Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Pingsan


__ADS_3

"Gimana mas rasanya?" tanya Aleria ketika Hasyim baru menyuapkan nasi ke dalam mulut.


Laki-laki itu mengunyah dan meresapi lalu mengangguk begitu saja.


"Alhamdulillah kalau enak, maaf mas Ria bisanya hanya itu," ucap Aleria dan lagi-lagi sang suami hanya mengangguk.


Dia jadi heran dengan sikap Hasyim, sejak bangun tadi suaminya itu tidak berkata apapun.


Mungkin lagi capek, fikir Aleria. Sebenarnya dia bingung ketika sendok sudah di isi nasi, ingin langsung memasukan ke dalam mulut tapi dia tidak suka rasa pedas.


Terayun lalu diturunkannya lagi, sampai Hasyim yang hampir habis jadi gagal fokus melihat nasi sang istri masih utuh begitu.


"Apa punyamu juga pedas?" mata Hasyim melihat piring Aleria yang berisi nasi bewarna merah.


Aleria mendongak, baru kali ini Hasyim mengeluarkan sepatah kalimat sejak bangun tadi.


"Iya mas, tapi gak papa kok," setelah mengatakan itu, dia mengayunkan sendok untuk dimasukan ke mulut.


Belum sampai masuk Hasyim sudah merebutnya, lalu di taruh pada piring. "Kenapa mas?" tanya Aleria.


Dia tidak menjawab dan menjauhkan nasi goreng tersebut lalu menutupnya. Hasyim merutuki diri sendiri, bisa-bisanya lengah saat sang istri ingin makan nasi goreng sepedas ini.


Laki-laki itu terlalu fokus dengan marahnya, sampai lupa tidak memperhatikan Aleria.


"Hlo mas?" heran Aleria ketika Hasyim mengambil piring dan menutupnya.


"Kan belum aku makan," ekor matanya  mengikuti gerakan sang suami.


"Pedas," jawab Hasyim datar.


Dia mengambil bungkusan bubur instan dan mulai memasaknya sebentar, tak ada pilihan lain untuk menunda kelaparan. Jika memasak nasi pasti membutuhkan waktu, semarah-marahnya Hasyim saat ini ia tetap tak tega kepada sang istri.


Bukan marah sih tepatnya, tapi lagi kecewa aja. Hatinya serasa terus berharap, namun tak kunjung menemukan tempat berlabuh.


Bagaimana ingin berlabuh? Aleria saja menurut Hasyim masih enggan untuk menerima.


"Gak usah repot-repot mas, Ria kuat kok sekarang makan pedas," Aleria mematikan kompor.


"Duduk," perintah Hasyim dengan menatap dalam dan penuh penekanan.


Aleria jadi takut sendiri melihat tatapan itu, akhirnya dia melangkah mendekati kursi lalu duduk seraya berpangku tangan.


Dia berfikir tak biasanya Hasyim secuek ini, bahkan tiada kata candaan yang keluar dari mulutnya.


Apa Hasyim marah? Tapi karena apa, perasaan dia tidak melakukan kesalahan apapun.


'Hem..  Laki-laki memang mahluk yang membingungkan,' batinnya.

__ADS_1


Padahal rumusnya bukan begitu, yang membingungkan yaitu perempuan. Tapi untuk kisah mereka malah sebaliknya.


Hasyim yang tidak bisa berbicara langsung dan hanya dipendam sendiri, lalu istrinya juga sama. Mempunyai gengsi yang sangat besar, bahkan mengakui ke hatinya sendiri jika dia telah menerima Hasyim pun juga tak bisa.


"Nih," tanpa dirasa ternyata cepat juga jadinya.


Hasyim membawa piring bekas hendak ia cuci di wastafel, "Biar Ria aja mas,"


Aleria menahan tangan sang suami, lagi-lagi Hasyim hanya menatap dengan datar.


"Makan,"


Bocah itu hanya bisa menghela nafas, lalu tangannya terulur memegang sendok untuk menyuapkan bubur.


Dia tahu kalau ada bubur instan, tapi niat hatinya tadi ingin memasak yang spesial untuk sang suami.


Punggung kokoh Hasyim terlihat tegap dari belakang, tangannya begitu cekatan memberi sabun lalu membilas piring. Setelah itu mengelap kompor dengan kain basah, dia begitu telaten membuat Aleria menganga tak percaya.


Istrinya itu jarang memperhatikan kegiatan sang suami, jadi tidak tahu menahu dengan apa yang dilakukan Hasyim.


Baru tiga suapan yang masuk, Aleria sudah merasa eneg.  Ditaruhnya sendok tersebut. Lalu berjalan menghampiri Hasyim.


Terlihat suaminya tersebut masih sibuk dengan bersih-bersih, Aleria sudah berada di tepat belakang punggung kokoh itu. Tiba-tiba dia merenggangkan tangan dan mengaitkan ke perut Hasyim.


Menghirup dalam-dalam aroma khas dari tubuh Hasyim, seperti ada magnet yang menarik Aleria untuk mendekat.


"Mas.. "


"Lanjutkan makanmu," tangan kekar Hasyim melepas pelan pelukan dari sang istri.


"Mas.. " lirih Aleria, dia tidak menyangka kalau Hasyim menolak pelukannya.


Baru kali ini Aleria merasa seperti tertolak. Biasanya Hasyim yang lebih dulu bermanja-manja dengannya.


Kedua mata memanas lalu buliran hangat meluncur begitu saja tanpa bisa ditahan,  dia masih bertahan di posisi belakang.


Aleria bingung dengan dirinya sendiri,  hanya karena begitu saja kenapa dia menangis?


Hasyim menghentikan gerakan berberesnya, meskipun tak ada suara tangisan. Tetapi tubuhnya membalik untuk memastikan.


Ya dugaannya benar, sang istri menangis di belakangnya. Dia mengusap air mata tersebut dan berkata, "Segera habiskan buburnya, mas mau pergi ke kedai dulu,"


Tak lupa ia kecup dahi sang istri dan pergi begitu saja. Hasyim perlu menenangkan diri, mungkin dengan cara itu dia akan bisa mendapatkan solusi.


"Mas.. " panggilannya hanya mampu sampai di tenggorokan dia malu jika harus  berseru


Sebenarnya hari ini tak ingin berjauhan dari Hasyim, namun apalah daya sang suami malah menghindari.

__ADS_1


Mata Aleria melihat mangkok yang buburnya belum habis, dia ambil dengan gerakan cepat lalu membuangnya.


"Ih.. Ngapain juga aku tadi harus meluk-meluk,"


"Bodoh kamu Ria bodoh!"


Monolog Aleria merutukki perbuatanya yang tadi.


Dia segera menyuci piringnya lalu berniat ingin menyapu lantai, karena suaminya belum sempat membereskan semuanya.


.


Satu persatu pekerjaan rumah sudah ia lewati, mulai dari mencuci, menyapu, membersihkan halaman dan masih banyak lagi.


Diusapnya peluh yang membanjiri dahi, baru kali ini dia merasakan capek. Aleria memang jarang beres-beres selama tinggal dengan Hasyim.


"Ya Allah.. Ternyata capek juga," dia mendudukan diri di sofa.


Selama ini Hasyim tidak pernah mengeluh,  padahal dia seorang laki-laki yang kata orang sekitar tugasnya hanya mencari rezeki.


Waktu sudah menunjukkan jam 10.00 bentar lagi waktunya makan siang. Dia bingung lagi mau memasak apa.


Aleria bertekad, hari ini harus berubah tidak hanya terus-terusan menjadi istri yang manja.


Dia menggeser layar hp ke atas untuk membuka kunci, lalu mengeklik ikon sebuah aplikasi yang biasanya berisi jendela dunia.


Diketiknya pada kolom pencarian, 'cara membuat tahu balado'


Perempuan itu teringat sebuah makanan yang pernah ia buat saat tugas mapel PKWU, dulu masakan buatannya terasa enak. Tetapi karena sudah lama tidak membuat lauk, jadinya lupa dengan sendirinya.


"Bahan utamanya tahu, kira-kira pedagang keliling nanti masih ada nggak ya?"


"Yaudah ditunggu aja deh, sambil mengupas bahan yang lain," Aleria menggerakkan tubuh untuk berdiri.


Namun badannya terasa berbeda ketika ingin berjalan kedua kaki bocah itu seakan kaku.


Tangan mulusnya berpegangan pada meja dan berusaha melangkah, kini malah mata sipit Aleria seperti berkunang-kunang.


Bumi terasa berputar dan dia takut kalau tidak bisa jaga keseimbangan, apalagi disusul kepala yang mulai pusing.


Dia mencoba bertahan dengan tangan mencari hp untuk menghubungi sang suami.


Naas badan mungil itu limbung dibawah sofa seakan tak bertenaga.


Matanya perlahan menutup di iringi suara lirih "Mas Hasyim.. "


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2