Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Suka ngemil


__ADS_3

Udara pagi hari ini terasa dingin berbaur dengan embun di dedaunan, jalanan yang biasanya terpenuhi oleh kabut asap dari kendaraan, sekarang tampak sepi, belum ada anak sekolah maupun para pekerja kantor berangkat sepagi ini, hanya Aleria saja yang rela untuk menjalankan tugas OSPEK semata.


“Banyak juga yang diantar,” Aleria melihat perempuan yang dibonceng bapaknya di lampu merah, seragamnya juga sama.


Sepertinya dia MABA.


“Ya siapa juga yang tega nglepasin anak seusiamu berangkat sepagi ini, bawaanya juga banyak banget.” Sahut Hasyim sambil kembali melajukan mobil karena sudah lampu hijau.


Aleria menyenderkan tubuh dan diturunkannya sedikit kursi tersebut, “Tapi yang ngekost itu gimana? Apa-apa serba sendiri tuh.”


“Sebenarnya orang tua mereka gak tega membiarkan anaknya pergi jauh sampai ngekost begitu, tapi ya mau gimana lagi


Semua demi menuntut ilmu,” jelas Hasyim seolah mengerti tentang segala susahnya mahasisiwa yang hidup di kota orang, karena dia juga pernah mengalami hal itu.


Obrolan terus berlanjut entah bercerita tentang peristiwa waktu kegiatan di kampus atau mengenai tempat wisata di Jogja, kebanyakan Hasyimlah yang terus membuka topik obrolan meskipun sang istri selalu mematikan, tetapi niat suaminya untuk mencairkan suasana tidak pernah surut.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari bangku samping, pengemudi mobil menengok dan menarik bibir membentuk lengkungan sabit, “Ria lapar kah?”


“Iya ada jajan gak mas?” tangannya membuka tempat yang biasanya Hasyim menyetock macam-macam snack.


“Ada, tinggal berapa itu?” sejak istrinya mogok makan, Hasyim jarang membeli jajanan ringan karena dia juga tak terlalu suka mengemil.


“Masih tinggal tiga sih,” jarinya menarik lipatan berbentuk segitiga kecil-kecil untuk menyobek agar terbuka.


“Yaudah habisin itu dulu nanti beli lagi.”


“Lagian belinya kok yang besar-besar sih mas,” Aleria lebih suka jajanan yang kemasannya kecil, karena dia orang yang gampang bosanan, seumpama kemasan kecil habis tinggal makan yang lain.


“Mas kira kamu suka banget sama kripik ketela yang rasa itu makanya sekalian beli yang besar,” jelas Hasyim.


“Suka sih suka tapi gampang bosen,” Aleria menaruh snacknya lalu membuka kemasan lain lagi.


“Hla itu nanti Ria makan lagi atau gimana tuh?” tanya Hasyim seakan sudah tahu sifat sang istri, jika sudah tidak mau, maka dialah yang menghabiskan.


“Mas kasihkan ke Hayana atau gimana, salah sendiri beli yang besar,” jawab Aleria seraya memasukan makanan ringan tersebut ke dalam mulut.


“Nggak sopanlah sayang.. masa makanan dah dibuka diberikan ke orang.”


“Yaudah kalau gitu mas aja yang habiskan, gampang kan..” nah ternyata benar dugaan Hasyim.


“Boleh..” Hasyim menirukan kata-kata yang sekarang lagi trend.

__ADS_1


Melihat ke bawah sambil berfikir, mungkin yang perutnya bakalan buncit bukan Aleria saja tetapi sang pembuat ulah juga ikut-ikutan.


Biarlah tak mengapa dia harus memakan aneka snack tersebut, yang penting istri belianya itu sudah mau memasukan makanan ke dalam perutnya. “Ria dah gak mual lagi?”


“Sepertinya enggak sih mas, tapi kalau makan nasi nggak tahu,” jawabnya sambil reflek mengusap perut.


“Perutnya dielus-elus aja terus siapa tahu bisa sembuh dek,” menurut Hasyim sang jabang bayi bakalan senang jika ibunya mengelus elus meski secara tidak langsung.


“Konsep dari mana itu? Kan sakitnya di dalam bukan di luar.”


“Ya siapa tahu bisa meredakan.”


“Mas,” panggil Aleria ketika dia melihat gerobak bertuliskan martabak manis di pinggiran jalan.


“Dalem sayang…” jawaban Hasyim membuat Aleria tersenyum sendiri, jadi teringat kata-kata yang pernah dia lihat di Instagram.


“Pengen martabak manis..”


“Iya dek.. kan tadi mas sudah janji mau buatin Ria martabak.”


“Hah! Mas Hasyim bilang begitu?”


“Namanya juga lupa!” ketusnya.


“Iya wis iya.. selain minta martabak mau dibuatin apalagi sayang?” Hasyim malah senang jika dimintai untuk membuat makanan, karena ia sendiri suka mempelajari hal baru, termasuk dengan memasak.


“Pizza full mozzarella? Mas Hasyim bisa?” Aleria langsung antusias saat suaminya itu menawarkan lagi.


“Bi-bisa kok sayang, bisa nanti mas buatkan ya,” laki-laki itu gelagapan menjawabnya, karena belum pernah membuat roti yang paling digemari orang-orang, namun dia percaya pasti sekali membuat langsung jadi.


“Okey, berati pas Ria pulang sudah jadi semua kan?” tanya Aleria seraya menyenderkan kepala di lengan suami dan juga menempelkan pipi.


“Hla Ria maunya sudah langsung makan atau mau menemani mas masak juga?” Hasyim memberikan dua pilihan, karena biasanya Aleria sangat suka jika diajak membuat adonan aneka kue.


“Ria bantuin makan aja deh,” kepalanya mengadah menatap sang suami sambil tersenyum.


“Boleh… apasih yang enggak buat sayangku ini,” jawab Hasyim langsung merangkul tubuh mungil tersebut dengan tangan sebelah.


Tanpa terasa kini mobil Hasyim sudah sampai di depan kampus sang istri, banyak perempuan maupun laki-laki yang memakai seragam hitam putih, dan dari kejauhan ketua BEM sudah memberikan aba-aba untuk berkumpul di tengah lapangan.


“Hati-hati sayang jangan buru-buru,” Aleria mengambil perlengkapan seperti id card yang dibuat kalung dan masih banyak lagi, Hasyim juga membantu untuk memakaikan.

__ADS_1


“Ria pergi dulu ya mas,” diraihnya tangan Hasyim untuk salim.


“Iya sayang.. belajar yang pinter ya..” pesan Hasyim sambil mengecup pelan dahi sang istri.


Cup


Gerakan Alera membuat laki-laki tersebut terpaku, bagaimana tidak, istri kecilnya semakin hari semakin nakal saja, mencium bibir Hasyim secara mendadak dan tanpa ijin pula.


“Bay-bay mas Hasyim..” setelah bertindak berani, Aleria langsung membuka pintu dan segera turun.


“Bay juga sayang..” Hasyim mengusap bibirnya dengan mata yang masih terbengong tidak percaya.


Mulutnya menyapu bibir dengan melipat ke dalam merasakan bekas manisnya yang masih tertinggal, astaga.. lama-kelamaan dia bisa gila sendiri.


.


.


“Ria menurutmu dia ganteng gak sih?” bisik Gendis sambil matanya melirik ke kelompok lain barisan depan.


“Depan sendiri itu?”


“Iya, ganteng kan?”


“Biasa aja masih gantengan suamiku.” Ria sepontan menutup mulutnya yang keceplosan.


Dahi Gendis menyengrit saat mendengar ucapan teman di sebelahnya, tetapi langsung tertawa, “Hahaha suamimu seganteng apa Ra? Dan sudah kau masakin belum?”


Aleria bernafas lega ternyata Gendhis menganggapnya bercanda, “Gantengnya tiada tanding mbak, bahkan tubuhnya big boy…” tangannya memperagakan sebuah badan yang besar.


“Dirimu pora klenger kalau sebesar itu hahaha, ya ampun ada-ada saja kamu ini.”


“Bukan klenger lagi mbak tapi sudah mampos.. sehari aja bisa lima kali dia minta jatah,”dia berucap jujur namun Gendhis pasti mengira kalau itu hanya candaan.


“Apaan tuh lima kali sehari? Minum obat aja gak sampai segitu Ria..”


“Ya menganunya itu loh mbak wkwkwk.”


“Anu atau anu.. bisa belendung nanti kalau beneran,” kata belendung membuat Aleria terdiam seketika, pasalnya tiap kali melakukan hubungan Hasyim maupun dirinya tidak memakai pengaman apapun.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2