
"Kamu suka kan sayang..
kita lanjutkan di rumah,"
Aleria tidak menangapi, ia tidak peduli juga dengan keadaan bajunya yang sudah terbuka. Karena tubuhnya sudah lemas tak bertenaga.
...----------------...
Mobil putih milik Hasyim memasuki garansi yang sudah ia buka terlebih dahulu, lalu menutupnya kembali. Setelah itu membuka pintu sebelah, memegang tengkuk dan pinggang secara perlahan lalu menggendong Aleria seperti koala. Tubuh istrinya bisa dibilang mungil.
Jika disetarakan dengan Hasyim, bocah itu tingginya hanya sampai di bawah bahu suaminya.
Mungkin karena kelelahan, Aleria masih tertidur sehingga ia tidak bisa menegakan kepalanya, pundak Hasyim menjadi sandaran ternyaman bagi bocah yang masih menyandang gelar maba itu.
Garansi Hasyim mempunyai pintu penghubung langsung ke dalam rumah, jadi ia tidak khawatir ketika membawa Aleria disaat baju yang dipakai sang istri sudah awut-awutan.
Di rumah tersebut hanya ditempati mereka berdua, Hasyim belum menyewa asisten rumah tangga. Selagi dia bisa membersihkan rumahnya sendiri maka belum berniat untuk mencari.
Diletakannya tubuh Aleria ke ranjang, Hasyim sempat menahan ludahnya. Ketika melihat posisi tidur Aleria sekarang, banyak kancing yang sudah terbuka, hingga menampakkan kulit mulusnya.
Mata sipit tersebut masih tertidur dengan pulas, bibir berwarna pink alami menambah kecantikan tersendiri untuk bocah itu. Tangan Hasyim mengelus pelan pipi itu, lalu segera pergi ke kamar mandi.
Dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mendekati Aleria, meskipun sang istri belum mandi tapi Hasyim tidak mempermasalahkannya. Dia tidak ingin jika Aleria merasa tidak nyaman ketika tubuh laki-laki itu masih berbau keringat.
Mandi Hasyim kali ini lebih lama dari biasanya, memakai lulur agar kulit yang tak biasa ia rawat itu bersih dan supaya aroma tubuhnya wangi. Meski nanti akan berkeringat banyak.
Setelah selesai dengan ritual mandi kembang tujuh rupa, eh bukan. Tapi lamanya hampir mirip sih..
Hasyim keluar hanya dengan menggunakan bathrobe, air masih menetes di rambut maupun di wajah tegasnya. Menambah kesan ketampanan bak tokoh Arjuna pemeran serial mahabarata.
Dia berjalan mendekati ranjang, mendudukan tubuhnya di samping sang istri, kaki Aleria seakan memanggil Hasyim, putih mulus itulah yang dirasakan tangan laki-laki itu. Mengelus naik turun dan menyentuh apa yang ia inginkan, meski masih terbalut dengan kain sekalipun.
"Eugh.."
Geli, itulah yang dirasakan Aleria. Hingga mata sipitnya perlahan terbuka. Mengedip-ngedipkan kelopak, agar bisa menghilangkan rasa kantuk yang masih mendera.
"Mas.. " lirihnya
Dia masih bingung karena otaknya belum aktif sempurna. Tapi malah dikejutkan oleh tindakan Hasyim yang semakin menjadi-jadi.
Baju atasannya terbuka sempurna, dan rok yang tadi ia pakai pergi entah kemana. Dia tidak bisa beruat apa-apa karena kehabisan tenaga. Hanya kedua tangan yang bisa ia andalkan untuk menutupi bagian terpenting di tubuhnya.
Hasyim menyingkirkan kedua tangan itu dengan agak maksa, Aleria begitu kuat mempertahankannya. Tapi sekuat apapun perempuan tetap bakal kalah dengan tenaga laki-laki.
__ADS_1
"Mas.." protes Aleria saat kedua tangan dikunci Hasyim, dan ditaruh di atas kepala.
"Mas kangen sayang..."
Hasyim kembali melakukan aksinya, Aleria yang sudah lama tidak diperlakukan seperti itu hanya mampu mengeluarkan suara pembangkit semangat Hasyim.
Tubuhnya bergerak ke sana ke mari, dan tangan masih tetap dikunci. Aleria merasa tersiksa karena tangannya seolah dipenjara, tidak bisa memegang apapun di saat sudah sampai ke ujung bulan.
"Ri-Ria gak su-suka diginikan," ungkap Aleria dengan terbata-bata.
"Maunya gimana hm?" goda Hasyim ingin memancing sang istri.
Sepertinya Aleria ingin meminta lebih, tapi ia malu jika harus berkata jujur. Bocah itu juga candu dengan yang dilakukan Hasyim selama ini.
"Sekali lagi ya sayang.. " Hasyim sebenarnya paham, dengan ucapan Aleria. Tapi ia masih mengulur waktu, ia ingin bermain-main terlebih dahulu.
Membiarkan Aleria yang seolah kehabisan tenaga, menyisakan mata sayu, dan bibir yang selalu mengalun merdu.
"Mas Hasyim.. "
"Setop.."
"Jangan begini.. "
Hingga sampai pekikan terakhir baru Hasyim mengakhirinya. Melepaskan tangan Aleria dan menegakan tubuh untuk melempar bathrobe.
"Mas..."
"Ini kan yang kamu inginkan sayang.. " Hasyim menyempurnakan permainannya.
"Ja-jangan dulu mas, be-besok aku ma-masih ospek," meskipun Aleria ikut terbang, tapi ia teringat dengan tugasnya yang belum selesai.
"Pikir keri Ria.. yang terpenting detik ini," Hasyim terus bekerja tidak mau berhenti.
Aleria tetap saja protes meskipun Hasyim telah membujuknya. Sampai laki-laki itu gemas sendiri dan berakhir membungkamnya dengan mulut.
Beberapa menit kemudian HP Aleria berdering dengan kerasnya di meja rias. Dia memohon kepada sang suami untuk berhenti sebentar, tapi Hasyim tetaplah Hasyim. Sekalinya candu ya tetap gak bisa berlalu.
Tring..
tring..
Lima panggilan akhirnya bisa membuat Hasyim jengah, dan segera mengambil hp tersebut.
__ADS_1
"Tari.. " ucap Hasyim seraya melirik sang istri.
"Itu temanku OSPEK mas!" pekik Aleria, ia terkejut dan langsung memaksakan dirinya untuk mengambil hp tersebut.
Dalam fikiran Aleria, kenapa temannya itu menelfon sampai lima kali panggilan. Apakah ada hal penting yang ingin ia sampaikan?
Ikon hijau segera Aleria geser ke atas, "Hallo, asalamu'alaikum,"
Hasyim melihat dari ujung kepala hingga kaki, ia gagal fokus karena sang istri belum menutupi tubuhnya sama sekali, sama seperti dirinya. Mungkin karena terburu-buru mengambil hp.
"Sebagian tugasku belum selesai Tar, mungkin nanti malam aku kelarin," jawab Aleria seraya menyingkirkan tangan Hasyim yang hendak berulah.
"Ka-kabar apa Tar? ja-jangan bikin aku kepo dehhh," Sialnya Aleria tidak bisa menahan perbuatan Hasyim.
'Kamu sedang apa Ria?' tanya Tari dari seberang, karena ada yang aneh dari suara Aleria.
"Eugh.. gak papa kok Tar, oh iya ka-kabar me-menariknya apa?" Ke*c*pan Hasyim sudah menjalar ke mana-mana. Aleria tidak bisa menahan suara itu lagi.
'Ria kamu ngapain?'
"Cepetan Tar, kabar apa? tentang ini besok aku ceritain," Aleria berucap cepat.
'Besok libur, ada info dadakan dari telegram,'
"Okey makasih," dengan cepat dia mematikan telefonnya. Dia takut kalau temannya itu tambah curiga.
"Mas Hasyim.. "
"Apa sayang.." Hasyim menggendong sang istri seperti koala dan kini kembali menjalankan aksinya.
Dia ingin mengajari Aleria hal baru. Bocah itu awalnya hanya diam menurut dan merasakan, sekarang malah terbawa suasana. Berusaha mengimbangi Hasyim. Meskipun terbilang kaku, tapi Hasyim tetap menyukai hal itu.
Segala beban fikiran sudah terlepas, karena besok dinyatakan libur secara dadakan.
Hasyim terus memuja sang istri, bagaikan dikirimkan bidadari yang selalu membuat hati Hasyim terpatri. Rambut laki-laki itu menjadi sasaran tangan Aleria.
Bau shampo dan sabun yang dipakai suaminya sungguh terasa jelas di indra penciuman Aleria. Dia terhipnotis akan hal itu.
"Sayang.. mas sayang Aleria,"
"Tolong jangan tinggalin mas Hasyim ya.. "
Bisikan Hasyim mengalun di telinga sang istri, hingga Aleria memejamkan mata dan berakhir di pelukan suaminya.
__ADS_1
bersambung...