Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Siapa dia?


__ADS_3

"Udah lama nungguin aku?" Aleria menghampiri Shafa yang masih fokus dengan mobil pengantar temannya tersebut.


"Kamu diantar siapa? ommu ya?" Shafa tadi melihat sekilas ketika kaca mobil diturunkan sedikit, dan menampakkan wajah Hasyim.


"Bukan," sanggah Aleria.


"Terus siapa dia? jangan-jangan kamu jadi sugar baby," tatapan Shafa mengintrogasi.


"Ngaco


nanti tak ceritain, keburu bel tuh," yang di introgasi malah ngeloyor begitu saja mengabaikan sang teman yang sudah diliputi tanda tanya.


"Ria tunggu! jawab pertanyaanku dulu!" teriak Shafa sambil berlari karena langkah sahabatnya sangatlah cepat.


"Ayo dong jelasin.. om tadi siapa?" Shafa terus menarik-narik lengan Aleria agar cepat menceritakan hal yang sudah membuat jiwanya kepo seketika.


"Pengen tahu banget deh.. nanti saja,"


"Sekaranglah, mumpung belum masuk," Shafa terus memaksa.


"Tuh belnya dah bunyi, ayo segera ke kelas," lagi-lagi Aleria berjalan mendahului, dan Shafa mulutnya terus menggerutu tidak jelas.


"Ceritain dong plis.." mohon Shafa seraya mengawasi pintu takut kalau guru pengajar tiba-tiba datang.


"Pelan-pelan aja ya ngomongnya tau sendiri kan kalau bu Husna tiba-tiba nongol tidak diundang, bisa berabe nanti kalau ketahuan sedang ngobrol di kelas," ucap Aleria sambil mengeluarkan buku paket untuk diletakan ke meja.


"Iya.. nih sejak tadi kuawasin tapi beliau belum datang juga kok," Shafa yang tadi menatap pintu kelas sekarang berganti menengok ke Aleria.


"Dia itu mas Hasyim,"


"Hah! mantan jaman SMPmu dulu?" Shafa kaget dengan apa yang temannya itu katakan.


"Hm," Aleria hanya berdehem karena hari ini dia malas banget masuk sekolah, apalagi harus ketemu dengan bu Hulya. Guru super kiler di sekolahnya.


"Kok bisa? apa kamu balikan lagi? bukannya dia ada di kota asalmu kok bisa sampai ke sini?" Shafa bertanya secara beruntun dan tidak ada jeda sama sekali.


"Satu-satu bun kalau nanya, biar nggak bingung aku ngejelasinnya


jadi gini selama ini aku ngimpi dia karena.. " Aleria menceritakan semuanya dimulai dari bertemunya Hasyim hingga merembet ke kejadian pengantaran tadi.


"Kelihatannya tulus banget deh, aku malah baper loh ini," ucap Shafa sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Setulus apapun yang namanya luka tetap saja sakit," hati Aleria tidak gampang luluh begitu saja, ia masih ingat perlakuan Hasyim dulu.

__ADS_1


"Mas Hasyim berapa kali emang nglakuin kesalahan?"


"Kalau di ingat-ingat cuma satu kali sih," Aleria mencoba berpikir lalu membenarkan ucapannya. "Iya cuma satu kali kok,"


"Benar ya kata pepatah orang yang melakukan beribu kebaikan bakalan kehapus hanya karena satu kesalahan," tutur Shafa.


"Tapi sakit pas waktu itu shaf,"


"Dia kan sudah berusaha untuk meminta maaf, masa kamu terus mengungkitnya hargai dong perasaannya," jengkel Shafa, gadis sebaya Aleria tersebut mengingat cerita temannya ketika terus mengungkit kesalahan Hasyim padahal laki-laki itu sudah berniat baik untuk memperbaiki.


"Ya biar dia buktikan dulu lah,"


"Kurang bukti apa kamu Ria? jangan sampai menyesal kalau dia sudah lelah mengejarmu," Shafa mencoba memperingati agar Aleria bisa cepat sadar.


"Pokoknya dia biar usaha dulu lah, soalnya aku sudah nggak cinta lagi sama mas Hasyim,"


"Yaudah kalau dia deketin kamu jangan ngungkit masalah dulu, nanti lama kelamaan hatimu bakal luluh juga,"


"Hust-hust diam, bu Husna dah masuk tuh," mereka berdua langsung terdiam ketika gurunya mengucap salam.


Setelah beberapa menit menjelaskan materi, bu Husna menyuruh untuk mencatat penjelasan yang ada di papan tulis.


Aleria yang sudah mulai memegang polpen malah senyum-senyum sendiri sambil mengusap luka di tangan yang kemarin sudah terlepas perbannya. Walaupun tidak ada lecet lagi di kulit tapi dia tidak bisa lupa ketika Hasyim mendaratkan ke*upan pada tangannya. Aleria merupakan tipe orang baperan jadi mengingat perlakuan Hasyim kemarin ia serasa terbang di atas awan.


"Heh nulis! mandengin tangan mulu dah, keingat om itu ya.." Shafa menyenggol bahu Aleria agar teman sebangkunya itu sadar kalau ini lagi di sekolah bukan untuk menghabiskan waktu untuk melamun.


"Nah kan senyum lagi, bilang kalau masih suka," walaupun dengan keadaan mencatat, Shafa tetap bisa menggoda Aleria.


"Senyumkan ibadah jadi nggak salah dong kalau aku senyum terus, wes-wes ayo lanjut nulis bisa bahaya kalau dikumpulkan dadakan," gadis itu mencatat dengan serius bahkan lebih cepat agar segera selesai, namun Shafa terus saja bertanya.


"Benar lo yang dikatakan mas Hasyimmu itu, kalau om yang kemarin di pasar bukanlah orang baik,"


"Sejak tadi kok bela mas Hasyim terus sih kamu,"


"Bukannya ngebela tapi memang benar kalau om tersebut orang brengsek


kamu tahu nggak kenapa pas di pasar kemarin aku narik-narik kamu? soalnya om kemarin memegang tanganku dengan kurang ajar Ria," penjelasan Shafa membuat Aleria menghentikan aktivitasnya.


"Kamu gak bohong?" gadis bermata sipit itu menatap Shafa.


"Ngapain aku bohong, gak ada gunanya kan,"


Bukan satu orang yang berucap kalau Hisyam itu brengsek, tapi kini sudah ada tiga orang termasuk Shafa, dan temannya itu juga tidak mungkin membohonginya.

__ADS_1


"Aku kok jadi takut gini ya,"


"Buruan blok aja nomornya," bisik Shafa karena bu Hulya sudah mulai memperhatikan mereka.


Sejak Aleria memberikan nomor ponselnya ke Hisyam, laki-laki itu terus bertukar pesan dengannya. Bahkan Aleria membalas dengan jawaban tanpa disingkat, berbanding terbalik ketika Hasyim yang mengirimkan chat.


Saat ini untuk berjaga-jaga Aleria memutuskan memblokir nomor Hisyam, tangan mungilnya mencoba mencari hp yang biasa di taruh pada bawah meja. Lalu menunduk ketika sudah bisa memegang benda kotak tersebut, dan mencari nomor Hisyam untuk memblokirnya.


"Sudah kublokir," bisik Aleria kepada Shafa.


"Pinter, nanti antar aku ke kedai martabak doimu ya,"


"Doiku siapa?" tanya Aleria dengan tampang bingung.


"Mas Hasyimlah, kan katamu dia mengantarkan martabak manis ke rumahmu. Kemungkinan martabak yang mbak kantin makan belinya di mantanmu itu,"


"Bahkan nama martabaknya Aleria pasti itu kedainya mas Hasyim," sambung Shafa.


"Nama Aleria itu banyak bukan aku saja,"


"Kita buktikan aja dulu kalau memang yang punya mas Hasyim berati aku minta gratis,"


"Lah jangan minta ke aku dong, uang dari mana aku untuk bayarin," protes Aleria.


"Halah diakan sayang banget sama kamu kemungkinan nanti dibungkusin martabak lagi, pokoknya kita nanti jadi kesana,"


"Nggak ah jauh," tolak Aleria, dia takut jika tebakan Shafa benar. Kalau betul otomatis dia akan membelikan martabak untuk temannya tersebut, masa minta gratisan? kan malu.


"Bilang saja takut,"


"Aku nggak takut kok,"


"Makanya nanti pas pulang sekolah kita buktikan sama-sama, apakah itu martabaknya mas Hasyim atau bukan


seumpama bukan nantinya kamu juga gak akan rugi kok," Shafa tetap kekeh dengan permintaannya.


"Oke, nanti kita buktikan. Kalau tebakanmu salah hukumannya tuliskan catatanku," Aleria menantang balik, walaupun agak sedikit takut juga.


"Kalau aku benar, traktir aku martabak terus juga tuliskan catatanku.


Tugas mencatat terkadang dikumpulkan secara mendadak maupun di buat untuk PR, karena biasanya kerajinan siswa bisa diukur dari rajinnya mencatat.


deal.."

__ADS_1


"O-oke deal," terbata-bata Aleria menyetujuinya.


bersambung...


__ADS_2