Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Aleria kecewa


__ADS_3

Karena sudah dekat dengan sang istri, Hasyim menaruh barbel di bawah dan langsung membungkam mulut Aleria menggunakan mulutnya. Hanya perempuan itu yang bisa meredakan marahnya seorang Hasyim. Laki-laki itu belum selesai rasa kecewanya dan kini istrinya malah menambah lagi dengan ucapan pedasnya.


Aleria memukul-mukul dada Hasyim agar menghentikan c*um*n itu, karena dia sudah hampir kehabisan nafas. Tapi suaminya malah menggendong seperti koala tanpa melepaskan pagutan tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Hasyim menghempaskan tubuh mungil Aleria ke sofa, dan akhirnya perempuan itu bisa menghirup udara sebebas-bebasnya.


Di rumah ini cuma ada mereka berdua sedangkan tukang tenda sudah pada pulang saat beres-beresnya selesai. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Hasyim untuk memberikan hukuman kepada Aleria.


"Kamu mau apa mas?" tanya Aleria saat wajah Hasyim mendekat, dan tangannya menarik pinggangnya erat.


"Mas ingin ngasih hukuman buat kamu,"


"Hu-hukuman?" Aleria terkejut dengan kata itu.


"Hm," Hasyim bergumam di leher sang istri. Lalu terjadilah pergulatan panas mereka.


beberapa jam kemudian setelah kegiatan tadi Aleria terbangun dengan posisi Hasyim memeluknya. Ia mencoba merenggangkan kedua tangannya namun terasa sempit karena masih di sofa dan suaminya berada di pinggir.


"Astaga pegel banget .." perempuan itu merasakan tubuhnya terasa remuk redam dan melihat kain-kain yang tadi ia pakai sudah terpececer di lantai serta bajunya Hasyim juga.


"Sudah bangun sayang ..." Hasyim ikut terbangun karena merasakan pergerakan sang istri.


"Kenapa dilakuin lagi?" rengek Aleria.


"Kamu kan menikmatinya sayang,"


"Tapi mas yang mancing-mancing mulu,


kalau aku hamil gimana coba?" Aleria merasa pusing tujuh keliling karena memikirkan hal itu, apalagi suaminya melakukan itu lagi.


"Alhamdulillah," jawab Hasyim dengan santai dan kembali memeluk istrinya.


"Mas, lengket ih," perempuan itu mendorong bahu Hasyim, karena merasa tubuh Hasyim sangatlah lengket, mungkin keringat yang dihasilkan banyak saat pertempuran berapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Makanya kalau bicara sama suami itu harus sopan sayang ... jangan asal ngomong kayak tadi," Hasyim menasehati istrinya.


"Mas sih bikin jengkel, dipanggil-panggil nggak nyahut blas," Aleria memunggungi Hasyim.


"Yaudah tidak usah dibahas, sayang juga jangan bicara seperti itu lagi ya. Kalau masih begitu mas akan nambahin hukumnya,"


"Egois, pokoknya Ria gak mau hamil," Aleria tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Terserah yang penting mas sudah usaha,"


"Mas ini nikahin aku niatnya buat mesin pencetak anak atau apa hah?" perempuan itu langsung menatap suaminya dengan nada menggebu-gebu.


"Karena mas sayang sama kamu dek, urusan momongan hanya Allah yang tahu kapan kita dikasih. Harus disyukuri jikapun datangnya cepat," sebenarnya laki-laki itu bisa saja memakai pengaman namun urung ia lakukan, karena Hasyim juga sudah kepengen memiliki momongan. Seperti teman-temannya.


"Kalau aku gak bisa hamil seumur hidup, apakah mas tetap akan bertahan?" Aleria mengatakan hal tersebut karena takut jika nanti Hasyim akan meninggalkannya sewaktu-waktu.


"Meskipun tidak bisa, mas tetap menemanimu sayang, jangan berkata seperti itu


mas hanya ingin berusaha selagi kita masih diberi kesehatan, teman-teman mas sudah mempunyai anak semua, mas juga ingin dek," pinta Hasyim agar sang istri mengerti.


kalau begini terus yang sakit bakalan aku mas, Ria kecewa dengan mas Hasyim sangat-sangat kecewa," setelah mengatakan itu Aleria langsung bangkit dari sofa tanpa membawa baju yang berserakan tadi.


"Dek, maksud mas bukan begitu," Hasyim menghalangi istrinya.


"Lepas jangan sentuh aku!" perempuan itu menghempaskan tangan Hasyim dan memaksakan tenaganya yang tersisa untuk berjalan cepat.


Kali ini Hasyim tidak mengejar, dia membiarkan Aleria untuk menenangkan diri, lalu laki-laki tersebut memakai pakaiannya kembali dan tak lupa memunguti baju sang istri untuk ditaruh di keranjang kotor.


Ketika Hasyim ingin membersihkan diri di kamar mandi luar, tiba-tiba ada tamu yang tak diundang namun mendadak datang.


"Ngapain mas Suryo ke sini?" batin Hasyim saat melihat kakak keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Duduk," perintah Suryo, padahal tuan rumahnya siapa yang seharusnya nyuruh duduk juga siapa. Ya begitulah saudara Hasyim yang sedikit agak aneh itu. Bicara hanya dikit dan jomblonya entah sampai kapan.

__ADS_1


"Ada perlu apa mas?" tanya Hasyim setelah menaruh tubuhnya di kursi.


"Pengen tanya,"


"Boleh, silahkan,"


"Caranya biar cepat nikah itu gimana?" pertanyaan Suryo membuat Hasyim melongo, tumben kalik laki-laki tersebut bertanya hal itu.


"Kamu pengen segera nikah?"


"Iya,"


"Pdkt dulu sana sama cewek yang kamu suka,"


"Gak ada,"


"Masa sama sekali gak ada toh, kamu normal gak sih?" jengkel Hasyim melihat tingkah laku kakaknya, sudah cuek banget dan gebetan tak punya pula.


"Normal, kalau dah nikah lihat saja nanti pasti anakku banyak kok,"


"Nah gitu dong, kalau bicara banyak dikit punya suara gak dinanfaatin," Suryo memang irit bicara, baru kali ini dia ngomong banyak.


"Tolong carikan istri buatku,"


"Idih .. ya nyari sendirilah," tolak Hasyim.


"Yaudah istrimu tak embad jika gak mau nyariin,"


"Golok di belakang rumah tadi baru kuasah mas, seumpama kamu ingin jadi bahan bercobaan ya boleh saja," Hasyim menatap tajam kakaknya.


"Canda, jangan marah-marah,"


"Garing," ya jelas garing, cara ngomong Suryo aja masih datar mulu kok.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2