
Aleria terbangun dari tidurnya lalu meraba-raba tempat disampingnya yang sudah kosong. Dia membuka mata dan ternyata benar, Hasyim tidak ada di situ.
"Ke mana mas Hasyim?" lirihnya.
"Mas," seru Aleria, dia malas bangun untuk mencari sang suami.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan tubuh Hasyim yang terlilit handuk. "Sudah bangun?"
"Hm," jawab Aleria sambil merebahkan tubuhnya dan bergelung dengan selimut.
"Segera mandi lalu makan," Hasyim sudah memesankan nasi Padang kesukaan Aleria.Mungkin sebentar lagi akan sampai.
"Males," entah kenapa Aleria jadi mager untuk kemanapun.
"Sayang.." panggil Hasyim dengan penekanan.
Akhirnya Aleria terbangun namun kedua tangannya terulur menghadap Hasyim. Hingga tak menghiraukan kalau selimut yang menutupi tubuhnya itu merosot begitu saja.
"Gendong.." rengeknya.
Hasyim yang sudah lengkap berpakaian menuruti permintaan istrinya. Sebelum mengangkat dia bungkus tubus polos tersebut dengan selimut terlebih dahulu.
"Kok mas nggak ikut masuk?" protesnya saat Hasyim hanya menurunkannya di depan kamar mandi.
Alis Hasyim mengerut, karena bingung dengan pertanyaan sang istri."Nanti kamu malu kalau mas masuk,"
"Ria gak pernah bilang begitu
__ADS_1
ayo masuk, temenin," dia langsung menarik paksa tangan berurat itu.
Ketika di dalam kamar mandi Aleria melepaskan selimut itu dan masuk ke dalam bath up yang awalnya sudah diisi air hangat oleh Hasyim.
Laki-laki itu tak mungkin berdiri sambil berdiam begitu saja, ia membantu istrinya agar cepat selesai karena Hasyim juga khawatir takut kalau Aleria sakit, sejak tadi perutnya belum terisi apapun.
...----------------...
"Ria gak ingin makan ini," tolaknya saat Hasyim sudah membukakan nasi Padang.
"Ini kan kesukaanmu sayang," tangan Hasyim tetap saja mengulurkan tangan untuk menyuapi.
"Nggak," dia menggelengkan kepala.
Hasyim menarik nafasnya perlahan, semoga stock sabarnya nanti bisa di isi ulang. Biar gak kehabisan. Sejak tadi Aleria sulit sekali dimengerti.
"Ice cream," jawab Aleria
"Ya Allah ini masih pagi sayang.." Hasyim melihat jarum jam yang masih menunjuk angka delapan.
"Terus kalau pagi kenapa? pokoknya Ria pengen itu," laki-laki tersebut hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Ini sebenarnya istrinya kesurupan setan mana?
"Makan dulu, baru beli ice cream," ucap Hasyim dengan penekanan. Karena Aleria semakin mengada-ngada. Apa dia tidak tahu kalau suaminya itu sangat khawatir dengan kondisinya.
"Nggak mau," Aleria tetap tidak mau membuka mulutnya saat satu sendok nasi sudah ada di depan mata.
"Makan lewat tangan mas atau lewat mulut?" Hasyim memberikan pilihan yang membuat mata Aleria terbuka lebar-lebar.
__ADS_1
"Ayo jawab,"
"Biar Ria makan sendiri," dia merebut sendok dari tangan Hasyim.
"Nah gitukan pinter," Hasyim tersenyum sambil mengusap-usap kepala istrinya.
"Kamu tau nggak mas teman-temanku it-"
"Ditelan dulu baru ngomong," potong Hasyim, karena Aleria berbicara sambil mengunyah.
Setelah menelan dia melanjutkan ceritanya."Teman-temanku ituloh mas sama pacarnnya dimanja terus aku jadi iri,"
"Emangnya mas kurang manjain kamu?" padahal selama ini keinginan Aleria selalu Hasyim turutin, tetapi kenapa dia masih juga iri dengan orang lain yang masih menjalin hubungan belum halal.
"Tapi kita sudah nikah mas,
coba kalau masih pacaran pasti seru," entah Aleria ini jiwa labilnya kebangetan atau gimana, banyak sekali keinginannya yang aneh dan sering berubah-ubah.
"Ya enakan pacaran setelah menikahlah sayang, kan bebas ngapain aja tanpa takut dosa,"
"Berati Ria harus banyakin bersyukur gitu mas? karena lebih enakan aku dari pada mereka," tanyanya dengan polos.
"Iya jadi bilang gimana?
alhamdu-"
"Lilah.. " sambung Aleria kemudian.
__ADS_1
bersambung...