Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Teman lama


__ADS_3

Baru beberapa suapan tiba-tiba ponsel Aleria berbunyi ternyata itu dari temannya yang ada di Jombang. Tempat ia tinggali saat ini.


Dalam pesan via berlogo hijau itu berisikan kalau temannya ingin mengajak keluar, karena mereka sudah lama tidak bertemu dan waktu yang ditentukan sangatlah cepat hingga dia tidak bisa menghabiskan makanannya.


"Mas aku keluar sebentar ya," ucap Aleria bergegas meninggalkan ruang makan.


"Habiskan makananmu dulu sayang


mau kemana kamu?" cegah Hasyim.


"Keluar sama teman, paling juga di sekitaran sini,"


"Teman yang mana


cewek atau cowok?" tanya Hasyim lagi.


"Cewek kok lagian dia teman SDku dulu di sini," kemudian Aleria pergi begitu saja untuk berganti pakaian.


"Sayang, kamu belum menghabiskan nasi padangnya


ayo habiskan dulu baru boleh pergi," bujuk Hasyim.


"Gak bisa mas, Ria buru-buru," dia memoleskan bedak dan tak lupa lipbam agar tidak terlalu pucat.


"Yaudah biar mas yang antar," dengan segera Hasyim mengambil kunci mobil.


"Ya ampun mas, Ria itu sudah gede


sudah bisa jaga diri, gak perlu diantarin terus," jengkel Aleria.


"Tapi mas khawatir sayang.. apalagi makanmu hanya sedikit,"


"Percaya sama Ria, oke mas?" tubuh mungil itu meng*cup pipi suaminya.


Luluh juga hati Hasyim. Dengan berat hati dia melepaskan sang istri sendirian, pergi menggunakan motor yang telah dia sediakan.


"Asalamu alaikum," Aleria mencium tangan suaminya.


"Walaikum salam, hati-hati," jawab Hasyim tapi beberapa saat kemudian ia baru ingat kalau sang istri tadi belum memakai jaket.


"Sayang..." serunya seraya mengambil kain tebal itu dan membawanya keluar.


Aleria berhenti di depan pintu utama ketika mendengar panggilan Hasyim. "Apalagi sih mas?"


"Pakai dulu jaketnya," Hasyim memakaikan jaket tersebut.


"Ini belum sore mas, kenapa harus makai jaket," Aleria merasa jengah dengan sikap posesif suaminya itu.


"Anginnya kencang nanti kalau masuk angin gimana,"

__ADS_1


"Tau ah," pasrah Aleria kemudian.


Dia mulai menaiki motornya dan menyalakan stater. "Hati-hati jangan ngebut,"


"Hm," gumam Aleria.


Tapi pesan dari laki-laki itu hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dia memacu kuda besinya dengan cepat.


"Astagfirullah.. punya istri dibilangin susah banget, semoga baik-baik saja," kemudian Hasyim masuk ke dalam, dan pergi juga untuk mengecek bisnisnya dari pada tidak ngapa-ngapain di rumah.


...----------------...


"Maaf kalau nunggu lama," sudah lama Aleria tidak berkunjung di kota kelahirannya, jadi mencari lokasi temannya itu sangat susah. Meskipun menggunakan maps sekalipun.


"Gak papa, aku juga baru nyampe," ucap Nasya seraya mengaduk-aduk jus jeruk yang telah ia pesan.


"Minum dulu say," Nasya juga memesankan minuman untuk teman lamanya tersebut.


"Gimana Nas kabarmu?" tanya Aleria ketika sudah meminum sedikit.


"Alhamdulillah baik, maaf Ria kalau ngajak kamu dadakan banget," sesal Nasya.


"Santai aja, aku malah senang soalnya kita sudah lama kan gak ngobrol bareng,"


"Omong-omong dah isi pa belum?" tanya Nasya secara tu de point. Sifatnya dari dulu memang begitu, kalau ngomong selalu ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Tak sepatutnya ia menanyakan hal itu kepada orang yang baru menikah, karena terkadang bisa membuat orang minder maupun tersinggung.


"Kok Alhamdulillah?"


"Aku belum siap Nas kalau hamil diusia segini," jujur Aleria.


"Terus kamu nikah buru-buru itu gunanya apa? kalau bukan segera ingin punya anak,"


"Ya buat senang-senang," jawab Aleria, karena dia tak mungkin jujur jika menikah hanya agar ada yang membiayainya kuliah di kampus swasta.


"Tapi suamimu itu sudah tua loh, ya kalik nikah hanya buat senang-senang,"


"Memang kenyataannya begitu Nas, dia sayang sama aku akhirnya menikah,"


"Gak mungkin, pasti juga pengen segera punya anak," sudah menjadi kebiasaan Nasya yang terlalu kepo terhadap kehidupan orang lain, bahkan dia selalu tidak mendukung keinginan temannya.


"Iya sih, mas Hisyam pernah bilang kalau pengen punya anak


tapi akunya yang belum siap," jelas Aleria.


"Terus dia nurutin begitu saja?"


"Awalnya maksa, tapi lama kelamaan nurut juga,"

__ADS_1


"Hati-hati, kadang ucapan cowok itu sulit dipegang," Nasya merasa iri dengan kehidupan Aleria bahkan sejak mereka masih SD, dan kali ini temannya itu malah dijadikan ratu oleh suaminya. Sungguh beruntung bukan?


Berbanding terbalik dengan kehidupan Nasya, selama ini dia selalu dipermainkan oleh laki-laki. Bahkan hidupnya sebatang karena telah ditinggalkan kedua orangtuanya.


"Mas Hasyim itu jujur kalau bilang iya tetap iya, kalau tidak ya tetap tidak," Aleria mencoba tidak terpengaruh, dia lebih jauh lebih mengenal suaminya.


"Logika aja Ria, dia ngajakin kamu nikah diumur masih muda begini sudah bisa dipastikan kalau suamimu itu nikahin kamu karena pengen anak


umurnya kan juga sudah tua,"


"Sekarang aku tanya, kamu bahagia nggak dengan pernikahan ini?" ucap Nasya lagi.


"Bahagia kok banget malahan," jawab Aleria penuh yakin. Selama ini Hasyim selalu memanjakannya.


"Itu hanya sementara Ria, pasti beberapa tahun bahkan bulanpun dia bakalan berubah


ya gimana ya, laki-laki itu gampangan bosan. Apalagi kalau kamu belum kunjung hamil pasti juga dihempas,"


"Kamu itu sebagai teman ya doakan yang baik-baik dong!" ketus Aleria.


"Aku tuh ngasih tahu kamu Ria.. karena dari dulu kamu goblok banget, takutku nanti gampang dibodohin sama suami tuamu itu,"


"Gak mungkin," lirih Aleria, dia mulai mencerna kata-kata Nasya.


"Banyak kejadian di luaran sana yang dibuang suaminya hanya karena tak kunjung hamil


apalagi kamu yang malah gak mau hamil, palingan bentar lagi dia nyari selingkuhan," Nasya terus saja mengompori.


"Bu Dewi nggak bisa hamil tapi suaminya masih setia tuh Nas," Ria mengingat guru SDnya dulu yang dengar-dengar mempunyai permasalahan di rahimnya.


"Lah kamu nggak tahu apa berita terbarunya, laki-laki itu selingkuh dengan janda yang rumahnya samping sekolahan kita," Aleria memang sudah lama tidak ke Jombang jadi tidak tahu berita terbaru di lingkungan sini.


"Astagfirullah.. " pikiran buruk mulai bergelayut di kepala bocah itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering lalu dia geser ikon hijau untuk menerima. "Hallo, ada apa mas?"


"Kamu sekarang di mana sayang?" tanya seseorang yang ada di telefon.


"Kafe Clacavan,"


"Oke, jangan main jauh-jauh ya, nanti pul-" belum sempat Hasyim melanjutkan obrolannya sang istri sudah mematikan sabungan tersebut.


Mood Aleria menurun akibat ucapan Nasya. Dia mengira kalau Hasyim hanyalah sok perhatian dan menikahi Aleria hanya karena ingin segera punya anak.


"Siapa say yang telfon? kok sampai cemberut gitu," tanya Nasya kemudian.


"Mas Hasyim,"


"Kenapa? dia nyuruh kamu segera pulang ya?

__ADS_1


dahlah gak usah digubris, kamu itu masih muda harus menikmati kebebasan," entah apa yang ada di dalam fikiran Nasya, ia tidak ingin jika melihat kehidupan Aleria begitu sempurna.


bersambung..


__ADS_2