
Kali ini Aleria seperti anak kecil yang tidurnya harus di pug-pug terlebih dahulu, Hasyim juga meniup pelan mata sang istri sampai helaian rambut yang menutup dahi ikut bergerak.
Hal tersebut bukan permintaan Aleria, hanya inisiatif Hasyim saja, bocah itu cuma ingin di pug-pug tidak lebih.
Kedua kelopak mata yang tadinya terbuka, sayup-sayup kini mengecil secara perlahan. Hanya menyisakan bulu mata untuk menutup. Seiring dengan tepukan halus yang kian mereda.
Puk
Puk
Hasyim mengusap perlahan lalu dia memindahkan telapak tangannya ke wajah Aleria.
Helaian rambut yang menutupi ia sibak, niat awal hanyaa ingin melihat wajah cantik istri kecilnya, namun malah menemukan kantung kehitaman di bawah mata.
Jempol Hasyim menyentuh dengan pelan, sudah berapa hari Aleria kekurangan waktu tidur? mungkin karena tugas ospek yang banyak membuat perempuan itu sengaja begadang.
Mengecupi wajah mulai dari dahi, pipi, hidung, dan terakhir bibir. Hanya menempel tetapi mempunyai waktu hinggap yang lama.
Lalu merenggangkan, ditatapnya lagi wajah sang istri sebelum Hasyim benar-benar pergi. Rasa dingin yang menusuk kulit membuat dia segera mengakhiri. Laki-laki itu baru ingat kalau belum mengganti baju.
Membenarkan posisi Aleria yang tidurnya miring kini dia mengubah untuk terlentang, lalu selimut dinaikan sedikit agar terasa hangat.
Setelah itu dia turun dari pembaringan, segera mengganti kaos dan ditaruhnya di tempat keranjang kotor.
Hasyim menyemprotkan parfum sebelum pergi dari kamar, agar bocah kecilnya itu jika tiba-tiba memeluknya, badan dia sudah beraroma wangi.
Saat membuka knop pintu, Hasyim menengok ke belakang lagi. Memastikan kalau perempuan yang terlelap tersebut masih baik-baik saja, dan dia yakin untuk keluar.
Sebelum memulai laki-laki itu melihat peraturan pembuatan tugas Aleria terlebih dahulu. Ketikan yang dari kakak tingkat sudah Aleria salin dan dikirim ke nomor Hasyim.
Hingga Hasyim teringat sesuatu saat membaca poin ke tiga, "perasan topi perawat sudah tak buatkan kemarin,"
Dia mengingat-ingat, "Masa langsung dibawa sama Aleria?" berjalan mengambil tas yang tertinggal di kamar dan membawa keluar sekalian untuk mengeceknya.
Semua barang yang sang istri bawa Hasyim keluarkan, termasuk kotak bekal. Saking sibuknya menikmati malam libur sampai melupakan kotak makan, hingga mengeluarkan bau tak sedap karena belum dicuci.
"Argghh botol minumnya juga bocor," desah Hasyim, memegang botol air minum yang bagian tutupnya tidak terkunci sempurna.
Menyebabkan sebagian badan tas beserta isi menjadi basah, apalagi topi perawat yang terbuat dari kertas manila kemarin.
Tali masih tersisa utuh tidak dengan bentukan kertasnya, "Hem.. harus buat lagi ini."
Waktu itu Aleria membeli kertas sedikit, jadi kini suaminya bingung mau dibuat dengan apa.
Tiba-tiba dia kefikiran, 'kenapa tidak mencoba menggunakan buku gambar?'
Hasyim segera mengambilnya lalu mengukur dan dipotong menggunakan gunting, memasukan tali ke setiap lubang yang sudah ia buat lalu di ikat. Dia mencoba untuk dipakai ke kepala, memang ukurannya kecil. Tetapi tidak menjadi masalah, toh di dalam peraturan tidak ada harus besar atau kecil.
Setelah lama berkutat dengan beraneka ragam tugas, Hasyim merenggangkan kedua tangannya sambil punggung yang dia senderkan ikut ditegakan.
__ADS_1
Mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan, "Ya Allah capek juga ternyata,"
.
Perut terasa diaduk-aduk padahal hanya makan camilan seperti biasanya.
"Huek.. Huek.. " pijitan halus terasa di belakang leher sang empu.
"Huek.. " semua yang masuk kini dikeluarkan disertai lendir.
Aleria terdiam sesaat karena kepalanya mulai merasakan pusing.
Hasyim memegang kedua bahu sang istri, "Sudah dek?"
"Ria takut kalau muntah lagi,"
Tangan laki-laki itu memutar kran wastefel agar mengalirkan air, lalu tangannya ia basahi sedikit untuk membantu membersihkan bekas muntahan yang ada di bibir Aleria.
"Gak papa nanti mas antarkan ke kamar mandi,"
"Kalau tidak bisa ditahan gimana? Terus muntah di kasur." berondong Aleria.
Hasyim hendak mengangkat sang istri saat sudah membersihkan semuanya,"Gak papa dek.. Nanti mas yang bersihkan."
Aleria mengalungkan tangan di leher suaminya, "Mas gak bakalan marah?"
Tubuh mungil tersebut ingin diletakkan secara perlahan di ranjang berbusa, tetapi tangannya tidak terlepas dari leher sang lelaki.
"Kenapa sayang?"
Aleria sedikit menengok ke belakang untuk melihat sprei, "Gambarnya bisa diganti mas?"
Alis Hasyim menyengrit heran, "gambar?"
"Ho'om, bisa kan diganti."
Suami Aleria itu membawa tubuhnya kembali, lalu duduk bersama di sofa kamar.
"Diganti yang bagaimana hem?" dipegangnya dagu sang istri.
"Yang ada gambar bola-bolanya gitu," Aleria berucap sambil mengusap dada bidang Hasyim.
"Tak biasanya kamu suka bola dek, jangan-jangan anak kita cowok."
Sayang, ucapan itu hanya terlintas saja dalam batin Hasyim.
"Coba mas cek dulu ya,"
Dibukanya lemari dan matanya melihat satu persatu kain yang terpampang di depan. Tidak banyak sprei yang dia simpan, itupun terlihat banyak karena bertumpuk dengan kain yang lain.
__ADS_1
"Nah ini mas!" seru Aleria menarik sprei sampai tingkatan ke atas runtuh seketika.
"Yah harus menata lagi," gumam Hasyim.
"Ini aja mas, tolong pasangkan," binar bahagia muncul di kedua mata Aleria.
"Yakin sayang?"
"Iya mas yakin banget.. Ayo pasangkan."
"Warnanya dah mudar hlo, karena sejak jaman SMK dulu." Hasyim saja baru ingat kalau punya sprei tersebut, dan menaruhnya paling bawah karena sudah tidak dipakai lagi.
"Nggak kok ini masih bagus," bantah Aleria seolah tak terima.
"Yaudah sini mas pasangkan,"
Masing-masing sudut ia rapikan tak lupa untuk membersihkan terlebih dahulu dengan kemuceng.
"Dah ayo sayang kita bobog."
"Gendong.. " Aleria merentangkan kedua tangannya, padahal jarak ranjang sangat dekat. Tetapi dia ingin sekali bersikap manja dengan suaminya.
"Hem.. Sini ayo sini istri kecil mas.."
"Maunya mas yang ke sini, bukan Ria yang ke sana," kesal Aleria, Hasyim juga merentangkan tangan tetapi tidak mendekat.
"Okelah... Hap," laki-laki itu berjalan mendekat lalu membawa beban tubuh sang istri.
"Besok yakin kuat kalau ikut ospek?" tanya Hasyim ketika mereka sudah sama-sama berbaring.
"Insya Allah.. " lirih Aleria sambil mengelus-elus pipi Hasyim yang sedikit ditumbuhi jambang.
"Kalau ijin gimana?"
"Ih jangan-jangan, Ria gak mau mas, nanti malah mengulang ospek dengan adik kelas,"
"Mas takut kalau kamu kenapa-napa sayang.." digenggamnya telapa tangan Aleria.
"Doakan ajalah mas, semoga besok sudah baikan,"
"Kalau ospeknya dibayar aja pakai uang bisa gak sih dek?"
"Oh... Ceritanya ini mau nyogok, jangan ngadi-ngadi deh mas."
"Mas khawatir dengan kondisimu sekarang Ria.."
Aleria menangkup pipi Hasyim, "Percaya sama Ria mamas Hasyim.. Aku tidak papa, okey?"
Bersambung...
__ADS_1