🤧...


...)(...


...Takdir akan selalu berjalan dengan kata Ikhlas. Karena apa yang kita jalani sudah seharusnya menemui kata ikhlas. Yang nyatanya sulit terlepas. ...



Riuhnya kelas sebelum bel berbunyi itu terasa sangat bising ditelinga Varo. Biasanya, dia lebih senang jika kelas riuh seperti ini dari pada sunyi yang membuatnya semakin sesak. Namun, ramai kali ini berbeda. Riuhnya seakan bersahutan hingga gendang telinganya itu berdengung. Dengan kesal, ia berdiri dari bangkunya. Meninggalkan Reihan yang meneriaki namanya. Tapi, belum sempat kaki itu melangkah keluar pintu- dirinya terdiam. Mendapati sosok yang membuat kejadian semalam kembali berputar. Bahkan, lebam ditulang pipi anak itu masih membekas walau tak sebanyak luka lebam diwajahnya.


"Kalian berdua berantem, ya? Tuh muka kok sama-sama bonyok?."


Suara Reihan mematahkan tatapan datar keduanya. Hingga Vero harus terdorong kebelakang kala Varo melewatinya tanpa aba-aba. Dan- dari situ Reihan mengangguk anggukan kepala. Paham akan situasi kedua sahabatnya itu. "Berantem kenapa lagi, sih? Sampai harus adu jotos gitu?."


Pertanyaan Reihan hanya bagai angin lalu yang tak menemui titik terang. Ketika Vero melewatinya begitu saja.


"Heh, Ver! Ada apa lagi kalian berdua? Ngomong dong, jangan disimpen sendiri. Kalian masih anggap gue sahabatkan?," cerocos Reihan ikut duduk disebelah Vero.


"Adalah, belum waktunya lo tahu."


"Terus kapan waktunya gue tahu?."


Bukan jawaban yang Reihan dapat, melainkan tatapan tajam dari Vero yang membuatnya bungkam.


Dalam hati, Vero bersyukur tidak ada luka wajah yang lebih dari pukulan Juna ketika didepan Varo. Andai Juna kembali memukul dititik wajahnya, Varo pasti akan tahu. Dan beruntung Juna hanya menyiksanya dititik yang tak terlihat. Seperti punggung maupun kepala yang seringkali menjadi sasaran.


Juna masih punya akal, jika saja dia menaruh luka itu dibagian yang terlihat. Pasti Genandra juga Mamanya akan tahu dan mencerca Vero agar mengakui mengapa dia mendapat luka itu.


Sedang dikelas sebelah, semua heboh dengan berita yang menyerang luar negeri. Lebih tepatnya, China. Juga menyangkutkan beberapa negara yang sudah terkena imbasnya.


"Emang Virusnya bahaya banget, ya?."


"Ya ampun Zoy! Gimana nggak bahaya kalau banyak yang meninggal?," sahut Laila.


"Apalagi meninggalnya tiba-tiba. Langsung kayak orang pingsan gitu, mendadak. Nggeri banget nggak sih?."


Ucapan Lia diangguki Laila dan Ayu. "Lihat dong beritanya!."


"Lo belum tahu berita ini?," tanya Laila tak percaya yang dibalas Zoya gelengan kepala.


"Ya ampun, tadi pagi heboh di TV masa lo nggak tahu?."


"Gue nggak nonton TV tadi."


"Nih, lihat aja! Udah banyak kesebar ke negara tetangga loh, bahaya nggak sih kalau virus itu sampai ke Indonesia?," sahut Lia.


"Hah jangan sampai! Naudzudubillah."


"Namanya apa?."


"Covid nineteen," balas Ayu.


Zoya diam sembari menscrool gawai Lia yang menampilkan berita Virus mematikan itu. Hingga kedua alisnya menyatu. Benar benar ada Virus yang membuat orang langsung meninggal bahkan dalam hitungan detik disaat orang itu baik-baik saja?


"Ih kok ngeri sih, orang lagi jalan langsung ambruk gitu aja? Tapi, itu meninggal beneran kan?."


Zoya mengaduh kala buku dari Laila menimpuk kepalanya. "Ya beneran lah! Lo kira settingan?."


"Ya bisa aja," balasnya ringan.


"Tapi gue masih nggak percaya deh. Kasihan sama mereka tiba-tiba jatuh pas lagi jalan eh nggak tahunya udah meninggal. Ngeri, jadi keinget Zombie. Gimana kalau tiba-tiba bangun jadi Zombie?."


"Kebanyakan nonton Zombie lo Zoy!," sahut Laila.


Mereka masih merasa heran, melihat banyak gambar orang juga vidio yang tergeletak di jalan-jalan. Dan, ternyata mereka adalah salah satu orang yang terkena Virus baru yang mematikan itu.


"Awal Virusnya itu dari mana?."


"Dari Wuhan China."


"Ya ampun mau akhir tahun loh ini, masa ada berita kayak gini. Kan jadi takut kalau Virus itu sampai ke Indonesia," ujar Ayu.


"Ya jangan sampai. Tapi, udah banyak sih Negara yang juga kena Virus itu dari orang China yang liburan kesana," sahut Lia.


"Yaudah, jangan bolehin orang China masuk Indonesia!," sahut Zoya mantap.


"Seenak jidat lo bikin aturan gitu! Nggak segampang itulah Zoy," balas Laila.


Sedari tadi Zoya hanya mendengar penjelasan dari Lia dan Laila. Karena entah apapun berita yang selalu viral, hanya dua sahabatnya itu yang selalu mengikuti setiap perkembangannya. Karena keduanya selalu suka menonton berita dipagi hari. Berbeda dengan Zoya dan Ayu yang tidak terlalu suka menonton berita.


"Kok bisa ada Virus gituan itu di buat-buat atau emang muncul sendiri Virusnya?."


"Kalau perkiraan gue sih ya buatan manusia, nggak tahu deh benar nggak nya. Yang penting jangan sampai negara kita kena," balas Lia.


"Oh ya, ngomong-ngomong nanti libur semester kalian mau ke mana?," tanya Ayu.


"Kalau gue sih pasti pulkam," balas Zoya.


"Enak lo mah kalau liburan ada tujuannya. Lah gue mau liburan kemana? Orang tua sama nenek gue aja rumahnya tetanggaan."

__ADS_1


"Sabar Lai. Kalau mau ikut gue aja, gimana?."


"Nggak ah. Gue aja nggak kenal sama Ayah Ibu lo."


"Sama nasib kita Lai," sahut Ayu yang langsung memeluk Laila dari samping.


"Lo mau ke mana?," tanya Laila menatap Lia yang masih fokus mencari berita yang sedang mendunia itu.


"Mau kerumah eyang."


"Yaudah lah, kita main dipulau kapuk aja ya Yu."


Ayu mengangguk sembari menepuk nepuk bahu Laila sabar.


...)( ...


Siang yang begitu terik ini membuat anak-anak basket menepi. Sedang sepasang kaki itu kembali berdiri kala sosok yang beberapa hari ini ia jumpai itu kembali menemuinya. Tak perlu ditanya, karena sudah tiga kali anak itu meminta bantuan yang sama kepada dirinya.


Disini, disalah satu bangku yang berada ditepi lapangan keduanya singgah. Mempertahankan hening yang masih enggan keduanya patahkan. Hingga sepasang mata yang menangkap kedua orang beda generasi itu mulai menaruh atensinya. Namun, tidak membawa langkahnya mendekat. Cukup mengamati dari belakang kedua orang itu.


"Udah tiga kali lo pinjam KTP gue. Terus sekarang mau pinjam lagi?."


"Buat apaan sih lo harus pinjam KTP?," lanjut Arex lantas menghadap tepat kearah Vero, dia ingin membaca mata anak itu, membaca apa yang ada dipikiran Vero. Tapi tidak bisa, jelas Arex tahu dia bukan cenayang.


"Lo nggak gunain buat yang aneh-aneh kan? Nanti tiba-tiba nama gue yang keseret."


"Kan udah Vero bilang. Nama Kak Arex nggak akan kebawa, Vero butuh itu cuma buat formalitas aja."


"Iya, gue percaya nggak percaya sih tapi."


"Gimana maksudnya coba," gumam Vero heran dengan ucapan Arex.


"Yang penting gue balikin tanpa lecet sedikitpun."


"Nggak bisa gitu lo kasih tahu gue buat apaan?," tanya Arex sekali lagi.


Vero menarik napasnya dalam. Walau tingkat kepo Arex semakin tinggi, tapi Vero bersyukur seniornya itu masih mau membantunya. Jika tidak, mungkin Vero yang akan kena hukuman.


"Nggak perlu tahu Bang. Boleh nggak? Lagi buru-buru ini."


"Ck, yaudah nih! Awas aja ya kalau lo buat macam-macam!."


"Iya!."


Sepasang mata yang mengamati sejak tadi mengernyit dalam. Apa itu, KTP? Buat apa Arex menyerahkan KTP nya kepada Vero?


Ketika langkah Vero mulai beranjak jauh, barulah langkah kecil itu ia bawa mendekati Arex yang masih terduduk disana. "Rex!."


"Sinis amat!."


"Apa, mau apa? Kalau nggak ada gue cabut!."


"Ngapain kasih KTPĀ  lo buat Vero?."


Pertanyaan spontan itu membuat Arex refleks menghadap kesamping. Tepat menatap tajam sepasang netra coklat yang tak lain adik sepupunya itu. "Lo nguping?!."


"Siapa yang nguping! Gue nggak sengaja lihat," balasnya tak kalah ngegas.


"Sama aja!."


"Tapi gue nggak dengar lo ngomong apa aja tadi! Jadi itu bukan nguping!."


"Ya-."


"Lo tinggal jawab aja! Gue nggak mau debat," potong Zoya melengos kedepan. Malas menatap wajah Arex yang setengah garang setengah nyebelin.


"Nggak tahu."


"Hah? Nggak tahu?."


"Rex, gue tanya baik-baik loh," lanjut Zoya yang mendapat balasan acuh dari Arex yang mulai berjalan.


Tapi, tidak sampai disana rasa penasaran Zoya. Lantas ia pacu kakinya mengikuti Arex. "Bang, yang jelas dong? Ngapain lo kasih Vero KTP lo? Itu KTP lo kan?."


Arex mendecih. Kalau udah ada maunya saja anak disampingnya itu memanggilnya dengan sopan. "Iya KTP gue, tapi nggak tahu mau buat apa sama dia. Udah empat kali ini dia pinjam," jelasnya yang sudah muak.


Otak itu terus berproses mencermati setiap kata Arex. Hingga suaranya mengalun begitu lantang dengan langkah lebar ia bawa menjauhi Arex yang mendengus kesal. "Oke Bang makasih infonya!."


Sedang dilain tempat, lebih tepatnya didalam kelas yang sudah tak banyak nyawa didalamnya- kedua anak itu saling duduk berhadapan. Dentang jarum jam itu terdengar konstan. Dinding-dinding disana seakan hidup kala kedua orang itu mulai menampakkan guratan kecemasan.


"Jadi, sekarang kalian benar-benar udah nggak tinggal seatap?."


Anak itu- Varo mengangguk. Memutar mutarkan bolpoin diatas meja dengan pandangan fokus kearah Jeslyn yang ada didepannya. "Makanya gue suruh lo sering-sering main ketempat Vero."


"Dengan kata lain, gue lo suruh jadi mata-mata?," ucap Jeslyn penuh akan tekanan.


Bagaimana bisa permohonan Varo beberapa saat lalu itu masih hatinya tolak. Namun, dilain sisi dia juga ingin Vero baik-baik saja. Tapi jika caranya dia harus sering mendekatkan diri kepada Vero yang jelas-jelas membuatnya terjebak Friendzone itu tidak semudah yang Varo bayangkan. Dan- Jeslyn masih punya malu sebagai seorang wanita. Takut jika Vero menganggapnya keganjenan.


"Ya hampir mirip."

__ADS_1


Jeslyn mengehela napasnya kasar. Menyisir poninya ke belakang. Cukup frustasi menghadapi apa yang baru saja Varo katakan. "Harus gue gitu, Var?."


"Harus! Disatu sisi lo suka sama Vero, dan gue yakin lo nggak mau Vero kenapa napa kan? Terus disisi lain Vero juga suka sama lo yang otomatis dia akan lebih terbuka sama orang yang disukai."


"Plis Jes, cuma lo yang gue bisa andelin buat mantau gimana keadaan Vero selama dirumah itu," lanjutnya dengan tatapan memohon yang mebuat Jeslyn merasa tak enak.


Dengan satu tarikat napas, kepala Jeslyn mengangguk setuju. "Oke,gue lakuin ini semua buat Vero. Ingat buat Vero, bukan lo!."


"Iya, buat cinta apa sih yang enggak?," balas Varo dengan senyum lebar yang sangat menyebalkan dimata Jeslyn.


"Oh ya, jangan lupa pasang kamera kecil dibeberapa titik rumah itu ya. Terutama dikamarnya Vero, oke?."


"Hah? Lo ngaco ya Var! Itu private, main pasang kamera tanpa ijin lagi."


"Masalahnya ini bukan private lagi, tapi masalah bukti yang harus ada Jeslyn!."


"Nggak segitunya lah Var!."


"Harus Jeslyn! Udah ah, panjang urusannya debat sama lo. Ikutin aja apa yang suruh. Tenang aja, lo dapat komisi kok."


"Gue nggak butuh!."


...)( ...


Niatnya kedua anak itu ingin membeli mie ramyon yang ada di Indomart yang cukup jauh dari rumah keduanya. Namun, setelah berhenti dilampu merah- niatnya itu gagal. Hanya karena perintah orang yang dibonceng itu memerintah agar mengikuti satu nyawa yang ia kenal. Hingga laju motor itu perlahan berhenti didepan gang sempit. Tanpa lagi mengikuti motor itu yang masuk kedalam.


"Lo ngapain sih pakai ngikutin dia?."


"Nggak tahu gue penasaran aja. Udah ayok ikut masuk kedalam. Motornya parkir disini aja, agak majuan!."


"Lo serius mau ngikutin masuk kedalam?."


"Ck iya Lia! Udah ayo," sahutnya yang sudah turun dari motor lantas berjalan mendahului. Sedang Lia dengan cepat memakirkan motornya. Hingga sudah dirasa aman, dia berlari mengikuti sahabatnya- Zoya yang sudah jauh didepan sana.


"Kenapa nggak naik motor aja sih? Ribet banget tuh anak," gerutu Lia.


Ya, tak jauh setelah memasuki gang itu. Mereka bisa melihat banyaknya pemukiman rumah dan sawah yang terbentang. Tak cukup sepi, sampai dibagian menjorok ada beberapa banyak kumpulan laki-laki yang menyerupai preman. Berkumpul didepan toko yang kedua gadis itu pikir hanya toko biasa seperti mini market.


Zoya terdiam lama, mengamati langkah targetnya yang mulai masuk kedalam toko itu. Entah apa yang ia beli hingga memilih ditoko yang cukup terpencil ini. Dengan banyaknya manusia yang berpenampilan urakan.


"Zoy, udah balik aja yuk. Kok gue ngeri ya lihat mereka," bisik Lia.


"Bentar, tunggu dia keluar."


"Lo mau nyari tahu apa sih?! Kepo amat sama yang dia lukuin."


"Kepo gue beralasan Lia! Diem dulu deh."


"Mana ada kepo nggak beralasan?," sahut Lia geram.


Zoya menarik Lia dibalik dinding rumah warga disana ketika targetnya keluar. Lantas menaiki motornya kembali menjauh. "Udah ayok!."


"Eh-eh mau ke mana?," ujar Lia seraya menahan tangannya yang ditarik paksa.


"Masuk ketoko itu sebentar. Mau ikut nggak? Kalau nggak tunggu disini."


Lia berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan mengikuti sahabatnya itu. Tepat setelah keduanya masuk kedalam toko yang hanya beberapa orang didalamnya. Suara sambutan dari petugas kasir membuat mereka tersenyum.


Lia hanya mengekor kala Zoya melangkah mendekati kasir. "Maaf mbak, saya mau tanya. Anak yang baru aja keluar tadi beli apa ya?," tanya Zoya.


Mbak kasir itu mengernyit sebelum mengangguk paham. "Oh Mas yang pakai jaket sama topi hitam itu tadi, ya? Yang pakai masker juga kan?."


Zoya mengangguk mantap. "Iya, benar mbak. Dia beli apa ya?," tanya nya sekali lagi.


"Em maaf, mbak siapanya ya?."


Zoya berpikir sejenak. Apa yang harus ia jawab agar mbak kasir itu mau memberitahu? Pasalnya, jika bukan sesuatu yang aneh pasti mbak kasir itu langsung memberi tahu. Bukan sebaliknya- bertanya akan siapa Zoya.


"Ah itu, saya Kakak nya mbak. Boleh saya tahu adik saya beli apa aja tadi?."


Dan dari awal Zoya sudah curiga. Kala targetnya itu langsung menuju kasir dan menunjukkan sebuat kartu kecil yang sudah ia duga apa itu.


Kasir itu sedikit ragu kala ingin menjawab pertanyaan Zoya. "Bilang aja mbak. Enggak apa-apa, saya nggak bakal bilang kalau mbak yang udah beri tahu."


Dan detik setelahnya, Zoya dan Lia membeku. Kala satu kata yang terasa ambigu itu masih bisa keduanya artikan. Hingga tatap keduanya saling membola dengan mulut terbuka.


"Em- itu, minuman."


Detik berlalu hanya mereka gunakan sia-sia. Hingga suara Zoya kembali mengalun. "Kenapa ada gituan disini, mbak?."


"Dari dulu sudah ada mbak. Ini hanya toko kecil yang barangnya lengkap seperti mini market. Namun ada beberapa barang yang hanya toko ini sediakan. Tapi tenang saja. Kami punya aturan siapa saja yang boleh beli barang keras itu."


Kedua remaja itu saling bertatap heran. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka ketahui.


...♔♔♔...


...LikešŸ‘...


Author lagi nggak dirumah seperti biasa. Ini lagi pulkam, sinyalnya disini ngajak ribut, maklum kalau update suka telatšŸ˜”

__ADS_1


^^^Tertanda ^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2