Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Maafkan Papa Nak..


__ADS_3

Sayup-sayup mata Aleria terbuka secara perlahan, mata sipitnya mengindai ruangan bernuansa abu-abu, yang ia lihat merupakan kamarnya dengan Hasyim. Lalu di mana laki-laki itu? Entahlah Aleria tidak menemukannya.


Ingatannya mengembara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi padanya, kenapa tiba-tiba berada di ranjang dan bajunya kini sudah terganti dengan piyama yang bersih.


Dia memegang pelipisnya ketika terasa nyeri di kepala, duduk pada sofa lalu saat hendak beranjak tubuh itu terasa limbung tak bertenaga. Masih sedikit yang Aleria ingat, tiba-tiba terdengar derit pintu. Ternyata sumbernya dari kamar mandi.


Pintu terbuka menampakkan laki-laki dengan raut wajah kawatir saat melihat sang istri terduduk, “Sayang kamu sudah sadar?”


Tangan yang dipenuhi urat itu membelai puncak kepala Aleria, "Apa ada yang sakit hem?"


Aleria terdiam dan menatap mata suaminya, dia jadi teringat kalau Hasyim tadi seperti enggan berdekatan.


"Mau ke mana?" Hasyim menahan tubuh sang istri, saat bergerak menuruni ranjang.


"Mandi,"


"Jangan mandi dulu,"


Aleria menghela nafas, "Bau," hidungnya mengendus-endus lengan.


"Nggak kok," sanggah Hasyim ikut mendekatkan hidung juga.


Sang istri berdecak kesal lalu merebahkan diri memunggungi Hasyim.


"Sayang tadi belum makan kan? Mas pesankan makanan ya, Ria pengen makan apa?"


Hasyim melihat kepala Aleria menggeleng dengan wajah yang masih menghadap ke sana.


"Nanti kalau Ria tidak bisa mengikuti ospek gimana coba?"


Iya kalau dia tidak bisa mengikuti ospek otomatis akan mengulang tahun depan, tidak-tidak justru itu akan membuatnya capek. Fikir Aleria


Tubuh yang terbungkus selimut tersebut berbalik, menghadap ke arah sang suami. Dia menatap mata Hasyim dalam.


Mata yang menurutnya kini bisa menenggelamkan, Aleria menggerakkan tangan. Diadahkan mengarah ke dagu laki-laki yang telah bergelar menjadi suaminya.


Hasyim paham akan maksud Aleria, dia mendekat dan tangan sang istri diraihnya untuk ditempelkan ke pipinya.


"Ria pengen apa hm?" ukiran sabit terbentuk di bibir Hasyim, menambah ketampanan pria yang usianya terpaut jauh dengan Aleria.


Tapi tak bisa dipungkiri kalau Hasyim memiliki sejuta pesona,  raut wajah dewasa, dengan rahang tegas dan bulu alis tebal. Seperti artis india yang pernah memerankan tokoh arjuna di kisah mahabarata.


Hasyim menunggu ucapan istrinya yang tak kunjung terungkap, kini malah telapak tangan Aleria mengelus pipi suaminya.


Kulit mulus Aleria merasakan kasar, karena wajah Hasyim sedikit ditumbuhi jambang. Apalagi berminyak juga.


"Mas tadi gak cuci muka?" tanya Alera dengan lirih.


Bibir Hasyim bergerak ingin menjawab tetapi tangan Aleria yang tadi berada di wajah sekarang malah menjalar ke tengkuk sang pria.


Ditariknya kepala Hasyim dengan kasar, lalu dia mengecup bibirnya. Hanya sekilas dan dari jarak tinggal berapa senti saja dia menatap Hasyim.


Aleria menatap pahatan tuhan yang ada di depan mata, dimulai dari atas hingga sampai hidung mancung dn berakhir pada bibir.

__ADS_1


Dilihatnya benda itu, tapi lama kelamaan kenapa mendekat? Aleria semakin menjauh hingga tubuh yang dia dudukkan jadi terhempas ke belakang.


"Argh,"


"Ya ampun sayang kamu gak papa?" panik Hasyim saat mendapati sang istri terlentang kesakitan.


"Kamu sih mas, ngapain coba dekat-dekat,"


Aleria malah menyalahkan suaminya, padahal yang mancing duluan dia sendiri.


"Yang narik kepala mas dulu siapa?"


Aleria jadi malu sendiri ketika tadi bertindak seperti itu, tapi dia juga tak sadar, kayak spontan gitu aja. Entahlah akhir-akhir ini dia merasa aneh.


"Ria pengen apa?  Mas pesankan nasi padang ya?" Hasyim membenahi posisi tidur sang istri.


"Terserah,"


"Okey," laki-laki itu segera mengambil hp dan menggeser layar kunci ke atas hingga terpampang berbagai pilihan aplikasi.


Dia mengeklik aplikasi yang biasa digunakannya, mengetik nama makanan di kolom pencarian sampai muncul pilihan kedai terdekat.


Tempat membeli nasi Padang langganannya muncul paling atas, dia memilihnya tak lupa memesan lauk yang Aleria sukai.


Pesanan sudah Hasyim bereskan tinggal menunggu pak kurir datang. Setelah itu menaruh hp kembali di nakas.


Menyusul Aleria tidur di ranjang sambil berucap, "Agak geser dong sayang.."


"Kenapa di situ sih mas? Depan sana masih luas,"


Tidak ingin berdebat, akhirnya Hasyim mengangkat tubuh sang istri untuk digesernya.


"Mas.. " protes Aleria.


"Hem.. " gumam Hasyim sambil mengecup wajah sang istri.


Cup


Cup


Cup


Bibir suaminya mengembara di sekitar wajah Aleria, membuat sang empu menjadi risih.


"Aku belum mandi mas," tangan Aleria menutup sumber kecupan itu, ya bibir Hasyim yang seperti mengerucut.


"Masih wangi kok," dia menjauhkan tangan Aleria.


Perempuan tersebut membalikkan tubuh lagi,  karena dia merasakan nyaman saat berbaring miring begitu.


Tiba-tiba Aleria merasakan elusan di balik piyamanya, dia melihat kebawah. Ternyata sang suamilah pelakunya, laki-laki itu mengusap perut datar sang istri.


"Tanganmu kenapa mas?" mata Aleria memicing.

__ADS_1


"Mengelus perut istrinya masa gak boleh?" Hasyim malah bertanya balik.


"Gak papa sih, tapi kelihatan aneh aja," Jarang sekali suaminya itu mengusap perut, biasanya Hasyim mengusap yang lain seperti wajah dan lain sebagainya.


"Emm.." ingin mengatakan sesuatu tapi bibir Hasyim terasa kelu.


"Em... Siapa tahu Allah segera menitipkan Hasyim junior sayang.."


"Masih lama," jawab Aleria dengan santai, dia berfikiran ketika usianya sudah pas baru pengen mempunyai anak.


"Kalau dikasih cepat gimana?" pancing Hasyim.


"Mas Hasyim ngomong apa sih! Ria males kalau mbahas itu mulu!" bentak Aleria, dia malas jika harus berselisih hanya karena keinginan suaminya.


"Syut.. Mas gak akan bahas lagi," dengan cara apa Aleria bisa mengerti,  tak mungkin juga kalau berita kehamilannya terus disembunyikan.


Bukankah perut tersebut semakin lama akan membesar? Semoga saja, iya kini hanya bisa bersemoga. Agar Aleria nanti bisa menerima.


Tubuh Hasyim kian merapat, ia tompangkan dagu pada bahu sang istri. Sekuat-kuatnya laki-laki dia tetaplah manusia yang tak bisa untuk menahan air mata.


Kedua matanya memanas sampai pandangan pria tersebut mengabur, hingga cairan bening meluncur begitu saja di pipi.


Tes


Tes


Tak hanya di pipi Hasyim, tetapi juga terasa di leher Aleria. Karena posisi Hasyim tadi berada pada bahu istrinya.


Kulit Aleria merasakan hangat, lalu dia mengusap leher, hingga mendapati ada air di sana.


Srut


Telinganya juga mendengar suara hisapan hidup yang sedang menahan tangisan.


Aleria membalikan tubuh, sampai mendapati sang suami yang tiba-tiba mengusap air mata dengan kedua tangan. Dia jadi tak tega melihat hal itu.


"Kenapa mas menangis?" ibu jarinya menghapus cairan yang berada di bawah mata.


"Gak papa,"


"Jangan bohong, gak mungkin gak papa sampai nangis,"


Hasyim langsung merengkuh tubuh sang istri dengan erat, saat itu juga air mata berseluncuran.


'Maafkan papa sayang..  karena belum bisa membujuk mamamu,' batin Hasyim.


'Papa menyayangi kalian berdua,'


"Jangan tinggalin mas ya," hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Hasyim.


Aleria membalas dan mengusap punggung pria yang sedang rapuh tersebut, "Ria gak kemana-mana kok mas,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2