
"Sebenarnya ingatan masa lalu sangat susah mas untuk dihilangkan, tapi aku ingin memaafkan mas dengan tulus juga, tolong bantu aku agar rasa cinta yang dulu pernah hilang bisa kembali lagi,"
"Mas akan membantumu sayang .. maafkan mas yang pernah menyakitimu dulu, sekarang mas gak papa jika perasaan ini harus bertepuk sebelah tangan. Yang penting kamu mau maafkan mas,"
"Iya mas, tolong panggilkan mereka," pinta Aleria kemudian
Waktu di luar ruangan ternyata Hisyam sudah meminta maaf kepada Hayana, tapi perempuan itu hanya mengiyakan saja serasa dia nggak peduli sama sekali dengan laki-laki yang ada di sampingnya.
"Gimana Ria apa kamu mau memaafkanku?" Hisyam kembali bertanya setelah ada di dekat Aleria.
"Iya mas, semoga mas Hisyam bisa kembali menjadi yang dulu," gadis itu berharap agar adiknya Hasyim bisa kembali menjadi baik lagi.
"Mas pulangku kapan?" Aleria menatap jarum infus yang terpasang pada tangannya.
"Jangan mikirin pulang, kamu baru saja sadar sayang ..."
"Terus sampai berapa hari aku di sini? tugasku tadi juga belum selesai," pasalnya bukan tugas dia saja tetapi tugas Shafa juga ikut serta.
"Hpku mana? aduh .. harus ngabarin Shafa ini," kekasih Hasyim seketika panik sendiri mencari benda kotak yang selalu ada dalam genggaman.
"Kenapa nyari temanmu? kan di sini ada mas yang menjagamu," heran Hasyim.
"Kita juga ikut menemani, bukan kamu saja syim," Hisyam merangkul pundak Hayana.
"Ih, bukan masalah itu, tapi kita tadi main taruhan nah terus aku yang kalah jadi terpaksa tugasnya Shafa tak kerjakan," ungkap Aleria.
"Kamu aneh-aneh aja mbak sampai jadi panas begini, bentar tak telfonkan temanmu," Shafa mengotak-ngatik hpnya.
.....
Malam sudah semakin larut, kini Aleria sudah di pindahkan ke ruangan VIV itu semua Hasyim sendiri yang meminta. Keluarga Aleria tidak ada yang tahu kalau dia dirawat kecuali Hayana, dia tidak ingin jika menambah kekhawatiran bagi yang lain. Jadi Aleria meminta Hasyim maupun adiknya untuk tidak memberi tahu siapa-siapa.
Aleria terbangun dalam tidurnya lalu melihat jarum jam sudah menuju angka 12, hati gadis itu kini tenang karena permasalahan antara dia dengan Hasyim maupun Hisyam telah terselesaikan.
Hisyam juga meminta maaf kepada Shafa waktu gadis itu datang dengan raut cemas untuk menemui Aleria, beruntung perempuan tersebut bisa memaafkannya.
Aleria menengok ke arah sofa yang menampilkan Hasyim tertidur di sana. Di ruangan ini hanya mereka berdua yang lain sudah pada pulang. Gadis itu mulai beranjak dari tempat tidurnya karena ingin ke kamar mandi.
Baru saja akan turun tetapi ranjang yang ia tempati sangatlah tinggi, ia melihat kursi namun jauh dari jangkauan.
"Loh kamu mau apa sayang? kan gak boleh banyak gerak dulu," beruntung Hasyim juga terbangun dan mendapati Aleria yang kini sedang duduk.
"Kebelet pipis mas, tolong ambilkan kursi biar aku mudah turun dari sini," Hasyim tidak menuruti kemauan Aleria malah sudah membopong tubuh gadisnya.
"Biar mas antarkan,"
"Nggak usah mas, cepat turunkan," Aleria menepuk-nepuk bahu Hasyim pelan untuk memberontak. Dia malu jika laki-laki itu akan ikut masuk ke kamar mandi juga.
"Mas tunggu di luar kamu hati-hati," Hasyim menurunkan gadis belia tersebut saat sampai di depan kamar mandi.
Aleria dengan pelan membawa selang infusnya ikut ke dalam tak lupa menutup pintu tersebut.
"Sudah?" tanya Hasyim ketika pintu kamar mandi terbuka.
"Aku bisa jalan sendiri," tolak Aleria saat Hasyim hendak mengangkat tubuhnya. Namun laki-laki itu tidak menerima penolakan jadi langsung saja tetap membawa tubuh gadisnya. Yaudah Aleria juga pasrah saja, toh Hasyim keras kepala banget.
Saat mau menaruh Aleria di tempat pembaringan, gadis itu berucap. "Mas aku laper,"
"Yaudah kamu rebahan dulu, mas carikan roti di Indomei," Hasyim hampir meletakan tubuh Aleria tetapi segera dicegah dengan ucapan gadis itu lagi.
"Ria nggak pengen rebahan, tapi pengen duduk di sofa itu," tunjuk Aleria pada sofa yang menjadi tempat Hasyim tidur tadi.
"Di sini saja sayang ..." Hasyim takut jika Aleria di sofa bisa-bisa nanti gadis itu akan berjalan-jalan keluar. Karena dia tahu bocah tersebut sangat susah untuk diam.
"Ah ... gak mau mas, Ria maunya di sofa," rengek Aleria sambil menggerak-gerakan kedua kakinya.
Hasyim menghela nafas dia harus memasang stok kesabaran yang penuh, karena Aleria sangat sulit diatur. "Iya-iya kesana," akhirnya Hasyim menurutinya.
__ADS_1
"Ingat jangan banyak gerak kalau di sini," ucap Hasyim setelah meletakkan tubuh Aleria di tempat yang gadis itu suka.
"Iya .. yaudah sana beli jajan yang banyak, tapi jangan roti Ria inginnya chiki,"
"Nggak boleh makan aneh-aneh dulu sayang .."
"Aleria cuman panas biasa mas, masa chiki aja gak boleh," bantah gadis itu menurutnya Hasyim sangatlah berlebihan.
"Sedikit saja ya gak boleh banyak," tawar Hasyim.
"Iya .." bibir Aleria mengerucut, andai saja mereka sudah sah Hasyim ingin sekali menghabiskan bibir yang terlihat manis itu.
"Mas berangkat dulu," pamit Hasyim mengusap puncuk kepala gadisnya, letak Indomei sangat dekat dengan rumah sakit jadi laki-laki itu tidak takut meninggalkan Aleria.
Setelah beberapa menit keluar, Hasyim kembali membawa kantong kresek besar yang isinya aneka ragam camilan. Tapi kebanyakan hanyalah roti sedangkan chiki hanya dua.
"Mas Hasyim itu tega masa chikinya cuman ada dua ..." protes Aleria ketika mengobrak abrik mencari jajan kesukaannya.
"Mas tadi bilang apa? bolehnya cuman dikitkan,"
"Tapi ini kebangetan mas dikitnya, ini cuma ada dua dan kemasannya kecil juga,"
"Kalau gak mau buat mas aja sini,"
"Ih nggak-nggak sudah dikasihkan masa mau diminta lagi," ketus Aleria.
"Makan rotinya dulu sayang .. biar kenyang baru makan chikinya," Hasyim mulai membuka kemasan roti.
"Nggak mau, aku ingin makan ini dulu,"
"Ayo a..." tanpa menghiraukan ucapan Aleria, Hasyim sudah menyuapkan secuil roti mau tidak mau gadis itu harus membuka mulut.
"Nah gitukan pinter, ayo lagi sayang ..."
"Dasar tukang paksa,"
Tanpa terasa Aleria sudah menghabiskan satu bungkus roti, dan Hasyim jadi senang karena dengan begitu gadisnya kini merasa kenyang tanpa harus memakan chikinya.
"Minum biar nggak seret," laki-laki itu memegang sebuah botol kecil berisi air mineral agar Aleria tidak kesusahan untuk memegangnya.
"Tidur mas ngantuk," Aleria menguap.
"Duduk dulu habis makan gak boleh langsung tidur, senderan dulu di sofa,"
Akhirnya Aleria menyenderkan tubuhnya pada sofa, tapi dia merasakan gabut tanpa ada hp di tangannya.
"Bosan mas, jalan-jalan keluar yuk," nah kan bocah itu baru saja disuruh diam sudah ingin bergerak lagi.
"Mas nggak mau, di luar dingin sayang .. jangan aneh-aneh,"
"Tapi aku bosan di sini hpku juga gak dibawa tadi,"
"Ini pakai hp mas aja," Hasyim menyerahkan benda kotak miliknya yang ternyata tidak dikunci sama sekali.
"Aku lihat yutube ya mas," ijin Aleria.
"Iya sesukamu sayang ..."
Aleria mencari konten yang menurutnya menarik. Seperti video mak beti. Gadis itu menonton setiap drama yang diperankan oleh yutuber tersebut.
Ketika perutnya sudah terasa longgar ia menidurkan kepalanya di pangkuan Hasyim. Tangan laki-laki itu juga mengusap-usap rambut gadisnya agar terasa nyaman.
"Lihatin apasih sampai senyum-senyum gitu?" tanya Hasyim ketika melihat Aleria yang sedang melengkungkan bibirnya, dan juga mendengar suara dari benda kotak itu.
"Video mak beti yang terbaru, lucu banget loh mas ini,"
"Kamu belum ngantuk?"
__ADS_1
"Nggak bisa tidur kalau di rumah sakit,"
"Kembali ke tempat tidur yuk, di sofa nanti pegel-pegel loh badannya," bujuk Hasyim karena dia sudah sangat mengantuk.
"Tapi Ria belum ngantuk,"
"Matanya ditutup aja nanti juga akan blabas tidur kok,"
"Mas temani Ria ya?" pinta gadis itu yang dibalasi anggukan oleh Hasyim. Setelah itu dia kembali mengangkat tubuh Aleria untuk diletakkan pada tempat tidur rumah sakit.
"Sudah segera tidur," Hasyim mengambil hpnya untuk diletakkan ke meja sebelah, lalu dia duduk di kursi yang tadi sudah ia letakan dekat dengan tempat tidur Aleria.
"Mas kok tidur di situ sih?" Aleria menepuk tangan Hasyim yang sudah dibuat bantal untuk pria tersebut.
"La di mana sayang? kan sudah dekat denganmu juga," ternyata Hasyim tidak paham apa yang dikatakan Aleria tadi.
"Maksudnya mas ikut tidur sama Ria di sini," gadis itu menggeser tubuhnya.
"Ya nggak muatlah sayang .." bukan karena masalah gak muat saja, tetapi jika berdekatan dengan lawan jenis nanti apa jadinya?
"Muat kok, Ria inginnya dipeluk biar bisa tidur," gadis itu memang nyaman ketika Hasyim memeluknya dan tidak tahu jika laki-laki itu akan kesusahan.
"Dipeluk gini kan?" Hasyim merangkul badan Aleria tetapi dia tetap duduk seperti semula tidak ikut naik ke atas tempat tidur.
"Bukan mas tapi kamu ikutan ke sini,"
"Nggak muat sayang .." tolak Hasyim, dia trauma akan kejadian ketika gadisnya itu mengunyel-ngunyel lengannya waktu di mobil saat mengantar sekolah kemarin. Dia kan juga pria normal jika terus-terusan ditempelin siapa yang nggak tergoda coba.
Apalagi kalau seranjang dengan Aleria sambil memeluk pula, ya tuhan ... cobaan apalagi ini.
"Yaudah kalau gitu aku gak mau tidur," ancam gadis yang mau lulus SMA itu.
Mau tidak mau Hasyim menurutinya, ia juga takut kalau kondisi Aleria semakin memburuk hanya karena begadang semalaman. Laki-laki tersebut membaringkan tubuh tegapnya dengan hati-hati takut jika nanti menyenggol selang infus yang sudah terpasang.
"Pengen peluk .." ucap Aleria dengan manja sambil merentangkan tangan. Ia selalu berfikiran kalau Hasyim tidak akan berani macam-macam. Meskipun laki-laki itu akan menjaga Aleria namun kepalanya bisa makin pusing jika berdekatan dengan gadis tersebut.
"Dah-dah cepat tidur," Hasyim memeluk kekasihnya dengan erat, sampai Aleria bisa mendengarkan detak jantung laki-laki yang ada di sampingnya.
"Kamu sakit ya mas?" Aleria semakin mendekatkan wajahnya pada dada Hasyim agar bisa merasakan detakan itu.
"Ria .. tidur sayang, jangan banyak gerak," Hasyim mencoba menahan nafasnya agar bisa meredekan sensasi itu. Selama ini Hasyim tidak pernah dekat dengan perempuan hanya sama Aleria saja, dan kini gadis itu malah dekat sekali dengan tubuhnya.
"Kayaknya jantungmu bermasalah mas,"
"Itu gara-gara dekat denganmu dek, berati ini tandanya mas cinta sama kamu,"
Aleria tidak menanggapi omongan Hasyim, kini malah mengendus-endus tubuh laki-laki itu, karena merasa mencium aroma parfum yang ia suka.
Godaan makin banyak saja untuk Hasyim. nafas Aleria terasa pada lehernya dan dadanya yang bidang malah diusel-usel oleh bocah itu. Mau gimana lagi aroma tubuh Hasyim sangat bikin candu.
"Ya Allah Ria .. jangan begitu," Hasyim mengurai pelukannya.
"Ria taukan kalau mas ini pria normal, yang tidak jauh-jauh dari hawa nafsu, jadi jangan begini lagi ya," tutur Hasyim berharap Aleria mengerti.
"Terus siapa yang bilang kalau mas itu pria gay?" canda gadis itu ternyata tidak mengerti juga.
"Maksudnya jangan goda mas terus, mas takut kalau nanti khilaf,"
"Tapi mas kan selalu jaga aku, jadi gak mungkin berbuat seperti itu,"
"Iya benar, namun setan di sini banyak dek, biaa saja mas terbujuk sama mereka,"
"Terus gimana? Ria ingin tidurnya dipeluk," pinta Aleria dengan rengekan.
"Yaudah sini mas peluk, tapi jangan banyak bergerak langsung diam dan tidur," Hasyim meraih tubuk Aleria ke dalam pelukan lagi, walaupun kepalanya akan terasa pusing nantinya.
bersambung....
__ADS_1