Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Bekal estetok


__ADS_3

“Pusing ya?” tanya Hasyim menaruh sisir di meja rias.


Dari pantulan cermin terlihat kalau bibir perempuan yang baru dia bantu nampak memutih.


“Cuma ngantuk aja sih mas,” jawabnya seraya memegang pelipis.


Hasyim melihat jam dinding yang masih menunjuk angka 4 dini hari, “Apa tidur lagi aja mumpung masih pagi,”


Pasalnya tadi malam perempuan belia yang akan menyandang gelar ibu tersebut sering mengeluh kepala pusing dan merasakan lapar, tetapi ketika dimasuki makanan malah terasa mual. Itulah sebab utamanya dia kurang tidur sampai kini mengantuk.


“Takut kalau keblabasen mas, apalagi perlengkapan bel-.”


“Sudah mas siapkan semuanya.” Potong Hasyim cepat.


“Nanti Ria tinggal makan dan memakai seragam, lalu berangkat,” sambung Hasyim lagi.


Aleria sengaja bangun cepat karena ingin mempersiapkan perlengkapan yang lain, dia tadi beranjak dari ranjang langsung ke kamar mandi tanpa membangunkan sang suami terlebih dahulu, Hasyim hanya tahu ketika Aleria tiba-tiba sudah di meja rias.


“Makan?” lirihnya, dia seperti trauma dengan sumber energi yang biasanya dicerna oleh lambungnya.


“Sedikit aja sayang, percaya sama mas nanti gak bakalan muntah lagi,” Hasyim membawa sang istri ke pembaringan.


“Tapi Ria gak mau kalau harus minum obat.”


Laki-laki itu menghela nafas, “Baiklah,” sementara dia hanya bisa mengiyakan agar tidak terjadi perdebatan.


Aleria terlihat sudah memejamkan mata di pelukan suaminya, sedangkan Hasyim tidak ikutan untuk kealam mimpi. Dia sedang memfikirkan keadaan perempuan tersebut.


Rasanya tak tega melihat kondisi Aleria sekarang, apalagi setelah ini harus memeriksakan ke dokter kandungan.


Tetapi bagaimana caranya? Aleria saja belum tahu tentang janin yang sudah dititipkan di rahimnya.


Sebusuk-busuknya bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga, Hasyim harus jujur ke Aleria secepatnya.


Salah satu tangan Hasyim dia buat untuk menopang kepala, sambil melihat jam jika jarum menunjuk ke angka lima kurang sepuluh menit ia akan membangunkan Aleria.


“Astagfiruwllah..” mulut Hasyim menguap, memandangi orang tidur ternyata bikin dia ketularan.


Tekluk


Tangan Hasyim melemas sampai kepala yang tadi tertopang kini terhempas di bantal, membuat matanya terbangun seketika, dia baru sadar kalau ikutan tertidur. “Jam berapa ini?”


Jarum jam sudah menunjukan tepat ke angka tujuannya, sebegitu kuatnya tangan Hasyim menopang kepala sendiri?

__ADS_1


“Dek.. ayo bangun,” ditepuknya pelan pipi sang istri.


“Hem..”


“Bangun.. kita shalat Subuh dahulu,”


“Sudah waktunya kah?” bukannya segera terbangun, Aleria malah menyusupkan kepala di dada bidang sang suami.


“He’em.. ayo nanti ke kampusnya telat hlo,”


“Ya Allah.. masih ngantuk banget, pulangnya juga sore-sore,” keluh Aleria seraya menyibak rambut dan bersender pada dinding ranjang.


“Semangat.. nanti pas pulang mas bikinin martabak special deh,” Hanya dengan cara itu Hasyim memberikan semangat.


“Percuma, nanti juga mual lagi,” Aleria sih suka-suka aja, tapi apalah daya tubuhnya seolah menolak untuk diisi.


“Kalau makan martabak bikinan mas pasti nggak deh,” Hasyim berjalan mengambil sepasang seragam Ospek yang sudah dia setrika.


Aleria  hanya bergumam lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu begitu juga dengan Hasyim, dua sajadah beserta mukena juga telah tersedia di lantai dekat ranjang.


Mereka berdua menunaikan ibadah dengan khusyuk, banyak doa yang laki-laki itu panjatkan, termasuk untuk membukakan pintu hati sang istri, agar bisa menerima janin yang sudah Allah titipkan di rahimnya.


Setelah selesai Aleria mencium tangan suaminya dengan takzim, begitupun dengan Hasyim yang mengecup dahi perempuan tersebut.


Aleria mematuhinya, melepas baju harian lalu berganti menggunakan kemeja putih dan rok hitam sesuai peraturan ospek, saat memakai dasi dia agak kesulitan, dibaliknya ada dua perekat untuk menyatukan, tetapi panjang penghubungnya berbeda tidak seimbang dan sangat susah untuk disatukan.


Tiba-tiba ada bayangan besar terlihat di cermin, tubuhnya menjulang tinggi, disingkirkannya jari Aleria sehingga dia bisa membantu merekatkan dasi dengan mudah.


“Iya-iya si paling tinggi..” bibir Aleria nampak mengerucut, karena lagi-lagi suaminya itu memegang kepala lalu disetarakan dengan tubuhnya, seperti berniat mengejek.


“Makan yang banyak biar cepat gede,” Hasyim mengusap-usap kepala Aleria yang sudah tertutup hijab.


“Mas.. ini susah hlo bentuknya,” kesal Aleria karena pucuk jilbab segi empat yang awalnya rapi kini malah tidak beraturan.


Hasyim tersenyum lalu tangannya melepas jarum pentul yang ada di bawah dagu, ibu jari dan telunjuk memegang tepi pucuk hijab, sedikit menekan gelombang kain agar bisa membentuk dengan sempurna, disapunya pelan dari arah atas sampai ke bawah.


“Huh..” sebuah tiupan menerpa wajah Aleria.


Hasyim meniup-niup puncak hijab itu sambil jari tangan terus bekerja, “Agak susah ya ternyata.”


Padahal dia kemarin sudah berusaha menggunakan tutorial dari salah satu konten di tok-tik, karena sebagai laki-laki dia sangat gemas saat melihat sang istri yang lama sekali menggunakan jibap segi empat.


“Tadi sudah rapi malah diberantakin, jadinya ginikan,”

__ADS_1


“Pakai hijab lain apa gak bisa sayang?”


“Ya gak bisalah mas, sudah menjadi aturan memakai hijab model begini,”


“Harus juga pakai jenis kain seperti ini?” Tanya Hasyim lagi, kaena setahunya ada jilbap segi empat tetapi kain yang digunkan tebal dan mudah dibentuk.


“Iya mas, gak boleh yang lain.”


“Emang niat buat orang lain menderita,”


.


Aleria menuang nasi pada kotak bekal dan ditaruhnya pada piring, “Nasinya kebanyakan mas.”


Hasyim mendekat sambil menahan gerakan sang istri, “Kalau sediki nanti bisa kena hukuman hlo…”


Dia menengok dan memandangi wajah suaminya, “Siapa juga yang marahin cuma gara-gara nasinya sedikit, kurang kerjaan banget.”


“Ya siapa tahu.. “


“Di keterangan clue hanya membawa nasi dan lauk sesuai perintah, bukan nasinya harus nambah..”


Hasyim menghembuskan oksigen yang dia hirup dan kini sudah berubah menjadi karbondioksida, “Yah.. gak estetok lagi dong dek,” nasi yang sudah dipadatkan beserta lauk tertata rapi di pinggirnya, kini malah berubah menjadi acak kadul.


“Pelajaran seni budaya sudah tidak ada mas.” Jengah Aleria


"Kata siapa, kesenian itu dasar utamanya hidup,"


"Hais kelamaan," diserobotnya kotak bekal itu, dan Aleria segera menata cepat.


"Nalinya jangan begitu kurang rapi dek.. " Hasyim menyayangkan tindakan sang istri yang terlalu bar-bar.


Sayur bening, di masukan ke dalan plastik agar tidak tumpah, dan Aleria mengikat ujungnya bukan dengan sampul, tetapi malah dipati.


"Biar cepat mas, bisa telat aku nanti,"


"Mas buatkan roti bakar sebentar," Hasyim membawakan bekal dua untuk berjaga-jaga jika Aleria masih belum nafsu sama nasi yang sumber karbohidrat itu.


"Duh..  Nanti telat mas," sang empu melihat jam yang sudah menunjuk ke angka lima.


"Sepuluh menit aja sayang..."


Hasyim segera menata apa yang perlu dibawa, dia juga dengan cepat menyuapi sang istri untuk memakan roti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2