Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Jodoh mungkin


__ADS_3

Ya ampun ternyata bukan mimpi," Aleria menutup mukanya karena malu. Malu sebab ada iler yang ada di dagu, dan malu juga karena rambutnya mungkin terlihat berantakan.


"Bukanlah makanya coba lihat mas, biar hilang kangennya," Hasyim terus menggoda Aleria.


"Kok bisa ketemu di sini sih?" gerutu Aleria dengan lirih, tapi Hasyim bisa mendengarnya.


"Jodoh mungkin,"


Gadis yang baru bangun itu masih menutup wajahnya dan langsung melipir ke kamar mandi untuk cuci muka. Hasyim hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Aleria.


"Jalanmu kenapa ndok buru-buru begitu?" mbok Darso yang sedang membuat teh dibuat bingung oleh tingkah bocah tersebut, tapi dia berfikir pasti Aleria sedang kebelet pipis.


Di dalam kamar mandi Aleria menetralkan jantungnya, dia sudah lega jika tidak memimpikan Hasyim lagi, tapi kok malah sering ketemu terus di dunia nyata. Iya kalau pas dia dandan cantik dipertemukan gak papa, lah ini iler ngluyur kemana-mana, bahkan rambut juga ikutan berantakan, gadis itu benar-benar malu.


"Mbak cepetan keluar! aku kebelet pipis nih!" teriakan Hayana menyadarkan Aleria. Padahal dia baru aja melamun sudah diganggu saja. Gadis itu dengan cepat mencuci muka dengan air, lalu membuka pintu yang kini menampakan wajah adiknya.


Di ruang tamu Hasyim asyik mengobrol sama mbok Darso, sambil sedikit menyeruput tehnya. Mereka kelihatan akrab walaupun baru ketemu, karena mbok Darso maupun Hasyim sangat pandai untuk mencari bahan obrolan.


"Jangan tidur lagi ndok, mau subuh ini," mbok Darso memperingati Aleria yang sudah nampak dari arah dapur.


Gadis itu merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan jari tangannya, mau gimana lagi ini semua serba dadakan. Mana sempat pinjam sisir ke mbok Darso la Hasyim aja sudah nongol begitu saja.


"Nyisir rambut yo pakai sisir to ndok, duduk sini biar mbok ambilkan sisirnya," Aleria menurut saja tapi dia tidak berani menatap Hasyim. Malah sibuk sendiri dengan rambutnya yang telah ruwet.


"Tanganmu sakit nanti kalau begitu, tunggulah sisir dari simbok," ucap Hasyim gemas.


"Hm,"


Mbok Darso keluar dari kamarnya dan menghampiri Aleria untuk memberikan sisir tersebut. Gadis itu menerima lalu menyisir rambut yang telah acak kadul itu


"Kok susah gini sih," gerutu Aleria karena sisirnya macet begitu saja.


"Kamu terlalu terburu-buru, sini biar mas bantu," Hasyim memberikan tangannya untuk meminta sisir tersebut.


"Gak usah, aku bisa sendiri," mbok Darso hanya diam sambil tersenyum, ingin melihat tingkah lucu mereka lebih lanjut.


"Sini-sini," Hasyim langsung mendekat dan mengambil paksa sisirnya, ia merapikan rambut Aleria dengan pelan jadi yang tadinya ruwet kini perlahan bisa kembali. Wangi shampo Aleria bisa membius Hasyim, laki-laki itu ingin menghirup sepuas-puasnya.

__ADS_1


"Kalem-kalem gini, biar nggak ruwet sayang.." ucap Hasyim sambil meneruskan kegiatan tersebut.


"Sudah belum? lama banget nyisirnya," gadis itu memikirkan seragam yang belum disetrika.


"Sudah..," laki-laki yang ada di samping Aleria bertambah kagum saat menatap gadisnya, rambut yang terurai menambah kesan anggun kepada perempuan masih SMA tersebut.


"Tambah ayu ae putuku," ucap mbok Darso.


"Calonnya siapa dulu dong mbok?" Hasyim memberi kode ke mbok Darso agar mengiyakan saja nanti saat dia berucap.


"Calonkulah mbok, cantik kan?" sambung laki-laki itu lagi.


"Kalian itu serasi, cocok kalau semisal jadi pasangan suami istri," mbok Darso berkata sambil terkekeh.


"Sekolah aja belum lulus mbok, sudah ngomongin gituan," Aleria beranjak dari duduknya serta membawa sisir, karena ingin segera menyetrika seragamnya.


"Mbok kan bilangnya nanti bukan sekarang," bantah mbok Darso yang disetujui oleh Hasyim.


Gadis itu tidak menggubris sama sekali, malah menggelar selimut tebal untuk alas saat menyetrika, dan menunggu agak sedikit panas ketika setrika sudah di pasang pada colokan.


"Yaudah mbok tinggal masak dulu ya, kalian ngobrol-ngobrol aja," ucap mbok Darso meninggalkan mereka berdua.


"Seragammu ukuran berapa ini? kecil banget," Hasyim melihat seragam atasan Aleria yang terlihat mungil.


"Apaan sih mas, sana jangan gangguin aku," gadis tersebut merebut barang yang sudah diambil Hasyim.


"Mas gabut kalau di kursi, pengen lihatin kamu aja," tangan Hasyim menyangga kepalanya agar bisa fokus melihat gadis kecilnya itu.


"Yaudah pulang sana biar ada kerjaan," usiran Aleria menyadarkan Hasyim kalau dia belum mempersiapkan adonan martabak.


Tapi biarlah, Hasyim ingin menghabiskan waktu dengan Aleria walaupun sebentar, untuk kedai dia bisa membukanya nanti meskipun telat yang penting dibuka.


"Kerjaannya ya cuma memandangimu begini," Hasyim mengirimkan chat kepada karyawan barunya, mengabari kalau kedai martabak manis akan dibuka agak siangan nggak kayak biasanya.


"Blelekan kapok,"


"Mas gak pernah blelekan kok, yang ada belek kamu tuh masih ada,"

__ADS_1


"Masa sih ada bleleknya? padahal sudah cuci muka," Aleria melepaskan alat yang ia pegang, karena sibuk mengurusi wajahnya. Ternyata gadis itu gampang banget dikibulin, Hasyim kini malah tertawa.


"Nggak ada Ria.. mas cuman becanda, awas seragammu bisa gosong lo," untung saja Hasyim segera menegakan setrikanya kalau tidak mungkin sudah membuat kain tersebut bolong.


"Becandanya nggak lucu, sana pulang saja," usir Aleria.


"Nggak mau, mas pengen nganterin kamu sekolah,"


"Aku bisa pakai montor sendiri," tolak gadis itu.


"Pokoknya mas mau nganterin, nggak ada bantahan lagi,"


"Sudah mas anterin saja, nggak perlu nunggu persetujuannya," tiba-tiba Hayana sudah balik dari arah dapur. Tapi yang bikin Hasyim bertanya-tanya yaitu kenapa adiknya Aleria tidur lagi? bukannya mempersiapkan untuk sekolah.


"Adikmu nggak sekolah?" tanya Hasyim saat melihat Hayana sudah bergelung dengan selimutnya.


"Bolos ikutan teman-temannya," jawab Aleria sambil menaruh seragamnya di hanger. Hasyim hanya ber oh ria, karena dia tahu pergaulan anak jaman sekarang yang sudah bebas, termasuk adiknya sendiri.


"Mas Hasyim nggak pulang? aku mau sekolah lo ini," Aleria tidak bohong memang dia akan bersiap setelah shalat subuh.


"Nggak, mau nganterin kamu dulu baru pulang," pria itu masih tetap kekeh dengan kemauannya.


"Yaudah terserah," pasrah Aleria.


Setelah selesai dengan semua persiapan dan sudah berpamitan dengan mbok Darso akhirnya Aleria jadi berangkat diantar Hasyim.


Tapi baru berapa menit berjalan mobilnya dihentikan. Aleria menautkan alisnya dan bertanya kepada Hasyim. "Kenapa berhenti mas?"


Tanpa menjawab wajah laki-laki itu mulai mendekat, bahkan bau mint dimulutnya bisa Aleria hirup, tapi gadis tersebut malah memundurkan kepalanya ia sungguh takut. Apalagi mereka berhenti di tempat yang sepi.


"Mas ja-"


"Pakai sabuk pengaman dulu biar aman," sebelum Aleria berucap Hasyim sudah terlebih dahulu memotongnya.


Aleria jadi malu, apalagi tangannya sudah seperti menghalau tubuh Hasyim. Padahal kenyataannya laki-laki tersebut cuman ingin memasangkan sabuk pengaman nggak lebih.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2