
"Mau masak apa ini mas?" tanya Aleria ketika mereka sudah ada di dapur.
"Buat nasi goreng aja ya, nasi kemarin di magic com masih ada," peralatan dapur dan aneka bumbu juga sudah disediakan Hasyim, tapi lebih tepatnya laki-laki itu hanya memberikan uang dan yang beli adalah Hisyam. Karena Hasyim tidak tahu tentang dunia perdapuran, bahkan kini bikin nasi gorengpun ia masih ragu-ragu, apakah nanti enak atau tidak. Tapi dia tidak ingin membuat istrinya kecewa jadi usaha saja dulu.
"Ria bantuin ngupas bawang ya mas," dengan jalan tertatih Aleria menghampiri suaminya.
"Jangan sayang ... kan buat jalan masih sakit, kamu duduk saja biar mas yang masak," Hasyim menuntun istrinya untuk duduk kembali di kursi.
"Tapi sudah mendingan mas, dibuat jalan gak sesakit tadi kok," Aleria mengelak.
"Yaudah siapin aja tenagamu untuk nanti malam," Hasyim mulai mengupas bawang sambil mengawasi istrinya, takut kalau bertingkah lagi.
"Memangnya nanti malam mau ngapain mas? sampai harus nyiapin tenaga segala," tanya Aleria dengan polos.
"Mau olahraga,"
"Masa olahraga malam-malam sih mas, nggak pas pagi aja biar bisa menghirup udara segar,"
"Enakan malam hawanya dingin tapi bisa diangetin,"
"Tau ah Ria bingung," Aleria tidak paham dengan yang dimaksud Hasyim.
"Nggak usah dipikirin kalau bikin bingung, dijalani aja nanti juga paham sendiri,"
"Aku ke teras ya mas, bosan duduk-duduk mulu
mau bantuin juga gak boleh," Aleria sudah berdiri dan Hasyim yang melihat itu langsung menghampirinya.
"Sayang .. jangan banyak bergerak nanti sakit lagi loh," laki-laki itu sangat kawatir, jika Aleria terlalu banyak gerak nanti bisa ngeluh sakit lagi. Dia merasa kasihan pada keadaan istrinya waktu pagi tadi yang kesusahan berjalan karena ulahnya.
"Mas lebay deh, aku sudah gak papa jadi jangan khawatir mulu,"
"Nggak boleh tetap gak boleh, di sini aja bentar lagi nasi gorengnya matang," ucap Hasyim lalu dia meneruskan aktivitasnya.
"Mas pakaikan tomat juga?" tanya Aleria ketika melihat ada tomat yang sudah terbelah di samping Hasyim.
"Iya sayang ... mas gunain sedikit biar warnanya merah,"
"Setahuku nasi goreng gak dicampurin tomat deh mas,"
"Masa sih? tapi nyatanya ini warna nasi goreng bisa merah nih dek," Hasyim menyajikan masakannya tersebut ke piring.
__ADS_1
"Aku kok ragu mas sama rasanya,"
"Tak jamin enak kok," Hasyim meniup-niup nasi yang sudah disendoknya lalu menyuapi Aleria. Ya begitulah laki-laki itu sangat senang memanjakan istri kecilnya.
Satu suapan berhasil masuk dan saat Aleria mengunyah dia merasakan ada rasa yang aneh. "Nggak enak ya nasi goreng bikinan mas?" Hasyim tahu akan gelagat istrinya, lalu dia juga ikut mencoba.
"Ya ampun ternyata rasanya asem, beh gak enak banget
kenapa kamu nggak bilang sih sayang .." laki-laki tersebut merasa bersalah kepada istrinya,karena tidak becus memasakan menu spesial itu.
"Ini enak kok mas, beneran dah. Sini ria habisin," Aleria ingin menghargai Hasyim yang sudah rela memasak untuknya.
"Nggak-nggak, mas kasih ke ayam saja," Hasyim langsung merebut piring itu dari tangan Aleria, ia membawa ke belakang untuk dikasihkan ke ayam yang sedang keluyuran.
'Jelaslah rasanya asam, dicampurin tomat juga ya apa enak?' Aleria membatin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan di teras rumah, duo semprul sudah datang dengan tingkah anehnya, mereka kayaknya ingin mengganggu pengantin baru yang sedang ada di dalam.
"Kira-kira mereka sudah bangun apa belum ya om?" tanya bocah remaja itu.
"Kebangetan kalau sampai jam segini masih ngebo,"
siapa tahu kakakku tadi malam dibolak-balik sama dia kayak bakar singkong,"
"Mas sama adek ini saudaranya manten ya?" tanya salah satu bapak-bapak yang baru saja membongkar tenda. Beliau hanya menebak karena melihat mereka berdua kemarin sedang mondar-mandir dan juga ikut serta dalam foto keluarga.
"Iya pak, terima kasih ya pak atas bantuannya
dengan begini acara pernikahan kakak saya bisa berjalan lancar," ucap Hisyam sambil tersenyum.
Ya duo semprul itu ialah Hayana dan Hisyam, mereka sudah membuat janji untuk bertamu di rumah sang kakak. Karena kepo dengan kehidupan pengantin baru. Maklumlah kan adik Hasyim masih jomblo jadi sedikit penasaran gitu.
"Sama-sama mas, tapi jangan masuk dulu takutnya nanti kalian berdua bisa merinding loh," canda bapak itu yang membuat mereka mengerutkan alis.
"Apa di sini ada hantu pak? kok sampai bikin merinding," Hisyam menjadi takut ketika mendengar ucapan bapak tersebut.
"Bukan suara hantu mas yang bikin merinding tapi suara pengantin baru," jawab bapak tukang tenda sambil terkekeh.
"Anu mas nanti kalau mas e bertemu mas Hasyim tolong dibilangin ibadahnya pelan-pelan saja biar tidak kedengaran sama yang di luar," sahut bapak yang satu lagi. Seketika para tukang tenda tertawa pecah jika mengingat suara-suara aneh tadi.
"Om, di kamarnya om Hasyim apa tidak dipasang kedap suara?" bisik Hayana sedikit berjinjit karena tubuh Hisyam sangat tinggi menurutnya.
__ADS_1
"Waduh aku lupa belum masangin," Hisyam yang diamanahkan untuk mengurus aneka kelengkapan rumah itu baru teringat jika masih ada kekurangan.
"Astaga .. yaudah om kita masuk aja dulu,"
........
"Digigit apa tuh mbak? sampai membekas begitu," tanya Hayana setelah selesai mengunyah satu suap nasi goreng.
Saat tahu kedatangan mereka berdua akhirnya Hasyim memesankan 4 bungkus nasi tersebut, dan Hayana dibuat gagal fokus karena melihat sedikit tanda merah di leher sang kakak, meskipun tertutup dengan kardigan tapi tetap kelihatan.
Hasyim memaksa sang istri untuk memakainya, karena tanda yang telah ia buat sangatlah banyak.
"Mas Hasyim tuh yang-" mulut Aleria langsung dibungkam oleh tangan suaminya. Bisa-bisanya Aleria akan berkata jujur dengan Hayana.
"Aw sakit sayang," laki-laki itu mengibas-ngibaskan tangan karena terasa nyeri setelah digigit sang istri.
"Tangan mas itu bau tau nggak," jengkel Aleria karena tangan Hasyim yang tiba-tiba membungkamnya.
"Berapa ronde sih tadi malam?" Hisyam langsung aja bertanya tanpa memfilter.
"Bisa-bisa segera jadi tante muda aku nanti," sahut Hayana dengan bangga tapi membuat sang kakak malah khawatir.
"Mas kalau Ria hamil gimana?" panik Aleria.
"Katanya itu biar jadi urusan mas Hasyim, tapi kenapa saat ini nggak mencari caranya," lanjut perempuan itu sambil menggoncang-goncang tubuh suaminya, dia sebel sekali karena Hasyim terlihat santai seolah sengaja membuat istrinya biar hamil beneran.
"Iya sayang .. nanti mas cari solusinya ya, Ria makan nasi gorengnya biar gak laper lagi," bujuk Hasyim, sebenarnya laki-laki itu ingin segera memiliki momongan tapi bagaimana caranya untuk membujuk sang istri?
"Mas jahat! pasti sengaja kan ingin membuatku cepat hamil!" dengan kecewa Aleria langsung meninggalkan ruang tamu dan pergi melangkah ke kamar.
"Ih lama-lama bisaku cekik kalian, ganggu mulu dah kerjaannya
tuh lihatkan Aleria jadi marah," jengkel Hasyim kepada dua bocah jomblo itu.
"Tapi ucapanku baik loh om, biar mbak Ria cepat hamil," jawab Hayana dengan santai.
"Masalahnya kakakmu belum siap untuk itu,"
"Halah ... walaupun belum siap tapi jika dipacu terus bakalan jadi nanti kecebongmu itu," sahut Hisyam.
"Tau ah, kalian pulang saja sana," usir Hasyim merasa jengkel akan tingkah mereka, lalu dia langsung menyusul istrinya sekaligus membujuk biar mau makan.
__ADS_1