Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Tutorial makan


__ADS_3

Hasyim mengambilkan lagi nasi yang baru, karena tadi sudah masuk semua ke dalam mulutnya.


"Aku takut kalau muntah mas," ungkap Aleria saat sang suami mengambil nasi untuk suapan di sendok.


"Dicoba dulu sayang.. Kalau mual dimuntahkan aja gak papa,"


Bibir Aleria terbuka perlahan sehingga nasi beserta naged telah berada di lidahnya, rasa hambar sedikit manis jika dikunyah dari nasi kini bercampur dengan daging giling yang biasa disebut naged.


Mengunyah perlahan sambil meresapi, takut kalau tiba-tiba muntah, karena dalam fikirannya gilingan daging yang dibalut tepung roti tersebut pasti berasa amis, dan bisa memicu mual.


"Kunyah dengan halus sayang.. Lalu telan," tutur Hasyim


Aleria menelan perlahan dan akhirnya berhasil tidak ada rasa mual sama sekali. Hasyim tersenyum lega melihatnya.


Lalu dia mengambilkan segelas air minum agar tidak serat.


"Enak kan?" Hasyim kembali menyuapinya.


Jika tubuh Aleria seperti ini, terus bagaimana waktu menjalani ospek besok, apalagi untuk menggerakkan badan saja masih terasa lemas.


"Mas,"


"Iya? Tinggal sedikit lagi ayo," bujuk Hasyim agar Aleria mau menghabiskan makanannya.


Setelah berhasil menghabiskan makanan tersebut, Aleria baru berucap. "Sebenarnya aku sakit apa sih mas?"


Tangan Hasyim yang masih membersihkan bibir sang istri dengan tisu itu mendadak berhenti, laki-laki itu ingin berbohong rasanya tak bisa tetapi kalau jujur pasti menimbulkan petaka.


"Mas," lambaian tangan Aleria membuyarkan lamunan Hasyim.


"Eh iya sayang?"


"Kok malah ngelamun, Ria sakitnya parah kah?" perempuan itu menangkap raut wajah sang suami yang seperti menyembunyikan sesuatu.


Di dalam fikiran bocah tersebut, apakah Hasyim kefikiran soal sakitnya?


"Enggak kok sayang, kan kata dokter Ria cuma kecapekan," ucap Hasyim seraya mengusap bahu istrinya untuk menenangkan.


"Tapi mas Hasyim kok nglamun?"


"Mas hanya menyesal tadi sudah mengabaikan kamu, maafkan mas ya," bohong Hasyim, tetapi benar adanya dia memang menyesal karena telah mendiamkan sang istri.


"Oh berati benar tadi marah sama Ria? Salahku apa sih mas?" suara Aleria agak meninggi, dia tidak suka jika diabaikan tanpa sebab.


"Kalau aku salah tolong dong kasih tahu di mana letak kesalahannya,


biar Ria bisa memperbaiki,"


"Kamu gak salah sayang, cuma mas aja yang terlalu sensitif,"

__ADS_1


Tidak hanya kondisi hati Aleria yang sensitif saat ini, tetapi awal mula terjadinya terkena pada hati Hasyim, sampai dia sendiri ingin mendiamkan.


"Maaf," tanpa sadar mereka berucap dengan bersamaan.


Hasyim tersenyum ketika menyadari kelucuan itu, dirangkulnya tubuh Aleria ke dalam dada, lalu mengusap pucuk kepala dengan sayang.


"Mas," kepala Rara mendongak ke atas agar bisa melihat wajah suaminya.


"Tugasku buat ospek besok belum selesai," lanjut Aleria lagi mengeluarkan hal yang telah mengganggu fikiran.


"Oh iya, mas baru ingat kalau besok masih ospek," ucap Hasyim mengurai pelukan.


"Terus bagaimana?" cicit Aleria.


Dia takut kalau Hasyim akan memarahinya, karena Aleria mengingatkan sekarang, sedangkan tugas tersebut harusnya dicicil sejak tadi, tetapi kini malah kian menumpuk.


"Ya dikerjakan lah sayang.. " Hasyim menjawab dengan santai, dia segera beranjak dari sofa untuk mengambil peralatan milik sang istri.


Semua bahan sudah Hasyim bawa, dan tadi dia juga keluar sebentar karena masih ada yang kurang.


"Ria istirahat saja, biar mas yang mengerjakan," larang Hasyim ketika melihat Aleria ingin bergabung dengan dirinya yang duduk lesehan di bawah sofa.


"Tapi ini kan tugasku mas,"


"Ini juga tugas mas sayang.. yang juga menjaga kamu biar gak kecapekan lagi,"


"Banyak hlo mas," Aleria mengambil selembar kertas berniat membantu sedikit.


"Kamu rebahan aja di sofa, biar mas yang mengerjakan," titah Hasyim lagi ketika melihat posisi Aleria sudah ada di samping.


"Tapi.."


Tanpa basa-basi tangan laki-laki itu diselipkan di belakang kedua lutut Aleria, dan tangan satunya menopang leher bagian belakang.


Seperti tak ada beban, Hasyim bisa mengangkat tubuh sang istri dengan mudah.


"Mas.."


"Dah dikurung di kamar aja biar gak nakal terus,"


"Emangnya Ria nakal kenapa mas?"


"Ya banyak aja tingkahnya, mas capek ngomongin," Hasyim menaruh tubuh Aleria di ranjang setelah sampai di kamar.


"Hem, yaudah sana keluar ke kedai atau dimana kalau capek sama Ria,"


Gawatt


Hasyim malah mengatakan seperti itu, sudah tahu jika hati Aleria gampang sensitif. Malah kini dipancing-pancing.

__ADS_1


"Maaf.. " laki-laki itu yang tadinya sudah beranjak dari ranjang kini kembali lagi, dengan memeluk sang istri.


Aleria mengibaskan tangan Hasyim, lalu tengkurap dan kepala ia tutup memakai bantal.


Hal itu membuat Hasyim takut, dia berfikir tengkurap dapat menyebabkan penekanan yang kuat pada perut.


"Ria mas minta maaf ya.. Jangan tengkurap tidurnya," bujuk Hasyim sambil memegang bahu istrinya.


Tak ada jawaban sama sekali, yang ada hanyalah getaran pada tubuh Aleria. "Dek.. " nihil belum ada suara sama sekali.


Dengan terpaksa tanpa meminta ijin lagi, laki-laki tersebut segera membalikkan tubuh sang istri. Terasa ringan tanpa adanya rasa penolakan.


Sampai terpampang nyata wajah Aleria saat ini, terlihat air mata membanjiri pipi dan cairan bening juga keluar menerobos dari hidung.


"Ya Allah maafin mas sayang.. Jangan menangis begini," Hasyim mencoba menghapus air mata beserta cairan ingus tersebut dengan tangan.


Tetapi cara itu ternyata tidak bisa menghilangkan jejak, "Mas ambil tisu dulu ya."


Setelah mendapatkan tisu dari meja rias, dia kembali membersihkan lagi. Aleria menurut saja karena sudah terlalu capek mengikuti arah moodnya.


"Ria, gak suka nangis.." ucap perempuan tersebut seraya mengusap kasar air mata yang membasahi.


Tak suka saja dengan matanya yang gampang memanas hanya karena masalah sepele, hati Aleria sekarang mudah sekali tersinggung.


"Nangis aja gak papa, itu hal wajar sayang.. " Hasyim merengkuh sang istri.


"Dulu Ria kuat kok, nggak seperti ini," Aleria kembali tergugu, sampai menimbulkan suara di hidung.


Mungkin jika orang lain melihat, pasti sudah dianggap lebay. Namun Hasyim menyadari kalau perasaan Aleria sensitif karena bawaan bayi.


Rasa dingin tiba-tiba hinggap di dada Hasyim yang masih tertutup kaos, sedikit hangat dan lembab.


Laki-laki itu mengusap-usap rambut Aleria dengan sabar, meski sadar kalau bajunya sudah basah, karena terkena dampak dari tangisan sang istri.


Perempuan itu juga iseng mengosok-gosokan hidung berulang kali di dada bidang di depannya.


Geli, tapi Hasyim tidak berucap apapun, biar suka-suka Aleria saja. Sampai berhenti dengan sendirinya.


"Sudah?" tanya Hasyim ketika Aleria mendongak menatapnya.


Dia mengangguk, "ngantuk.. "


"Yaudah ayo bobog,"


"Mas kemana?"


"Mau buang ini dulu sayang.. " jawab Hasyim, tisu tadi masih ada di tangan dan juga sekalian mengganti baju.


"Di sini aja, tungguin aku sampai bisa bobog," kaos Hasyim ditarik dengan erat dan dia hanya bisa menuruti.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2