
Aliera hanya memandang kepergian Hasyim, dia memikirkan perkataan laki-laki itu, kenapa Hasyim mengatakan kalau Hisyam tidak seperti dulu lagi? bahkan Hayana juga memperingati Aliera. Apakah benar Hisyam bukan Hisyam yang dulu lagi? entahlah dirinya belum bisa percaya kepada siapapun sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Sudah baikan sama om Hasyim?" tanya Hayana saat Aleria mulai menutup pintu.
"Anak kecil tidur nggak usah ikut campur,"
"Yang dibilang anak kecil itu harusnya kamu mbak, seharusnya sampean itu memaafkan mas Hasyim, toh Allah juga maha pemaaf masa mahluknya saja nggak," Hayana memang masih kelas 3 SMP namun pola pikirnya lebih dewasa dari pada Aleria.
"Kamu nggak pernah tahu apa yang kurasain dulu! jadi lebih baik diam!" ucapan Aleria meninggi lalu menutup pintu kamar dengan kasar.
Hayana sudah tidak berani berkata-kata lagi, baru kali ini dia melihat kemarahan kakaknya, mungkin Aleria butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
"Kenapa kamu hadir lagi mas?" Aleria mulai terisak di balik bantal.
"Apakah selama ini kau memikirkanku? hingga dirimu tak pernah luput untuk hadir di mimpiku,"
"Aku bingung, apakah harus membuka hati lagi untukmu? karena namamu sudah mulai terhapus oleh waktu,"
"Di sisi lain aku juga sudah nyaman dengan mas Hisyam," Aleria merupakan wanita yang gampang diluluhkan, karena selama masa remaja ia jarang dekat dengan laki-laki kecuali jika laki-laki itu memang sudah akrab dengannya.
"Tapi aku ingin menghargai perjuanganmu mas, biarlah waktu yang menjawab apakah aku bisa menerimamu kembali atau tidak," menurut Aleria sang waktulah yang mengajarkan dia untuk melupakan sesosoknya, dan kini biar waktu juga yang membukakan hatinya.
Karena tidak ingin terus bersedih, Aleria lalu memutar sebuah musik dari hp, tetapi dia malah nggak sengaja memilih list lagu yang berjudul 'Simpang Limo' . Jari Aleria sepertinya sudah berkompromi dengan takdir hingga memutar lagu itu.
__ADS_1
Lagu Simpang Limo yaitu lagu jawa yang lagi viral saat ini. Lirik di dalamnya mengingatkan sebuah janji Hasyim kepada Aleria.
"Kamu seneng kan dek bisa lihat monumen simpang limo?" tanya Hasyim kala itu saat pertama kali mengajak Aleria ke tempat tersebut.
"Seneng banget mas, makasih ya," binar mata Aleria membuat hati Hasyim semakin senang.
"Monumen ini berdiri tegap, seperti tegapnya pendirian mas untuk selalu mencintaimu," Hasyim mengecup tangan Ria kecil yang dulu masih duduk di bangku SMP.
"Beneran mas?" tanya Ria polos.
"Iya monumen Simpang Limo ini akan menjadi saksi, bahwa mas Hasyim akan selalu mencintaimu hingga akhir waktu," laki-laki dewasa itu langsung memeluk gadis belianya.
Sejak pindah ke Jogja Aleria jarang berkunjung ke kota Kediri, termasuk monumen Simpang Limo. Jikapun dikasih kesempatan untuk pulang ke Jombang dia belum berani melihat monumen tersebut, karena takut jika teringat dengan masa lalunya itu.
"Apa masih kau simpan fotoku mas?" monolog Aleria, ia teringat waktu itu pernah foto-foto menggunakan hpnya Hasyim.
Ting
Aleria mengambil hp yang ada di sebelahnya ketika mendengar suara notifikasi. Saat mengusap layar ke atas muncul chat w'a dari nomor yang tidak dikenal.
Pas dibuka muncullah foto Aleria yang berlatar monumen Simpang Limo. Lalu nomor itu mengetik.
[Dek, kamu masih ingat kan saat mas memfotomu dulu?]
__ADS_1
Foto profil sang pengirim yang tadinya kosong kini berganti dengan foto anak kecil yang ada di Simpang Limo, ya gadis kecil itu ialah Aleria.
Baru saja Aleria membatin kini seakan Hasyim peka dengan sendirinya, cinta Hasyim sungguh mendalam hingga apa yang ada di dalam pikiran gadisnya seakan bisa ia ketahui.
Yang tadinya galau gulindau kini gadis itu malah menerbitkan sebuah senyuman manis, dia senang karena Hasyim masih menyimpan foto itu.
Lalu Aleria mengelus-elus tangan yang tadi Hasyim pegang, hati perempuan memang gampang luluh. Namun untuk luka bukannya harus disembuhkan terlebih dahulu? maka Aleria ingin menunggu sebuah perjuangannya Hasyim karena ini berkaitan dengan hati yang dulu pernah membeku.
[Adek sudah tidurkah? kok nggak dibalas pesannya mas? ]
Blush panggilan itu membuat Aleria merona malu, untung saja Hasyim tak bisa melihat hal itu, mungkin dia akan terus menggoda gadisnya.
Aleria membalas walaupun singkat namun Hasyim tetap setia menyambut obrolan dengan panjang, hingga tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk angka 11.
[dah malam]
[Ria mau tidur]
[Oh iya, mas sampai nggak ingat jam]
[Selamat malam sayang... kalau tidur jangan lupa mimpikan mas ya]
Padahal tiap hari Aleria memimpikan Hasyim, bahkan mimpi lain seakan tidak ada, semua dipenuhi dengan Hasyim. Ternyata kerinduan laki-laki itu sungguh membuat resah Aleria.
__ADS_1
Bersambung....