Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Mengantar sekolah


__ADS_3

"Kamu sekarang makin cantik aja," puji Hasyim.


"Iyalah kan sudah pakai skin care, coba dulu masih dekil kan? sampai mas Hasyim aja bilang begitu," sindir Aleria.


"Sejak dulu kamu memang sudah cantik, mas saja yang bodoh telah menyia-nyiakan berlian sepertimu,"


"Cih, omong kosong,"


"Kamu nggak percaya sama mas?" baru saja dia dekat dengan Aleria, tapi kini gadis tersebut malah seakan tak mempercayai ucapannya.


"Gak tau, sebenarnya sulit mas menerima kamu. Tapi gimana lagi aku masih menghargai perjuanganmu, walaupun kejadian dulu masih terus melintas," Aleria juga sudah berusaha untuk iklas menerima Hasyim. Tapi ketika dekat dengan kekasih lama ia masih saja teringat akan pedasnya mulut Hasyim dahulu.


Hasyim terasa tercubit hatinya, laki-laki itu mengira kalau Aleria sudah memaafkannya ternyata tidak, namun dia bisa memaklumi karena perbuatannya dulu sangat menyakitkan bagi gadis yang ia cintai.


"Kalau Ria belum bisa menerima mas gak papa, tapi ijinkan mas untuk selalu ada di dekatmu, aku hanya ingin menjagamu," Hisyam yang kini entah berada di mana membuat Hasyim kawatir, dia cemas jika adiknya itu tiba-tiba berbuat nekad kepada Aleria.


"Aku sudah besar mas, kenapa harus dijaga?" bantah Aleria.


"Tapi kamu masih polos dek, bahkan saat didekati adikupun masih diam saja," Hisyam yang bertampang mesum seharusnya Aleria menyadari, dan agak berjauhan dengan laki-laki tersebut namun gadis itu tetap saja mau didekatinya.


"Mas Hisyam baik sama aku, dia sudah banyak membantuku," padahal kebaikan Hisyam bisa dihitung pakai jari, hanya tiga yang ia lakukan. Tapi Aleria malah terus memujinya.


"Jangan terlalu dekat, dia itu pria kurang ajar,"


"Kenapa sih semua berfikiran negatif kepada mas Hisyam? mas sama aja kayak Hayana yang terus berfikiran buruk kepada orang lain," Hasyim kaget mendengar nada ucapan Aleria yang meninggi, hanya karena membela laki-laki brengsek itu.


"Tapi itu kenyataannya, Hisyam nggak sebaik yang kamu pikirkan,"


"Bagiku dia masih yang terbaik, hanya dia yang ada saat kamu meninggalkanku dulu mas, mas Hisyam yang mengantarku pulang saat itu, dan dia juga selalu perhatian kepadaku," sarkas Aleria.


"Kamu baru mengenal Hisyam sebentar Ria, dia juga tidak memberitahu kepada mas tentang keberadaanmu, padahal bocah brengsek itu sudah tahu rumahmu. Bertahun-tahun aku tersiksa karena tidak menemukanmu. Tapi apa yang dia lakukan? malah seolah-olah tidak tahu keberadaanmu," sekuat tenaga Hasyim menahan rasa cemburunya, ia ingin Aleria percaya dengan ucapannya bukan malah membela Hisyam.


"Apa salah dia mas? sampai kamu bilang mas Hisyam brengsek, mungkin dia lupa kalau belum memberitahumu,"


"Dia sengaja melakukan hal itu, aku tahu saat dia pulang pas keadaan mabuk. Saat itulah semua uneg-uneg Hisyam dikeluarkan, dia ingin merebut apa yang sudah aku miliki termasuk kamu. Dia mendekatimu bukan karena cinta ataupun kasihan tapi karena nafsu,"


Deg

__ADS_1


Aleria masih tidak percaya dengan ucapan Hasyim, tapi perkataan laki-laki yang ada di sampingnya seolah mengatakan kebenaran. Tidak ada gerak-gerik kebohongan. Apakah mungkin Hisyam yang dulu pernah menolongnya kini sudah berubah drastis? Tatapan Hisyam sekarang memanglah beda ketika melihat Aleria, perempuan itu juga menyadari namun segera mengenyahkan pikiran negatif. Karena dia masih teringat dengan kebaikan laki-laki itu, tapi kini semesta menyadarkannya agar bisa segera bangun dari bayangan Hisyam.


"Hai, kamu kenapa menangis?" Hasyim melihat Aleria mengusap air matanya.


"Kenapa semua laki-laki yang mendekatiku selalu berbuat jahat? hiks-hiks. Apa salah Ria?" tangisan gadis itu pecah begitu saja. Mobil yang tadi berjalan kini Hasyim hentikan di pinggir jalan.


"Tidak semua, mas punya niatan baik saat mendekatimu," laki-laki itu memeluk kekasihnya.


"Bohong! mas Hisyam pernah berkata baik tapi apa nyatanya? dia punya niat jahatkan kepada Ria!" Aleria memberontak dan memukul dada bidang Hasyim.


"Sekarang kamu lihat mataku, apa ada kebohongan di sini?" Hasyim memegang bahu Aleria agar gadis tersebut bisa menatapnya.


"Hiks.. hiks.."


"Hentikan tangismu sayang.., coba tatap mas apakah ada kebohongan di mataku?" Aleria hanya menggeleng untuk menjawab. Tidak ada kebohongan yang nampak di mata laki-laki itu. Yang ada hanyalah ketulusan.


"Sekarang kamu percaya kan kalau mas itu tulus mendekatimu?" tanya Hasyim lagi.


"Tapi kenapa dulu pernah menyakiti Ria?"


"Mas khilaf saat itu maaf, sekarang hingga nanti mas gak akan menyakiti Aleria lagi," ucap Hasyim meyakinkan.


"Oh iya, sekolahanmu di SMA Nusa kan?" tanya Hasyim kemudian, karena lambang sekolahan tersebut terpampang di lengan seragam Aleria sebelah kanan.


"Pulang saja, gak mood ke sekolah," gadis itu pikirannya masih plin-plan, di satu sisi dia percaya kalau Hisyam itu baik, tapi di sisi lain ia percaya dengan apa yang diucapkan Hasyim. Sungguh plin-plan bukan? Hingga menghancurkan mood baiknya, lalu melupakan semangat untuk mengais ilmu di sekolahan.


"Kok gitu, gak boleh bolos, nanti nilaimu jelek loh," laki-laki itu tak percaya dengan yang Aleria ucapkan. Dia mengira kalau kekasihnya hanyalah bercanda, tapi dari pengucapannya sangat serius jika ia ingin bolos.


"Ini semua gara-gara mas, aku jadi gak mood. Pulang sajalah,"


"Kok salah mas sih? kan mas cuma menjelaskan tadi," Hasyim kembali menjalankan mobilnya.


"Akhirnya aku jadi gak mood, dan itu gara-gara mas,"


"Baiklah ini salah mas, maaf kalau gitu," laki-laki dewasa tersebut harus mengalah, karena dalam rumus, sebenar-benarnya dia pasti tetap salah di mata perempuan.


"Yaudah ayo pulang.. " rengek Aleria.

__ADS_1


"Gak boleh harus sekolah, nanti uang sakunya mas tambahin," Hasyim memberikan penawaran agar sang kekasih mau berangkat ke sekolah.


SMA Nusa sudah mulai kelihatan, tapi Aleria tetap kekeh ingin pulang. Ia terus merengek bahkan menggoyang-goyangkan lengan Hasyim.


"Ayolah mas pulang.. Ria gak mood untuk sekolah," Aleria memberikan tatapan sendu dan tangannya masih bertengger di lengan Hasyim.


"Sudah sampai nih, ayo segera turun. Tuh temanmu pada masuk semua," ucap Hasyim sambil melepas tangan Aleria dengan pelan.


"Nggak mau sekolah mas.. ayo pulang," Kekasih Hasyim semakin mengeratkan tangannya, bahkan tubuh Aleria sudah menempel di lengan laki-laki itu.


Sungguh sebuah penyiksaan bagi Hasyim, dia itu masih laki-laki normal, untung saja yang diuyel-uyel Aleria bukanlah Hisyam. Jadi bisa tetap aman. Karena niat Hasyim yaitu menjaga kekasihnya bukan malah merusak.


"Ini sesuai ucapan mas tadi, ada uang jajan tambahan buatmu. Sana cepat sebelum bel nanti," Hasyim memberikan satu lembar uang berwarna merah kepada Aleria. Tapi tetap saja tidak bisa terkecoh.


"Nggak mau, ayo pulang.. " Hasyim hanya bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menyenderkan tubuh di kursi kemudi, karena Aleria semakin mengeratkan genggaman itu semakin erat pula tubuh gadis tersebut menempel di lengan Hasyim.


"Nih mas tambahin agar Ria mau sekolah," lagi-lagi Hasyim mengeluarkan dua lembar uang, dan itu membuat mata Aleria berbinar tapi dia takut jika nerima nanti dikira matre.


"Nggak ah, aku bukan cewe matre,"


"Mas iklas, ayo segera terima dan masuk ke sekolah," perintah Hasyim lalu Aleria menerima dengan senang hati. Karena dia juga butuh uang tersebut untuk membeli body care yang pernah direkomendasikan oleh Shafa.


"Makasih ya mas," huh.. Hasyim bisa bernafas lega ketika gadis kecil tersebut bisa melepaskannya.


"Iya sayang.. tuh kayaknya temanmu dah nungguin," Hasyim melihat ada satu perempuan yang masih ada di halte, dan ia menebak kalau itu teman Aleria yang sedang menunggu.


"Oh iya itu Shafa, yaudah aku pergi dulu ya mas," saking senangnya secara langsung ia me*c*um pipi Hasyim, sang korban hanya membeku.


"Eh maaf mas, Aleria nggak sengaja salah sendiri ngapain wajah mas harus ganteng," dengan polosnya Aleria berkata jujur, dia memang melakukan itu secara spontan dan juga gemas karena melihat muka Hasyim.


"I-iya gak papa," ngimpi apa Hasyim kemarin sampai mendapatkan hadiah seperti ini? dia senangnya bukan main.


Tanpa berlama-lama Aleria langsung keluar dari mobil tersebut, sebenarnya ia malu menyadari tingkah agresifnya tadi. Tapi waktu juga tidak bisa diputar bukan?


"Ya allah.. bocah itu," Hasyim mengusap pipinya dengan terus tersenyum. Andai saja Aleria sudah sah untuknya mungkin dia bisa membalas kecupan gadis belia tersebut.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2