
Gedubrak!
Pintu didobrak dengan kerasnya hingga membuat penghuni kamar terkejut. Sebelumnya Hasyim tidak tahu jika yang ada di dalam Aleria atau bukan. Tapi dia mengikuti kata hatinya yang mengatakan kalau sang istri ada di situ.
Tangan kokohnya menggenggam erat saat mengetahui Aleria sedang bersama laki-laki lain. Bahkan berada di dalam satu kamar.
"Siapa kamu!" pria hidup belang itu seakan tidak terima dengan tindakan Hasyim.
"Seharusnya saya yang nanya, kamu itu siapa!" spontan suami Aleria memberikan bogeman karena sudah tersulut emosi.
Aleria hanya bisa menangis ketakutan. Ia tenang jika suaminya segera datang, tapi perempuan itu juga takut kalau Hasyim menjadi salah paham.
"Cih wong edan!" pria berengsek tersebut meludah karena merasa sakit diujung bibirnya.
"Dia istri saya!" Hasyim tak memberi kesempatan sama sekali kepada sang lawan.
"Berani-beraninya kamu menyentuhnya hah!" dua sampai tiga bogeman mendarat begitu saja dan kaki Hasyim juga ikut bekerja.
"Uhuk-uhuk," Hasyim memang jago dalam ilmu bela diri, apalagi laki-laki pecundang itu seakan tidak bisa melawan.
Sedangkan orang-orang yang ada di luar hanya bisa melihat tidak berani untuk melerai, awalnya sunyi senyap tapi gara-gara perkelahian tersebut satu persatu orang keluar dari sarangnya masing-masing.
Hasyim menarik kerah pria itu, muak melihat wajah yang sudah biru lebam. Gigi gemeletuk dan tangan serasa siap untuk menghadiahkan bogeman lagi.
"Ampun-ampun.. jangan sakiti saya," ternyata tubuh gagah tak menjamin keberanian seorang pria. laki-laki yang sudah memberikan Nasya uang kini nyalinya menjadi ciut di hadapan Hasyim.
"Saya sudah membeli istrimu,"
Bugh
Hasyim tak terima ketika mendengar pernyataan itu, dia tak mudah percaya begitu saja.
__ADS_1
"Jangan bohong kamu!
tak mungkin istri saya menjual dirinya sendiri!" dia menendang perut pria tersebut.
"Uhuk-uhuk
saya tidak bohong, Nasya yang telah menjualnya," lirihnya seperti tak punya tenaga hingga matanya perlahan menutup.
"Di mana Nasya!" pekik Hasyim melihat sekitaran ruangan itu, dan orang-orang hanya menunduk tak berani menjawab.
"Apa kalian bisu hah!" ucap Hasyim lagi karena belum ada sahutan.
Kepala laki-laki berkulit hitam manis itu menengok ke sana ke mari mencari sesosok yang bernama Nasya, hingga mata elangnya menangkap wajah perempuan yang dari tadi ia lupakan karena tersulut amarah.
"Aleria," dengan nada khawatir Hasyim menghampiri sang istri yang sedang menunduk memeluk lututnya sendiri.
"Sayang.. ini mas," tangan kekar Hasyim menangkup pipi Aleria agar tidak menunduk lagi.
Tampak kentara raut ketakutan dari wajah Aleria, banyak air mata yang ia keluarkan. "Mas Hasyim.. "
Aleria menangis tersedu-sedu, dia peluk erat tubuh tegap itu. Perempuan tersebut tidak bisa jika tiada Hasyim di sisinya. Ia baru menyadari kalau sang suami sangatlah berarti.
"Ria pengen pulang.. " suara Aleria seperti gumaman karena bibirnya masih berada di pelukan.
"Iya sayang, kita pulang," dengan sigap Hasyim membawa bidadari kecilnya keluar dari tempat biadab tersebut, tak lupa ia mengambil tas Aleria yang masih aman di nakas.
Setelah Hasyim keluar, orang-orang yang tadi melihat pertengkaran sekarang mulai berdatangan menghampiri pria tak berdaya itu.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," ucap salah satu orang.
...----------------...
__ADS_1
Aleria mendekap tubuhnya, reaksi obat itu lebih parah dari pada saat memakan es krim pemberian mertuanya.
"Sayang.. " sebelah tangan Hasyim mebelai rambut sang istri.
"Masih dingin ya?" tanya Hasyim, karena melihat Aleria memeluk tubuhnya sendiri.
"Cepetan mas, Ria dah ngantuk," dengan mati-matian Aleria menahan rasa itu. Tak mungkin juga jika ia meminta di saat seperti ini.
"Baiklah," Hasyim membenarkan jaketnya yang telah ia pasang ke tubuh sang istri.
Semakin lama rasa itu kian menjadi-jadi, bocah tersebut mengeratkan dekapan seraya menggenggam tangan kuat-kuat untuk menahan lebih keras lagi.
Hasyim yang menyadari perubahan sang istri langsung bertanya, "Kamu kenapa sayang?"
"Cepat pulang mas!" pekik Aleria
"Kita ke rumah sakit ya," melihat wajah Aleria yang sudah memerah, Hasyim menjadi khawatir.
"Pulang mas," ucap Ria dengan penekanan berharap Hasyim bisa mengerti.
"Nggak, kita ke rumah sakit dulu,"
"Stop mas! Ria sudah gak tahan!" Hasyim kaget mendengar pekikan Aleria, lalu ia menepikan mobilnya di jalanan yang masih sepi.
Bocah itu langsung membuka jaket tebal punya Hasyim karena merasa kegerahan.
"Sayang kenapa dilepas? nanti kedinginan," Hasyim hendak memakaikan lagi tapi Aleria menghempaskan kain tebal itu.
"Obatnya hanya kamu mas," tangan mungil Aleria menangkup pipi Hasyim.
"Maksudnya?" laki-laki itu seolah terkena serangan jantung karena tindakan Aleria tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Mendekat lalu mendekat lagi dan Aleria berhasil menyerang bibir Hasyim secara duluan, mata Hasyim melotot. Ia kebingungan apa yang sebenarnya terjadi kepada sang istri, kenapa mendadak menjadi agresif begini?
bersambung...