
"Hisyam ibu gak nyangka kalau kamu berbuat seperti itu," orang sepuh itu menitikan air matanya karena seolah tidak bisa menjalankan wasiat almarhum suaminya untuk mendidik sang anak dengan benar.
Hisyam hanya menunduk menatap ubin lantai. Sedangkan Hasyim tidak berniat untuk ikut menyabung, sejak pagi ia sudah mendiamkan adiknya, walaupun Hisyam mencoba ngajak ngobrol tapi tetap tak dihiraukan, dan sekarang adiknya itu baru teringat dengan tingkahnya tadi malam.
'pantas wajahku penuh lebam, ternyata ini perbuatannya Hasyim, lihat saja nanti,' batin Hisyam sambil mengepalkan tangan.
"Maaf,"
"Berkali-kali minta maaf, tapi kamu masih mengulanginya syam, dan sekarang malah semakin parah perbuatanmu itu!" jari mbok Sari menuding anak terakhirnya.
"Aku hanya bisa minta maaf bu, tapi untuk memperbaiki tingkah lakuku itu sangatlah sulit,"
"Maaf aku tidak bisa," lanjut Hisyam lalu beranjak pergi dari ruang tamu.
"Tapi jauhi Aleria, dia punya kakakmu, jangan sampai kau merusaknya," ucap mbok Sari dengan penekanan, wanita sepuh itu sudah lelah menasehati anaknya. Bukan membaik tapi makin memberontak, itulah sifatnya Hisyam yang bikin geleng-geleng kepala.
"Aku juga mencintainya," jawab Hisyam.
"Itu nafsu bukan cinta, jika mencintai seharusnya menjaganya bukan merusaknya," sahut Hasyim geram dengan ucapan Hisyam.
"Nafsu dan cinta itu beda tipis, bahkan nyaris sama. Aku laki-laki normal nggak sepertimu yang hanya diperbudak oleh cinta," setelah mengatakan itu, Hasyim langsung keluar entah mau kemana dia.
"Maafkan ibu yang tidak bisa menasehati adikmu le,"
"Ini bukan salahmu bu, memang dianya aja yang sulit diatur,"
"Lebih baik kamu awasi Aleria, ibu takut kalau Hisyam akan berbuat nekad pada anak manis itu," saran mbok Sari.
"Hasyim sudah memikirkannya bu, untuk kedai martabak biar ditunggu karyawan saja," beruntung adik dari temannya ada yang membutuhkan pekerjaan. Padahal baru saja tadi pagi ia memikirkan tentang keinginannya untuk membuka lowongan, dan tiba-tiba temannya yang ada di Jogja menayakan loker pada Hasyim melalui via chat.
"Sudah dapat apa masih mencari?"
"Sudah dapat bu, alhamdulillah adik temanku ada yang sedang mencari pekerjaan juga," jawab Hasyim kemudian.
"Syukurlah kalau gitu,"
"Aleria juga sudah mau memberiku kesempatan bu,"
"Tapi kalau untuk mencintaiku seperti dulu ia belum bisa," sambung Hasyim dengan lirih.
"Belum bisa bukan berarti tidak bisa kan le, Ria sudah memberikan kesempatan seharusnya kamu bersyukur, karena dengan itu kamu bisa memupuk cintanya kembali,"
__ADS_1
"Doakan ya bu, biar hubunganku dengan Aleria bisa membaik,"
"Iyo le mugo-mugo iso teko pelaminan yo,"
.........
"Aleria, sini ndok bapak mau bicara," panggil pak Samsuri di ruang tamu.
"Iya pak ada apa?" tanya Aleria setelah duduk di kursi.
"Ternyata kamu kenal dengan anaknya mbok sari?"
deg
Jantung gadis yang mau lulus SMA itu berdetak kencang, setelah pertemuannya dengan Hasyim tadi. Ia tidak berucap apa-apa bahkan bapaknyapun belum membahas hal itu. Sekarang dia takut jika pak Samsuri akan memarahinya.
"I-iya pak," jawab Aleria dengan terbata-bata.
"Hasyim kelihatannya baik, dia juga sudah meminta ijin ke bapak untuk mendekatimu. Dari segi keluarga juga baik apalagi eyangmu dan mbok Sari berteman dekat
bapak setuju jika seumpama kamu dekat dengannya, jangan sia-siakan orang yang menyayangimu ndok, semua orang pasti punya kesalahan tapi mereka juga mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Seperti Hasyim yang dulu pernah menyakitimu tapi sekarang dia menyesal kan? bahkan dia rela jauh-jauh datang kesini untuk mencarimu.
"Aleria sudah memberinya kesempatan pak, tapi untuk mencintai seperti dulu aku belum bisa," ungkap gadis itu, dia sudah tidak takut untuk jujur ke bapaknya, karena ia tahu kalau pak Samsuri juga merestui hubungan mereka.
"Gak papa, nanti akan tumbuh lagi. Sekarang kamu fokus belajar agar bisa masuk kampus negeri, soal hubungan kalian bisa dipikirkan sambil berjalan, jika jodoh pasti Allah persatukan," ucap pak Samsuri sebari beranjak untuk istirahat karena besok sudah berangkat lagi ke Jombang.
"Seharusnya kamu bersyukur mbak ada yang mencintai, lah aku zonk mulu sejak dulu," sahut Hayana, sejak tadi ia hanya diam mendengarkan saran bapaknya.
"Padahal kelas satu SMP kamu sudah ada yang deketin mbak, aku mah boro-boro," tambahnya.
"Masa sih gak ada? teman cowokmu banyak gitu," jawab Aleria.
"Inikan sekarang beda sama dulu, tapi yang sekarang deketinnya cuma karena nafsu,"
"Kalau sudah tau kenapa masih mau aja dideketin?" Aleria heran pada ucapan adiknya itu.
"Soalnya ngasilin uang, cuman modal bibir aja sudah dapat lembaran merah,"
"Astagfirullah.. bukanya ciuman bibir itu hal intim na,"
"Jaman sekarang sudah biasa mbak,"
__ADS_1
"Kalau aku mah gilo," Aleria bergidik ngeri.
"Tapi kamu nggak pernah tidur sama laki-laki kan? tak bilangin bapak kamu kalau sampai melanggar batasan," tambah Aleria lagi.
"Ya nggaklah, gila apa, aku nggak semurah itu,"
"Tapi ada nggak ya mbak, yang mencintaiku dengan tulus?" tanya Hayana kemudian.
"Pastinya ada nanti, seharusnya memperbaiki diri dulu, agar kamu merasa pantas untuk dicintai seseorang,"
"Aku paham mbak kalau soal itu, tapi bukanya laki-laki itu sama saja? memandang perempuan hanya karena fisik
orang kayak om Hasyim itu cuman seribu banding satu mbak, apalagi kamu kan aslinya cantik, sekarang aku malas mbak tentang dunia asmara,"
"Lah katanya pengen kok malah jadi malas,"
"Dulu pas SD aku pernah mencintai temanku satu kelas, tapi dia malah menghinaku katanya aku jelek, akhirnya sampai sekarang menurutku cinta itu pembodohan,"
"Ya ampun jubaedah.. kan dulu jaman bocil masih cinta kingkong,
kalau cinta itu pembodohan berati mbakmu ini bodoh dong,"
"Kalau om Hasyim itu cinta tulus mbak, makanya kamu pertahankan, sebenarnya aku juga gak mau terjebak pergaulan bebas seperti ini, tapi gimana lagi mbak di lingkungan sekolahku jika tidak mengikuti gaya mereka pasti tidak dapat teman. Ada sih teman yang baik tapi cuman sedikit, kamu juga sudah bolak balikan tak ceritain begini, mungkin sampai bosan kali ya,"
Hinaan teman Hayana waktu SD membuat dia sakit hati dan ketika melanjutkan SMP di daerah sini malah harus terpaksa mengikuti pergaulan anak kota, apalagi saat temannya memberikan tawaran job di club terdekat, ia tergiur akan bayaran yang diperoleh perharinya, namun gadis itu hanya menawarkan sebuah bibir tidak untuk tubuhnya.
Uang yang ia dapat bisa digunakan untuk aneka perawatan, Hayana sudah capek dihina karena kulit sawo matangnya dan juga dekil. Walaupun mereka saudara kandung tapi warna kulit mereka berbeda.
"Baiklah hidupmu hanya kamu yang menjalani dan aku sebagai kakakmu juga sudah menasehati, tinggal kamunya aja mau gimana," Aleria juga bingung mau ngomong apa ke Hayana, karena jikapun ia berada di posisi adiknya pasti sangatlah berat.
"Pinginku cuma satu mbak, bersatulah sama om Hasyim," Hayana mengedipkan mata untuk menggoda sang kakak.
"Aku sudah memberinya kesempatan, tinggal dianya aja mau mengembalikan hubungan seperti dulu atau tidak,"
"Tebakanku pastilah mau, la dia mencarimu sudah susah banget mbak, masa pas ketemu langsung dilepas gitu aja, kan gak mungkin,"
"Itukan hanya tebakanmu belum tentu juga benar," bantah Aleria, ia hanya tak ingin jika terlalu berharap.
"Dibuktikan ajalah nanti, ngomong sama kamu belibet mbak," jengkel Hayana.
bersambung...
__ADS_1