
"Panas loh shaf, yakin kita jadi beli martabak?" tanya Aleria berharap temannya tersebut mengurungkan niatnya tadi.
"Nggak kok malah mendung gini," Shafa melihat awan yang sudah agak menggelap.
"Ditunda aja ya nanti malah kehujanan lagi,"
"Belum terlalu gelap, jangan banyak alasan Ria," tangan Aleria ditarik Shafa untuk menuju ke parkiran.
"Emang nggak capek apa, tugas yang diberi bu Hulya banyak shaf," catatan materi yang dituliskan di papan tulis menjadi PR bagi mereka dan guru mapelnya malah menambahi lagi.
"Makanya itu kita taruhan biar jadi ringan," Shafa sudah memasang helm lalu memposisikan motor agar bisa dikeluarkan dari parkiran.
"Kasihan yang kalah dong kalau gitu," ucap Aleria sambil celingak-celinguk mencari motor yang biasa ia pakai.
"Ya itu sudah resiko, ayo cepat pakai motormu," Shafa melihat kaca spion melihat temannya itu yang masih berdiri tanpa mengambil motornya.
"Ria cepat ambil motormu,"
"Motorku kagak ada shaf," panik Aleria membuat temannya turun dari motor.
"Coba kamu ingat-ingat di mana naruhnya tadi," Shafa juga ikut mencari mengitari sekitaran pakiran.
Aleria mencoba mengingat-ingat dimulai dari sejak di rumahnya mbok Darso lalu ketemu dengan Hasyim dan..
"Astaga shaf aku ingat," teriak Aleria karena Shafa sudah agak jauh dengannya untuk mencari motor yang dikira hilang itu.
"Dimana?"
"Aku kan diantar mas Hasyim, jadi gak bawa motor dong," sahabatnya juga baru ingat kalau Aleria berangkat diantar pakai mobil, dan kini hanya bisa tepok jidat. Usia masih muda tapi sudah pikun saja.
"Bentar tak minta dia jemput saja, salah sendiri maksa mau nganterin," Aleria hendak mengambil hp untuk menghubungi Hasyim.
"Gak usah, ayo kita bareng saja sambil beli martabak," cegah Shafa sebelum Aleria membuka benda kotak itu.
"Tapi.. "
"Gak usah tapi-tapian ayo keburu antri nanti martabaknya," akhirnya Aleria menuruti kemauan sahabatnya tersebut. Semoga tebakan Shafa salah tentang martabak manis yang menjadi taruhan bagi mereka.
"Kamu hafal jalan gak? nanti malah nyasar lagi,"
"Hafallah, emangnya kamu suka nyasar di kuburan," mereka sudah keluar dari gerbang sekolah, dan meluncur mengikuti arus jalanan untuk ke tempat tujuan.
"Itu bukan kuburan besti.. tapi rumah masa depan,"
"Yaudah kamu ke sono duluan aja nanti aku nyusul,"
__ADS_1
"Hutang puasaku masih belum lunas, masa buru-buru ke situ," obrolan bocah yang mau lulus SMA itu terus berlanjut hingga tanpa terasa sudah sampai di kedai martabak manis.
"Eh rame banget Shaf, pulang aja yuk males aku antri," ucap Aleria sambil meredakan kepanikan karena ternyata benar yang berjualan ialah Hasyim.
"Cuma 3 orang yang ngantri, ayo turun keburu rame," Shafa sudah menghentikan motornya di samping kedai tersebut.
Aleria mengekor Shafa, dia benar-benar takut karena kalah taruhan, dan sudah pastinya nanti akan begadang untuk mengerjakan tugas dobel.
"Mas rasa coklat kejunya satu ya," Shafa mulai memesan.
"Iya dek silahkan nung-
loh Aleria, kamu sudah pulang?" Hasyim terkejut ketika pas menengok melihat wajah Aleria, meskipun gadis itu menunduk tetapi pemuda tersebut masih bisa mengenalinya.
"Maaf mas lupa jemput, soalnya lagi sibuk ngurusin jualan," ungkap Hasyim merasa tak enak hati.
"Oh jadi ini benar mas Hasyim pemilik martabak manis Aleria?" tanya Shafa ketika melihat wajah laki-laki tersebut mirip dengan yang ia jumpai tadi pagi.
"Iya kamu temannya Aleria?"
"Kenalkan mas aku Shafa teman kocaknya Riya," sahabat Aleria mengulurkan tangan tapi segera ditepis oleh orang yang ada di sampingnya.
"Gak usah kenalan dia sudah kenal," sewot Aleria seolah tak terima jika Hasyim menerima jabatan itu.
Hasyim senang ketika melihat muka masam kekasihnya, karena ia merasa kalau gadisnya itu sedang cemburu.
"Nama dia Shafa mas! sudah gak usah ada acara kenal-kenalan segala,"
"Ya siapa tahu masnya gi jomblo jadi bisa tak angkut," Shafa ingin menguji Aleria lagi.
"Dia punyaku! ups," mulut Aleria lepas kontrol hingga tangannya membekap.
"Ah masa? katanya masih marah ke mas Hasyim, kata-" tangan Aleria kini berganti menutup mulut sahabatnya.
"Jangan omong mulu ayo segera duduk," perintah Aleria.
Setelah duduk untuk menunggu martabaknya, gadis itu sudah melepaskan tangan dari mulut Shafa.
"Mas mbaknya tadi pesan rasa apa?" tanya karyawan Hasyim ke pemilik kedai.
"Kamu pesan apa sayang.." Hasyim menengok ke Aleria padahal yang memesan pertama Shafa.
"Coklat keju satu mas," sahut Shafa.
"Yang ditanya aku bukan kamu," Aleria kembali sewot entah bocah ini cemburu atau gimana, intinya dia nggak ingin jika Hasyim menanggapi Shafa.
__ADS_1
"Yaudah gak usah berantem mas buatin dua ya, takutnya kalau satu kalian rebutan, martabak buat berdua itu gak papa, tapi hati mas cuman ada satu dan hanya milik Aleria saja," Hasyim mengedipkan mata ke pujaan Hatinya.
"Iya deh iya percaya.." Shafa menyenggol bahu temannya karena Aleria kelihatan salting.
"Jadi buat dua ya mas?" tanya karyawan Hasyim lagi.
"Eh satu aja mas, hemat uang soalnya," nah kan mulut Aleria tidak bisa jika berkata bohong malah jujur terus, yang ditakutkan nanti Hasyim akan memberi secara cuma-cuma ketika tahu kalau Aleria sedang berhemat.
"Ini gratis sayang.. jadi kamu bisa menghemat uangmu,"
"Eh nggak-nggak, satu aja mas," tolak Aleria, karena Hasyim tadi sudah memberi uang 300 ribu masa kini menggratiskan martabaknya.
"Rejeki jangan ditolak," ucap Shafa tanpa malu, sudah biasa dia kalau ceplas-ceplos begitu.
"Betul tuh kata temanmu," bela Hasyim.
"Mas kenapa martabaknya diberi nama Aleria?" tanya Shafa kemudian.
"Soalnya pas kesini niat saya mencari Aleria jadi buat cabang sekalian dengan nama martabak manis 'Aleria', berharap bisa dipertemukan lagi dengan dia, akhirnya terwujud kan?" jelas Hasyim yang kini bisa membuat Aleria merasa bersalah.
Bagaimana tidak, Aleria seakan egois waktu Shafa menggoda Hasyim, ia takut jika laki-laki itu akan berpaling darinya, namun ketika Hasyim berusaha memperbaiki malah Aleria mengungkit masalah yang sudah lalu. Dia kini sedikit menyadari ternyata perjuangan Hasyim sangatlah besar.
"Semangat terus ya mas.. semoga teman saya ini bisa cepat sadar," sindir Shafa.
"Sebenarnya bukan salah Aleria tapi salah saya, jadi sudah semestinya kalau saya memperbaikinya,"
"Kalau gak dihargain sama aku aja mas," canda Shafa.
"Pelakor semakin terdepan!" ketus Aleria.
"Salah sendiri sok-sokan gak mau,"
"Mbak jangan ganggu calonnya mas Hasyim dong! nih martabaknya," karyawan Hasyim memberikan martabak tersebut ke Shafa dengan ketus. Bahkan dikasih embel-embel 'calon' membuat mereka bingung.
"Maksudnya?" pertanyaan Shafa seolah mewakili yang ada di pikiran Aleria.
"Iya lah calon istri la mas Hasyim kan sudah matang masa masih pacaran," ungkap laki-laki itu, karena dia sedikit mendengar percakapan mereka jadi bisa disimpulkan kalau Aleria itu calonnya Hasyim.
"Semoga saja bisa sampai ke pelaminan ya nan," Sahut Hasyim sambil merapikan toples toping martabak.
"Aamiin.." tanpa disadari Adnan dan Shafa berucap dengan serempak.
"Astagfirullah.." lirih Aleria.
bersambung....
__ADS_1